
"Apa kalian lihat tadi Pak Kenzie datang bersama dengan Meisya?"
"Ya, aku juga lihat meisya yang keluar dari mobil pak Kenzie. Apa mereka pacaran?"
"Entahlah, tapi menurutku itu mungkin saja. Toh Meisya cantik dan mereka sama-sama lajang"
"Apa benar begitu? Apa menurutmu Meisya merayunya karena jabatan? Mesiya kan masih magang sedangkan pak Kenzie seorang manajer. Bisa jadi dia sengaja mendekati pak Kenzie agar bisa diterima disini dengan posisi yang bagus.. Karena meskipun dia karyawan magang, bukan berarti kalau dia bisa tetap bertahan disini"
Para karyawan Kenzie sedang membicarakannya disela istirahat mereka. Kenzie mendengar itu karena hampir semua orang dikantor membicarakannya hari ini, namun Kenzie sama sekali tidak ambil pusing dan mengabaikan semuanya.
Tok tok tok
"Masuk!"
Meisya pun masuk kekantor Kenzie dengan dokumen ditangannya
"Apa ini laporan produksi kemarin?" Tanya Kenzie sambil membaca laporan yang diberikan Meisya padanya
"Benar. Ehm … apa bapak sudah dengar pembicaraan semua orang tentang kita hari ini?" Meisya bertanya dengan sikap yang tenang, namun ada kekhawatiran diwajahnya
"Bagaimana mungkin aku tidak mendengarnya? Seisi kantor terus saja membicarakan kita. Bahkan dinding pun bisa bicara dan mendengar apa yang sedang bicarakan" Kenzie menjawab dengan senyum tipis dan sikap yang tenang
"Anda tidak khawatir jika citra anda terpengaruh dengan gosip ini?" Meisya terus saja bertanya karena memang dia yang membuat semua jadi seperti ini
"Kenapa aku harus khawatir karena masalah ini? Sebenarnya yang aku khawatirkan hanya 1 hal. Terjadi keributan di kantor saat seseorang mendengar gosip tentang kita, jika sampai itu terjadi maka tidak akan ada jalan untuk keluar lagi"
Meisya menatap Kenzie dengan bingung
"Maksud bapak apa ya pak? Aku benar-benar tidak mengerti" Kenzie hanya diam dengan senyum manis dibibirnya
"Maksudku jika mami tahu .... matilah aku … aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mami bisa menjewer kupingku sampai putus karena gosip ini. Dan setelah itu maka aku dan Meisya tidak akan bisa mengakhiri sandiwara ini" Pikir Kenzie dengan tatapan kosong
Brak
"Kenzie!"
__ADS_1
Belum selesai Kenzie khawatir kalau Cheva sampai mendengar gosip tentangnya, Cheva sudah datang dengan raut wajah kedal
"Meisya, bisa tinggalkan kami berdua?" Kenzie bertanya dengan nada yang lembut dan senyum yang manis
"Tentu pak. Permisi" Meisya yang sebelumnya terkejut melihat Cheva akhirnya beranjak pergi meninggalkan ruangan Kenzie
"Bagaimana ini? Apa pak Kenzie akan ditegur gara-gara aku? Pasti dia dapat masalah kan karena digosipkan dengan rekan satu kantornya? Ah coba saja waktu itu aku tidak memulai masalah dengan mengaku sebagai pacar pak Kenzie pada papa, pasti masalahnya tidak akan runyam seperti ini"
Batin Meisya menggerutu dan menyalahkan diri sendiri karena masalah yang diperbuatnya. Dia berpikir kalau karir Kenzie sedang dalam masalah karenanya
"Kenzie … kamu tahu kan kenapa mami datang kesini?" Cheva bertanya dengan sikap yang tenang, namun Kenzie tahu saat Cheva seperti ini, dia bisa saja langsung mendekatinya dan menjawab telinganya
"Itu mih, aku … benar-benar tidak memiliki hubungan dengan gadis yang digosipkan denganku. Itu hanya salah paham saja" Kenzie menjawab dengan senyum terpaksa di bibirnya
"Tidak punya hubungan? Tapi bagaimana bisa itu sampai ke telinga mami dan katanya kamu juga datang bersama dengannya. Apa kamu sudah bermalam dengannya? Jangan-jangan kalian kemarin tinggal bersama? Apa yang kamu lakukan? Cepat katakan pada mami! Kenapa kamu diam saja?" Cheva bertanya dengan sikap yang tenang sambil berjalan mendekati Kenzie
Kenzie yang panik terus saja menggelengkan kepala saat Cheva bertanya padanya
"Mami terus saja bertanya dan tidak memberikan aku kesempatan untuk menjawab. Bagaimana aku bisa memberikan penjelasan?" Kenzie menjawab dengan nada mengeluh dan ekspresi yang polos
"Namanya Meisya mih. Dia gadis yang baru saja keluar dari sini"
"Apa? Jadi dia orangnya? Kenapa kamu tidak mengatakannya pada mami?!"
Belum selesai Kenzie menjelaskan, Cheva sudah memotong perkataannya
"Aku belum selesai bicara mami" Kenzie bicara dengan nada kesal
"Baiklah. Lanjutkan!"
"Dia itu tidak ingin pulang kerumahnya karena ayahnya ingin menjodohkan dia dengan pria yang tidak dikenal. Saat itu aku kebetulan lewat dan entah bagaimana dia jadi mengatakan kalau aku ini pacarnya" Kenzie menjelaskan dengan sangat tenang
"Kemarin kamu kemana?" Tanya Cheva lagi penasaran
"Aku menginap dirumahnya"
__ADS_1
"Apa?! Kamu sudah berani menginap dirumahnya?! Kamu bilang kalau kamu terpaksa pacaran dengannya? Sekarang kenapa kamu bisa menginap dirumahnya? Kamu ingin mempermainkan dia, hah?" Cheve terus saja menyela ucapan Kenzie sebelum dia selesai menjelaskannya
"Mami, berhentilah menyela ucapanku. Aku belum selesai bicara. Aku menginap dirumah dia, rumah ayahnya, bukan rumah yang dia tempati sekarang!" Kenzie semakin kesal karena Cheva yang tidak sabaran
"Oh, mami kira kamu tinggal berdua saja kemarin" Cheva kembali tenang mendengar penjelasan Kenzie
"Kemarin ayahnya memintaku datang kerumahnya. Mami tahu, anakmu yang tampan ini hampir saja berubah jadi adonan kue yang harus dipenyet-penyet sebelum dicetak" Cheva terlihat bingung mendengar penjelasan Kenzie yang semangat
"Papanya ingin aku melawan atlet sumo yang badannya sangat-sangat besar. Bayangkan jika aku tertimpa dibawah tumpukan lemak itu? Haaah mami... aku terus mimpi buruk karena hal itu" Kenzie bercerita dengan sesekali merengek pada Cheva
"Kamu melawan atlet sumo? Hahaha mami tidak bisa bayangkan itu. Badan kecil seperti kamu melawan atlet sumo? Hahaha apa tulangmu tidak remuk semua?"
Cheva terbahak membayangkan putranya yang harus melawan atlet sumo. Mereka memang terbiasa dengan olahraga dan beladiri, tapi mereka tidak pernah sama sekali bermain sumo
"Untungnya tidak jadi, aku hanya menemani ayahnya bermain catur hingga dini hari. Dan Meisya yang mendengar kalau aku datang kerumahnya, langsung pulang karena takut ayahnya melakukan sesuatu padaku. Karena aku tidak bawa pakaian ganti, dia menemaniku membeli pakaian dan datang ke kantor bersama. Itulah kenapa semua orang membicarakan kami"
Cheva terus menganggukan kepala setelah mendengar penjelasan Kenzie
"Baiklah, karena kamu sudah menjelaskan semuanya pada mami, jadi biarkan mami menemuinya" Cheva meminta dengan senyum ceria
"Mami, jangan membuat masalah! Dia tidak tahu siapa aku sebenarnya. Dia bisa pingsan kalau bertemu dengan mami" Kenzie berusaha menahan Cheva dengan larangan yang lembut
"Kenzie, kamu mau mempertemukan mami dengannya secara pribadi, atau mami yang akan menemuinya sekarang juga?!" Cheva bertanya dengan senyum manis yang mengancam nyawa
"Aku tidak ingin keduanya" Jawab Kenzie sambil menggelengkan kepala
"Baiklah, mami tidak akan memaksamu. Mami akan mencarinya sendiri" Ujar Cheva sambil beranjak pergi dari hadapan Kenzie
"Tunggu, tunggu mih tunggu. Aku akan memperkenalkan mami secara pribadi denganmya. Jadi sekarang mami kembali dulu saja ya" Kenzie dengan cepat menghampiri Cheva agar tidak menemui Meisya dan meyakinkannya untuk bersabar dan pulang
"Mami akan tunggu di restoran untuk makan siang bersama. Jika kamu tidak datang dengannya, mami akan kembali kemari dan mencarinya. Mengerti?" Cheva bertanya dengan senyum manis dibibirnya
"Baik mami, aku akan membawanya ke restoran" Kenzie tidak punya pilihan lain dan terpaksa setuju
"Bagus. Sampai jumpa putraku sayang" ujar Cheva yang kemudian melangkahkan kaki keluar dari ruang Kenzie
__ADS_1
"Hadooh, bagaimana bisa aku punya mami yang menyeramkan seperti itu. Senyumnya seperti iblis"