
Risha langsung berlari kearah Rendra begitu melihatnya. Dia sama sekali tidak mempedulikan kalau banyak orang dari kantornya yang memperhatikan. Dia langsung memeluk Rendra dan duduk dipangkuannya.
"Aku merindukanmu" Ujar Risha dalam pelukan Rendra dengan senyum ceria diwajahnya
"Aku juga sangat merindukanmu, karena itu aku datang kemari menemuimu" Rendra bicara dengan nada yang lembut sambil mengusap lembut rambut panjang Risha
"Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya kalau kamu akan datang kemari?" Risha melepaskan pelukannya namun tangannya masih melingkar dileher Rendra, dia bicara dengan nada yang manja dan bibir sedikit mengerucut.
"Aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu. Bukankah aku pernah bilang kalau jarak tidak akan jadi masalah untuk kita?" Rendra memicingkan mata dan bertanya dengan senyum menggoda dibibirnya
"Aku tahu itu, tapi kan jika kamu memberitahuku sebelumnya, aku bisa menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat. Jadi aku bisa cepat bertemu denganmu"
"Tidak masalah"
"Ekhem ekhem" Risha dan Rendra langsung menoleh begitu mendengar deheman dari Billy
"Maaf mengganggu kalian berdua, tapi sekarang semua orang sedang memperhatikan kalian, apa tidak lebih baik kita pergi dari sini dulu?" Ujar Billy dengan nada yang sedikit ragu kemudian menoleh pada karyawan kantor Risha yang memperhatikannya. Risha dan Rendra pun langsung melihat sekeliingnya mengikuti apa yang dikatakkan Billy
"Kamu benar. Sebaiknya kita pergi dulu dari sini" Rendra bicara dengan sikap tenang namun sorot matanya dingin
"Ayo sayang" Risha menganggukan kepala kemudian bangun dari pangkuannya Rendra. Mereka pun meninggalkan perusahaan Sanjaya menggunakan mobil Rendra.
"Kamu lihat tadi? Bu Risha memeluk pria itu begitu saja. Bagaimana dengan pak Diaz? Dia tidak takut apa kalau pak Diaz sampai tahu dan marah?"
"Benar. Apa bu Risha terang-terangan menduakan pak Diaz? Atau dia menggunakan pemuda tadi untuk menutupi skandalnya dengan pak Diaz?"
"Itu mungkin saja terjadi, tapi apa pak Diaz akan diam saja jika kekasihnya bersama pemuda lain? Yang lebih parahnya, mesipun dia tampam tapi tetap saja dia seorang pria yang cacat dan harus menggunakan kursi roda"
"Mungkin pak Diaz tidak tahu kalau bu Risha memiliki pacar lain"
Para karyawan itu terus membicarakan Risha setelah dia pergi. Mereka tidak menyadari keberadaan Diaz yang sudah memperhatikan sejak Risha masih memeluk Rendra.
"Jadi Rendra sengaja datang untuk menemui Risha? Kemana mereka pergi? Kenapa tidak memberitahuku terlebh dulu?" Diaz bergumam sambil menatap mobil Rendra yang sudah berjalan menjauh dari perusahaan Sanjaya
"Sebaiknya aku telepon Risha dan tanyakan padanya" Diaz langsung merogoh saku celananya dan menghubungi nomor Risha
__ADS_1
Tuut tuut tuut
"Halo, papi" Terdengar suara Risha yang ragu-ragu tidak lama setelah telepon tersambung
"Kamu dimana? Apa tadi ada Rendra kemari?" Diaz bertanya dengan sikap yang tenang dan pura-pura tidak tahu, meskipun tadi dia melihat kalau memang Rendra datang menjemput Risha.
"Iya pih. Rendra datang kemari. Aku sedang bersamanya sekatang. Ada apa pih?" Risha bicara sambil sesekali menoleh pada Rendra yang duduk disampingnya dengan menggenggam sebelah tengannya
"Biarkan saja Rendra menginap dirumah kita lagipula jika dia pulang kerumahnya, itu akan memakan waktu lama"
"Hah? Apa?" Risha sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Diaz
"Biarkan dia menginap dirumah kita malam ini. Bukannya kamu juga ingin menghabiskan waktu dengannya? Jika dia langsung pulang sekarang, maka kamu tidak akan bisa menghabiskan waktu dengannya besok" Diaz bicara dengan nada yang sedikit mengancam
"Sebanarnya apa yang sedang papi rencanakan? Kenapa papi ingin Rendra menginap ditempat kita? Aku yakin kalau papi merencanakan sesuatu, iya kan?" Risha bertanya dengan penuh kecurigaan pada Diaz
"Kamu ini! Papi ingin membantumu, tapi kamu malah curiga pada papi"
"Tidak mungkin kalau papi ingin membantuku, pasti papi merencanakan sesuatu kan? Selama ini papi selalu melarangku dekat dengan pemuda manapun kecuali Zo dan Zie. Jadi jika papi bilang ingin membantuku rasanya sedikit... " Risha masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang ayah
"Kamu ini ya! Terserah kamu saja mau percaya atau tidak. Pokoknya papi mau kamu bawa Rendra kerumah. Tut tut tut"
"Ada apa? Kenapa kamu kesal begitu?" Tanya Rendra setelah melihat Risha berteriak dengan wajah yang ditekuk karena kesal
"Papi ingin kamu pulang kerumahku. Aku tidak tahu apa yang sedang papi rencanakan. Tidak mungkin kalau papi hanya ingin membuatmu tinggal lebih lama disini dan membuat kita memiliki waktu bersama yang lebih banyak. Pasti ada sesuatu dibalik keinginan papi. Apa yang harus aku lakukan ya?" Risha pun terdiam memikirkan rencana untuk terlepas dari niat sang ayah
"Ah, aku tahu! Kenzie. Kita minta dia dan Meisya datang kerumah untuk menghabiskan waktu bersama agar papi tidak punya kesempatan mengganggu kita. Lagipula, tante Cheva akan marah kalau sampai papi mengganggu aku dan Zie . Ha ha ha" Risha terlihat bersemangat saat dia mendapatkan ide cemerlang menghadapi sang papi. Dia pun menunjukkan seringai yang terlihat licik pada tawanya
Tuut tuut tuut
Cukup lama Risha menunggu sampai Zie menerima teleponnya
"Halo sha"
"Halo Zie. Kamu sedang dimana?" Risha langsung bertanya begitu mendengar suara Kenzie
__ADS_1
"Aku sedang dijalan dengan Meisya. Kami akan nonton bioskop. Ada apa?" Kenzie menjawab dengan tenang
"Zie, Rendra sedang ada disini sekarang, bagaimana kalau kamu bawa Meisya kerumah, lalu kita habiskan akhir pekan ini bersama? Kamu juga bisa membawa temanmu yang lain" Risha bicara dengan senyum ceria dibibirnya
"Rendra disini? Kapan dia datang?" Zie menerima telepon sambil mengendarai mobil
"Dia belum lama tiba disini. Zie bantu aku ya, please"
"Eh? Membantumu? Bantu apa?" Zie terdengar bingung mendengar permintaan Risha
"Papi memintaku menbawa Rendra pulang. Kamu tahu kan papi tidak pernah mengizinkanku dekat dengan pria manapun, jadi aku sedikit curiga kalau papi merencanakan sesuatu"
Zie manganggukan kepala berkali-kali saat mendengarkan penjelasan Risha
"Rendra kan sudah pernah datang kerumah kita saat kamu kecelakaan waktu itu, semua orang sudah mengenalnya, jadi apa masalahnya?" Zie masih tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan Risha
"Zie, apa IQ-mu jadi turun karena kamu jatuh cinta? Waktu itu dia datang kesini sebagai temannya Zo, dan sekarang dia datang kesini sebagai pacarku. Masa kamu tidak mengerti?!" Risha terdengar kesal saat dia menjelaskan semuanya pada Zie
"Oh, kamu benar. Saat ini statusnya berbeda. Lalu apa yang kamu rencanakan?"
"Kita adakan pertemuan teman-teman dekat. Dengan begitu, lali tidak akan memiliki kesempatan untuk melakukan hal aneh-aneh. Lalu jika papi mengganggu kita … tentu mamimu akan ikut campur dan membuat papi tak berdaya" Risha menjelaskan dengan senyum tipis dibibirnya
"Jadi, kamu ingin membuat mamiku sebagai perisai untuk menghalangi rencana papimu?" Zie memicingkan mata curiga saat dia memastikan maksud Risha
"Pandai. Papi tidak akan berani melawan tante Cheva. Karena itu, kamu harus membantuku untuk melindungi Rendra dari papi. Oke oke?"
"Ya baiklah, aku akan kesana bersama Meisya. Apa perlu kita undang Noey?" Zie bertanya untuk mempertimbangkan mengundang Noey atau tidak
"Noey? Siapa dia? Kenapa aku tidak mengenalnya?" Risha terlihat bingung dengan dahi berkerut hingga kedua alisnya hampir menyatu.
"Dia asisten baruku sekaligus temannya Rendra dan Zo. Kurasa ini bisa kita jadikan alasan untuk kita berkumpul"
"Ya ya ya itu ide bagus. Ayo lakukan. Terimakasih Zie" Risha dan Zie pun langsung menutup teleponnya
Rendra menatap Risha dengan tatapan curiga
__ADS_1
"Kurasa kalian sangat cocok saat memiliki rencana mengerjai orang"
"Tidak juga. Aku dan Zie hanya saling membantu untuk sebuah imbalan dimasa depan. Aku yakin kalau dia pasti akan meminta bantuan yang sama dimasa depan"