Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Geng Mafia Sedang Beraksi


__ADS_3

"Waah, ini indah sekali" Lagi-lagi Hasna dibuat terpikat dengan kejutan yang diberikan Johan. Dia membawanya pergi kehotel bintang 5 dengan pemandangan yang sangat indah. Mereka berada di atas gedung. Bagian paling atas hotel ini disulap menjadi restoran yang bertemakan sebuah taman yang cantik dengan pemandangan gedung-gedung dihiasi bunga-bunga dan lampu warna warni


"Apa kamu suka tempat ini?" Johan bertanya dengan sangat lembut


"Ya, aku sangat menyukainya" Hasna tersipu malu saat menjawab pertanyaan Johan


"Jika kamu suka, maka aku akan lebih sering membawamu kemari"*


"Benarkah?" Tanya Hasna dengan mata berbinar


"Tentu saja. Aku akan melakukan apapun untukmu" Sebelah tangan Johan membelai pipi Hasna dengan sangat lembut dan penuh kasih. Dia terlihat pandai menggoda Hasna hingga membuatnya semakin dimabuk cinta Johan


"Hasna, aku tidak ingin main-main denganmu. Aku tahu kalau kamu masih kuliah dan kita juga belum lama kenal. Tapi aku ingin meresmikan hubungan kita. Aku ingin kita menikah secepatnya"


"Me-menikah? Kita? Apakah ini tidak terlalu cepat? Apa tidak sebaiknya kita tunggu beberapa waktu dulu?" Hasna terlihat snahat terkejut dan dari tatapannya terlihat ada banyak keraguan


"Aku tahu. Tapi aku benar-benar tidak sabar untuk selalu berada disampingmu. Aku takut jika membayangkan harus berpisah darimu meskipun itu hanya sebentar" Johan menyandarkan kepalanya pada bahu Hasna yang tentunya lebih kecil darinya. Dia bersikap manja untuk bisa mengambil simpati Hasna


"Aku juga menginginkan hal yang sama, tapi … tidak mungkin orang tuaku mengizinkan kita langsung menikah padahal kita baru saja saling mengenal" Hasna memberikan pengertian pada Johan dengan senyum lembut


"Kamu benar. Belum tentu mereka menyetujui hubungan kita" Wajah Johan semakin sedih mendengar ucapan Hasna


"Jangan sedih seperti itu. Aku juga tidak tahu bagaimana harus memberitahu orang tuaku"


"Ini sudah larut, sebaiknya aku antar kamu pulang. Aku tidak ingin orang tuamu khawatir" Johan menunjukkan wajah kecewa saat bicara sehingga membuat Hasna merasa tidak enak hati dibuatnya


"Kenapa diam saja? Ayo pergi!" Dia mengulurkan sebelah tangan pada Hasna yang diam saja tanpa memberikan respon apapun


"Ehm … aku masih ingin menikmati waktu denganmu. Lagipula orang tuaku tidak mungkin khawatir padaku. Bahkan mereka mungkin lupa kalau punya anak gadis"


Wajah Johan yang sebelumnya muram kini dipenuhi senyum merekah


"Benarkah? Kamu yakin bisa lebih lama disini? Apa kamu tidak akan terkena masalah karena menghabiskan waktu disini denganku?"


Johan berusaha memastikan keputusan yang diambil Hasna dengan wajah khawatir. Namun dalam hatinya justru ia sangat bahagia


"Yes, gadis ini benar-benar sangat mudah diperdaya. Aku bingung bagaimana selama ini dia berteman. Aku yakin kalau dia selalu dimanfaatkan orang lain karena dia bodoh. Ah siapa peduli, yang penting rencanaku berjalan sesuai rencana"

__ADS_1


Malam semakin larut dan anginpun berembus semakin kencang. Hasna terlihat mulai menggigil karenanya


"Sebaiknya kita masuk kekamarku. Aku memiliki kamar disini yang mengarah keluar, jadi kita masih tetap bisa meniknati keindahan pemandangan malam saat berada di kamar" Johan melepaskan jas yang dia kenakan kemudian memakaikannya pada Hasna


"Kamu booking kamar hotel?!" Hasna nampak terkejut dengan ucapan Johan. Pikirannya melayang dan mulai berpikir kalau Johan selalu membawa gadis lain ke hotel


"Aku tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku memang salah satu tamu VIP di hotel ini dan aku selalu menggunakan kamar yang sama setiap kali datang kesini. Itu sebabnya aku tidak perlu booking kamar jika memang ingin datang kesini" Johan bicara dengan lembut dan meyakinkan, membuat Hasna percaya begitu saja dengan apa yang dia katakan tanpa curiga sedikitpun


"Baiklah, ayo!"


Tanpa Hasna tahu, setiap percakapan yang dia lakukan bersama Johan di dengar oleh Radit. Radit menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.


"Baiklah. Saat kamu bersenang-senang, aku akan mengadakan pesta untukmu hingga semua orang mengetahui kebahagiaanmu. Termasuk keluargamu"


Hasna dan Johan mulai berjalan menuju kamarnya dengan saling bergandengan tangan. Tentu itu di rekam oleh CCTV dan Lian sudah mengatur agar salah satu CCTV di dekat kamar Johan terhubung dengannya. Dengan begitu dia tahu saat yang tepat untuk menjalankan rencana mereka.


"Mereka sudah masuk ke kamar. Kamu bisa undang para tamu sekarang!" Ujar Lian pada Diaz dengan sikapnya yang tenang.


"Tunggu dulu, tidak seru jika para tamu hadir saat mereka hanya berbincang. Bagaimana Radit? Apa dia berhasil melakukannya?" Diaz memastikan keadaannya terlebih dulu pada Radit


"Ish ish ish... kalian seperti geng mafia yang sedang beraksi" Cheva mengomentari sikap Diaz, Lian dan Radit yang sedang mengintai Hasna


"Kak Cheva tidak perlu ikut campur urusan ini. Cukup urus saja masalah Pras" Radit berkata dengan sinis pada Cheva


"Aku tahu, aku hanya akan menonton pertunjukan kalian saja"


"Johan, apa yang kamu lakukan? Aku malu" Hasna bicara dengan nada yang manja pada Johan


"Kenapa kamu malu? Bukankah aku sudah melamarmu dan akan meminta izin untuk menikah pada orang tuamu? Jadi kurasa tidak perlu merasa malu lagi, tidak lama lagi kamu akan jadi milikku" Johan bicara dengan nada menggoda sambil berbisik dengan lembut ditelinga Hasna. Sebelah tangannya tidak diam dan membuka satu persatu kancing pakaian Hasna


"Tapi kan itu belum terjadi" Jawab Hasna menahan tangan Johan


"Itu kan segera terjadi. Aku janji aku kan segea menemui orang tuamu" Perlahan Johan mendekatkan wajahnya pada Hasna. Bibir Johan membungkam mulut Hasna dan membuatnya tidak bisa menolak lagi. Hasna pun mulai tenggelam dalam kelembutan Johan dan mulai menyatukan tubuh mereka


Radit melepaskan earphone yang sebelumnya dia gunakan untuk mendengarkan percakapan Hasna dan Johan


"Kenapa kamu melepasnya? Kamu iri pada mereka, hah?" Cheva menggoda Radit yang terlihat salah tingkah

__ADS_1


"Tidak. Untuk apa aku iri pada mereka?" Jawab Radit sinis


"Makanya Dit, cepat cari pacar, supaya kamu tidak selalu menempel pada kami dan Candra saja!" Diaz pun ikut menggoda Radit


"Aah berisik. Berhenti menggodaku! Sebaiknya kak Diaz cepat undang tamu-tamu itu!" Radit berusaha mengalihkan perhatian ketiga saudaranya


"Tenang saja. Biarkan mereka menikmati waktu mereka dulu. Mereka pasti lelah setelah memadu kasih" Diaz menjawab dengan nada menggoda, alisnya diangkat bersamaan disertai senyum tipis dibibirnya


"Cih, apa yang kalian tunggu? Toh belum tentu mereka langsung datang"


"Baik-baik, aku hubungi mereka. Tidak perlu marah-marah begitu, Dit" Diaz tidak berhenti menggoda Radit, barulah dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang


Tuut tuut tuut


"Halo, reporter Erik. Aku punya informasi penting yang ingin kuberikan padamu" Diaz langsung bicara begitu telepon tersambung


"Pak Diaz, apa anda sedang bercanda? Ini suatu kehormatan untuk saya karena biasanya pak Roni yang selalu menghubungi saya" Erik terdengar ragu dan terkejut begitu mendengar Diaz menghubunginya


"Ini laporan eksklusif, karena itu aku langsung menghubungimu" Jawab Diaz dengan sikap yang tenang


"Apa itu?" Erik pun mulai penasaran dengan apa yang akan diberitahukan oleh Diaz


"Kamu tahu Adnan dari keluarga Surendra?"


"Tentu saja pak. Siapa yang tidak kenal dengan bagian dari perusahaan Surendra? Meskipun orang yang dikenal publik sudah tidak ada"


"Aku dengar kabar kalau putrinya yang bernama Hasna sedang berada di hotel. Aku tidak tahu apakah ini kenakalan remaja atau pak Adnan sengaja mengirimnya ke hotel, karena yang aku tahu pinjaman yang diajukan pihak perusahaan Surendra pada bank akan jatuh tempo tidak lama lagi. Mungkin saja dia sengaja untuk…" Diaz dengan sengaja memprovokasi Erik agar mengikuti pandangannya


"Benarkah? Aku harus segera bergerak ke hotel. Ini akan jadi berita heboh jika disiarkan secara live"


"Ide bagus. Mereka ada di Hotel Y. Sebaiknya kalian bergegas kesana, sebelum mereka pergi dari hotel"


"Baik terimakasih pak Diaz"


"Ya, sama-sama" Diaz pun mengakhiri panggilan teleponnya


"It's show time"

__ADS_1


__ADS_2