
"Pak Pram, sebenarnya bagaimana dengan kerjasama kita? Anda berniat kerjasama atau tidak?" Sheila sedang bicara melalui telepon dengan Pram, karena sudah cukup lama dia tidak bisa menemui Kenzo
"Tentu saja kerja sama kita akan terjalin dan saya diminta pak Kenzo sebagai penanggung jawab selama beliau tidak ada. Anda bisa tetap berhubungan dengan saya untuk kerjasama kita" Pram bicara dengan Sheila sebagai perwakilan dari perusahaan Anggara
"Tidak bisa begitu. Anda ini hanya asisten saja. Saya tetap harus langsung menghubungi atasan anda agar bisa percaya dengan kerjasama ini. Saya tidak bisa begitu saja percaya pada ucapan anda karena anda sama sekali tidak punya wewenang diperusahaan itu" Sheila bersikeras ingin menemui Kenzo sebagai penanggung jawab. Dia sama sekali tidak ingin bekerja sama melalui Pram
"Untuk sementara ini pak Kenzo sedang ada keperluan mendesak diluar negeri. Jadi saya yang ditugaskan untuk menghandel semunya disini" Pram masih terus berusaha meyakinkan Sheila agar dia bisa mengambil alih kerja sama antara perusahaan Anggara dan Wiguna
"Saya tidak mau. Saya hanya akan menjalin kerja sama jika pak Kenzo sendiri yang menangani proyek ini. Jika dia mewakilkan tanggung jawab pada orang lain, maka saya tidak akan menyetujui kerjasama ini" Sheila bersikeras kalau dia hanya ingin bekerja sama dengan Kenzo saja.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menyampaikan pada pak Kenzo kalau anda tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan kami. Jika anda memang hanya ingin bekerja sama dengan pak Kenzo, maka anda harus menunggu sampai pak Kenzo kembali ke negara ini. Saya tidak tahu pasti kapan beliau akan pulang" Pram bicara dengan sikap yang tenang. Meskipun sebenarnya dia sangat kesal sekali pada gadis ini.
"Baik. Kalau begitu anda bisa hubungi saya lagi kalau pak Kenzo sudah kembali ke negara ini" Ujar Sheila dengan sikap yang sombong
"Baik kalau begitu. Sampai jumpa bu Sheila"
"Ya, sampai jumpa"
Akhirnya Sheila dan Pram mengakhiri panggilan telepon diantara mereka
"Kenapa nona masih ingin bekerja sama dan terus meminta Pak Kenzo yang turun tangan langsung? Bukannya kita sendiri sudah tahu kalau selama ini pak Pram dan pak Sam yang bertanggung jawab atas perusahaan itu sebelum pak Kenzo datang?"
Asisten Sheila bertanya setelah melihat Sheila selesai melakukan panggilan telepon. Dia bertanya dengan raut wajah bingung pada nonanya atas apa yang dia putuskan
"Karena aku sangat penasaran dengan pemuda bernama Kenzo itu. Aku dengar kalau dia adalah seorang programer handal yang sebelumnya terkenal di negar F ini karena softwarenya dicuri oleh perusahaan pengembangnya. Bukankah itu sangat mengagumkan karena dia bisa membalikkan situasi begitu mudah? Dari yang awalnya ditindas karena idenya dicuri kemudian menjadi terkenal bahkan sampai membuat perusahaan itu bangkrut karena harus membayar ganti rugi"
Sheila bicara dengan sikap yang tenang disertai senyum manis dibibirnya. Dia begitu antusias saat membicarakan Kenzo.
__ADS_1
"Bukannya dia orang yang berbahaya? Jika seperti itu ... dia seperti pisau bermata dua yang tidak bisa dipegang dan tetap membahayakan" Asisten Sheila berusaha mengingatkan atasananya agar lebih waspada pada Kenzo
"Kamu tenang saja. Dia tidak akan bisa menyakiti kita. Kamu tahu sendiri kan kalau perusahaan kita ini adalah perusahaan besar? Sedangkan perusahaan Anggara yang sekarang hanyalah perusahaan nomor dua meskipun mereka telah beroperasi sangat lama"
Sheila sangat yakin saat dia menjawab sang asisten. Dia tersenyum dengan nada bicara yang mencibir.
"Baiklah nona. Saya hanya mengingatkan saja, saya yakin kalau anda lebih mengerti daripada saya"
Asisten Sheila pun tidak membahas Kenzo lagi karena Sheila tidak akan mendengarkan pendapatnya.
***
Kenzo dan Safira sedang menghabiskan waktu bersama di taman rumah sakit. Mereka hanya tinggal menunggu hasil pemeriksaan safira yang terakhir saja.
"Kenapa wajahmu terlihat tegang begitu? Apa yang kamu khawatirkan?" Kenzo bertanya dengan sikap yang tenang pada Safira yang terus saja diam
"Kenapa memikirkan hal yang rumit? Cukup lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Tidak perlu pedulikan orang lain" Zo menanggapi dengan sikapnya yang tenang dan santai
"Tapi Zo, bukannya kamu bilang kalau aku ini seorang artis? Aku tidak bisa hidup semauku karena itu kan? Semua orang pasti akan memperhatikan apa yang aku lakukan. Mereka akan mengkritik apa saja kegiatanku. Aku sudah merasa sangat sulit hanya dengan membayangkannya saja. Haah"
Safira kembali menjawab Kenzo dengan wajah murung. Dia menghela napas panjang membayangkan hari-harinya nanti
"Apa yang kamu khawatirkan? Aku sudah bilang kalau kamu bisa melakukan apapun. Selama ini kamu memang selalu menjaga privasi, jadi tidak akan ada masalah kalau kamu tidak mengekspose kehidupanmu. Kamu tidak pernah mengomentari sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan pribadimu. Kurasa kamu cukup diam dan tidak perlu mengomentari apapun jika kamu memang tidak suka. Tapi jika kamu memang tidak ingin lagi menjadi artis, aku juga tidak masalah. Lagipula aku merasa dirugikan kalau kamu tampil dihadapan banyak orang"
Kenzo bicara dengan sikap acuh tak acuhnya. Dia membuat Safira yang sejak tadi murung, kini terlihat penasaran dengan apa yang dia maksud
"Apa maksudnya? Kenapa kamu dirugikan?" Tanya Safia dengan raut wajah bingung dan dahi berkerut
__ADS_1
"Tentu saja aku dirugikan karena wajah kekasihku yang cantik ini jadi dilihat oleh banyak orang. Jika kamu bersedia, aku tidak ingin kamu menunjukkan wajah cantikmu pada siapapun selain aku"
Kenzo bicara dengan senyum yang menggoda sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Safira. Tentu saja itu membuat wajah Safira langsung tersipu malu dan berubah menjadi warna merah yang menyala
"Apa kamu memang selalu gombal seperti itu ya?" Safira berusaha bersikap tenang menanggapi Kenzo yang terlihat sangat tenang saat bicara
"Ini hanya aku lakukan padamu, sayang" Ujar Kenzo lagi sambil mencium salah satu punggung tangan Safira
"Hentikan! Kamu bisa membuatku terkena serangan jantung karena tingkahmu itu" Safira kembali menanggapi dengan sikap yang sedikit acuh sambil membuang muka
"Dan sikapmu padaku ini bisa membuatku terkena diabetes. Aku bahkan tidak membutuhkan gula lagi jika kamu ada disampingku"
Kenzo tidak berhenti menggoda Safira bahkan ketika melihat wajahnya semakin merah. Dia terus bicara dengan senyum tipis dibibirnya dan kedua alis diangkat bersamaan.
"Aaaah hentikan! Kamu membuatku semakin malu" Safira yang salah tingkah lagsung menutup mulut Kenzo agar tidak lagi menggodanya
"Aku tidak bisa berhenti karena kamu seperti candu bagiku" Kenzo memegangi tangan Safira yang menutup mulutnya dan kembali menciumnya
"Aaaahhh bagaimana ini? Aku benar-benar tidak bisa menghentikan pesona pria ini" Safira berteriak tanpa suara sambil terus menatap Kenzo
"Sebenarnya aku ingin membicarkan sesuatu yang penting denganmu" Kenzo yang sejak tadi menggodanya, kini terlihat serius dengan wajah yang datar
"Bicara apa? Katakan saja!" Safira yang sejak tadi dibuat salah tingkah pun kini terlihat gugup dan menunggu apa yang akan ditanyakan Kenzo
Kenzo melepaskan tangan Safira lalu merogoh saku celananya dan mengambil sebuah kotak merah kecil berbentuk hati yang dihiasi dengan pita kecil berwarna pink diatasnya. Dia membuka kotak itu dan mengarahkannya tepat didepan Safira sambil berlutut dihadapannya
"Ra, aku sudah bilang padamu kalau aku akan mengganti semua ingatanmu yang hilang dengan ingatan baru yang hanya akan berisi kebahagiaan dan kenangan manis. Karena itu, aku ... ingin menikah denganmu dan mengisi kekosongan dalam hari-hari kita. Aku ingin melewati setiap hariku bersama denganmu. Aku tidak ingin berpisah denganmu walau hanya sedetik saja. Jadi, Safira Tifania Reitama, maukah kamu menikah denganku dan menjalani hari-harimu disampingku?"
__ADS_1