
"Ren, seperti yang telah diwasiatkan ayah, kamu akan memegang kendali Dirga Electronik dan aku memegang kendali Dirga Motors. Kuharap kamu tidak masalah dengan itu" Ujar Bastian dengan sikap yang tenang
"Aku sama sekali tidak masalah. Dimanapun itu, bagiku tetaplah sama" Rendra menjawab dengan sikap acuh tak acuh
"Lalu … apakah kamu akan tinggal dirumah ini denganku? Rumah ini terlalu besar untuk aku tinggali sendiri" Bastian bertanya pada Rendra dengan sikap yang tenang, namun dia terlihat sedikit ragu-ragu saat bertanya
"Ehm ... maaf, sepertinya aku tidak bisa. Aku masih belum bisa lama-lama disini. Aku akan tetap tinggal dirumah ku. Aku bisa datang berkunjung kemari kapan-kapan" Jawab Rendra dengan menundukkan kepala sambil memegang gelas teh ditangannya
"Baiklah, aku mengerti. Ku harap setelah ini hubungan kita bisa semakin dekat" Rendra hanya diam tanpa mengatakan apapun. Terlihat pegangannya pada cangkir menjadi lebih kencang
"Selama ini, apa kamu tinggal dengan Kenzo?" Bastian kembali ragu-ragu saat menanyakan Kenzo
"Ya, hanya dia teman yang aku miliki" Rendra menjawab dengan sikap yang dingin
"Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Mungkin 5 atau 6 tahun?" Bastian sedikit tersenyum saat membicarakan Kenzo
"5 tahun. Saat bertemu dengannya itu waktu aku sekolah SMA. Aku juga tidak bertemu dengannya selama kuliah. Aku menemuinya lagi setelah lulus kuliah. Sekarang dia juga akan lulus kuliah" Rendra menceritakan tentangnya dan Kenzo
"Begitukah? Meskipun dia begitu keras, tapi dia orang yang baik. Jika bukan karena Kenzo, kita tidak akan tahu kejahatan ibuku" Bastian menundukkan kepala menceritakan Kenzo
"Jika bukan karena dia, aku tidak akan berada disini. Aku pasti mati dengan ibuku" Rendra dan Bastian saling terdiam setelah mengatakan itu
***
Kenzo sedang berkunjung kerumah Safira. Saat ini mereka berdua tengah main game bersama
"Zo, apa kamu bisa hadir ke acara penghargaanku? Aku masuk nominasi pemeran utama wanita terbaik. Aku harap kamu bisa hadir disana" Safira bertanya dengan sikap yang tenang dan pandangan tertuju pada layar besar yang menampilkan permainan game mereka
"Ehm ... kapan acaranya?" Tanya Kenzo yang juga fokus pada permainan game miliknya
"1 minggu lagi, tepat setelah acara wisudamu" Ujar Safira dengan senyum dibibirnya
"Oh. Baiklah"
"Kamu akan hadir?!" Tanya Safira antusias
__ADS_1
"Hmn ..." Kenzo menanggapi disertai anggukan kepala
"Benarkah?" Safira bertanya lagi karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kenzo
"Haah ... haruskah aku berteriak padamu?" Jawab Kenzo dengan menghela napas panjang menanggapi Safira
"Tidak perlu, tidak perlu" Safira menggelengkan kepala berkali-kali sambil tersenyum ceria
"Kamu kalah" Kenzo bicara dengan senyum penuh kebanggaan
"Apa?" Safira yang sejak tadi fokus pada Kenzo akhirnya menyadari kalau dia kalah lagi dalam gamenya
"Aaahh, lagi-lagi aku kalah. Kamu tidak bisa ya hanya mengerahkan separuh kemampuanmu saja?!" Safira terlihat kesal karena dia tidak pernah bisa mengalahkan Kenzo selama hampir 2 tahun mereka saling mengenal
"Aku tidak suka mengalah pada siapapun. Dan lagi jika aku mengalah padamu, orang lain tidak akan mengalah padamu. Jadi percuma saja kalau kamu hanya menang dariku tapi kemampuanmu tidak meningkat" Jawab Kenzo dengan sikap yang tenang
"Kamu jahat sekali. Apa kamu tidak bisa bersikap lebih lembut pada seorang gadis?" Safira bertanya dengan nada mencibir
"Apa kamu seorang gadis? Yang aku ingat kamu bisa menjadi apapun, sekarag kamu sedang berakting jadi apa?" Kenzo sedikit tersenyum menggoda Safira
"O iya, Zo. Apa rencanamu setelah lulus kuliah? Apa kamu akan tetap kerja direstoran atau kamu akan bekerja diperusahaan?" Safira melanjutkan pertanyaannya dengan wajah penuh tanda tanya
"Kenapa dengan ekspresimu itu?" Tanya Kenzo dengan sneyum tipis
"Aku ingin tahu, apa yag akan kamu lakukan" Safira kembali menjawab dengan senyum manja
"Sepertinya aku akan masuk perusahaan saja. Tapi aku belum tahu perusahaan mana yang tidak memiliki aturan waktu. Atau aku buat perusahaan sendiri saja ya?" Safira terkejut hingga dia terdiam mendengar ucapan Kenzo
"Hahaha ... kau ini gila? Apa yang kamu katakan? Bagaimana bisa kamu langsung membangun perusahaan sendiri padahal sebelumnya kamu hanya seorang waitress? Apa gajimu di restoran begitu besar hingga bisa membangun perusahaan sendiri, hah?" Safira terbahak mendengar ucapan Kenzo
"Memang ada yang lucu?" Tanya Kenzo dengan wajah datar
"Ah maafkan aku. Aku tidak bermaksud merendahkanmu. Apa kamu tahu Zo berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mendirian usaha sendiri?" Safira yag tadi terbahak mendengar ucapan Kenzo, kini memasang wajah khawatir pada Kenzo
"Aku punya tabungan, jadi pasti cukup" Kenzo menjawab dengan sikap yang tetap tenang
__ADS_1
"Atau begini saja, bagaimana kalau aku membantumu? Anggap saja aku berinvestasi atau … bisa juga kamu anggap ini sebagai pinjaman" Safira menyarankan setelah cukup lama mereka terdiam
"Tidak perlu, aku bisa menemukan jalanku sendiri. Aku tidak ingin merepotkanmu" Kenzo menjawab dengan sikap yang acuh tak acuh
"Apa kamu sakit hati karena tadi aku menertawakanmu sehingga kamu tidak ingin menerima bantuanku?" Safira bicara sambil mengerucutkan bibirnya manja pada Kenzo
"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu. Lagipula ini baru pemikiran saja. Aku bisa bekerja sama dengan sebuah perusahaan untuk mengembangkan setiap ideku. Aku masih belum mau terikat dengan jam kerja. Karena jika itu terjadi maka waktuku bertemu denganmu akan semakin sulit"
Seketika wajah Safira memerah mendengar ucapan Kenzo.
"Apa maksudmu?" Tanya Safira yang terlihat gugup dan salah tingkah
"Maksudnya aku ingin lebih banyak waktu bermain game denganmu. Rasanya puas setiap kali melihatmu kalah" Kenzo kembali tersenyum penuh kebanggaan sedangkan Safira yang sebelumnya tersipu malu kini berubah kesal mendengar Kenzo mengejeknya
"Ah sudahlah, aku menyesal bertanya padamu!" Ujar Safira memalingkan wajah dan beranjak pergi meninggalkan Kenzo ke dapur
***
"Sha, kemarin kamu dan Panji pergi kemana?" Kenzie terlihat penasaran menunggu jawaban dari Risha
"Hanya pergi makan saja. Tapi ya Zie, kemarin itu aku bertemu gadis yang sangat menyebalkan saat kami makan" Risha bercerita dengan sangat semangat
"Menyebalkan bagaimana?" Zie bertanya dengan raut wajah bingung dan mulai duduk didekat Risha
"Iya, aku tidak sengaja bertabrakan dengannya setelah dari toilet. Semua barangnya jatuh, tapi aku sudah minta maaf. Dan kamu tahu Zie? Dia marah-marah padaku dan mengatakan kalau semua barang yang dia gunakan adalah barang branded. Aku tidak tahu kenapa dia mempermasalahkan itu, padahal dompet yang dia bilang branded itu hanyalah barang tiruan belaka" Risha bercerita dengan wajah kesal dan nada yang mencibir
"Memangnya kamu tahu kalau barang yang dia gunakan itu palsu?" Kenzie tersenyum mencibir Risha
"Tentu saja aku tahu. Dompet yang dia gunakan sama denganku hanya saja warnanya berbeda. Kamu tahu kan kalau dompet yang aku gunakan hanya memiliki 1 variasi warna. Maka sudah jelas, milik siapa yang asli" Risha tersenyum bangga dengan apa yang dia katakan
"Ya ya ya aku tahu, secara Arisha Nedzara Kusuma tidak pernah memakai barang tiruan ataupun meniru orang lain"
"Tentu saja" Risha tersenyum bangga dengan apa yang dikatakan Kenzie
"Memangnya siapa gadis itu?" Tanya Kenzie dengan raut wajah penasaran
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Tapi aku harap, (aku tidak pernah bertemu dengannya lagi" Kenzie hanya mengangkat kedua bahu sambil mengangkat kedua alisnya bersamaan