Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Rumah Sakit Pribadi Kenzie


__ADS_3

Kenzie dan Meisya baru saja tiba dirumah ayah Meisya. Meisya langsung membawa Kenzie masuk dengan membantu memapahnya


"Ada apa dengannya? Kenapa kalian kemari?" Tanya ayah Meisya yang sedang duduk di ruang televisi dan terkejut melihat Meisya memapah Kenzie


"Dia sedang sakit pah. Dia tidak mungkin berkendara pulang kerumah. Kalau dihotel ... aku takut jika tengah malam nanti dia demam lagi dan disana tidak ada orang yang akan merawatnya. Disini ada banyak orang yang bisa mengurusnya, kalau perlu, aku sendiri yang akan merawatnya" Meisya bicara dengan sangat yakin pada sang ayah. Dan seketika membuat raut wajahnya berubah murung.


"Jadi sekarang kamu sangat perhatian padanya? Kenapa papa tidak tahu kalau kamu orang yang sangat perhatian ya?" Pak Arseno bicara dengan sikap yang dingin dan mata mendelik menatap Kenzie yang tersenyum padanya.


"Maaf om, saya tidak bermaksud mengganggu om. Saya sudah katakan pada Meisya untuk membawa saya kehotel, tapi dia malah membawa saya kemari. Kalau anda merasa terganggu ... Saya bisa pergi ke hotel sekarang" Kenzie menjelaskan dengan senyum tipis diwajahnya yang pucat


"Tidak usah. Anggap saja ini sebagai rumah sakit pribadimu!" Jawab pak Arseno dengan nada yang sinis


"Terimakasih om, kalau begitu saya juga sudah punya perawat pribadi yang akan merawat saya disini" Jawab Kenzie dengan senyum dan nada bicara yang menggoda pak Arseno


"Perawat pribadi? Memangnya kamu sakit parah sampai tidak bisa berjalan dan butuh perawat pribadi? Hanya demam saja kamu sudah manja"


"Hentikan pah, ini bukan saarnya papa berdebat dengannya. Aku akan membawanya ke kamar. Besok kita bisa bicara lagi. Lagipula, besok akhir pekan, jadi kalian bisa berbicang sepuasnya" Meisya bicara dengan sikap acuh tak acuh lalu berjalan meninggalkan sang ayah


"Kenapa jadi dia yang marah padaku?" Pak Arseno terlihat bingung dan kesal karena sekarang Meisya lebih perhatian pada Kenzie


"Kenapa kamu tertawa Har?" Arseno pun bertanya dengan kesal pada Har yang berdiri didekatnya. Har berusaha menahan senyum melihat Arseno yang tersaingi oleh Kenzie


"Tidak ada apa-apa tuan" Jawab Har dengan senyum tipis


***


"Sepertinya papamu sangat tidak menyukaiku? Apa mungkin dia takut tersaingi  olehku ya?" Kenzie bicara pada Meisya sambil berjalan menuju kamar yang disiapkan untuknya


"Jangan bicara sembarangan! Papa bukan orang seperti itu. Dia memang pada dasarnya orang yang dingin dan kaku. Tapi dia tidak mungkin sampai membenci orang yang dekat denganku" Meisya menjawab dengan nada yang datar dan berusaha meyakinkan Kenzie mengenai sikap ayahnya


"Benarkah? Kamu lupa ya apa yang dia lakukan untuk mengujiku? Jika dia tidak berpikir kalau kamu akan membencinya, mungkin dia akan membunuh semua pria yang mendekatimu agar tidak ada yang berani mengambilmu dari sisinya" Kenzie bicara dengan sikap yang tenangdan senyum mencibir

__ADS_1


"Sudahlah, berhenti bicara. Kita sudah sampai dikamarmu"


Meisya langsung melepaskan tangan Kenzie dan membuka pintu kamar


Ceklek


"Apa ini memang disediakan khusus untukku? Aku selalu menggunakan kamar ini dan bukannya kamar kamu ada disebelah sini ya?" Kenzie menunjuk pada kamar yang ada disebelah


"Iya, kamarku ada disebelah sini, jadi jika kamu butuh sesuatu tinggal panggil aku saja"


"Hemn... Bagaimana aku memanggilmu? Apa aku harus berteriak atau aku harus membunyikan lonceng?" Kenzie terus saja menggoda Meisya dengan senyum tipis dan nada bicara yang seakan merayu Meisya


"Kamu kan punya nomorku dan lagi ... Jarak disini cukup dekat, jadi kamu bisa berjalan keluar dan mengetuk pintu kamarku" Meisya menjawab dengan sikap acuh tak acuh


"Hemn ... kamar ini sangat besar. Dari tempat tidur ke pintu saja cukup jauh, lalu aku harus mengetuk pintu kamarmu, rasanya itu aga ...." Kenzie bicara dengan senyum yang lembut. Dia dengan sengaja tidak melanjutkan kalimatnya agar Meisya berpikir sendiri mengenai apa yang dia maksud


"Haah ... lalu apa yang kamu inginkan?" Meisya pun mengalah dengan menghela napas panjang, lalu bertanya dengan nada yang malas


"Kamu gila?! Aku sengaja membawamu pulang kerumah ini agar tidak hanya kita berdua yang berada dalam satu tempat. Sekarang kamu malah memintaku tidur denganmu?! Apa-apaan itu?!" Meisya langsung meninggikan suara karena kesal pada apa yang ditanyakan Kenzie. Wajahnya yang tadi hanya terlihat datar, kini berubah penuh amarah


"Owh aku salah bicara. Maksudku kamu tidur di tempat tidur dan aku akan tidur disofa bed itu" Kenzie tersenyum sambil menunjuk sofa bed yang ada tidak jauh dari jendela


"Ehem ... tidak bisa. Papa bisa marah jika tahu aku tidur disini. Sebaiknya kamu cepat isirahat, Ini sudah larut malam" Meisya berusaha kembali mengatur ekspresi wajahnya dan bersikap tenang seperti sebelumnya


"Baiklah, jika memang tidak bisa. Tolong minta pembantumu untuk menyiapkan air hangat dan handuk kecil disini, jadi kalau aku demam saat tengah malam nanti, aku bisa mengompres diriku sendiri" Kenzie bicara dengan raut wajah kecewa dan seakan memelas


"Ya sudah, aku pergi sekarang. Sebaiknya kamu mandi dulu, aku akan minta seseorang kemari dan membawakan air panas dan juga handuk kecil untukmu" Meisya bicara sambil membalikkan badannya dan beranjak pegi meninggalkan Kenzie sendiri


Kenzie pun langsung bersiap untuk membersihkan diri


"Rasanya benar-benar melelahkan" Gumam Kenzie sambil berjalan ke kamar mandi. Dia pun mulai melepas pakaiannya dan mandi dengan air hangat. Dan membuat tubuhnya kembali segar.

__ADS_1


Setelah beberapa lama, Kenzie keluar dengan mengenakan jubah mandi. Dia berjalan perlahan sambil memegangi kepalanya


"Rasanya segar sekali. Tapi kepalaku masih merasa sedikit pusing"


Ceklek


Disaat yang bersamaan, seseorang masuk ke dalam kamarnya


"Mungkin dia masih mandi. Aku hanya akan meletakkan ini didekat tempat tidurnya setelah itu keluar lagi" Gumam Meisya sambil berjalan masuk ke kamar Kenzie


"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Kenzie dengan sikap tenang namun tetap mengejutkan Meisya


"Kamu.... ? Maaf, aku kira kamu masih mandi, jadi aku langsung masuk. Aku hanya akan meletakkan ini diatas meja saja. Setelah itu aku akan keluar lagi!" Meisya menjawab dengan panik sambil memalingkan wajahnya dari Kenzie, lalu dia dengan cepat meletakkan obat dan juga termos berisi air untuk mengompres kening Kenzie kalau dia demam lagi. Dia juga membawa piyama milik pak Arseno


"Kenapa kamu panik begitu? Toh aku pakai jubah mandi" Kenzie dengan sengaja menggoda Meisya


"Si-siapa yang panik? Aku saka sekali tidak panik!" Meisya berusaha membantah meskipun terlihat jelas kalau dia salah tingkah


"Sudahlah kamu pakai piyama papa dulu. Nanti baru kita bicara lagi setelah kamu mengenakan pakaian" Meisya masih tidak berani menatap Kenzie yang memakai jubah mandi


"Kenapa kamu tidak menatapku? Tidak baik jika bicara tanpa menatap mata lawan bicaramu. Kamu bisa dibilang sombong nanti" Kenzie terus menggoda Meisya dengan senyum dibibirnya namun dia juga mulai meraih piyama yang dibawa Meisya


"Kamu gila?! Bagaimana mungkin aku manatap mu yang hanya pakai jubah mandi begitu? Kalau kamu tidak segera ganti bajunya, aku akan keluar sekarang!" Meisya mengacam Kenzie dengan sikap sinis


"Jadi kamu memintaku mengganti pakaianku didepanmu?" Tanya Kenzie dengan senyum menyeringai


"Aah hentikan! Kalau begitu aku keluar saja. Aku akan minta pembantu untuk menyiapkan makanan untuk kita. Nanti aku akan beritahu kamu jika makanannya sudah siap" Meisya langsung berbalik pergi tanpa menunggu tanggapan dari Kenzie


"Ah kucing manismu ini. Ternyata kamu sangat lucu saat sedang salah tingkah begitu. Rasanya ingin terus menggodamu" Gumam Kenzie melihat Meisya yang keluar dari kamarnya dengan langkah kaki yang cepat


"Haah Kepalaku pusing. Aku erbahan dulu saja. Rasanya hari ini sangat melelahkan. Dan besok sudah pasti om Arseno juga akan membuatmu kelelahan. Entah itu hanya akan sekedar pertanyaan biasa atau kami harus main catur lagi. Yang pasti ini tidak akan mudah meskipun ada Meisya disini"

__ADS_1


__ADS_2