Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
500 Juta Untuk Kompensasi


__ADS_3

Meisya langsung berjalan pergi dari kantor Kenzie dengan wajah kesal karena dipermainkan olehnya


"Bisa-bisanya aku dipermainkan olehnya. Ah pasti tadi wajahku sangat jelek ... aaaahhhh ini memalukan!" Meisya menjerit pelan dengan wajah yang ditutupi dengan kedua tangannya karena merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi diruang Kenzie.


"Sya, kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" Salah satu rekan kerja Meisya bertanya setelah melihat tingkah Meisya yang aneh


"Oh, aku baik-baik saja" Meisya tersenyum canggung karena malu dengan apa yang baru saja dia lakukan


"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke tempatku"


"Ya" Rekannya kembali pergi setelah Meisya menganggukan kepala


"Kenapa hari ini aku terus melakukan hal yang memalukan ...? Tadi didepan kak Kenzie, barusan didepan rekan kerjaku... Haah" Meisya mengusap wajahnya sendiri karena merasa malu


***


Rendra sudah masuk kantor seperti biasa. Namun dia menggunakan jasa perawat untuk membantunya mendorong kursi roda dan melakukan sesuatu yang tidak bisa dia lakukan sendiri. Tentu perawatnya adalah seorang laki-laki, karena Rendra tidak suka jika harus berurusan dengan wanita di dekatnya. Mungkin sekarang kecuali Risha.


"Alan, apa ada sesuatu yang penting hari ini?" Rendra bertanya pada Alan mengenai jadwalnya


"Saya baru mendengar kabar kalau pak Rian dan pak Fredi berada dirumah sakit. Pak Rian jatuh dari balkon dan saraf tangan kanannya rusak sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sedangkan pak Fredi mengalami kecelakaan motor semalam dan katanya dia mengalami kritis karena geger otak dikepala, kakinya juga patah sehingga butuh waktu lama untuk proses penyembuhan" Rendra langsung menoleh pada Alan dengan ekspresi tak percaya


"Waah, tragis sekali. Yang satu tangannya cacat dan satunya lagi kakinya patah. Benar-benar menagih hutang sampai lunas" Rendra bicara dengan sikap yang acuh tak acuh sambil menggelengkan kepala


"Anda juga harus kerumah sakit, hari ini jadwal pemeriksaan anda pak dan setelah pemeriksaan selesai akan ditetapkan jadwal terapi dan juga metode yang akan diberikan untuk anda" Perawat Rendra memberitahukan jadwal kontrolnya


"Begitu ya, ya sudah setelah menandatangani semua dokumen ini, kita akan langsung kerumah sakit. Alan, tolong bawakan dokumen-dokumen yang urgent terlebih dahulu. Aku akan menyelesaikannya sebelum pergi" Pinta Rendra dengan sikap tenang


"Baik pak" Alan menjawab dengan sopan kemudian dia berbalik dan hendak pergi untuk mengambil dokumen yang harus ditandatangani oleh Rendra hari ini


"Alan"


Langkah kaki Alan terhenti dan dia kembali berbalik menatap Rendra


"Ya pak, apa ada yang bisa saya bantu lagi?" Tanya Alan lagi yang berjalan kembali mendekati Randra

__ADS_1


"Terimakasih karena kamu telah membantuku selama aku tidak ada disini?" Rendra bicara dengan sikap yang tenang


Alan tersenyum menanggapinya "Kalau begitu, bapak bisa memberikan saya bonus" Alan menjawab dengan senyum yang lembut


"Tentu, aku pasti akan memberikan bonus padamu" Rendra pun tersnyum tipis menanggapi permintaan Alan


"Terimakash banyak pak. Saya permisi" Rendra pun mengangguk dan Alan mulai beranjak pergi meninggalkan ruangan Rendra


"Papi menunggumu dikafe dekat kantor Rendra"


Risha terkejut setelah membaca pesan singkat dari sang papi


"Untuk apa papi datang kemari? Papi tidak biasanya menggangguku yang sedang bekerja. Apa yang membuatnya seperti itu ya?" Risha berpikir keras saat memikirkan apa yang tujuan sang ayah


"Sudahlah. Temui dulu saja" Risha beranjak dari tempat duduknya dan bergegas ke kafe yang dimaksud Diaz


Sebelumnya dia mengirimkan pesan pada Rendra untuk memberitahu kalau dia pergi menemui sang ayah


"Papi sedang ada disekitar sini, jadi aku akan pergi sebentar untuk menemui papi"


Tulis Risha dalam pesannya


Sebuah pesan masuk diterima oleh Rendra, jadi disela kesibukannya memeriksa dokumen yang terbengkalai berhari-hari karena dia masuk rumah sakit dan saat ada Fredi juga dia tidak memeriksanya


"Papi sedang ada disekitar sini, jadi aku akan pergi sebentar untuk menemui papi"


Rendra menekuk kedua alisnya ketika dia membaca pesan dari Risha


"Om Diaz ada disini? Ada masalah apa? Apa Kenzo mengatakan sesuatu mengenai hubungaku dengan Risha? Ah tapi tidak mungkin. Dia bukan tipe orang seperti itu. Atau Kenzie? Ya, ada kemungkinan Kenzie yang melakukan ini. Dia masih tinggal dirumah utama, tidak menutup kemungkinan kalau dia yang mengatakannya pada om Diaz. Haruskah aku kesana? Tapi aku takut om Diaz akan terganggu jika aku datang kesana. Sudahlah, biarkan saja mereka bertemu berdua, lagipula sudah cukup lama Risha tinggal disini dan tidak menemui keluarganya"


Akhirnya Rendra membiarkan Risha menemui Diaz sendiri sementara dia pergi kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.


Rendra kerumah sakit ditemani perawat yang bertugas menemaninya. Dia melakukan pemeriksaan dan terapi sebentar sebelum pergi mengunjungi Rian. Dan ternyata Rian dan Fredi ditempatkan di satu kamar yang sama.


"Sepertinya om sudah lebih baik?" Perawat Rendra langsung mendorong kursi rodanya masuk keruangan Rian

__ADS_1


"Untuk apa kamu kemari? Kamu ingin menertawakanku?!" Rian langsung menyambut Rendra dengan perkataannya yang sinis


"Aku tidak sejahat itu om. Aku kemari murni karena ingin melihat keadaanmu" Rendra bicara dengan sikap yang tenang.


"Aku begini karena teman sialanmu itu. Dia membuatku jatuh dari balkon!" Rian berteriak kesal pada Rendra dan mencaci maki Kenzo


"Om masih tidak sadar diri ya? Jika om tidak berbuat jahat, maka semuanya tidak akan berakhir seperti ini!" Rendra bicara dengan sikap yang dingin


"Kejahatan apa yang sudah aku lakukan padamu? Bukan aku yang mendorongmu dari balkon!" Rian terus menyalahkan Rendra dan tidak mau mengakui kesalahannya


"Kejahatan apa?! Apa harus aku sebutkan satu persatu? Om selalu menghasut ibunya kak Bastian untuk membenci aku dan mama. Om yang merencanakan semua kejahatan yang aku dan mamaku alami. Aku juga tahu kalau om juga yang merencanakan kecelakaan yang menyebabkan mama meninggal. Hanya saja saat itu aku tidak memiliki keberanian. Aku juga masih memandang kalian sebagai saudara kak Bastian. Tapi setelah beberapa tahun berlalu, om masih tidak berubah. Om masih terus menganggapku sebagai penghalang bagi kak Bastian"


Rian hanya dia dan mendengarkan apa yang dikatakan Rendra, dia tidak menyangka kalau ternyata Rendra tahu semuanya


"Beruntung aku memiliki Kenzo. Satu-satunya orang yang mau melindungi dan membelaku, bahkan disaat papaku sendiri tidak bisa melindungiku, Kenzo yang selalu menjaga dan melindungiku. Kurasa … ini harga yang pantas untuk om am Fredi dapatkan" Rendra bicara dengan sikap yang dingin. Sorot matanya tajam dan penuh dengan kebencian.


Disaat yang bersamaan, Kenzo datang bersama Safira


"Kamu juga ada disini Ren?" Rian, Rendra dan perawat Rendra menoleh bersamaan begitu mendengar suara Kenzo


"Zo, kamu disini" Rendra menyapa dengan tenang


"Ya, aku kemari untuk menjenguk Rian dan memeriksa kondisi Fredi. Kurasa … ini sudah cukup mengganti semua yang mereka lakukan padamu. Bukankah begitu, Ren?"


Kenzo bertanya dengan sikap yang dingin


"Ya ini sudah cukup untuk mengakhiri semuanya" Rendra menjawab dengan sedih


"Jadi, Rian. Kedepannya jangan pwrnah membuat masalah ataupun membuat hubungan apapun lagi dengan Rendra. Ren, karena mereka sudah bukan siapa-siapa lagi bagimu. Maka jangan berempati berlebihan" Kenzo berjalan mendekati Fredi yang terbaring


"Karena aku orang yang baik hati. Aku ingin memberikan ini kepada kalian. Anggap saja sebagai kompensasi dariku" Kenzo mengeluarkan selembar Cek dan meletakkannya disamping tubuh Fredi


"Apa itu, Zo?" Rendra bertanya dengan kedua alis berkerut karena penasaran. Diapun mendekati Fredi dan melihat kertas yang Kenzo letakkan


"500 juta?" Kata Rendra dengan wajah terkejut

__ADS_1


"Aku melakukan balapan liar dengan taruhan 500juta untuk pemenangnya. Namun karena tidak ada yang menang, anggap saja 500 juta ini untuk kompensasi atas tangan yang cacat, kaki yang patah dan juga hari-hari yang akan dihabiskan dalam penjara"


"Apa?!"


__ADS_2