
Pak Arseno tertegun melihat Meisya yang kembali bersikap tegas padanya.
“Mei, apa yang kamu lakukan? Bukannya kamu sudah setuju untuk mengakhiri hubunganmu dengannya?! Kenapa kamu kembali membelanya?!” Pak Arseno sedikit berteriak karena bingung pada sikap Meisya.
“Aku sudah setuju untuk mengakhiri hubunganku dengan Kak Zie, kenapa sekarang papa malah ingin mencelakai dia?” ujar Meisya dengan sikap tegas.
“Papa tidak berniat mencelakai dia. Papa hanya ingin dia pergi darisini dan tidak pernah mengganggumu lagi” ujar pak Arseno dengan sikap yang terlihat angkuh.
“Huh” Meisya memalingkan wajah dari sang ayah dan berjalan mendekati Kenzie
U
“Apa Kak Zie baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” Meisya bertanya dengan khawatir sambil memeriksa tubih Kenzie. Dia bahkan sampai memutar Kenzie berkali-kali untuk memastikan dia tidak terluka.
“Aku baik-baik saja” Kenzie menanggapi dengan senyum lembut dibibirnya meskipun ada sedikit lebam di dekat bibir dan juga sikunya.
“Ah, bagaimana ini? Wajah tampan Kak Zie jadi terluka. Papa harus memberikan kompensasi untuk ini!” Meisya memeriksa wajah Kenzie kemudian bicara pada sang ayah dengan nada mengancam.
“Kenapa papa harus memberikan kompensasi? Ini bukan salah papa. Dia sendiri yang memaksa masuk kedalam rumah ini". Pak Arseno menanggapi Meisya dengan sikap yang acuh tak acuh.
“Dia kemari hanya ingin menemuiku, apa salahnya?” Meisya pun tidak ingin kalah dengan sang ayah.
“Bukannya kalian sudah putus?” ujar pak Arseno berusaha mendapatkan kepastian
“Kami memang sudah putus, tapi izinkan saya untuk bicara dengan Meisya sebentar saja. Setelah itu saya janji tidak akan mengganggu Meisya lagi” Kenzie pun bicara dan menyela perdebatan ayah dan anak itu
“Apa lagi yang ingin kamu bicarakan? Bukankah sudah jelas kalau kalian tidak bisa bersama?” ujar pak Arseno dengan sikapnya yang dingin dan sinis.
“Saya tahu, tapi saya mohon. Izinkan saya bicara sebentar saja dengan Meisya” Kenzie menundukkan kepala dengan raut wajah sedih, sedangkan Meisya terus menatap Kenzie dengan sedih dan derai air mata yang kembali mengalir
“Kak Zie …”
Pak Arseno menoleh pada Kenzie dan Meisya secara bergantian. Dia tidak tega melihat putrinya menangis lalu membiarkan mereka bicara.
__ADS_1
“Haah … baiklah, tapi kalian tidak boleh bicara terlalu lama” Pak Arseno pun menarik napas panjang dan meninggalkan mereka semua. Semua pengawal yang sebelumnya berkumpul juga satu persatu pergi dan hanya menyisakan Kenzie dan Meisya saja.
“Ayo ikut denganku!” Meisya langsung menarik tangan Kenzie dan membawanya ke kursi taman yang ada disamping rumahnya.
“Kak Zie ... aku pikir aku tidak bisa lagi melihatmu ... hiks… hiks… bagaimana ini?” Meisya langsung memeluk Kenzie dan menangis dalam dekapan Kenzie begitu mereka hanya berdua disamping rumah. Meisya memeluk Kenzie dengan sangat erat seakan dia tidak ingin ditinggalkan pergi walaupun sebentar.
Kenzie melerai pelukan Meisya dan menatap wajahnya yang berlinang air mata.
“Jika kamu tidak ingin berpisah denganku, kenapa kamu meminta untuk mengakhiri hubungan kita?” Kenzie bicara dengan senyum yang lembut sambil menghapus air mata dipipi Meisya.
"Karena jika aku tidak melakukan itu, papa akan sedih. Aku tidak ingin jadi anak durhaka yang menentang orang tua, tapi ternyata aku juga tidak bisa hidup tanpamu. Apa yang harus aku lakukan?" Meisya menanggapi dengan nada manja dan kedua tangannya masih berada dipinggang Kenzie
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Kenzie memastikan perasaan Meisya.
"Tentu saja. Jika aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku menangis seharian sampai mataku bengkak begini?" jawab Meisya dengan bibir mengerucut manja.
"Kalau begitu, kita harus cari cara agar papamu merestui hubungan kita berdua" Kenzie menanggapi dengan sikap yang tenang kemudian terdiam seraya berpikir. Meiya pun melakukan hal yang sama, dia duduk diam dikursi yang ada disana sambil memikirkan cara untuk bisa meluluhkan hati sang ayah.
"Apa yang kamu rencanakan? Kenapa senyummu seperti itu? Kamu tidak merencanakan hal yang aneh-aneh kan?" Kenzie menatap Meisya dengan tatapan curiga karena senyum yang dia tunjukkan.
"Ehm ... mungkin sedikit. Papa sangat menyayangiku, karena kita tidak bisa membuat papa merestui hubungan kita secara baik-baik. Kenapa tidak kita biarkan saja papa yang memohon agar kita menjalin hubungan?" Kenzie mengernyitkan dahi melihat senyum Meisya yang menurutnya aneh.
"Sebenarnya apa maksudmu?" tanya Kenzie yang mulai kesal karena Meisya tidak mengatakan rencananya.
"Begini, Kak. Kita akan tetap putus untuk mendapatkan perhatian papa. Kakak jangan menghubungiku ataupun menemuiku untuk beberapa waktu, jika tidak ... maka aku tidak akan bersedih"
Kenzie semakin bingung dengan penjelasan Meisya
"Maksudmu ... kamu akan membiarkan papamu melihat kamu bersedih karena kita tidak saling menghubungi?" Kenzie berusaha memastikan apa yang dijelaskan oleh Meisya.
"Ya, karena sedih, aku akan mogok makan dan tetap mengurung diri dikamar. Kita lihat saja berapa lama papa akan bertahan. Dia bilang menyayangiku, apa dia akan membiarkan putrinya ini mati kelaparan dan terus bersedih karena putus cinta?" Meisya mengangkat kedua alisnya bersamaan disertai senyum ketika bicara pada Kenzie.
"Itu rerlalu beresiko. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu karena tidak makan apapun?" Kenzie menanggapi dengan raut wajah khawatir
__ADS_1
"Kak Zie tenang saja. Aku akan baik-baik saja. Aku tidak mungkin mati karena papa tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padaku" Meisya begitu percaya diri saat dia membicarakan rencananya.
"Apa hanya ini jalan keluar yang kamu miliki?" tanya kenzie lagi berusaha memastikan rencana Meisya.
"Aku hanya bisa memikirkan ini. Memangnya kakak punya cara lain?" Kenzie menggelengkan kepala karena tidak memiliki cara lain untuk dijadikan solusi
"Baiklah. Kita akan gunakan cara ini, tapi kamu tidak boleh berlebihan. Kamu tetap harus berusaha menjaga kesehatanmu. Aku tidak ingin terjadi sesutau padamu"
"Kakak tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja dengan rencana ini" ujar Meisya berusaha meyakinkan Kenzie.
"Baiklah. Aku percaya padamu. Aku akan menunggu sampai kabar baik itu datang" ujar Kenzie sambil mengelus lembut rambut Meisya.
Meisya mengangguk disertai senyum manis dibibirnya. Mereka terlihat bahagia setelah mendapatkan solusi dari masalah mereka. Sampai-sampai tidak menyadari kalau pak Har mendengarkan percakapan mereka dari salah satu sudut atas perintah pak Arseno.
"Jadi kalian sudah menemukan caranya? Baiklah aku akan bantu kalian berdua" ujar Har sambil tersenyum manis. Diapun berbalik dan kembali menemui pak Arseno
"Bagaimana, apa kamu bisa mendengar apa yang mereka bicarakan?" tanya pak Arseno pada Har
"Sepertinya mereka benar-benar putus. Nona Meisya terus saja menangis di pelukan pak Kenzie" ujar Har dengan kepala tertunduk.
"Benarkah? Lebih baik Meisya menangis sekarang daripada dia bersedih setelah masuk ke keluarga itu" Pak Arseno bicara dengan raut wajah tanpa ekspresi.
"Tapi tuan, bagaimana kalau non Meisya tidak bisa melupakan pak Kenzie? Mereka berdua terlihat saling mencintai" Har berusaha meyakinkan pak Arseno tentang perasaan Meisya dan Kenzie.
"Itu hanya sementara. Tidak mungkin putra dari konglomerat bisa setia pada satu gadis. Aku tidak akan membiarkan Meisya menderita"
"Tapi Tuan …"
"Tidak perlu membantah lagi. Aku tahu yang terbaik untuk putriku"
Har pun diam dan tidak lagi membantah atasannya
"Haah... padahal aku juga ingin non Meisya bahagia" batin Har membantah tanpa suara dan membiarkan pak Arseno dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1