
Ilana masih sangat penasaran dengan apa yang dikatakan teman kuliahnya mengenai Kenzo. Diapun berniat mengikuti Kenzo setelah pulang dari kampus
"Apa benar Kenzo kuliah dengan beasiswa? Tidak mungkin keluarganya yang kaya raya itu bangkrut. Mengingat rumahnya yang sangat megah dengan halaman yang sangat luas waktu itu" Gumam Ilana sambil terus mengikuti Kenzo dari belakang
Kenzo pergi dari kampus dengan menggunakan bus umum dan berjalan sedikit dari halte menuju restoran sedangkan Ilana menggunakan taksi.
"Apa yang Kenzo lakukan di restoran ini? Ini bukan jam makan siang. Jika dia bangkrut, mana mungkin dia bisa menghabiskan waktu di restoran mewah seperti ini" Ilana terus bicara sendiri sambil memperhatikan restoran. Akhirnya dia memutuskan masuk dan duduk di salah satu kursi yang terletak disudut. Dia menoleh kesana kemari mencari Kenzo.
Tak lama Kenzo keluar dengan menggunakan seragam restoran
"Hah? Dia benar-benar bekerja disini? Kenzo Osterin yang dulu selalu menghabiskan waktu dengan saudara kembarnya dan sepupunya di restoran mahal dan menggunakan barang-barang branded kini jadi pelayan restoran?" Ilana menggelengkan kepala sambil tersenyum mencibir Kenzo yang jadi pelayan restoran.
Ilana melambaikan tangan dan memanggil pelayan untuk memesan makanan. Dan sangat kebetulan sekali hanya Kenzo yang sedang tidak sibuk melayani tamu
"Kenapa gadis gila itu ada disini? Sepertinya dia mengikutiku dari kampus?" Pikir Kenzo menyadari yang memanggil itu adalah Ilana
"Selamat siang nona. Anda ingin memesan sesuatu?" Kenzo bertanya dengan sopan namun tanpa ekspresi diwajahnya
"Apa begini caramu melayani tamu yang ingin memesan? Tidak ada senyum ataupun sapaan yang raman. Kamu terlalu dingin dan sombong sebagai seorang pelayan" Ilana bicara pada Kenzo dengan nada yang sombong dan senyum yang terlihat merendahkan
Kenzo diam saja kemudian dia melambaikan tangan pada rekan kerjanya yang lain
"Ada apa Zo?" Tanya Sita, seorang pelayan wanita senior
"Tolong gantikan aku melayani nona ini. Dia hanya ingin dilayani oleh pelayan yang ramah dan sopan. Aku tidak cocok melayani nona ini" Ujar Kenzo dengan senyum cerah diwajahnya
"Baiklah, kalau begitu kamu gantikan aku untuk melayani tamu dimeja sana" Jawab Sita yang memang cara bicaranya ramah. Kenzo hanya menganggukkan kepala lalu pergi meninggalkan Sita dan Ilana
"Hei, siapa yang mengizinkanmu untuk pergi?" Teriak Ilana pada Kenzo yang terus melangkah dan mengabaikannya
"Anda mau pesan apa, nona?" Sita melayani Ilana dengan senyum yang ramah
__ADS_1
"Siapa bilang aku mau dilayani olehmu?! Aku ingin Kenzo sendiri yang melayaniku!" Ilana berkata dengan sinis. Dia terlihat sangat marah karena Kenzo mengabaikannya
"Nona, jika anda hanya ingin membuat keributan saja di restoran ini , maka anda boleh keluar sekarang juga. Lagipula restoran ini akan tutup untuk sebuah acara sebentar lagi" Sita menjelaskan dengan sikap yang tenang namun senyum tak hilang dari wajahnya
"Bagaimana bisa kamu mengusir tamu restoran yang akan makan disini? Kamu bisa saya laporkan ke manajermu" Ilana yang tidak terima mulai berteriak pada Sita
"Restoran ini akan digunakan untuk syuting, jadi kami memang menutup restoran ini dalam waktu setengah jam" Sita masih terus menjelaskan pada Ilana kalau restoran mereka memang akan tutup dan tidak melayani tamu lagi.
Tak berselang lama terdengar keributan dari rombongan kru yang akan syuting disana
"Kalau begitu saya permisi nona, mereka sudah sampai. Saya harus mulai bersiap untuk menutup restoran dan membantu mereka dalam proses syuting. Anda juga tidak bisa duduk disini karena acara syuting ini tertutup" Sita bicara dengan sikap tenang dan senyum yang ceria.
Ilana terlihat kesal dengan sikap yang diterimanya dari Kenzo dan juga Sita. Diapun beranjak dari tempat duduknya
"Huh menyebalkan! Katanya restoran bonafit, tapi pelayanannya benar-benar buruk" Ilana terus saja menggerutu selama dia melangkahkan kaki keluar restoran
Saking kesalnya, Ilana berjalan dengan tidak hati-hati
"Ah, maaf" bahunya bersenggolan dengan seorang gadis yang mengenakan kacamata hitam dan juga masker. Gadis itu langsung minta maaf pada Ilana meskipun bukan dia yang salah
"Kalau jalan itu pakai mata! Untuk apa matamu ditutup dengan kacamata hitam didalam ruangan seperti ini?" Bukannya minta maaf, Ilana malah marah-marah pada orang yang dia tabrak
Gadis itu mengernyitkan dahi heran melihat sikap Ilana
"Nona, saya sudah minta maaf dan harusnya anda juga minta maaf karena jalan terburu-buru tapi tidak hati-hati" Gadis itu bicara dengan sikap yang tenang dan sopan namun tetap tegas
"Kenapa aku harus minta maaf padamu? Kamu yang salah. Sudahlah aku sibuk, tidak ada waktu untuk meladenimu" Ujar Ilana yang langsung pergi dengan tidak sopan
"Iih, ada ya gadis seperti itu? Masih muda tapi tidak tahu sopan santun" Ujar Safira yang tidak habis pikir dengan sikap Ilana
"Sepertinya kisaran usianya sama denganmu?Tidak usah dipedulikan, sebaiknya kita masuk sekarang" Tiara mengingatkan Safira agar mereka bersiap dan tidak menunda lagi
__ADS_1
Dari kejauhan Kenzo yang sedang membereskan meja, terus memperhatikan kearah Safira dengan tatapan bingung
"Bukankah itu gadis aneh yang waktu itu bertemu di swalayan? Eh, benar tidak ya? Ah mungkin hanya mirip saja karena mereka sama-sama menggunakan masker dan berambut hitam panjang" Gumam Kenzo dengan menggelengkan kepala berkali-kali untuk menghilangkan pemikirannya mengenai Safira. Dia pun kembali fokus pada pekerjaannya
Saat Safira hendak pergi keruang make up yang telah disediakan, dia melihat Kenzo yang sedang membersihkan meja. Safira tersenyum kemudian menghampiri Kenzo dari belakang
"Kamu bekerja disini?" Kenzo menoleh mendengar suara seseorang dibelakangnya
"Benar. Anda siapa ya? Apa kita saling mengenal sebelumnya?" Tanya Kenzo dengan memicingkan mata bingung
"Kita tidak saling kenal. Hanya saja pernah bertemu di swalayan beberapa waktu yang lalu" Jawab Safira dengan tenang
"Jadi benar, kamu gadis yang waktu itu dompetnya tertinggal?" Tanya Kenzo lagi untuk memastikan
"Benar. Perkenalkan, nama saya Safira" Safira memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk berjabat tangan dengan Kenzo, namun dia tidak membuka maskernya
Kenzo menyambut uluran tangan Safira dan tersenyum tipis padanya
"Tema yang saat ini kita ambil adalah cafe masa muda. Jadi kurasa melewati bagian dimana pemeran utama mulai terpuruk tidak baik. Mereka bisa belajar melihat televisi untuk contoh bersikap setiap hari
"Baiklah. Sampai jumpa lagi siang nanti" Ujar Safira dengan senyum santai dan mulai beranjak pergi dari hadapan Kenzo
"Ya sampai jumpa lagi" Kenzo pun kembali membersihkan meja, Meskipun sesekali dia masih menoleh pada Safira
Acara syutingpun dimulai. Kenzo memperhatikan Safira yang mulai mengambil gambar
"Kenapa dia malah menutupi wajah cantiknya? Harusnya kan tidak perlu mengenakan masker. Eh tapi jika tidak menggunakan masker, sudah pasti dia akan jadi pusat perhatian. Dan dikerumuni banyak orang" Pikir Kenzo yang mulai mengomentari Safira
"Ternyata jadi selebriti itu merepotkan. Pantas saja keluargaku tidak terlalu suka masuk ke dunia entertain" Oops … Kenzo tanpa sengaja mendengarkan Safira sebelun dia pergi dari hadapannya
"Apa? Keluargamu juga sedang kritis. Kamu datang tepat waktu"
__ADS_1