Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kesedihan Lea


__ADS_3

Rumah sakit


Lea sedang tidur dikamarnya sendiri.  Vio dan Leo sedang dikamar bayi karena Lathan baru saja selesai diberi asi oleh Lea. Yudha dan yang lainnya sedang pulang kerumah. Cheva, Lian dan Radit langsung pergi ke kantor setelah dari kantor polisi


"Lea ... maafkan kami, kami baru sempat mejengukmu kemari. Hu.. u...u u u" Astria datang kekamar Lea dengan tangis histeris. Seakan dia sangat sedih melihat kondisi Lea


"Tidak papa kak. Aku juga sudah lebih baik sekarang. Aku senang melihat kalian disini. Terimakasih" Lea menjawab dengan sikap yang tenang dan senyum tipis


"Bagaimana bayimu? Apa dia baik-baik saja?" Kini Adnan yang bertanya mengenai kondisi bayi Lea


"Bayiku juga baik. Dia sudah keluar dari inkubator dan berat badannya sudah cukup stabil" Lea kembali menjelaskan dengan tenang


"Bagaimana ini, bayi sekecil dia harus hidup tanpa ayahnya. hu u u u u" 


Astria kembali menangis setelah membahas bayi Lea dan menutupi wajahya dengan kedua tangannya


"Apa maksud ucapanmu?" Lea bertanya dengan sikap yang sinis dan mata mendelik


"Kamu tidak tahu kalau Galen sudah ... ?" Astria menggantungkan kalimatnya dan menutup mulutnya kembali karena terkejut


"Sudah apa?! Katakan dengan jelas!" Lea yang tadinya duduk bersandar langsung tersentak dan duduk dengan tegap. Dia bertanya dengan sorot mata yang tajam dan suara yang mendesak


"Galen dan Rey ... mereka meninggal saat kecelakaan itu" Adnan bicara dengan suara yang lemah seakan dia bersedih dengan apa yang dia katakan


"Tidak mungkin! Mereka tidak mungkin meninggal! Kalian pasti bohong kan?! Katakan yang sebenarnya padaku! Kalian berdua bohong kan?!"


Lea berteriak histeris dengan air mata yang mulai membasahi pipinya


"Apa kamu ... benar-benar tidak tahu mengenai kematian mereka?" Adnan bertanya dengan hati-hati


"Kalian pasti bohong! Ini pasti bohong. Aku harus memastikan semuanya sendiri" Lea melepas selang infus yang terpasang ditangannya dan turun dari tempat tidur


Gubrak


"Lea!"


Adnan dan Astria langsung mendekati Lea ketika dia jatuh dari tempat tidur karena kakinya masih lemah

__ADS_1


"Sebaiknya kamu istirahat dulu! Setelah pulih baru kamu bisa pastikan sendiri!"


Adnan dan Astria membantu Lea kembali ke tempat tidurnya. Mereka menunjukkan raut wajah sedih pada Lea, namun tanpa Lea tahu, mereka berdua tersenyum melihat Lea yang sangat syok mendengar berita mengenai Galen


"Tidak. Aku ingin menemui kak Galen sekarang! Aku ingin melihatnya sekarang! Lepaskan aku!"


Lea terus meronta agar Adnan melepaskannya karena dia ingin melihat sendiri makam Galen dan Rey


"Ada apa ini?! Lea? Kenapa kamu turun dari tempat tidurmu? Kenapa juga kamu melepaskan selang infusnya?"


Cheva bertanya dengan raut wajah panik setelah melihat Lea. Cheva yang datang bersama Lian untuk melihat kondisinya cukup terkejut ketika mendapati Lea berada di lantai dan sedang meronta dengan derai air mata membasahi wajahnya


"Kak bagaimana ini? Dia datang disaat yang tidak tepat. habislah kita" Bisik Astria pada Adnan


"Bersikaplah tenang. Katakan kalau kita tidak tahu apapun!" Adnan kembali berbisik menjawab Astria


"Kak Cheva, katakan padaku kalau itu semua bohong kan! Itu tidak benar kan? Kak Galen baik-baik saja, iya kan kak? Katakan yang sejujurnya padaku!.. hiks ... hiks.... hiks..."


Dengan derai air mata dan tubuh yang lemah Lea berusaha meraih tangan Cheva


Lea yang biasa sombong dan selalu berdebat dengan Cheva terlihat tak berdaya saat ini. Dia seperti  sebuah kaca tipis yang bisa saja hancur jika terkena sesuatu yang keras


"Tenanglah dulu. Ayo aku bantu duduk!" Cheva bicara dengan nada yang lembut


"Kak, cepat katakan padaku kalau itu tidak benar! Bawa aku menemuinya sekarang!" Lea terus memohon pada Cheva agar membawanya menemui Galen


Cheva tak kuasa melihat Lea yang sangat rapuh. Dia menoleh pada Lian seakan bertanya apa yang harus dia lakukan


"Aku janji akan membawamu menemui Galen saat kamu sudah pulih. Lebih baik sekarang kamu kembali istirahat!" Cheva mengusap lembut rambut Lea dan menghapus air matanya


"Aku tidak mau. Jika kak Cheva tidak mau mengantarku, maka aku akan pergi sendiri" Lea langsung beranjak pergi dengan tertatih keluar dari kamar


Bruk


"Ah"


"Lea!"

__ADS_1


Karena kondisinya yang lemah, Lea kembali jatuh. Bahkan sebelum dia bisa mencapai pintu. Lian dan Cheva dengan cepat berlari ke arahnya


"Jangan begini. Kumohon tenanglah!" Cheva dengan raut wajah sedih memohon pada Lea agar kembali tenang


"Bagaimana aku bisa tenang?! Aku tidak tahu kondisi suamiku! Kalian semua menyembunyikan sesuatu dariku, iya kan?!" Lea menepis tangan Cheva dan berteriak dengan air mata yang tak berhenti mengalir


"Lea, kami janji akan mengantarmu menemui Galen setelah kamu pulih. Kamu tidak bisa pergi dalam keadaan seperti ini" Lian pun berusaha menenangkan Lea dengan nada bicaranya yang tenang


"Aku ingin menemui kak Galen. Terakhir aku melihatnya, wajahnya penuh dengan darah. aku ingin memastikan sendiri keadaannya.. hiks.. hiks... hiks..." Lea bicara sambil menundukkan kepala tak berdaya


"Lea tenanglah. Jangan seperti ini, kamu harus ingat kalau kamu memiliki bayi sekarang!"


"Tutup mulutmu! Ini pasti karena kalian kan?! Apa yang kalian katakan pada Lea?!"


Cheva meninggikan suara sambil menunjuk Astria saat dia ikut berusaha menenangkan Lea. Sorot matanya tajam, terlihat ada kebencian dan amarah dari sorot matanya


"Kami tidak mengatakan apa-apa" Astria menjawab dengan panik, dia berusaha keras untuk tetap tenang


"Sebaiknya kalian pergi sekarang juga!"


"Baiklah, kami akan pergi. Lea kabari kami jika kamu butuh sesuatu" Adnan pamit pada Lea sambil menepuk lembut pundaknya setelah Cheva mengusir mereka


"Kak Galen... hiks... hiks... hiks"


Lea kembali menangis dengan kedua tangan menutup wajahnya. Cheva tidak dapat melakukan apapun. Dia hanya terdiam menatap Lea. Tanpa dia sadari air mata pun membasahi pipinya melihat kondisi Lea saat ini


"Lea istirahatlah. Kami akan memanggil orang tuamu. Sepetinya ponsel mereka dimatikan karena berada diruang bayi"


Cheva dan Lian beranjak pergi dari kamar Lea setelah membantunya berbaring dan memastikan dia tenang. Namun setelah mereka pergi Lea kembali bangun dari tempat tidurnya. Dengan langkah tertarih dia berjalan keluar. Perlahan dia melangkahkan kaki dengan tangan berpegangan pada dinding rumah sakit. Lea berjalan menuju meja informasi


"Permisi. Maaf suster, apa ada pasien bernama Galen? Dia dirawat dikamar mana ya?Dia korban kecelakaan mobil beberapa hari yang lalu" Dengan wajah pucat dan suara lemah Lea berusaha keras bertanya


"Eum... kedua korban kecelakaan lain yang bersama dengan anda sudah meninggal. Mereka tidak sempat menerima pertolongan dan meninggal di tempat"


Perawat itu bicara dengan ragu-ragu. Tanpa perlu mengecek data pasien dia memberitahu Lea karena dia tahu Galen mana yang dimaksud


"Tidak mungkin!"

__ADS_1


__ADS_2