Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Sumpah Radit Dipemakaman Lea


__ADS_3

Setelah semua urusan dirumah sakit selesai, Yudha membawa jenazah Lea pulang bersama dengan putranya. Dirumah sudah ada keluarga Diaz, Radit, Candra dan si kembar Kenzo dan Kenzie


"Kakek, itu bohong kan? Katakan padaku kalau itu semua bohong! Kak Lea tidak mungkin meninggal, kan? Katakan kalau itu tidak benar!"


Radit langsung  berjalan mendekati Yudha dengan air mata yang tak kunjung berhenti, kemudian dia bertanya dengan panik ketika melihat kakeknya turun dari mobil. Yudha tidak menjawab Radit. Dia hanya menoleh pada mobil jenazah yang baru datang di belakangnya


"Tidak. Itu bukan kak Lea. Itu pasti salah" Radit berusaha menolak kenyataan yang ada dan tidak  langsung mempercayainya. Kemudian Radit berjalan mendekati mobil jenazah. Perlahan sebuah keranda berisi tubuh Lea dikeluarkan oleh perawat rumah sakit dan dibawa ke dalam rumah dengan hati-hati. Radit mengikuti dari belakang


"Letakkan disitu! Tolong buka, aku ingin melihatnya" Pinta Radit dengan mata terus menatap ke arak keranda dihadapnnya


Perawatpun membuka keranda dan juga penutip jenazah Lea


"Kak Lea... !" Radit berteriak histeris melihat Lea yang memejamkan mata dengan wajah pucat. Dia langsung bersimpuh di atas tubuh Lea sambil memeluknya erat


"Kak, kenapa kamu pergi dengan cara begini? Kamu tidak pikirkan bagaimana anakmu? Dia masih bayi. Bagaimana dia dibesarkan tanpa orang tua? Bangun kak, ayo bangun!"


Radit menggoyangkan tubuh Lea. Dia berteriak membangunkan Lea berharap jika da ke ajaiban yang membuat dang kakak kembali membuka mata.


"Dit, tenanglah!" Radit menoleh ketika seseorang menyentuh pundaknya untuk menenangkannya


"Kak Cheva, tolong bangunkan dia. Bila perlu kakak pukul saja dia agar dia bangun! Bukankah kslau kak Cheva pukul dia, itu akan membuatnya marah dan mengajak berkelahi? " Radit bicara pada Cheva yang berada di sebelahnya


"Dit, kita sudah tidak bisa melakukan apapun. Kamu harus bisa menerima kenyataan ini" Cheva kini berusaha menenangkan Radit


"Tapi kak, kak Lea masih muda. Karirnya pun sedang cemerlang. Bagaimana bisa?" Cheva yang tidak tega melihar Radit langsung memeluknya dengan erat


"Dit, tidak ada yang tahu mengenai kematian seseorang. Ini sudah jadi takdir Lea. Dia harus pergi mengikuti suaminya dan juga Rey. Kamu harus ikhlas melepas kepergiannya" Diaz yang melihat Radit dan Cheva saling berpelukan dan sedih ikut merasa sedih. Diapun mendekati mereka dan menepuk pundak Radit


Radit tidak bisa menjawab apapun lagi, dia hanya terdiam dengan isak tangis sambil menatap sendu wajah pucat Lea.


Vio pun tak lagi meneteskan air mata. Pandangannya terus tertuju pada Lea yang terbujur kaku dengan wajah pucat.

__ADS_1


Leo terdiam dengan sedih sambil memegangi Vio disampingnya. Dan bayi Lea yang sebelumnya digendong Cheva kini tengah digendong oleh Lian.


Kabar meninggalnya Lea pun mulai tersebar luas dikalangan selebriti dan pebisnis. Perlahan para rekan bisnis keluarga Kusuma datang untuk menunjukkan bela sungkawa mereka. Kabar itu pun sampai ke telinga Adnan dan Astria


"As, apa kamu sudah dengar kalau Lea akhirnya meninggal?" Adnan bertanya dengan wajah berbinar ceria


"Apa? Kak Adnan serius?" Astria pun memastikan dengan wajah antusias


"Siapa yang meninggal, mah, om?" Tanya Pras dengan raut wajah penasaran. Dia adalah anak Astria satu-satunya.


"Tante Lea, dia baru saja meninggal" Adnan menjawab pertanyaan keponakannya dengan wajah datar


"Tante Lea?" Pras terlihat cukup terkejut dengan apa yang di dengarnya dari Adnan


"Ya. tante Lea. Kita harus pergi kesana sekarang juga untuk menunjukkan bela sungkawa pada mereka" Jawab Astria dengan wajah biasa saja


"Tapi kan mah itu jauh. Tante Lea pasti dibawa kerumah kakeknya, kan?"


"Benar juga, butuh waktu sekitar 2 jam dari sini. Sebaiknya kita bergegas sekarang. Aku akan memanggil Sani dan juga kedua anakku" Adnan langsung berbalik dan pergi meninggalkan Astria dan putrinya


Pras bicara sendiri sambil menikmati jus yang tersedia di depannya.


"Tidak perlu pikirkan itu. Itu sudah nasib bayinya harus jadi yatim piatu. Jika keluarga Kusuma mengizinkan, kita bisa membesarkan bayi Lea dan Galen. Toh dia juga merupakan bagian dari keluarga Surendra. Saat besar nanti, dia bisa menerima warisan peninggalan ayahnya"


Astria bicara dengan wajah tidak senang, mengingat kalau dia harus menyerahkan warisan Galen pada putranya


"Mereka tidak mungkin mengizinkannya mah. Apalagi bayi Lea adalah cucu pertama dari bu Vio. Itu lebih tidak mungkin lagi untuk kita merawatnya" Pras menjawab dengan sikap yang tenang


"Kamu benar. Jadi biarkan saja dia tinggal dengan keluarga Kusuma. Mama akan bersiap dulu. Kamu hubungi papamu dan katakan kalau kita akan pergi ke kediaman utama Kusuma" Astria bicara sambil beranjak pergi menuju kamarnya


"Baik mah" Jawab Pras padahal sang ibu sudah melangkah pergi

__ADS_1


***


Kediaman utama Kusuma


Jenazah Lea sudah siap dikebumikan. Semua keluarga Kusuma telah berkumpul karena Jingga dan Biru juga langsung terbang dengan jet pribadi Yudha begitu mendengar kabar mengenai Lea


"Vio …" Ji menyapa Vio yang terus termenung dengan tatapan kosong


"Kak Ji … Lea …"Vio kembali menangis begitu melihat Ji berada di hadapannya. Ji langsung menarik Vio dalam pelukannya hingga tangisnya kembali pecah


"Tenanglah, ikhlaskan Lea. Biarkan dia tenang dengan Galen dan Rey di surga sana. Kamu harus membantunya merawat bayi mereka. Bayi Lea membutuhkan kasih sayang. Dia tidak memiliki orang tua jadi kita yang harus menggantikan tugas Lea" Ji berusaha menenangkan Vio yang terlihat sangat terpuruk setelah kehilangan Lea


"Aku tidak bisa melihatnya. Setiap aku melihat bayinya, aku teringat Lea, hiks… hiks… hiks…"


"Untuk sekarang memang berat tapi dia satu-satunya harta berharga yang ditinggalkan Lea. Dengan merawatnya kamu bisa membuat Lea bahagia" Ji berusaha membuat Vio menerima putra Lea dan Galen


"Sudahlah, sudah waktunya kita mengantar kepergian Lea ke tempat peristirahatan terakhirnya" Ji menggandeng Vio dan mereka mulai berjalan keluar dari rumah menuju tempat pemakaman


Suasana duka sangat kental terasa. Wajah keluarga Kusuma seperti diselimuti kegelapan. Raut wajah sedih terlihat jelas dari wajah mereka. Dengan derai air mata, mereka mengantar kepergian Lea


"Tidak.... ! Lea.... ! hu u u u... "


"Vio!"


Vio kembali histeris ketika jasad Lea dimasukkan kedalam liang lahat, bahkan dia sampai tidak sadarkan diri karena tak kuasa melihat putrinya telah tiada


Keluarga Astria dan Adnan baru saja tiba setelah Lea dimasukkan ke dalam liang lahat. Mereka datang ketika bunga sedang ditaburkan di atas pusara Lea


"Kamu tidak perlu khawatir tentang Lathan. Aku akan merawatnya seperti anakku sendiri. Dan aku bersumpah di depan makammu yang tanahnya masih merah ini. Aku akan membalas siapapun yang membuatmu menderita kak. Aku akan membuat mereka menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan padamu. Mereka harus merasakan semua kepahitanmu"


Radit bergumam dengan tangan mengepal keras. Sorot matanya penuh kebencian, dia menatap kearah Adnan yang baru saja tiba dengan tatapan yang sangat tajam seakan ingin menghabisinya sekarang juga

__ADS_1


Cheva yang peka dengan sikap Radit langsung meraih tangannya dan memegangnya erat


"Tenang, jaga emosimu. Kita akan main perlahan dan membuat mereka perlahan masuk ke dalam lubang yang telah mereka buat sendiri. Mereka harus merasakan kehilangan seperti yang kita rasakan"


__ADS_2