
Diaz, Cheva, Lian dan Radit tidak datang kerumah duka, tetapi mereka lagsung menghadiri pemakaman Pras.
Terlihat orang-orang yang hadir ke pemakaman mengenakan pakaian serba hitam. Menandakan rasa bela sungkawa mereka. Mereka menunjukkan raut wajah yang sedih atas kepergian Pras terutama Astria. Dia terus menangis histeris selama pemakaman putra semata wayangnya.
"Kak, apa menurutmu mereka benar-benar bersedih? Aku sedikit meragukan air mata yang mengalir itu. Mengingat dia sudah sering menitikan air mata buaya" Cheva berbisik ditelinga Diaz ketika melihat Astria yang menangis histeris
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya air mata Adnan dan yang lainnya hanya keluar sebagai rasa penghormatan saja" Jawab Diaz dengan berbisik juga
"Kalian gila?! Mana mungkin mereka tidak bersedih dengan meninggalnya keluarga mereka?" Radit pun ikut berbicara dengan Diaz dan Cheva
"Radit, itu bagus jika mereka bersedih. Artinya mereka juga bisa mengerti bagaimana perasaan kita saat kehilangan Lea" Cheva pun kembali berbisik menjawab ucapan Radit
"Jangan-jangan ... ini ulah kak Cheva?" Radit menatap Cheva dengan tatapan penuh curiga
"Kamu gila?! Mana mungkin aku membunuh orang. Meskipun aku jahat, aku tidak akan melakukan itu. Tapi ... dari sini kamu bisa tahu kalau kamu harus hati-hati dengan perkataanmu"
"Apa maksudnya itu?" Radit terlihat bingung dengan apa yang dikatakan Cheva
"Perkataan yang kamu ucapkan bisa menjadi belati yang tajam dan mempengaruhi perasaan orang lain. Jika kamu mengatakan hal yang baik, maka itu bisa membuat orang senang dan memiliki semangat untuk melakukan hal yang lebih baik. Tapi jika perkataan yang kamu ucapkan itu adalah kata-kata kasar atau menyudutkan, lebih tepatnya menyinggung perasaan, itu bisa berakibat fatal pada mental seseorang. Seperti yang terjadi pada Lea dan Pras. Lea mendengar perkataan yang membuat hatinya terguncang dan berpengaruh pada kesehatannya. Sedangkan Pras mendengar perkataan yang menjatuhkan mentalnya hingga dia tidak bisa berpikir jernih dan mengambil jalan pintas. Itulah yang ku maksud dengan hati-hati dengan kata yang kamu ucapkan pada seseorang" Cheva menjelaskan dengan tenang dan lembut mengenai apa yang dia pikirkan
"Ya, sekarang aku mengerti maksud kak Cheva. Tapi tetap saja ini ulah kak Cheva kan? Ini bagian dari rencana kalian kan?" Radit mengaggukkan kepala dengan senyum ceria namun sesaat kemudian dia kembali bertanya dengan tegas
"Apa yang kalian lakukan disini?" Radit, Cheva, Diaz dan Lian langsung menoleh begitu mendengar suara Adnan. Disana juga ada Astria yang dipapah oleh sang suami juga istri dan anak Adnan
__ADS_1
"Oh, tentu saja kami datang untuk menunjukkan rasa bela sungkawa kami atas kehilangan putramu. Kami dari keluarga Kusuma turut berduka cita atas kepergian Pras. Kami harap kalian bisa sabar menghadapinya" Namun Cheva tidak mengatakannya dalam keadaan yang sedih. Senyum tipis terlihat dari wajahnya. Lalu dia mendekati Astria seakan dia memeluknya
"Gara-gara perkataanmu pada Lea, keadaannya jadi drop dan dia meninggal. Sekarang, bagaimana perasaanmu ketika anakmu sendiri bunuh diri karena tidak bisa menerima kenyataan kalau dia tidak akan punya uang dan tidak bisa melakukan apapun tanpa kaki?"
Mata Astria membelalak mendengar apa yang dibisikkan oleh Cheva padanya
"jadi, kamu ... kamu ... kamu yang telah membuat anakku seperti ini?! Ini semua karena ulahmu?! Dasar monster tidak punya hati! Kamu telah membunuh putraku! Kamu pembunuh! kamu yang membuatnya berakhir seperti ini!"
Astria terus berteriak dengan derai air mata yang masih mengalir diwajahnya sambil terus menunjuk wajah Cheva penuh amarah.
"Aku monster? Pembunuh? Lalu kamu apa? Kamu yang merencanakan kecelakaan Galen, Rey dan juga Lea. Setelah Lea selamat, kamu juga yang menyebabkan Lea meninggal karena kondisinya drop setelah mendengar kabar kematian Galen. Padahal kamu tahu sendiri kalau Lea baru saja lolos dari maut setelah mengalami kecelaan, dia juga baru saja sadar dari koma setelah melahirkan bayinya" Sorot mata Cheva terlihat tajam penuh kebencian. Nada bicaranya yang dingin seakan membuat bulu kuduk merinding
"Itu bohong! Aku tidak pernah melakukan itu! Kecelakaan yang mereka alami murni karena kecelakaan, bahkan supir truk itu telah ditangkap pada hari itu juga. Dan mengenai kondisi Lea ... aku benar-benar tidak sengaja memberi tahunya. Kupikir kalian sudah memberitahu Lea mengenai kematian Galen, karena itu aku membicarakannya hari itu!" Astria menyela dan berusaha membela diri kalau dia tidak bersalah atas kecelakaan yang menimpa mobil Galen dan kematian Lea
"Kamu memberitahunya kalau kami bangkrut? Bagaimana bisa kamu setega itu?! Mentalnya masih belum stabil karena kecelakaan yang dia alami! Bahkan dia masih harus menerima terapi"
"Seperti kamu yang tidak tahu kondisi Lea, aku juga tidak tahu akan hal itu. Aku hanya melihat kalau Pras sudah sehat dan siap untuk dibawa pulang. Itu saja" Cheva bicara dengan sikap acuh tak acuh sambil mengangkat kedua bahunya secara bersamaan
"Kamu!"
"Kami rasa kalian masih sangat lelah. Jadi kami tidak akan mengganggu kalian lebih banyak lagi. Kami mohon pamit. Sekali lagi kami mengucapkan turut berbela sungkawa. Permisi, ayo sayang!"
Lian langsung menyela sebelum Astria menyelesaikakn perkataannya pada Cheva. Dia meminta Cheva menggandeng tangannya dan mereka pun berbalik hendak pergi dari hadapan Astria dan keluarganya.
__ADS_1
"Oh iya. Aku lupa mengatakan satu hal lagi pada kalian. Kalian ingat kan kalau kami yang membantu Galen saat perusahaan kalian menghadapi masalah? Kami membantu perusahaan itu agar kembali stabil karena Lea yang meminta bantuan kami. Sekarang, aku ingatkan lagi pada kalian kalau kami juga bisa dengan mudah menghancurkan perusahaan itu. Terlebih lagi tidak ada alasan bagi kami untuk mempertahankan perusahaan itu"
Diaz membalikkan tubuhnya dan bicara pada Adnan juga keluarganya dengan senyum manis yang membuatnya terlihat semakin tampan namun juga terlihat semakin menyeramkan.
"Jadi kalian?!" Adnan masih ingin bicara namun Lian, Cheva, Diaz dan Radit telah pergi dan sama sekali tidak mempedulikan apa yang ingin dikatakan Adnan
"Berhenti!Aku masih belum selesai bicara!" Adnan berteriak memanggil Cheva, Lian, Radit dan Diaz, namun mereka terus berjalan dan mengabaikannya
Drrt drrt drrt
Ponsel Hasna berdering saat semua masih bingung dengan apa yang dikatakan keluarga Kusuma
"Halo Johan" Hasna menjauh dari keluarganya dan menjawab telepon dari Johan dengan suara yang rendah agar tidak didengar oleh yang lain
"Sayang, aku turut berduka cita atas meninggalnya saudaramu. Tapi maaf aku tidak bisa datang kesana, saat ini aku sedang ada pekerjaan diluar kota" Dengan nada bicara yang tenang dan lembut, Johan bicara pada Hasna
"Tidak papa. Lagipula sekarang semua sedang sedih, jadi kami tidak bisa menyambut kamu" Hasna menjawab Johan dengan sangat lembut
"Terimakasih, aku akan menemuimu dan keluargamu setelah kembali darisini untuk makan malam yang telah kita rencanakan. Aku yakin mereka akan sangat terkejut dengan hal ini"
"Ya, tentu saja mereka akan terkejut ketika melihat wajahmu yang tampan" Hasna membela Johan dengan wajah tersipu malu
"Aku tidak akan mengecewakanmu!"
__ADS_1