Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Tiga Ksatria Dari Kutub Selatan


__ADS_3

Apa yang diminta oleh Kenzo langsung dilakukan dengan cepat oleh Noey dan juga Rendra. Mereka segera melaksanakannya tanpa menunda-nunda waktu. Akibatnya Berly Wiguna sangat terkejut setelah melihat postingan yang dibuat oleh Noey. Harga sahamnya pun turun drastis hanya dalam hitungan jam, dan setiap orang yang berpapasan dengannya menatap dengan tatapam yang seakan mencibir.


"Bagaimana ini?" Gumam Berly yang sedang bingung karena sahamnya turun. Lalu Berly pun pergi kerumah sakit jiwa untuk mengunjungi Marina dan ternyata dia juga tidak bisa ditemui secara langsung karena berada diruang isolasi dengan tangan dan kaki terikat. Dia hanya bisa melihat bagaimana Marina meronta dengan derai air mata diwajahnya yang mulus dari sela jeruji besi kecil yang terpasang dibagian atas pintu.


"Marina, sayang. Bagaimana bisa kamu jadi seperti ini? Papa tidak mengira kalau keadaanmu begitu buruk sampai kamu harus ditempatkan diruang isolasi seperti ini" Hati pak Berly pun seakan tersayat melihat kondisi gadis manisnya


"Papa! Papa tolong aku pah! Keluarkan aku darisini! Aku tidak gila pah!' Marina terus berteriak setelah dia melihat dari sela pintu kalau sang ayah sedang memperhatikannya


"Suster, anak saya bilang kalau dia tidak gila, kenapa dia harus diikat seperti itu?" Berly bertanya pada suster yang sedang berkeliling untuk mengawasi keadaan pasien dirumah sakit ini


"Maaf pak, itu karena nona Marina terus saja berteriak dan meronta sambil mengatakan kalau dia tidak gila. Tidak mungin ada orag gila yang dengan sengaja mengaku kalau dia gila. Jadi, anda tidak boleh langsung percaya dengan apa yang dia katakan. Dokter pasti lebih tahu bagaimana kondisinya sampai dia harus diikat seperti iti" Suster menjelaskan dengan sikap yang tenang mengenai kondisi Marina


Berly terdiam mendengar apa yang dikatakan suster padanya. Dia tidak lagi bisa mengatakan apa-apa untuk membela putri bungsunya


Drrt drrt drrt


Berly merogoh saku jasnya ketika ponselnya bergertar. Dan itu adalah telepon dari Sheila


"Halo Sheila, bagaimana? Apa kamu menemukan cara untuk mengeluarkan Marina?" Ujar Pak Berly yang langsung bertanya saat menyapa putri sulungnya


"Papa ... huhuhu ..." Sheila tidak menjawab apa yang ayahnya katakan. Justru Sheila terdengar langsung menangis saat telepon mereka tersambung


"Eh, ada apa?" Kenapa kamu menangis?" Berly terkejut dan bingung mendengar Sheila yang menangis saat mereka  bahkan belum membahas apapun


"Hancur! Semua sudah hancur!" Ujar Sheila disela isak tangisnya


"Apa maksudmu … perusahaan kita?" Berly menjawab dengan nada yang sedih


"Benar pah. Ternyata Kenzo dan Kenzie itu bukanlah orang sembarangan"


"Kenzo? Siapa dia?" Dahi Berly berkerut ketika mendengar nama Kenzo yang memang tidak dia kenal


"Itu ... Kenzo adalah pemimpin baru dari perusahaan Anggara. Aku sebelumnya memiliki kesepakatan kerja sama dengannya. Namun dia dikenal sebagai pemuda yang ketat, jadi aku juga menggunakan syarat lain sebagai rencana cadangan" Sheila menjelaskan dengan ragu mengenai rencana kerjasamanya dengan Kenzo yang kini telah gagal


"Rencana apa yang kamu maksud?" Kini Berly terdengar bingung dengan apa yang dikatakan Sheila


"Aku berencana meminta Kenzo agar membujuk Kenzie mengeluarkan Marina, tapi … ternyata ada yang berniat mencelakai Kenzie sampai pacarnya masuk kerumah sakit. Itu membuat Kenzo sangat marah dan menghancurkan keluarga kita"


Pak Berly terdiam sesaat mendengar Sheila


"Bagaimana mungkin itu membuatnya marah?"


"Karena mereka itu saudara kembar. Papa tahu siapa mereka? Mereka adalah putra dari Erliansyah Anggara! Kenzo Osterin Anggara dan Kenzie Lutherin Anggara!" Sheila berteriak pada ayahnya karena kesal


"Apa?! Maksudmu …"

__ADS_1


"Ya! Mereka adalah keturunan keluarga Kusuma. Bisa-bisanya papa berusaha mencelakai Kenzie!"


"Itu … papa …" Berly tidak bisa berkata apa-apa lagi. Perlahan dia terduduk dilantai karena lemas


"Apa yang harus kita lakukan sekarang pah? Aku tidak mau hidup dijalanan … hu … u…u…u" Sheila kembali histeris setelah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi


"Keluarga Kusuma? Pantas saja saham perusahaanku langsung turun drastis. Jangan-jangan … Marina juga …?!" Berly mulai memahami situasinya. Dia kini menyadari kalau kehancurannya karena dia menyinggung orang yang salah. Dia hanya bisa duduk diam dengan pandangan yang kosong seakan tak bernyawa


***


Dirumah sakit tempat Meisya dirawat


"Dokter! Bagiamana kedaan pacar saya?!" Kenzie bertanya dengan panik begitu melihat seorang dokter keluar dari ruang IGD


"Pasien tidak mengalami luka serius. Hanya saja luka sayatnya cukup dalam jadi kami menjahit lukanya beberapa jahitan" Dokter menjelaskan kondisi Meisya pada Zie


"Syukurlah … Apakah saya boleh melihatnya kedalam?" Kenzie menghela napas lega, kemudian Kenzie bertanya lagi dengan raut wajah yang sedikit tenang


"Pasien masih lemah karena kehabisan banyak darah. Anda bisa menjenguknya setelah pasien dipindahkan keruang rawat" Jelas dokter lagi sebelum meninggalkan Kenzie


"Terimakasih dokter!"


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu"


"Baik dokter. Sekali lagi terimakasih banyak" Dokter menganggukkan kepala kemudian beranjak pergi dari hadapan Kenzie


"Maaf pak, anda wali pasien?" Tanya seorang suster dengan map dokumen ditangannya


"Benar sus. Ada apa?" Kenzie menjawab dengan mata yang terus menatap Meisya yang didorong keruang rawat


"Tolong anda urus dulu administrasi pasien dibagian administrasi. Kami akan mengurus kamar pasien"


"Baik suster" Kenzie pun bergegas ke bagian administrasi untuk mengurus semua keperluan Meisya. Setelah itu dia kembali keruangan tempat Meisya dirawat.


Begitu Kenzie tiba diruangan Meisya, raut wajahnya berubah muram. Dia duduk disamping Meisya yang masih tak sadarkan diri setelah kehilangan banyak darah. Kenzie menundukkan kepala dengan wajah sedih sambil menggenggam tangan Meisya


"Maafkan aku. Ini semua salahku. Aku tidak bisa melindungimu saat berada disisiku. Kamu malah mengorbankan nyawamu untuk melindungiku agar tidak terluka. Bagaimana aku bisa menebus kesalahan besarku ini padamu?" Nada bicara Zie terdengar sangat sedih dan sedikit gemetar, seakan saat ini dia sedang menahan tangisnya


"Kalau begitu kakak harus menjagaku selamanya disamping kakak" Kenzie langsung mengangkat kepalanya mendengar suara Meisya. Dia melihat Meisya mulai membuka matanya secara perlahan dan tersenyum lembut padanya


"Kamu sudah bangun? Apa kamu tahu kalau aku sangat takut? Aku tidak bisa membayangkan kalai sampai kamu terluka parah. Apa yang harus aku katakan pada papamu? Kurasa dia bisa membunuhku ditempat kalau sampai sesuatu terjadi padamu" Kenzie bicara dengan senyum ketir diwajah tampannya


"Aku tidak papa. Lagipula aku sudah memperhitungkan seberapa parah lukaku nanti. Tidak mungkin aku mengambil tindakan tanpa perhitungan terlebih dahulu. Aku hanya menepis pisau itu saja" Meisya menjawab dengan senyum tipis diwajahnya yang pucat


"Jangan pernah ulangi hal seperti itu lagi dimasa depan nanti!" Kenzie bicara dengan nada mengancam dan sorot mata yang tajam

__ADS_1


"Aku tahu. Kak Zie, sampai kapan kamu akan memarahiku? Aku haus dan juga terasa lapar" Kini Meisya bicara dengan nada yang manja pada Zie. Membuat pemuda yang sebelumnya kesal dan khawatir, kini kembali tersenyum


"Haah … kamu pintar sekali ya dalam hal membujuk? Bisa-bisanya kamu menggodaku dengan wajah polos seperti itu?" Kenzie menanggapi dengan senyum yang lembut dan nada bicara yang sangat ramah


"Karena aku paling tahu kalau kak Zie tidak akan tega membiarkan aku kehausan dan kelaparan* Jawab Meisya lagi dengan sikap manja


"Baiklah, aku akan ambilkan air dan bubur untukmu" Kenzie bangun dari duduknya dan mengambil air putih dan juga bubur yang telah tersedia di nakas samping tempat tidur Meisya


Drrt drrt


Disaat itu, ponsel Zie berdering


"Sebentar, aku terima telepon dari Noey dulu" Kenzie menerima telepon setelah Meisya menganggukan kepala


"Halo"


"Halo, Zie. Bagaimana kondisi pacarmu? Apa dia baik-baik saja?" Noey langsung bertanya dengan nada bicaranya yang dingin


"Ya, dia baru saja sadar. Luka ditangannya cukup dalam dan telah menerima beberapa jahitan. Dalam beberapa waktu kedepan, dia tidak akan bisa menggerakan tangannya dengan leluasa" Zie menanggapi dengan sikap yang tenang


"Oh. Semoga dia lekas sembuh"


"Oh ya Noey. Apa kamu sudah mendapatkan siapa pelukannya?" Zie bertanya setekah dia mengingat Noey yang menanyakan lokasi kejadian


"Sudah. Masalah dengan itu juga sudah dibereskan semua" Noey menjawab dengan sikap acuh tak acuh


"Siapa dia?" Kenzie terdengar penasaran dengan siapa pelakunya


"Mereka orang suruhan Berly Wiguna"


"Apa?! Jadi itu dia? Awas saja. Aku pasti akan membalas apa yang telah dia lakukan pada Meisya" Kenzie bicara dengan nada bicara penih amarah


"Sayangnya kamu tidak bisa melakukan apapun lagi padanya" Noey kembali menanggapi dengan sikap yang acuh tak acuh


"Kenapa begitu?" Kenzie semakin penasaran saat ini


"Karena kami sudah membereskannya"


"Maksudmu?"


"Ya. Aku, Kenzo dan Rendra sudah membereskannya"


"Apa?! Kalian lagi?! Kalian tidak membiarkan aku bermain sendiri ya. Selalu kalian yang bereskan"


"Mau bagaimana lagi. Kami jauh lebih cepat darimu" Jawab Noey dengan dingin dan bangga

__ADS_1


"Cih, kalian bersikap seperti tiga ksatria dari kutub selatan saja. Menyebalkan!" Kenzie yang kesal langsung menutup telepon dari Noey. Namun setelah itu dia mengirimkan sebuah pesan siaran pada Kenzo, Noey dan Rendra yang hanya bertuliskan satu kata saja


"Terimakasih"


__ADS_2