Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Hari Pernikahan Kenzo Dan Safira


__ADS_3

Setelah menempuh perjalan dari rumah Ji, akhirnya rombongan Yudha tiba di kantor catatan sipil. Arak-arakan mobil mereka sungguh menyita banyak perhatian. Apalagi setelah Yudha turun dari mobil yang ditumpanginya. Semua semakin terkejut dan terpana melihatnya. Pak Dimaz dan bu Galuh sudah tiba lebih dulu dan menunggu di depan gedung, mereka pun masih menatap tak percaya melihat keluarga calon besan mereka.


"Selamat pagi tuan Yudha, nyonya Gina. Bu Jingga dan juga pak Edward. Kami merasa terhormat karena cucu kami bisa menjadi salah satu bagian dari keluarga anda" Pah Dimaz bicara dengan sikap yang sopan dan ramah. Tentu dia tahu betul siapa keluarga Kusuma


"Tidak perlu terlalu formal begitu. Pak Dimaz, kita akan jadi besan sekarang. Jadi anggap saja kami ini juga bagian dari keluarga kalian" Ji menyambut dengan tenang karena dia memang kenal dengan pak Dimaz dan juga bu Galuh


"Terimakasih bu Jingga. Saya benar-benar merasa beruntung karena bisa menjadi besan anda" Para orang tua terus saja bicara dan membiarkan Zo yang sedang gugup diam saja sendiri


Tak berselang lama Kenzie dan Risha datang bersama Safira dan yang lainnya. Mereka pun menoleh melihat kedatangan Safira


"Itu mempelai wanitanya juga sudah tiba" Cheva bicara dengan senyum ceria dan ramah. Kenzo pun kembali terpesona melihat kecantikan Safira meskipun sebelumnya dia telah melihatnya mengenakan gaun pengantin yang dikenakan sekarang


"Zo, tutup mulutmu. Lalat bisa saja masuk kedalam mulutmu!" Kenzo langsung menatap Cheva dengan sinis ketika sang ibu menggodanya karena terpana dengan kecantikan Safira


"Berhenti mengejekku mih. Jangan buat anakmu ini kehilangan harga dirinya didepan calon mempelai wanita!" Ujar Zo dengan nada bicara yang dingin dan tatapan mata yang tajam


"Cih dasar. Baiklah. Mami tidak akan mengganggumu lagi"


"Pak Kenzo dan bu Safira! Apa mempelainya sudah siap?!" Akhirnya tiba giliran Kenzo dan Safira untuk meresmikan janji suci mereka dihadapan penghulu dan juga wakil dari negara


"Ya, mereka sudah siap!" Pak Dimaz menjawab panggilan dari petugas mewakili Kenzo dan Safira


"Silahkan masuk kedalam!" Semua pun masuk kedalam ruangan yang disediakan. Karena tidak banyak kursi yang disediakan, akhirnya sebagian menyaksikan janji suci Zo dan Safira dalam posisi berdiri


"Apa mempelai pria sudah siap?"


"Ya, saya siap" Penghulu bertanya pada Kenzo yang dibalas dengan anggukan kepala olehnya dan suara sedikit bergetar


"Apa mempelai wanita sudah siap?"Safira pun menganggukan kepala saat ditanya mengenai kesiapannya


"Karena mempelainya sudah siap. Maka kita bisa langsung laksanakan acara pernikahannya. Wali mempelai wanita silahkan jabat tangan mempelai pria" Pak Dimaz pun menjabat tangan Kenzo


"Anda sudah tahu kan apa yang harus diucapkan" Tanya penghulu pada pak Dimaz


"Ya, saya sudah menghafalkannya" Pak Dimaz menjawab dengan sikap yang tenang

__ADS_1


"Mempelai pria bagaimana? Apa sudah tahu kalimat yang harus dikatakan?" Tanya Penghulu pada Kenzo


"Ya, saya juga sudah tahu"


"Kalau begitu bisa kita mulai acaranya. Silahkan wali"


"Saya nikahkan dan kawinkan cucu saya, Safira Tifania Reitama dengan mas kawin satu set perhiasan dibayar tunai" Pak Dimaz mengucapkannya dengan sikap tang tenang dan lantang



"Saya terima nikah dan kawinnya Safira Tifania Reitama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" Kenzo pun menjawab dengan tenang meskipun sebenarnya dia sangat gugup


"Apakah ini sudah sah?"


"Saaaah!"


Akhirnya semua menghela napas lega setelah Kenzo melakukan ijab kobulnya dengan suara lantang


"Sekarang kalian telah resmi menjadi pasangan suami istri. Kalian memiliki kewajiban dan tanggung jawab masing-masing yang harus dikerjakan dalam susah maupun senang"


"Silahkan pasangkan cincin pernikahan kalian" Mereka saling bertukar cincin untuk menandakan status mereka yang telah berubah



"Tolong tanda tangani disini!" Kenzo dan Safira menandatangani dokumen pernikahan mereka secara bergantian. Setelah itu fotografer pun mengambil gambar mereka berdua yang sedang memegang buku nikah.. Sebelumnya fotografer sudah banyak mengambil foto dan video pernikahan mereka dari mulai kedatangan sampai acara selesai.


Semua saling memberikan selamat kepada Kenzo dan Safira secara bergantian. Mereka tenggelam dalam suasana haru pernikahan Kenzo dan Safira. Bahkan Cheva tak berhenti menangis melihat Kenzo dan Safira telah bersama


"Kenapa kamu menangis, sayang? Kamu tidak senang dengan pernikahan mereka berdua?" Lian bertanya dengan lembut pada Cheva yang sedang menghapus air matanya


"Bukan begitu... aku hanya tidak menyangka, kalau ternyata sekarang ini aku sudah semakin tua... putraku kini sudah menikah. hu … uu…uu"


Lian terkejut dan berusaha menahan tawa mendengar apa yang Cheva khawatirkan


"Jadi kamu bukannya sedih karena mereka menikah, melainkan sedih karena usiamu sendiri?" Tanya Lian dengan raut wajah tak percaya

__ADS_1


"Tentu saja. Selama ini aku selalu merasa kalau aku masih muda dan energik. Sekarang setelah melihat putraku menikah, itu artinya usiaku sudah tidak muda lagi. Hu …uu …u … u…" Cheva terus bicara sambil mengusap air matanya yang tak hentinya mengalir membasahi kedua pipinya


"My princess, mau kamu masih muda ataupun sudah tua, aku akan selalu ada disampingmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. aku akan selamanya mencintaimu. Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai selama hidupku. Jadi kamu tidak perlu lagi memikirkan usiamu, karena itu sama sekali tidak mengurangi rasa cintaku padamu"


Cheva menatap Lian penuh haru dengan mata yang masih berkaca-kaca


"Kak Lian … bagaimana bisa kamu masih tetap pandai merangkai kata manis. Ku kira setelah usiamu tidak muda lagi, kamu tidak akan bisa lagi merangkai kata indah untukku" Ujar Cheva yang menatap Lian penuh pesona


"Sayang. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Mau sebagus apapun kata yang aku ucapkan, itu tidak akan lebih bagus dari kecantikanmu dan rasa cintaku padamu. Itu sama sekali tidak penting. Aku harap kamu mengingat hal itu"


"Ya, aku akan selalu mengingatnya" Lian dan Cheva pun akhirnya berpelukan setelah mengekspresikan ungkapan cinta mereka


"Zie, kurasa aku tahu dari siapa Kenzo belajar memberikan kata-kata yang manis. Meskipun sifat kedua orang tuamu saling bertolak belakang. Tapi mereka selalu klop dalam merangkai kata yang membuatku serasa ingin muntah"


Risha sedang bicara pada Kenzie setelah melihat Cheva dan Lian yang asyik sendiri ditengah keharuan pernikahan Kenzo dan Safira


"Aku juga tidak menyangka kalau kedua orang tuaku itu aneh. Mereka terlihat sangar dan menyeramkan, tapi mereka pandai membuat kata manis yang membuat hati merasa meleleh. Kurasa … aku harus lebih banyak belajar dari mereka berdua agar bisa selalu menyenangkan hati Meisya" Kenzie mengungkapkan keinginannya sambil tersenyum dan menatap lembut kearah Meisya


"Ya ya ya terserah kamu saja. Aku percaya padamu dan pasti akan selalu mendukung apa yang kamu lakukan. Asal kamu tidak melakukan hal-hal aneh nantinya. aku tidak ingin menanggung resiko apapun. Apalagi nama baik" Risha menanggapi dengan acuh tak acuh


"Kita harus selalu menjawab semua dengan pemikiran yang matang. Jadi kali ini pun aku akan menjawab kalau aku sama sekali tidak memiliki pemikiran tentang pernikahan ganda. Aku hanya akan menikah dengan Meisya seorang" Kenzie menjawab dengan penuh keyakinan


"Rasanya aku muak karena berada diantara keluarga bermulut manis" Ujar Risha dengan sikap yang tenang dan sedikit mencibir


"Apa maksudmu dengan keluarga bermulut manis? Harusnya kamu senang karena memiliki keluarga yang setia dengan satu cinta" Kenzie tidak terima dengan apa yang Risha katakan padanya


"Aku bersyukur akan hal itu, tapi aku lebih sering merasabmuak dengan sikap yang kalian tunjukan. Rasanya aku tidak pernah merasakan hal seperti itu sendiri"


Kenzie terkejut dengan ucapan Risha


"Jadi kamu merasa muak bukan karena benci melainkan karena kamu iri pada kami?" Kenzie terdiam menatap Risha tak percaya dan menunggu jawabannya dengan mulut menganga


"Ya, iri karena Rendra pun tidak pernah bersikap begitu padaku. Dia sangat pendiam dan selalu saja bersikap serius padaku. Padahal sudah lama sejak aku mulai kerja lagi dan jauh darinya" ujar Risha dengan nada mengeluh


"Mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa ikut campur terus"

__ADS_1


__ADS_2