
“Apa kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu?” tanya Rendra yang menunggu Risha disofa sampai diabselesai dengan dokumen yang menumpuk diatas meja kerjanya.
“Ya, untuk hari ini selesai, karena sekarang sudah jam pulang kerja. Aku akan menyelesaikan sisanya dirumah” jawab Risha sambil merapikan pekerjaannya yang belum selesai.
“Apa kamu tidak lelah jika mengerjakannya dirumah juga?” Rendra bertanya dengan raut wajah khawatir.
“Tidak masalah. Aku bisa santai saat memeriksa dokumen ini” Risha tersenyum lembut menanggapi Rendra. Mereka pun mulai beranjak dari ruangan Risha.
Rendra menunggu Risha untuk bisa berjalan beriringan dengannya. Begitu dia mendekat, Rendra merangkul Risha dengan melingkarkan sebelah tangannya dipundak Risha.
“Aw!” Seketika Rendra terkejut dan langsung melepaskan tangannya dari Pundak Risha
“Ada apa dengan pundakmu?” tanya Rendra dengan nada bicara yang dingin dan sorot mata yang tajam
“Ini hanya luka ringan saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan kok” Risha menanggapi dengan sedikit gugup karena sorot mata Rendra saat marah sangat menyeramkan. Dia berusaha untuk tetap tersenyum dan membuat Rendra tenang.
“Luka ringan? Tunjukan padaku seberapa ringan lukamu itu!”. Tidak ada senyum maupun kelembutan dari Rendra saat ini. Dia hanya menuntut jawaban dari Risha. Jawaban atas apa yang sudah terjadi padanya.
Risha menundukkan kepala karena tidak berani menatap mata Rendra, lalu dia mulai membuka 1 kancing bagian atasnya dan menurunkan baju di pundak yang terluka sampai terlihat perban yang masih terdapat sedikit bercak darah.
Rendra mengernyitkan dahi dengan raut wajah semakin dingin setelah melihat luka Risha. Terlihat jelas kalau saat ini dia sangat marah.
“Bagaimana bisa kamu mendapatkan luka seperti ini?” tanya Rendra sambil melepaskan perban dipundak Risha. Dia ingin melihat seberapa besar luka yang ada dibalik perban itu.
“Ah itu ... tadi aku pergi kerumah artisku yang sedang terlibat skandal. Sebelumnya aku sudah meletakkan kamera pengintai dan juga penyadap disana. Aku kembali kesana karena aku mendapatkan bukti kekerasan yang dia alami dari pacarnya. Kukira pacarnya sudah pergi, tapi saat aku kesana ternyata ada
pacarnya juga masih ada disana"
"Pacarnya memintaku masuk kedalam rumah Mariana. Saat itu aku menghubungimu dan pria itu curiga kalau aku menghubungi polisi. Dia mengeluarkan pisau belati untuk mengancamku,
tapi aku juga mengeluarkan pistol milikku. Saat aku merasa terncam, aku ingin menembaknya, tapi dia juga berhasil menggores pundakku seperti ini. Untung saja lukanya tidak dalam, jadi tidak akan meninggalkan bekas luka nantinya”
Risha menjelaskan dengan singkat mengenai apa yang terjadi padanya saat dirumah Mariana.
“Dasar pria brengsek. Beraninya pada perempuan. Aku tidak bisa membiarkan dia begitu saja. Beraninya dia melukai calon istriku” Rendra mengumpat dengan wajah dingin dan penuh emosi, namun Risha tidak terlalu mendengarkan. Dia terfokus pada perkataan Rendra hingga matanya membelalak tak percaya.
“Ca-calon istri?” gumam Risha tidak percaya, namun Rendra tidak mendengar ucapannya
__ADS_1
“Dimana kotak p3k disimpan? Aku akan kembali memasang perban baru dipundakmu” ujar Rendra yang selesai melihat luka Risha
“Ada didalam laci sebelah sana” Risha menunjuk pada salah satu laci diruangannya. Rendra pun berdiri untuk mengambil kotak p3k. Lalu dia duduk kembali disamping Risha dan memasang perban baru dipundaknya.
“Dimana pria itu sekarang?” tanya Rendra sambil memasang perban dengan sangat hati-hati.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” Risha menatap Rendra dengan tatapan penasaran.
“Tentu saja membuat dia tahu sedang berurusan dengan siapa” jawab Rendra dengan sikap acuh tak acuh disertai senyum tipis dibibirnya.
“Itu tidak perlu. Dia sudah masuk penjara dan tidak mungkin bisa menikmati sedikitpun waktu yang menyenangkan disana. Aku sudah membuat penjara seperti neraka untuknya” Risha memberitahu dengan senyum bangga dibibirnya.
“Benarkah? Baguslah kalau begitu, karena jika kamu tidak melakukan apapun untuknya, aku yang akan membuat dia merasa hidup dineraka yang sebenarnya” Rendra kini kembali tersenyum setelah mendengar apa yang dikatalan Risha
“Sudah selesai. Aku akan mengantarmu pulang”
Rendra pun akhirnya pulang bersama ketika jam kerja Risha selesai. Mereka berjalan dengan beriringan meninggalkan perusahaan Sanjaya. Semua orang menatap mereka ketika melihat sepasang pria tampan dan wanita cantik jalan bersama. Bahkan Diaz pun terus memperhatikan Rendra dan Risha saat dia juga akan meninggalkan kantor.
“Rendra, apa yang kamu lakukan disini?” Diaz memanggil Rendra dan bertanya dengan ekspresi dingin.
“Papi. Papi juga akan pulang?” Risha bertanya dengan senyum lembut. Suaranya juga tidak terlalu keras, jadi meskipun banyak orang disana, mereka tidak mungkin akan mendengar apa yang dikatakan olehnya.
“Ya, papi akan pulang. Mana mobilmu? Sepertinya tadi pagi kamu membawa mobil sendiri?” Diaz bertanya karena tidak melihat mobil Risha diparkir didepan kantor mereka.
“Zie, membawa mobilku. Jadi aku akan pulang bersama Rendra” jawab Risha lembut sambil menoleh pada Rendra yang berdiri disampingnya
“Tidak perlu! Kamu bisa pulang bersama dengan papi” ujar Diaz yang langsung menyela
“Om, om tega membiarkan aku pulang begitu saja? Aku sengaja jauh-jauh kesini untuk menemui Risha dan Om tidak membiarkan aku mengantarkannya pulang?” Rendra bicara dengan sikap yang tenang. Dia dan Diaz pun saling menatap dengan tatapan dingin seakan mereka sedang bersaing.
“Siapa juga yang menyuruhmu jauh-jauh pergi dan meninggalkan perusahaanmu? Kamu harusnya jadi contoh yang baik untuk anak buahmu. Bukannya malah meninggalkan perusahaan dan meninggalkan karyawanmu tanpa pengawasan” ujar Diaz dengan sikap yang sinis.
“Om aku ini punya sekertaris dan juga asisten, untuk apa aku mempekerjakan mereka jika tidak bisa menggunakan tenaga mereka?” Rendra tersenyum dengan kedua alis diangkat bersamaan ketika dia bicara dengan Diaz.
Risha hanya bisa menghela napas panjang sambil memukul pelan dahinya sendiri.
“Bisakah kalian berdua berhenti? Apa kalian tidak lihat kalau disini banyak orang?” Risha bicara dnegan nada yang pelan dan terlihat
__ADS_1
kesal. Diapun menunjukkan senyum terpaksa pada Diaz dan Rendra
“Baiklah. Agar tidak terjadi pertumpahan darah, sebaiknya kita segera pergi darisini” ujar Rendra yang tersenyum tipis pada Diaz dan beranjak pergi membawa Risha sambil melingkarkan sebelah tangannya dipinggang Risha.
“Sampai jumpa dirumah pih” Risha melambaikan sebelah tangannya saat dia meninggalkan Diaz sendiri
“Dasar anak itu. Beraninya dia bersikap begitu padaku!” gumam Diaz sambil menatap punggung Risha dan Rendra yang semakin menjauh.
“Sepertinya kamu harus mulai terbiasa jauh dari putrimu, karena nanti dia akan membawa putrimu pergi jauh darimu” Roni bicara dengan sikap yang tenang sambil terus menatap Rendra. Dia tidak menoleh pada Diaz yang menatapnya dengan tatapan tajam
“Aku tidak akan membiarkan dia membawa putriku pergi” ujar Diaz yang langsung pergi meninggalkan sang asisten
“Lalu kamu akan biarkan dia jadi perawan tua?” Diaz mendengar apa yang dikatakan Roni namun dia mengabaikannya dan terus berjalan menjauh darinya.
***
Sementara itu dari kantor cabang perusahaan Kusuma, Kenzie baru saja tiba setelah dia mengantarkan Risha ke kantornya.
“Gawat, Pak! Kita dalam masalah besar!” Deby bicara dengan nada yang panik saat dia melihat Kenzie baru saja tiba dikantor.
“Apa yang terjadi?” tanya Kenzie dengan raut wajah bingung.
“Ini … pak Bimo mengatakan kalau kita sengaja menolak tawaran kontrak mereka dan memutar balikan fakta agar perusahaan kita tidak terkena dampak dari penolakan itu” Deby menjelaskan dengan panik sambil menunjukkan klarifikai dari pihak Bimo.
“Jadi dia ingin bermain dengan kita? Baiklah, kita akan lihat sejauh mana dia bisa melawan perusahaan ini” ujar Kenzie dengan sorot mata tajam. Diapun beranjak pergi meninggalkan Deby dan berjalan menuju ruangannya sambil mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Noey.
Tuut tuut tuut
“Halo” Sapa Noey yang langsung menerima telepon dari Zie
“Kamu masih dimana?” Zie langsung menanyakan keberadaan Noey tanpa menyapa terlebih dahulu
“Saya dalam perjalanan kembali ke kantor. Apa ada masalah?” tanya Noey dengan sikap yang tenang
“Aku punya pekerjaan untukmu. Cepatlah kembali, akan aku katakan nanti setelah kamu tiba disini” Kenzie langsung menutup teleponnya tanpa menjelaskan apapun lagi pada Noey.
"Ada apa dengannya? aneh sekali" gumam Noey menatap layar ponsel yang telah mati.
__ADS_1