Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kesedihan Kenzo


__ADS_3

Pagi hari kedatangan seorang pemuda sudah menghebohkan rumah sakit karena ketampanannya


"Apa dia pasien rumah sakit ini?"


"Waah ... meskipun wajahnya terlihat pucat dia sangat tampan"


"Apa dia korban kecelakaan?"


"Entahlah. Mungkin"


Kenzo baru tiba dirumah sakit keesokan harinya setelah Tiara memberitahunya mengenai kondisi Safira. Dia bergegas ke rumah sakit tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Perban dikepala dan setelan jas dengan noda darah tidak mengurangi ketampanannya sama sekali


Kenzo melangkahkan kaki dengan cepat. Dia langsung berlari ke depan Tiara ketika melihat gadis itu sedang duduk dengan kepala tertunduk dan wajah ditutupi dengan kedua tangannya


"Tiara"


Gadis itu menurunkan tangannya kemudian mengangkat kepala untuk melihat wajah pria yang berdiri dihadapannya sambil memanggil namanya


"Kak Kenzo. kakak sudah sampai?" Tiara bertanya dengan suara yang terdengar sedikit serak. Matanya bengkak dan merah sampai dia sepertinya kesulitan untuk membuka matanya sendiri.


"Bagaimana kondisi Safira?" Kenzo bertanya dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang panik. Wajah tampannya terlihat pucat dengan perban yang ada dikepalanya yang masih terlihat noda darah.


"Kak Kenzo ... apa yang terjadi pada kakak? Kenapa luka seperti ini?" Tiara bertanya dengan nada khawatir setelah melihat penampilan Kenzo yang sedikit berantakan.


"Aku tidak papa. Lebih baik katakan padaku bagaimana kondisi safira" Kenzo tetap bersikeras untuk mengetahui kondisi Safira tanpa mempedulikan kondisinya sendiri


"Tidak bisa. Jika terjadi sesuatu pada kak Kenzo, kak Safira akan sedih, jadi sebaiknya kita periksa dulu kondisi kakak baru nanti melihat kondisi kak Safira" Tiara bersikeras membuat Kenzo mau menerima pemeriksaan terlebih dahulu dengan menggunakan nama Safira.


Kenzo terdiam sejenak berpikir bahwa apa yang dikatakan Tiara benar. Jika Safira melihat kondisinya saat ini, jelas dia akan marah.


"Baiklah, aku akan menemui dokter terlebih dahulu untuk memeriksa lukaku. Setelah itu kamu harus menjeskan bagaimana kondisi Safira padaku"


Akhirnya kenzo dan Tiara saling membuat kesepakatan agar mereka mendapatkan apa yang mreka inginkan.


Kenzo bergegas pergi  mencari dokter untuk memeriksa lukanya. Sedangkan Tiara tetap menunggu Safira di depan ruang ICU menunggu keajaiban terjadi.


"Kak Fira, kak Zo ada disini. Bangunlah. Kamu harus memarahinya karena dia datang dengan luka dikepala. Bukannya kamu akan selalu marah kalau kak Zo tidak bisa menjaga dirinya?"


Tiara kembali bicara pada Safira dengan derai air mata diwajahnya. Ia menatap Safira dari balik kaca ruang ICU. Didalam sana Safira sedang terbaring tak sadarkan diri dengan bantuan alat pernapasan dan selang infus. Kepalanya pun diperban setelah menjalani operasi


"Kamu sedang mengadukan aku padanya?" Tiara langsung menoleh setelah mendengar suara Kenzo. Dari arah belakang, Kenzo berjalan dengan gagah mendekatiinya kemudian berhenti di sampingnya dan ikut menatap Safira


"Sayang, sampai kapan kamu akan tidur seperti itu? Kamu tidak ingin menyambutku yang jauh-jauh datang kemari hanya untuk menemuimu? Aku  bahkan meninggalkan meeting pentingku dengan seorag gadis cantik. Apa kamu tidak penasaran seperti apa gadis itu?"

__ADS_1


Kenzo bicara dengan suara yang terdengar sedih, wajahnya murung dan air mata mulai menggenang dipelupuk matanya. Dia menatap Safira dengan penuh kesedihan.


Keajaiban pun terjadi, Safira menitikan air mata dan ujung jarinya sedikit bergerak, namun Kenzo dan Tiara yang berada diluar ruang ICU tidak dapat mengetahui hal itu. Mereka hanya bisa menatap Safira yang tengah terbaring tak. berdaya.


Keberadaan Safira dirumah sakit ini dirahasiakan, jadi tidak ada yang tahu mengenai kondisi Safira. Hanya suster dan dokter yang bertugas merawat Safira lah yang tahu kondisinya. Mereka khawatir jika sampai kabar ini tersebar, maka akan banyak wartawan yang datang untuk meliput keadaan Safira.


"Ra, apa yang dokter katakan tentang hasil operasinya?" Kenzo bertanya dengan sikap yang dingin


"Dokter bilang hasil operasinya baru bisa diketahui setelah kak Safira sadar. Jadi kita masih menunggu perkembangannya" Tiara bicara dengan sedih sambil menatap Safira


"Dia akan baik-baik saja. Aku yakin itu"


***


Setelah rapat terakhir kali, para dewan direksi kini tidak ada yang berani menantang Kenzie. Rapat pun berjalan dengan lancar dan harga saham perusahaan cabang Kusuma pun perlahan sudah mulai meningkat. Perlahan karyawan Kenzie mulai menghormatinya.


"Saya ingin bertemu dengan pak Kenzie" Seorang pria paruh baya datang ke kantor Kenzie dengan beberapa pengawal bersetelan hitam dibelakangnya


"Maaf, apa anda sudah memiliki janji?" Resepsionis Kenzie menyambut dengan sikap yang sopan


"Aku tidak perlu membuat janji hanya untuk pemuda bodoh seperti dia" Pria itu mencibir Kenzie dengan nada kesal


"Maaf pak. Tolong jangan buat keributan disini. Saya bisa menyampaikan tujuan bapak kemari tapi dengan cara baik-baik" Resepsionis cantik itu tetap bersikap tenang meskipun lawan bicaranya terus saja bersikap kasar.


"Baik saya akan sampaikan pada atasan saya. Bapak silahkan tunggu disebelah sana" Penjaga resepsionis itu menunjuk pada sofa yang ada di lobby kantor


Pria itu pun mengikuti apa yang dikatakan resepsionis dan duduk di sofa sambil menunggu sementara sang resepsionis menghubungi Kenzie.


Tuut tuut tuut


"Halo" Terdengar suara sekertaris Kenzie yang menerima telepon


"Maaf bu ada tamu untuk pak Kenzie. Beliau menunggu di lobby" Resepsionis bicara dengan sopan pada Deby


"Siapa? Setahu saya pak Kenzie tidak punya janji temu dengan orang luar hari ini" Deby terlihat bingung karena dia tidak mengatur janji temu untuk Kenzie


"Katanya beliau adalah ayah dari gadis bernama Marina" Ujar resepsionis lagi menerangkan


"Baiklah, saya akan tanyakan dulu pada pak Kenzie apa mau menemuinya atau tidak" Deby menjawab dengan sikap yang tenang


"Baik bu" Mereka pun mengakhiri telepon dan Deby langsung beranjak pergi untuk memberitahu Kenzie


Tok tok tok

__ADS_1


"Masuk!" Deny langsung masuk setelah mendapatkan izin dari Kenzie. Terlihat dia sedang mendiskusikan pekerjaan bersama dengan Noey


"Ada apa?" Kenzie bertanya pada Deby dengan sikap yang tenang


"Maaf pak ada tamu yang menunggu anda di lobby" Deby bicara dengan sopan sambil memperhatikan Kenzie


"Siapa?" Dahi Kenzie berkerut saat dia bertanya pada Deby


"Katanya beliau ayah dari gadis bernama Marina" Kenzie langsung tersenyum saat dia mendengar jawaban dari Deby


"Oh baru datang sekarang. Kukira masalahnya sudah selesai" Kenzie menanggapi dengan senyum dan nada yang mencibir. Deby yang tidak mengerti terlihat bingung


"Maaf?" Deby bertanya dengan bingung


"Biarkan dia masuk. Aku ingin tahu ada keperluan apa beliau datang kemari"


"Baik pak" Deby pun beranjak pergi dari ruang Kenzie untuk mengizinkan ayah Marina naik


Tak berselang lama seorang pria paruh baya tiba diruang Kenzie. Dia ditemani beberapa pengawal bersamanya


"Pak Kenzie, tamu anda sudah sampai" Ujar Deby memberitahu


"Oh silahkan duduk" Kenzie beranjak dari kursinya dan mendekati ayah Marina


"Jadi kamu yang bernama Kenzie? Kamu orang yang telah berani memasukkan putriku kerumah dakit jiwa?!" Pria itu bicara dengan nada kesal


"Jadi anda ini ayah dari gadis gila itu? Gadis yang berteriak didepan umum dan mengatakan kalau aku pacarnya. Jelas-jelas aku tidak mengenalnya" Kenzie menanggapi dengan sikap tenang dan senyum lembut


"Tetap saja kamu tidak bisa seenaknya memasukkan dia kerumah sakit jiwa. Memangnya kamu tidak tahu siapa saya? Saya ini orang terpandang. Dan kamu membuat nama baikku tercoreng!" Pria itu terus berteriak pada Kenzie dan menyalahkannya


"Saya tidak kenal anda. Dan saya tidak peduli. Anak anda sudah mengganggu saya dan pacar saya. Jelas itu tidak bisa dibiarkan" Kini nada bicara Kenzie terdengar dingin


"Kamu harus mengeluarkan anakku dari sana sekarang juga atau …"


"Atau apa? Jika anak anda tidak mengalami gangguan jiwa, tentu dia bisa keluar kan? Karena sampai sekarang dia masih disana … itu berarti ada masalah dengan kejiwaannya kan?" Kenzie memicingkan mata dan tersenyum mencibir ayah Marina


"Kamu pasti akan menyesal. Dengarkan aku baik-baik, aku Berly Wiguna tidak akan melepaskanmu begitu saja. Akan kubuat kamu hancur! Baru jadi direktur di perusahaan cabang Kusuma saja sudah sombong" Berly bicara dengan sikap yang sombong


"Oh, aku ingin tahu apa yang bisa anda lakukan pada saya"


"Awas saja kamu"


Noey yang sejak tadi diam saja disana akhirnya menoleh ketika Berly menyebutkan namanya

__ADS_1


"Berly Wiguna? Kebetulan selali" Gumamnya dengan senyum tipis di bibirnya


__ADS_2