
Beberapa tahun kemudian
Sorak sorai gadis pendukung tim basket terdengar riuh di pinggiran lapangan sebuah kampus ternama dinegara A. Mereka berteriak menyemangati tim yang menjadi perwakilan akademi masing-masing. Lebih tepatnya mereka menyemangati seorang mahasiswa dari jurusan IT yang tengah bermain basket
"Kenzo! Kenzo! Kenzo!"
"Yeaaay!"
"Ayo Kenzo!! Semangat!"
"Yeaayy!"
Hampir semua gadis berkumpul dan berteriak menyemangati masasiswa itu. Dia memiliki tubuh tinggi, kulit putih bersih dan wajah yang tampan dengan hidung mancung dan rambut hitam pekat. IQ-nya pun tidak perlu diragukan lagi karena dia merupakan salah satu murid terpintar dikampus. Dia sangat cocok dengan citranya sebagai mahasiswa paling populer dikampus. Hanya saja dia sangat sulit di dekati, apalagi oleh wanita.
"Zo, setelah ini kita akan pergi untuk makan-makan, apa kamu mau ikut dengan kami?" Tanya Tomy sambil menepuk pundak Kenzo. Dia adalah teman satu akademi yang mau dekat dengan Kenzo karena mengira kalau mereka berasal dari kalangan yang sama.
Tomy tidak kalah tampan dari Kenzo, hanya saja dia tidak seberani Kenzo. Karena dia berasal dari keluarga yang sangat sederhana, Tomy harus bekerja keras untuk biaya kuliahnya sendiri. Dia pun berusaha menjaga sikapnya agar tidak ditindas oleh orang kaya di kampusnya. Namun Kenzo, meskipun dia dikenal berasal dari kalangan biasa, tapi tidak pernah sekalipun mempedulikan para orang kaya di kampusnya dan tetap bersikap sesuka hatinya. Dia tidak akan segan melawan mereka.
"Tidak, terimakasih. Aku sudah punya janji dengan orang lain. Sampai jumpa lagi" Jawabnya dengan sikap yang tenang kemudian beranjak pergi meninggalkan lapangan basket dan rekan-rekannya.
"Untuk apa kamu mengajaknya pergi? Gunung es itu tidak mungkin mau bergabung dengan kita. Dia hanya akan bergabung untuk bermain basket saja. Oh dan bermain game tentunya" Ujar teman lainnya yang sudah tahu bagaimana Kenzo. Kenzo mendengar pembicaraan mereka, namun dia tetap saja melangkah pergi
"Apa salahnya jika kita mengajaknya? Dia kan teman kita, lagipula dia membantu tim kita menang telak dipertadingan ini. Mungkin tanpa dia kita tidak akan menang" Tomy dengan sikap tenangnya membela Kenzo yang kini sudah semakin menjauh.
"Haah membosankan" Kenzo mendengar apa yang mereka bicarakan, hanya saja dia tidak memperdulikannya dan tetap melangkahkan kaki meninggalkan lapangan dan pergi keruang ganti
"Zo, kamu dimana? Kami sudah menunggumu di mall" Zo membuka pesan singkat yang dikirim oleh Kenzie padanya
"Aku kesana sekarang" Balasnya dan mengambil baju gantinya di loker
__ADS_1
"Kenapa mereka berdua harus selalu bertemu di mall? Membosankan" Gumam Kenzo kemudian kembali membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum dia pergi ke mall
***
Disalah satu kafe di mall, Kenzie dan Risha sedang duduk bersama sambil memegang buku di tangan mereka. Mereka sedang membahas mata kuliah yang sebelumnya dipelajari. Meskipun menjadi pusat perhatian banyak orang disana, mereka berdua sama sekali tidak mempedulikannya dan tetap asyik dengan tugas mereka.
"Zie, sepertinya orang-orang mulai curiga pada kita. Mereka terus memandang ke arah sini" Risha bicara pada Kenzie sambil menoleh kesana kemari
"Harusnya kamu sudah terbiasa dengan tatapan mereka" Kenzie menjawab dengan sikap yang tenang disertai senyum tipis dibibirnya
"Anehnya aku tetap tidak suka dengan tatapan penasaran mereka. Zie, kamu sudah menghubungi Kenzo belum? Kenapa dia belum datang juga?" Risha mengalihkan pembicaraan sambil memainkan pulpen di tangannya
"Dia bilang akan langsung kesini. Jadi tunggu saja. Sebentar lagi juga tiba, kamu tahu sendiri kan bagaimana kalau dia bawa motor?" Kedua alis Kenzie naik secara bersamaan saat dia menjawab. Tentu saja dia tahu betul kalau saudara kembarnya seperti orang gila saat mengendarai motor sport miliknya.
Tak berselang lama terlihat seorang pemuda berjalan ke arah mereka berdua. Gayanya yang santai dan terlihat cool kembali mencuri banyak perhatian orang disana. Terlebih wajahnya yang sama persis dengan Kenzie membuat mereka kembali jadi pusat perhatian.
"Hmn... Kenapa kalian berdua begitu senang duduk disini? Apa tidak ada tempat lain yang bisa membuat kita tenang?" Kenzo mengeluh pada Kenzie dan Risha sambil meletakkan tas ranselnya diatas meja
"Jika ingin tenang, kenapa tidak kita bahas dirumah saja?" Risha bertanya sambil tersenyum tipis pada Kenzo
"Sepertinya itu saran yang bagus. Dengan begitu tidak ada yang terus memandangi kita seperti saat ini. Tapi itu juga membosankan karena mami selalu mengganggu kita" Sahut Kenzie menanggapi Risha
"Sudahlah toh mereka juga akan bosan nanti" Kenzo menjawab dengan wajah datar sambil melambaikan tangan pada pelayan
"Coffe ice satu" Pesannya singkat pada pelayan
"Baik, silahkan ditunggu" Ujar pelayan yang langsung pergi untuk menyiapkan pesanan Kenzo
"Zo, apa rencanamu kedepannya? Kami sudah memikirkannya matang-matang. Kami akan bergabung dengan perusahaan keluarga saat musim liburan tiba. Tapi tentu bukan sebagai pewaris, melainkan karyawan biasa" Risha membuka pembicaraan diantara mereka bertiga
__ADS_1
"Itu tidak menantang bagiku. Toh kita memang sudah pasti memegang kendali perusahaan nantinya. Setidaknya saat semua itu terjadi aku sudah pernah mencoba hal lain dalam hidupku. Rasanya aku ingin... hemn … jadi tentara seperti kakek atau mungkin pilot"
"Pruff"
"Ohok-ohok"
Risha dan Kenzie begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan Kenzo. Risha langsung menyemburkan minumannya sedangkan Kenzie tersedak
"Kamu serius? Jangan bercanda Zo. Ini bukan hal yang lucu untuk dipermainkan" Kenzie bicara dengan nada yang serius
"Hahaha … kamu pasti cuma ingin mengerjai kami kan Zo? Kamu bercanda kan?" Risha cengangas cengenges menanggapi perkataan Kenzo
"Kenapa kalian bersikap berlebihan seperti itu? Aku serius, aku ingin jadi tentara, atau mungkin sebuah agen rahasia?"
Risha dan Kenzie semakin bingung bagaimana harus menanggapi Kenzo
"Zo, kamu bilang akan mewarisi perusahaan? Kamu juga bilang ingin jadi programer handal, dan sekarang kamu ingin jadi tentara? sebenarnya apa yang jadi isi kepalamu? Kayanya IQ mu itu terlalu berlebihan sampai pikirannya jadi kacau" Kenzie yang selalu bersikap tenang kali ini terlihat kesal pada saudara kembarnya
"Memang apa yang salah? Aku tetap bisa mempelajari masalah IT dan itu juga bisa berguna dalam pekerjaan ini" Zo menanggapi dengan santai dan acuh tak acuh
"Zo, kita pernah sepakat akan membuat perusahaan kita sendiri sebelum kita memegang kendali perusahaan keluarga. Sekarang kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran?" Risha pun tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kenzo. Dia tidak mengerti dengan apa yang jadi alasannya menjadi tentara
"Ya, aku tahu. Ini juga masih jadi pertimbanganku. Aku akan bicarakan dulu dengan mami dan papi nanti. Jika mereka setuju maka aku akan langsung mendaftar ke sekolah militer atau mungkin penerbangan" Zo menjawab dengan senyum tipis dan kedua alis diangkat bersamaan
"Zie, bagaimana bisa kamu punya saudara kembar yang pemikirannya tidak bisa tebak sama sekali. Lama-lama aku bisa jantungan dengan apa yang dia katakan" Risha mengeluh dengan raut wajah sedih
"Aku juga tidak tahu. Entah bagaimana kami bisa punya wajah sama namun sifat dan pemikiran yang jauh berbeda"
"Kalian berdua tenang saja. Karena bagaimanapun, aku ini tetap memiliki darah yang sama dengan kalian"
__ADS_1