Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Keberangkatan Safira


__ADS_3

"Kenapa kamu diam saja?" Kenzo menggenggam sebelah tangan Safira dengan erat dan bertanya padanya karena selama perjalanan dia hanya diam saja. Sedangkan sebelah tangannya lagi memegang kemudi mobil.


"Aku takut. Bagaimana jika ternyata aku butuh waktu lama untuk sembuh?" Safira menjawab dengan wajah tertunduk dan suara yang bergetar seakan dia menahan tangis


"Tidak perlu khawatir. Selama apapun itu, aku akan tetap menunggumu. Bukankah sekarang hanya akan melakukan pemeriksaan saja? Aku akan kesana saat kamu melakukan operasi nanti" Kenzo menguatkan Safira dengan mengecup punggung tangannya


"Kak Safira tidak perlu takut. Aku akan selalu berada disamping kakak. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada kak Safira" Tiara ikut bicara dengan antusias namun perlahanĀ  air matanya mulai menetes diwajahnya yang cantik


"Kenapa kamu jadi menangis?" Safira bertanya dengan senyum lembut pada Tiara dan tatapan heran.


"Aku ... hanya tidak menyangka kalau kak Safira bisa sakit seperti ini. Selama ini makanan kakak selalu dijaga, istirahat kakak juga teratur, jadi bagian mana yang salah? Aku membuat kesalahan dibagian mana? Hu uu uu uu" Tangis Tiara pecah saat dia mengatakan apa yang dia pikirkan


"Ini bukan salahmu. Kita tidak tahu kapan kita akan sakit. Dan tidak ada yang tahu juga kalau aku akan sakit seperti ini jadi kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri" Safira berusaha menenangkan Tiara agar dia berhenti menangis dan tidak menyalahkan diri atas apa yang terjadi padanya


"Kamu tenang saja. Safira pasti akan sembuh. Kita sudah menemukan rumah sakit yang bagus dan dokter yang hebat, jadi kita memiliki harapan untuk kesembuhan Safira" Kenzo pun ikut menenangkan Tiara yang masih menangis dengan tersedu-sedu. Tiara menanggapinya dengan anggukkan kepala berkali-kali


"Ayo turun. Kita sudah sampai di bandara" Kenzo pun turun lebih dulu dan berjalan kearah lain lalu membukakan pintu mobil untuk Safira. Setelah itu dia berjalan ke belakang mobil untuk mengambil koper milik sang kekasih.


"Aku benar-benar tidak ingin jauh darimu" Safira melingkarkan tanganya disekitar siku Kenzo dan menyandarkan kepalanya dibahu Kenzo


"Aku tahu, tapi kamu tetap harus pergi dulu sendiri. Aku akan mengunjungimu secepatnya disana" Kenzo mengecup kening Safira dengan lembut. Banyak orang dibandara yang memperhatikan mereka, namun tidak ada yang menyadari kalau itu adalah Safira karena dia menggunakan kacamata hitam, masker dan juga topi bulat. Sehingga bagian wajahnya tidak terlihat jelas


"Tiara, aku titip Safira padamu. Jika ada sesuatu langsung hubungi aku" Kenzo berpesan pada Tiara sebelum melepas sang kekasih pergi ke negara lain untuk menjalani pengobatan


"Kak Kenzo tenang saja. Aku akan menjaga kak Safira dengan baik" Tiara menjawab Kenzo dengan antusias


Perhatian-perhatian, kepada penumpang pesawat dengan nomor pererbangan AF 201 tujuan negara L dipersilahkan untuk segera menaiki pesawat karena pesawat akan segera lepas landas. Terimakasih

__ADS_1


"Itu pesawat kita. Zo, kami pergi dulu. Kamu jangan terlalu fokus bekerja sampai lupa istirahat. Aku tidak mau kamu sampai sakit" Sambil memegang kedua tangannya, Safira mengingatkan Kenzo agar tetap istirahat


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Kamu cukup jaga kesehatanmu dan jalani perawatan sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh dokter dan suster disana. Jangan membantah perkataan mereka" Kenzo pun mengingatkan Safira dengan lembut sambil mengecup pucuk kepalanya


"Ya, aku mengerti. Kami harus berangkat sekarang" Safira bicara dengan nada yang terdengar sedih karena harus berpisah dengan orang yang dia cintai


"Kabari aku jika kalian sudah sampai disana"


Kenzo pun kembali menarik Safira ke daam dekapannya, AIr mata Safira mulai mengalir ketika dalam pelukannya. Perlahan mereka melerai pelukan diantara mereka dan saling menatap satu sama lain. Safira berbalik dan pegangan tangan mereka pun perlahan mulai lepas. Sesekali Safira menoleh kebelakang, melambaikkan tangan pada Kenzo. Menatapnya dengan sedih karena mereka harus berpisah. Entah kapan mereka akan bersama lagi, meskipun Kenzo mengatakan akan datang saat dia operasi, tetap saja hatinya sangat berat meninggalkan Kenzo.


Kenzo pun terus menatap punggung Safira yang semakin menjauh dan sesekali menoleh padanya. Mereka saling melambaikan tangan dengan tatapan mata penuh kesedihan.


"Sampai jumpa Ra, aku pasti akan selalu merindukanmu" Gumam Kenzo sambil menatap sisa kepergian Safira. Kenzo pun membalikkan badan dan berjalan keluar dari bandara


Drtt drrt drrt


"Kamu dimana? Mamimu bilang kalau Safira sakit, kenapa kamu tidak memberitahu nenek dan juga kakeknya Safira?" Ji langsung memarahi Kenzo saat mendengar suaranya


"Itu karena Safira tidak ingin melihat kakek dan neneknya sedih. Jadi dia memutuskan untuk tidak menceritakan ini pada mereka dan akan menceritakannya nanti setelah dia sembuh" Kenzo menjawab dengan sikap yang tenang sambil berjalan dengan gagah meninggalkan bandara


"Zo, mereka itu kakek dan neneknya. Mereka yang merawat dan membesarkan Safira sejak orang tuanya meninggal. Kamu harusnya tahu kalau hubungan mereka tidak bisa dipisahkan begitu saja" Ji berusaha mengingatkan Kenzo kelau apa yang dia lakukan itu salah


"Aku tahu, tapi Safira yang memang tidak ingin kakek dan neneknya khawatir. Dia minta kita mengatakan kalau dia sedang syuting. Selama ini juga Safira tidak terlalu sering mengunjungi kakek dan neneknya, karena itu aku setuju untuk tidak memberitahu mereka" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang pada Ji


Ji memijat kepalanya sendiri karena bingung dengan situasinya saat ini


"Zo, kita tidak tahu berapa lama Safira akan berada di negara L, dan kita juga tidak tahu apakah dia bisa sepenuhnya sembuh atau tidak. Bagaimana kalau ternyata dia tidak bisa kembali pada kakek dan neneknya?"

__ADS_1


Kenzo menghentikan langkah kakinya, dia terdiam sesaat mendengar apa yang dikatakan Ji. Sebelah tangannya mengepal keras disamping dan dia mengeratkan giginya.


"Tidak nek, itu tidak akan terjadi. Safira pasti akan sembuh. Aku yakin itu dan aku akan melakukan apa saja untuk kesembuhannya" Kenzo bicara dengan nada yang tegas dan sangat yakin, tidak ada keraguan dari suaranya


"Zo, kita hanya bisa berusaha saja. Kita tidak tahu apa itu sejenis kanker ganas atau bukan" Ji berusaha meyakinkan Kenzo kalau setiap kemungkinan itu bisa saja terjadi


"Dokter bilang masih ada peluang, aku akan ambil peluang itu sekecil apapun. Aku tetap akan memperjuangkan peluang itu" Zo tetap teguh dengan keyakinannya dan dia tidak ingin mendengar yang namanya kemungkinan buruk. Yang dia tahu hanya Safira harus sembuh.


"Haah ... sudahlah. Kamu sudah siap masuk ke perusahaan ayahmu? Jika kamu tidak siap maka kamu bisa kembali ke perusahaan nenek" Ji mengganti topik pembicaraan setelah dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada Kenzo yang keras kepala.


"Ya, nek. Besok aku akan masuk ke perusahaan papi" Kenzo kembali bersikap tenang setelah dia menghela napas sejenak


"Bagus. Setelah kamu berhasil menstabilkan perusahaan ayahmu, maka kamu juga harus masuk keperusahaan nenek sebagai pewaris" Ji dengan senyum penuh makna meminta Kenzo untuk masuk ke perusahaannya


"Nenek, aku saja belum masuk ke perusahaan papi. Aku juga baru keluar dari perusahaan nenek. Karyawan nenek bisa terkejut jika tau siapa aku" Kenzo kembali menanggapi dengan sikap yang acuh tak acuh


"Apa hubungannya dengan mereka? Kamu itu cucuku, tidak salah jika kamu masuk keperusahaanku" Ji bicara dengan nada yang sedikit memaksa. Jelas sekali karena Ji tidak pernah peduli dengan apa kata orang


"Nenek, selain keluarga kita, tidak ada yang tahu kalau aku ini cucumu. Jadi jangan berbuat sesuatu yang akan menggemparkan dunia" Kenzo bicara dengan nada yang malas


"Aku tidak peduli. Kamu hanya harus membereskan masalah perusahaan papimu dengan cepat. Jika kamu, Kenzie dan Risha sudah berhasil mendapatkan pengakuan sendiri di dunia bisnis, maka kalian bisa mulai terjun sepenuhnya kedalam bisnis keluarga kita" Ji bicara dengan sikap yang tenang


"Baiklah nek, aku mengerti. Sudah dulu ya nek, aku sedang dibandara setelah mengantarkan Safira. Nanti kita bicarakan lagi semuanya" Kenzo hendak menutup telepon dengan tenang


"Baiklah, sampai jumpa" Kenzo dan Ji pun menutup teleponnya. Kenzo menatap lekat sebuah pesawat yang baru saja lepas landas


"Ra, sampai kapanpun aku akan menunggumu. Aku akan mencari cara agar kamu bisa sembuh. Meskipun itu harus meminta bantuan iblis sekalipun"

__ADS_1


__ADS_2