
Kenzo dan Zack baru saja tiba diruangan Kenzo
“Zack, apa kamu tidak apa-apa?” Tanya Kenzo pada Zack yang sedang berdiri dihadapannya.
“Saya baik-baik saja, Pak. Ini hanya luka ringan saja” Zack menanggapi dengan senyum tipis sambil memperhatikan luka memar ditangannya.
“Kenapa tadi kamu bersikap sangat bodoh? Kenapa tidak kamu hajar saja mereka sejak awal? Kenapa kamu malah membiarkan dirimu terluka seperti itu?!” Zo bicara dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam, itu membuat Zack hanya bisa mendengarkan sambil menundukan kepala.
“Tapi biar bagaimanapun … terimakasih karena kamu sudah mau menahan mereka sampai aku datang”. Kali ini Kenzo bicara dengan nada suara yang rendah dan senyum tipis dibibirnya.
“Jangan bicara seperti itu, Pak. Itu bukan apa-apa untuk saya. Tapi … bagaimana dengan anda? Sekarang ini identitas anda sudah diketahui semua orang. Apa anda akan terkena masalah karena ini?” Zack terlihat khawatir dengan
apa yang akan terjadi pada Kenzo sekarang ini.
“Tidak perlu memikirkan itu. Ini sama sekali bukan masalah besar. Hanya tinggal kita hadapi saja semuanya. Cukup kita persiapkan saja mental kita, karena setelah ini akan ada banyak orang yang mulai mendekati kita dengan tujuan tertentu" Kenzo menanggapi dengan sikap yang tenang dan senyum yang tipis dibibirnya.
“Baik, Pak”
***
Sementara itu Noey pergi kerumah Mariana disela waktu kerjanya hanya karena ingin bertemu dengan artis cantik itu.
“Bagaimana ini? Kenapa juga aku harus datang kemari? Apa aku kembali lagi saja? Tapi jika aku kembali, aku tidak tahu apa sekarang dia
baik-baik saja atau tidak” gumam Noey yang masih berdiam diri didepan rumah Mariana. Dia terus berjalan mondar mandir didepan pintu seperti orang yang sedang kebingungan.
Disaat yang sama, Mariana membuka pintu hendak pergi ke kantor Risha.
Ceklek
“Eh”
Noey dan Mariana sama-sama terkejut ketika mereka tepat saling berhadapan satu sama lain.
“Kamu …?” kata Mariana sambil menujuk Noey dengan wajah terkejut.
“Hai, apa kabar? Aku kemari … karena ingin tahu mengenai kondisimu saja. Bagaimana keadaanmu? Apa masih ada memar ditubuhmu atau tidak?" Noey menanggapi Mariana dengan gugup dan salah tingkah. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia sangat panik.
Mariana berusaha menahan tawa ketika melihat sikap yang Noey tunjukan padanya.
“Oh, iya. Mari masuk kedalam dulu” Mariana mempersilahkan Noey masuk dan duduk disofanya.
“Terimakasih” Ujar Noey yang mengikuti Mariana dari belakang
__ADS_1
“Kamu mau minum apa?” Tanya Mariana dengan sopan saat mereka sudah masuk ke dalam
“Eum … terserah. Apa saja” Noey menanggapi dengan sikap yang tenang, meskipun kedua tangannya kini terlihat berkeringat
“Baiklah. Tolong tunggu sebentar” Mariana pun beranjak pergi kedapur dan meninggalkan Noey sendiri diruang tamu.
“Kenapa aku malah jadi ikut masuk? Aaah apa yang harus aku lakukan sekarang?” Noey terlihat bingung sendiri dengan apa yang dia lakukan
sekarang. Dia mengeluh sambil mengacak rambutnya sendiri
“Tidak. Aku hanya khawatir jika saja laki-laki itu masih berani datang kemari. Tapi kan dia dipenjara” Noey terus saja bicara sendiri selagi Mariana masih berada didapur.
“Tidak. Sebaiknya aku pergi saja sekarang” Noey yang kebingungan pun akhirnya langsung pergi begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu pada Mariana.
Saat Mariana kembali, dia terkejut karena Noey sudah tidak ada lagi rumahnya.
“Loh? Kemana perginya Noey? Cepat sekali dia pergi? Mungkin ada masalah penting kali ya?” Pikir Mariana setelah menoleh kesana kemari mencari Noey.
"Tapi dia lucu juga" sambungnya sambil beranjak pergi kedapur untuk meletakkan kembali minuman yang dia buat untuk Noey sebelumnya.
***
Kenzie sedang diruangannya bersama dengan Meisya. Mereka sedang membahas mengenai hubungan mereka.
“Ya, aku yakin. Aku tidak ingin lagi menyembunyikan mengenai hubungan kita. Aku tidak ingin kejadian seperti makan malam kemarin terulang lagi” ujar Meisya dengan wajah seriusnya.
“Itu tidak akan terjadi lagi. Kamu harus memikirkannya lagi matang-matang. Jika hubungan kita dipublikasikan, maka orang-orang juga akan mulai mengekspos tentang kam. Bukan tidak mungkin kalau kamu juga harus membuka identitasmu yang sebenarnya nanti”.
Kenzie berusaha menjelaskan mengenai
kemungkin kalau orang-orang akan menanyakan mengenai statusnya jika mereka mengungkapkan hubungan mereka. Orang lain akan mulai menggali masalah mengenai pacar dari direktur di perusahaan Kusuma.
“Aku sudah memikirkannya. Jika memang aku harus mengungkapkan identitas asliku, itu artinya memang sudah saatnya terungkap. Toh aku hanya perlu bekerja diperusahaan papa dan mulai mempelajarinya saja” Meisya menjawab dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh
“Baiklah kalau memang itu sudah jadi keputusanmu, kalau begitu mulai sekarang, kita akan mulai terbuka dengan hubungan kita” Kenzie menyetujui keingainan Meisya dengan senyum manis dibibirnya
“Iya” Meisya pun mengangguk dengan senyum yang ceria
“Kalau begitu, ayo kita makan siang! Eh tunggu! Aku masih punya urusan dengan sekertarisku” Kenzie dan Meisya yang sebelumnya akan pergi
keluar, langsung berhenti lagi setelah mengingat tentang Deby.
“Apa yang akan Kak Zie lakukan?” Tanya Meisya yang terlihat penasaran dengan rencana Kenzie.
__ADS_1
“Tentu saja memecat dia, apalagi?” Kenzie menjawab dengan sikap acuh tak acuhnya
“Oh, ya sudah kalau begitu. Aku sangat setuju” Meisya pun setuju dengan apa yang dikatakan Kenzie
“Deby, bisa keruanganku sekarang?” Kenzie
bicara dengan tenang pada Deby melalui sambungan telepon
“Baik, Pak” Deby pun menjawab dengan sopan dan tenang lalu menutup teleponnya.
“Haah, pak Kenzie pasti akan memecatku. Tidak bisa. Dia tidak bisa melakukan itu padaku begitu saja. Aku pasti bisa bertahan diperusahaan ini” gumam Deby dengan penuh semangat. Diapun mulai beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruangan Kenzie
Tok tok tok
"Masuk!" Deby langsung masuk keruangan Kenzie setelah dia mendapatkan izin.
"Anda memanggil saya?" Nada suaranya rendah saat dia bertanya namun sorot matanya menatap Meisya dengan sangat tajam.
"Ya, aku. memanggilmu. Aku ingin kamu menyiapkan surat pengunduran dirimu secepatnya" Kenzie langsung bicara dengan sikap yang dingin.
"Kenapa harus? Saya tidak ingin berhenti dari pekerjaan saya" ujar Deby dengan ekspresi wajah yang datar dam sikap yang sombong.
"Lalu apa alasanku mempertahankan sekertaris kurang ajar sepertimu?" Kenzie pun tidak ingin kalah. Dia bicara dengan sikap serius.
"Saya tidak pernah bersikap kurang ajar. Saya selalu melakukan pekerjaan saya dengan baik" Deby bersikeras tidak ingin berhenti dari pekerjaannya
"Benarkah? Lalu apa yang dinamakan pekerjaan yang baik itu selalu berusaha menjatuhkan nama baik atasannya dihadapan klien? atau mungkin dengan mengatakan kalau kamu adalah kekasih bosmu sendiri? Oh atau mungkin dengan berusaha menghalangi kerjasama bosmu dengan setiap klien yang mengirimkan perwakilan perempuan dari perusahaannya?"
Deby terlihat terkejut saat Kenzie mengatakan semua yang telah dia lakukan dibelakangnya
"Ba-bagaimana anda bisa tahu semua itu?" tanya Deby dengan raut wajah tidak percaya
"Deby, aku diam bukan berarti aku tidak tahu. Aku diam karena ingin memberimu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu, tapi kamu sama sekali tidak pernah menyadari kesalahanmu. Kamu malah bersikap seenaknya dengan membuat orang lain menilai kalau aku tunduk atas pengaturanmu. Aku tidak butuh sekertaris seperti itu. Jadi sebaiknya kamu berhenti saja" Kenzie bicara dengan sikap yang dingin dan serius. Tidak ada keramahan yang selama ini selalu dia tunjukkan.
"Anda tidak bisa memecat saya seenaknya. Saya sudah membantu anda selama ini. Jika bukan karena saya, maka anda tidak akan bisa seperti sekarang" Deby bersikeras tidak ingin berhenti
"Itu pekerjaanmu. Sudah seharusnya kamu membantuku sebagai sekertaris" ujar Kenzie sinis
"Tapi, Pak, saya benar-benar menyukai anda" kini Deby mulai berderai air mata didepan Kenzie
"Aku tidak suka gadis licik sepertimu. Meskipun aku bisa bersama denganmu, kamu tidak akan pantas bersanding dengan keluargaku. Aku harap kamu mengerti. Aku tidak ingin menghancurkan masa depan sekertarisku sendiri, tapi jika kamu masih mencoba menjelekkanku dan juga tunanganku. Aku tidak akan segan menghancurkanmu dan juga keluargamu!" Kenzie bicara dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam.
Kata-kata Kenzie membuat Deby terduduk dilantai dengan derai air mata dan kepala tertunduk.
__ADS_1
"Habislah sudah. Aku tidak memiliki kesempatan lagi untuk bisa bersanding dengan pak Kenzie. Kali ini aku benar-benar tidak memiliki kesempatan"