
"Jadi kamu mengenalku?" Safira bertanya dengan sikap yang heran, dia menunggu jawaban dari Tiara untuk sedikit menghilangkan kebingungannya
"Tentu saja aku mengenal kak Safira. Aku sudah lama jadi asisten kak Fira, bahkan ketika kakak baru menjadi seorang model untuk majalah sampul" Tiara bicara dengan sikap yang tenang
"Aku? Seorang model?" Safira menunjuk dirinya sendiri dengan dahi berkerut tak percaya
"Bukan hanya model, kak Safira juga seorang artis, bahkan terkadang kak Fira dapat undangan untu bernyanyi" Tiara menjelaskan dengan senyum ceria dan antusias mengenai apa yang dilakukan Safira.
"Benarkah?" Tiara mengangguk disertai senyum menanggapi pertanyaan Safira
Kenzo terus memperhatikan Tiara dan Safira yang sedang berbincang dengan ceria
"Lalu ... siapa pemuda itu?" Safira menoleh pada Kenzo yang sejak tadi memperhatikannya. Dia duduk bersandar pada sofa dengan kaki disilang dan kedua tangan di lipat didada. Sorot matanya tajam dan auranya terasa dingin
"Oh itu kak Kenzo, dia adalah pacar kak Safira"
Safira terkejut mendengar apa yang dikatakan Tiara
"Kamu serius kalau dia itu pacarku? Mana mungkin pria setampan dia mau pacaran denganku? Ops" Safira yang merasa malu langsung menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.
Tiara pun terlihat bingung dengan tanggapan seperti apa yang harus dia berikan pada Safira
"Tapi kak, kalian berdua memang pacaran, bahkan sudah merencanakan masa depan bersama"
"Apa?!"
Safira semakin terkejut dan matanya membelalak tajam seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Tiara padanya. Tiara hanya menganggukkan kepala dengan bibir merengut
"Tiara, bisa tinggalkan kami berdua?" Kenzo yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan Safira juga Tiara kini mulai bicara. Dia berjalan mendekat dan duduk disamping Safira
"Baik kak. Aku akan membelikan makanan untuk kalian berdua" Kenzo menganggukkan kepala mengizinkan Tiara pergi
Kini hanya ada Kenzo dan Safira yang berada diruang rawat. Kenzo dan Safira duduk dengan saling berhadapan
"Kamu pernah bilang padaku sebelum melakukan operasi. Kamu bilang kemungkinan sukses hanya 10%, itupun dengan resiko kehilangan ingatanmu. Saat itu kamu memilih untuk mempertahankan ingatanmu sampai ajal menjemputmu. Lalu aku bilang padamu meskipun kemungkinan suksesnya hanya 1% aku akan tetap memintamu mengambil kesempatan 1% itu. Kamu juga bertanya, bagaimana jika kamu benar-benar kehilangan semua ingatanmu dan tidak bisa mengingatku juga semua kenangan yang telah kita alami bersama. Aku bilang padamu tidak masalah jika kamu tidak mengingat semuanya karena ada aku yang mengingatnya, dan juga tidak masalah jika kamu kehilangan semua kenangan kita, karena mulai sekarang dan kedepannya aku akan mengisi kembali hidupmu dengan kenangan kita yang bahagia"
Kenzo bicara dengan lembut sambil menggenggam tangan Safira.
Safira terdiam menatap Kenzo dengan seksama
"Bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu?" Safira menatap Kenzo dengan tatapan penuh tanya
__ADS_1
Kenzo mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto-foto kebersamaan mereka
"Lihatlah, banyak momen yang kita habiskan bersama" Nada bicara Kenzo terdengat sedih namun ada senyum tipis dibibirnya. Safira pun merasa tersentuh dengan apa yang dikatakan Kenzo
"Apa aku sangat mencintaimu?" Safira bertanya dengan nada yang lembut dan tatapan penuh harap
"Ya, kita saling mencintai. Kamu selalu menemaniku saat aku dalam kesulitan. Kamu juga selalu ada saat aku membutuhkanmu. Kamu tidak prnah melewatkan setiap momen pentingku" Kenzo tersenyum tipis saat bicara. Tanpa terasa air matanya menggenang di pelupuk matanya
Perlahan Safira memegangi pipi Kenzo dam membelainya dengan lembut, Kenzo menikmati belaiannya dan memejamkan matanya.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku juga tidak mengerti bagaimana aku harus bersikap padamu. Tapi, aku akan mencoba yang terbaik untuk memberimu kesempatan menjadi kekasihku" Safira bicara dengan senyum ceria dibibirnya
"Terimakasih" Kenzo tersenyum ketir menanggapi perkataan Safira
"Tapi Zo, apa yang terjadi dengan keningmu? Kenapa bisa sampai terluka begini?" Kali ini Safira memegang perban dikepala Kenzo dan bertanya padanya dengan lembut
"Oh ini … ini hanya luka ringan saja. Dokter sudah menangani ini juga dan membersihkannya"
"Apakah sakit?" Sorot mata Safira menunjukan kesedihannya pada Kenzo. Membuat Kenzo yang tadi murung kini kembali tersenyum
"Tidak. Ini bukan apa-apa" Jawab Kenzo denhan sikap yang tenang
"Kenapa kamu tersenyum begitu?" Safira terlihat heran dengan tatapan Kenzo
Drrt drrt drrt
Ponsel Kenzo berdering, dia langsung melihat nama yang tertera dilayar kacanya
"Dari mami" Ujarnya memberitahu Safira sebelum menerimanya
"Halo"
"Halo Zo. Papimu bilang kalau kondisi Safura drop, bagaimana keadaannya sekarang?! Apa operasinya berjalan lancar?! Apa dia bisa sembuh seperti dulu?!" Cheva langsung membanjiri Kenzo dengan banyak pertanyaan. Nada bicaranya yang sedikit berteriak membuat Kenzo memberikan jarak antara ponsel dan telinganya. Safira mengernyitkan dahi dengan senyum tipis ketika melihat reaksi Kenzo
"Mami, apa mami tidak bisa pelankan sedikit suara mami? Dan ada apa dengan ribuan pertanyaan itu? Bagaimana aku bisa menjawabnya?" Kenzo bicara dengan nada yang dingin. Senyum Safira semakin lebar ketika melihat Kenzo yang sepertinya kesal pada ibunya
"Iya iya maafkan mami. Mami hanya khawatir pada Fira. Sekarang katakan pada mami bagaimana keadaannya!" Cheva pun merendahkan suaranya dan bicaranya dengan gaya bicaranya yang manja
"Operasinya berjalan lancar. Sel kankernya juga bisa diangkat" Kenzo memberikan jeda saat dia bicara, namun Cheva langsung memotong kalimatnya
"Syukurlah kalau begitu"
__ADS_1
"Hanya saja …"
"Hanya saja apa?" Cheva pun dibuat penasaran karena Kenzo tidak langsung memberitahunya
"Safira kehilangan ingatannya karena operasi itu. Dia tidak mengingat siapapun, bahkan dia tidak ingat mengenai dirinya sendiri" Suara Kenzo terdengar sedih. Cheva pun bisa mengerti hal itu
"Zo, mami tahu ini pasti untukmu dan juga untuk Safira. Tapi hilangnya ingatan itu lebih baik daripada kehilangan nyawa. Bukannya kamu juga sudah tahu sebelumnya kalau itu mungkin terjadi saat Safira melakukan operasi?" Cheva berusaha menenangkan Kenzo dan membuatnya menerima kondisi Safira saat ini
"Iya mih. Apa mami mau bicara dengan Safira?" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang
"Tidak. Mami mau panggilan video saja"
Kenzo terdiam sesaat mendengar keinginan Cheva
"Jika mami melihat kepalaku diperban … pasti akan …"
"Zo …! Zo …!"
"Iya mih. Aku ganti ke panggilan video"
Kenzo langsung menggantinya namun kamera langsung diarahkan pada Safira
"Sayang. bagaimana keadaanmu? Tante adalah ibunya Zo. Kita sudah pernah bertemu sebelumnya" Cheva menyapa Safira dengan senyum lembut dibibirnya
"Halo tante. Maaf karena aku tidak mengingat tante" Safira bicara dengan nada menyesal
"Tidak papa. Itu bukan kesalahanmu. Tante bersyukur karena sekarang kamu sudah sembuh. Kalau untuk ingatanmu … kamu bisa kembali mengenal semuanya perlahan-lahan dan membuat kembali kenangan yang indah nantinya"
"Terimakasih karena tante mau mengerti keadaanku"
"Eh, dimana Zo? Bukannya dia ada bersamamu?"
Kenzo menggelengkan kepala dan tangannya dengan cepat pada Safira agar dia tidak mengarahkan kamera padanya.
Bukannya setuju, Safira malah menyeringai dengan tatapan licik dan mengarahkan kameranya pada Kenzo
"Zo ada disini ko tante, ini dia" Ujar Safira dengan senyum dibibirnya dan kedua alis yang diangkat bersamaan
"Zo, ada apa dengan kepalamu? Apa lukanya parah? Apa kamu harus dirawat? Mami akan kesana sekarang juga!" Seperti yang diperkirakan sebelumnya, Cheva begitu heboh melihat kepala Zo yang diperban. Safira terus menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar oleh Cheva
"Mami tenanglah. Aku mendapatkan luka ini saat menuju kemari. Karena tidak fokus berkendara aku hampir menabrak kucing, untuk menghindari kecelakaan dengan mobil lain, aku membanting stir mobil ke kiri dan malah berakhir menanbrak trotoal jalan. Akibatnya kepalaku yang terluka karena menghantan trotoar jalan" Kenzo menjelaskan kronologi kejadiannya pada Cheva
__ADS_1
"Jadi, itu semua karena aku? Kamu mengalami kecelakaan itu karena khawatir padaku?" Safira bertanya pada Kenzo dengan derai air mata membasahi pipinya yang mulus
"Sayang, ini hanya luka kecil. Apapun akan aku lakukan untukmu. Tidak peduli kamu kehilangan ingatanmu atau tidak. Yang penting kamu ada disisiku" Kenzo bicara dengan lembut sambil mengusap air mata dipipi Safira. Mereka mengabaikan Cheva yang masih tersambung dalam panggilan video