
Safira mengerucutkan bibirnya kesal setelah berkali-kali kalah bermain dengan Kenzo
"Kamu tidak akan membiarkan aku menang sama sekali?" Tanya Safira dengan ekspresi menggemaskan
"Kamu harus lebih berusaha keras jika ingin mengalahkanku dalam bermain game" Jawab Kenzo dengan senyum tipis dan sikap acuh tak acuhnya
"Ku kira orang sepertimu tidak suka game. Ternyata kamu sangat handal main game apapun. Padahal kita sudah bermain banyak permainan sejak tadi, tapi aku tidak bisa mengalahkanmu sekalipun" Keluh Safira lagi yang tidak menyangka Zo pandai dalam bermain game
"Aku selalu suka bermain game, karena aku tidak terlalu suka bersosialisasi. Aku pernah berharap bisa menjadi programer ahli dalam membuat game. Tapi sekarang aku tidak terlalu mengharapkan itu. Ini hanya sekedar hobi saja" Jawab Kenzo dengan sikap yang tenang
"Ahh ... kalah lagi. Aku tidak ingin main denganmu lagi. Rasanya hatiku sakit karena aku tidak pernah menang sama sekali sejak kita mulai bermain tadi" Safira kembali mengeluh dengan sikap yang manja karena dia kalah lagi dalam bermain game dengan Kenzo
"Kalau begitu apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Kenzo pada Safira dengan nada bicara yang lembut.
Ting nong ting nong
"Itu pasti Tiara. Aku memintanya mengirimkan makan siang untuk kita" Safira langsung berdiri dan berlari untuk membukakan pintu untuk Tiara
"Akhirnya kamu datang juga. Kamu tidak tahu kalau aku sudah sangat lapar? Hari ini sangat menguras tenaga dan juga pikiranku" Safira mengeluh pada Tiara sambil meraih paper bag berisi makanan untuknya
"Apa yang kak Safira lakukan sampai sangat kelaparan seperti itu? Bahkan memesan 2 porsi makanan sekaligus. Awas, jika makan berlebihan, kak Safira bisa gemuk nanti"
"Tidak akan. Eit ... kamu mau kemana? Tidak perlu masuk! Langsung pulang lagi saja, oke?" Ujar Safira sambil menarik tangan Tiara yang baru melangkah masuk dengan, agar dia kembali keluar dan tidak masuk kedalam rumahnya
"Eh, kenapa aku tidak boleh masuk? Kakak menyembunyikan sesuatu ya? Apa pemilik motor didepan itu yang kakak sembunyikan?" Tanya Tiara dengan tatapan curiga dan senyum menggoda
"Memangnya apa yang bisa aku sembunyikan? Didalam sedang ada temanku. Dia bisa saja malu jika melihatmu ada disini" Ujar Safira dengan sikap yang seakan sombong
"Apa laki-laki? Izinkan aku menemuinya, ya?" Tiara semakin penasaran mengenai siapa yang disembunyikan oleh Safira sebenarnya
"Tidak boleh! Aku sudah bilang kalau dia bisa saja malu jika kamu menemuinya. Jadi sebaiknya kamu pulang sekarang, dan jangan beritahu kak Mona. Dia bisa bertanya panjang lebar jika aku membawa seorang teman kerumah" Safira bicara sambil kembali mendorong Tiara keluar
"Sampai jumpa lagi Tiara" Ujar Safira hendak menutup pintu sambil melambaikan tangannya namun Tiara kembali menahan pintu
__ADS_1
"Eh tunggu kak. Apa aku harus mengantarkan makan malam?" Tanya Tiara sebelum pergi
"Eum ... tidak perlu, Biar nanti aku makan diluar saja" Safira sejenak berfikir untuk makan malam yang akan dia makan nanti
"Makan diluar? Kakak yakin? Kak Safira kan tidak terlalu suka dengan keramaian, bukannya itu akan sangat merepotkan?" Tiara terlihat ragu kalau Safira ingin makan dliuar
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku bisa mengaturnya semdiri. Dadaaah" Jawab Safira dengan ceria kemudian menutup pintu dengan cepat. Safira pun kembali menemui Kenzo yang sedang memainkan sejenak laptopnya untuk memeriksa sesuatu dari Rendra
"Kamu tidak sedang kuliah tapi kamu tetap membawa laptop?" Tanya Safira dengan wajah bingung, ketika dia melihat Kenzo sedang menggunakan laptop miliknya
"Aku sudah terbiasa membawa ini kemana-mana, jadi meskipun sebentar pasti akan sedikit memeriksa apakah ada pekerjaan atau tidak" Kenzo menjawab dengan senyum tipisnya dan sikap yang tenang
"Pekerjaan? Memangnya selain di restoran, kamu punya pekerjaan lain?" Safira terlihat sagat penasaran dengan apa yang Kenzo lakukan. Dia bertanya sambil menyiapkan makanan untuk mereka berdua
"Tidak ada. Ya mungkin saja ada tugas kampus mendadak, jadi aku bisa langsung mengerjakannya" Kenzo tidak mengatakan apa yang bisa saja dia lakukan dengan laptopnya
"O begitu ya" Safira pun tidak memperpanjang pertanyaannya
"Ayo makan dulu. Setelah ini apa yang akan kita lakukan?"
"Kemampuanku sudah lumayan ya. Aku selalu menang kalau melawan Tiara. Kamu saja yang terlalu cepat menggerakkan tanganmu." Jawab Safira dengan nada yang bangga kemudian mengejek Kenzo
"Baiklah, terserah kamu saja" Kenzo tidak mempermasalahkannya lagi dan menghentikan perdebatan mereka
Drrt drrt drrt
Ponsel kenzo berdering dan itu panggilan dari Rendra
"Aku terima telepon dulu"
"Euh" Setelah Safira menganggukkan kepala, Kenzo langsung berjalan sedikit menjauh darinya dan mulai bicara dengan Rendra
"Halo Ren" Sapa Kenzo dengan sikap yang datar
__ADS_1
"Aku sudah menekan pabrik kecil itu. Mereka akan mengajukan pinjaman ke bank. Lalu apa selanjutnya? Apa aku perlu menghalangi mereka?" Tanya Rendra dengan sikap yang dingin
"Tahan saja dulu. Aku akan berkunjung sendiri ke 'pabrik itu. sepertinya aku akan mulai bisnisku dari sekarang" Ujar Kenzo dengan senyum tipis
"Bisnismu yang mana? Kamu akan pegang bisnis mana? Di negara A atau negara F? Aku perlu tahu dulu lokasi pastinya" Kenzo mwngernyit heran mendengar pertanyaan Rendra
"Apa hubungannya denganmu? Aku sudah bilang kalau kamu bisa melakukan apa saja sesukamu asalkan kamu membantuku saat aku memang butuh bantuanmu" Kenzo menjawab dengan sikap yang sinis
"Karena ini terserah padaku, jadi aku harus memikirkan terlebih dahulu langkah hidup yang harus ku ambil" rendra pun tak ingin kalah berdebat dengan Kenzo
"Rendra, apa setelah kuliah kamu jadi lebih menyebalkan daripada waktu sma?" Tanya Kenzo lagi dengan sikap sinis
"Aku tidak lebih menyebalkan darimu. O ya, Karena sekarang aku pemuda pengangguran yang tidak memiliki tempat tinggal yang pasti, maka kamu harus memberiku pekerjaan tetap agar aku bisa bertahan hidup di kota metropolitan" Rendra bicara dengan sikap yang tenang pada Kenzo, tidak ada rasa canggung sama sekali diantara mereka
"Baiklah, karena kamu lulusan S1 luar negeri, sebaiknya kamu cari perusahaan besar yang mau menerima sarjana akuntansi. Atau kamu masuk saja ke perusahaan kakakmu itu!"
"Huh, tidak akan. Terimakasih atas sarannya. Aku pasti bisa menemukanmu" Ujar Rendra dengan sinis
"Silahkan saja. Aku sibuk. Jadi sampai jumpa" Kenzo langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Rendra
"Telepon dari Siapa Zo? sampai kamu menjauh dariku?" Tanya Safira penasaran setelah dia kembali dari menelepon
"Bukan siapa-siapa. sekedar teman lama saja" Jawab Kenzo dengan sikap tenang
***
Ini sudah berhari-hari sejak pak Tegar datang menemui Panji untuk bicara mengenai pertunangannya dengan Arumi tempo hari. Sejak hari itu Arumi hanya berdiam diri dikamarnya dan tidak banyak bicara
"Arumi...! Sayang ,,,, Buka pintunya! Izinkan papa masuk ya!"
Pak Tegar terus berusaha untuk membujuk putri semata wayangnya agar bisa membukakan pintu untuknya
"Untuk apa pah? Aku tidak ingin menemui siapapun!" Teriak Arumi dari balik pintu kamar yang terkunci dari dalam
__ADS_1
"Baiklah, papa tidak akan memaksamu. Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa katakan langsung pada papa" Pinta pak Tegar dengan raut wajah yang sedih namun Arumi tidak memberikan tanggapan apapun lagi padanya
"Kenapa panji begitu jahat padaku? Kenapa kamu tidak menyukaiku? Humn.. Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi aku tidak akan membiarkan begitu saja orang yang berani merebutmu dariku"