
Risha tersenyum tipis saat membaca sebuah pesan di ponselnya. Pesan itu datang dari Kenzo yang telah selesai dengan informasi yang dia butuhkan. Risha pun langsung membuka email dari Kenzo
Ana Maria, manajer baru di perusahaan jam tangan. Ayahnya seorang pebisnis kecil dengan jumlah karyawan kurang lebih 100 orang. Dia lulusan universitas bergengsi. Dia terkenal sombong dan suka pamer, tempramennya juga buruk. Kenzo juga mengirimkan daftar hitam Ana dan juga beberapa fotonya
"Ish... jadi gadis ini lagi? Ku kira sudah selesai saat Rendra menolaknya bekerja disini. Ternyata dia masih belum menyerah. Wah Kenzo memang tidak pernah setengah-setengah kalau membantuku. Baiklah kita akhiri sekarang juga. Karena kamu ingin menggunakan opini publik, akan lebih baik jika kamu merasakannya sendiri"
Risha pun mulai membuat postingan berdasarkan informasi yang diberikan oleh Kenzo. Tidak hanya 1 postingan, dia membuatnya menjadi beberapa postingan dengan judul yang berbeda
Didikan orang tua berpengaruh pada prilakunya anak yang dibesarkannya. Karena selalu dimanja, gadis ini menganggap dirinya seorang putri dan memperlakukan orang lain seperti bawahannya
Penampilan bisa merubah penilaian orang, dengan memperlakukan barang-barang KW layaknya barang branded super mahal. Sungguh sangat menghargai hasil produksi orang lain.
Gadis ini rela melakulan apapun untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Bahkan naik ke tempat tidur sekalipun.
Risha menyertakan sebuah foto dalam setiap artikel yang dia buat. Yang pertama dia memasang foto saat Ana terlihat sedang marah-marah pada seseorang yang duduk di depannya dan memegang barang belanjaan di tangan kanan dan kirinya, sepertinya dia membantu Ana membawa barang.
Foto kedua saat Ana memakai barang KW, Risha menunjukkan perbedaan barang yang Ana miliki dengan yang asli. Seperti tas yang Ana gunakan saat dia pertama kali bertemu dan berdebat
Fito ketiga menunjukkan saat dimana Ana menggandeng laki-laki yang berbeda, sambil menenteng barang belanjaan.
"Selesai, aku akan buat ini menjadi trending topik sekarang. Akan lebih menyenangkan kalau menyaksikan pertunjukan secara langsung"
Risha menutup laptopnya dan mulai beranjak dari duduknya. Dia pun izin ke manajernya untuk pergi sebentar keluar kantor. Dia juga mengirimkan pesan pada Rendra
"Aku akan keluar kantor sebentar untuk menyelesaikan gosip tidak masuk akal yang sedang ramai. Setelah selesai aku akan langsung kembali"
Rendra pun membalas pesan Risha dengan cepat
"Ya, segera kembali"
"Siap bos" Balas Risha mengakhiri pesan singkatnya.
Risha langsung menaiki taksi dan pergi ke perusahaan dimana Ana bekerja.
Tak berselang lama, dia telah tiba dikantor Ana. Risha langsung berjalan ke depan resepsionis"
"Saya ingin bertemu dengan direktur utama perusahaan ini" Risha bicara dengan sikap yang tenang
"Apa anda sudah buat janji?" Tanya resepsionis itu dengan sopan
"Ya, katakan padanya kalau Risha sudah sampai. Saya sudah menghubunginya sebelum datang kesini" Resepsionis itupun mengangguk dan mulai menghubungi direktur utama kantor Ana
"Tolong tunggu sebentar nona, anda bisa duduk dulu disana" Resepsionis meminta Risha untuk duduk disofa dan menunggu.
Setelah menunggu sebentar, seorang pria berjalan dengan cepat dan mendekati Risha.
"Nona, apa anda sudah lama menunggu? Mari kita langsung keruangan saya"
"Tentu" Direktur itu turun sendiri dan menjemput Risha untuk pergi keruang kerjanya. Semua orang yang ada di lobby terkejut dengan perlakuan yang didapat Risha
__ADS_1
"Siapa gadis itu sampai direktur utama kita bersikap sangat sopan padanya?"
"Entahlah. Mungkin salahatu gadis yang sedang dia kencani"
"Ah iya kalian sudah lihat artikel yang sedang viral saat ini? Kaian tahu siapa orangnya?"
"Ya, itu sangat parah. Manajer keuangan kita yang baru ternyata memiliki prilaku yang buruk"
"Benar, membuli orang lain, pamer barang branded dan menggunakan kecantikannya untuk menggaet pria kaya. Semua itu diluar dugaanku" Mereka sedang bergosip dan membicarakan Ana
Sementara diruang direktur, Risha sedang duduk dan menunggu Ana
"Permisi pak, nda memanggil saya?" Seorang gadis terlihat membuka setelah pintu dan meminta izin untuk masuk
"Ya, Ana. Masuklah!" Direktur itu bicara dengan nada yang tenang dan mempersilakan Ana masuk keruangannya.
Ana melenggang masuk dengan elegan. Dia mengenakan pakaian setelan kantor yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang aduhai. Postur tubuh tinggi membuatnya terlihat semakin elegan
"Hai, apa kamu ingat aku?" Risha langsung menyapa begitu Ana berada didepannya. Dia tersenyum dengan nada bicara yang sangat tenang. Cara duduk Risha juga sangat elegan dengan duduk tegak dan menyilangkan kakinya, laku meletakkan kedua tangan yang jarinya saling bertautan diatas lutut
"Apa yang kamu lakukan disini?" Ana bertanya dengan nada sinis dan mata menatap tajam pada Risha
"Bertemu denganmu" Jawab Risha dengan sikap yang tenang dan sedikit senyum mencibir
"Cih, berani sekali kamu bertemu denganku! Semua itu ulahmu kan?" Ana berteriak kepada Risha atas gosip yang menimpanya
"Ehem... Ana, jaga sikapmu! Nona ini adalah tamu kita" Direktur Ana menyela dengan membela Risha tepat didepan matanya dan itu membuat Ana kesal. Dia mengepalkan tangannya dengan erat
"Pengakuan dosa dan permintaan maaf sekaligus. Aku ingin kamu mengklarifikasi apa yang telah kamu lakukan dan membersihkan nama baikku"Risha bicara dengan sikap yang tenang pada Ana
Ana mengeratkan giginya karena marah, namun karena saat ini dia berada dihadapan bosnya, jadi dia hanya bisa setuju
"Baiklah, aku akan melakukannya nanti"
"No no no. Bukan nanti, tapi sekarang!" Risha menggelengkan kepala dan beralih pada direktur Ana
"Bisakah anda merekamnya pak direktur?" Tanya Risha dengan sopan dan ramah
"Tentu nona" Jawab direktur paruh baya itu dengan senyum yang manis
"Apa?! Mana mungkin aku melakukan itu sekarang. Aku pasti akan melakukannya" Ana menolak untuk merekam video klarifikasinya di depan Risha
"Tidak. Aku ingin sekarang!" Risha tetap bersikeras dengan apa yang dia inginkan
"Ana sebaiknya lakukan itu sekarang. Ini demi perusahaan kita" Setelah direkturnya bicara, Ana pun tidak dapat melakukan apapun lagi untuk menolak Risha
"Baiklah, aku akan melakukannya" Mereka pun merekamnya dan Risha tersenyum puas dengan apa yang dia saksikan langsung saat ini
"Apa kamu puas?! Aku sudah melakukan apa yang kamu perintahkan" Ujar Ana dengan nada yang sinis dan kesal
__ADS_1
"Sayangnya tidak. Aku bukan orang yang mudah puas begitu saja. Aku ini seorang pendendam. Pak direktur, pecat dia dan aku tidak ingin mendengar kalau dia masih bekerja diperusahaan ini ataupun bekerja diperusahaan lain"
Risha menggelengkan kepala sambi tersenyum sinis. Nada bicaranya yang awalnya tenang, kini terlihat tegas dengan sorot mata yang mengintimidasi
"Baik!" Direktur menjawab dengan patuh
"Jangan sembarangan! Aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan, bagaimana mungkin kamu masih melakukan ini padaku? Kamu tidak tahu siapa aku? Bisa bisa saja meminta anak buah ayahku untuk membalasmu!" Ana yang kesal meninggikan suara penuh emosi
"Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu? Aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini. Apa kamu percaya kalau dengan satu telepon dariku maka perusahaan ayahmu yang kecil itu bisa hancur?"
"Omong kosong!" Ana mencibir perkataan Risha
"Perlu bukti? Baiklah, tapi setelah telepon ini maka semua akan berakhir dan tidak akan ada yang bisa mengembalikannya. Kamu akan menyesal karena berani mengusikku" Risha tersenyum tipis kemudian meraih ponselnya di dalam tas
Tuut tuut tuut
"Halo sayang" Terdengar suara diaz dari ujung telepon
"Halo papi. Aku ingin papi menyelesaikan perusahaan milik ayah Ana Maria" Risha langsung mengatakan keinginannya pada Diaz
"Ana Maria?" Tanya Diaz heran
"Ya, dia yang mengambil foto kita dan menyebarkannya"
"Oh, itu urusan gampang"
"Terimakasih papi. Aku sayang sama papi" Nada bicara Risha saat sedang bicara dengan Diaz berbeda jauh dengan saat dia bicara pada Ana dan direkturnya.
"Selesai. Tinggal tunggu saja ayah kesayanganmu memberikan kabar baik padamu" Ujar Risha setelah menutup telepon
"Apa maksudmu?" Ana memicingkan mata bingung dengan apa yang dikatakan Risha. Tak lama ponselnya langsung berdering
Drrt drrt drrt
"Halo, papa" Awalnya Ana terlihat menerima telepon dengan tenang
"Ana, siapa yang sudah kamu singgung sampai perusahaan kita mengalami dampaknya"
"Apa maksudnya pah?"
"Perusahaan kita bangkrut"
"Apa?! papa bercanda kan?!" Ana teriak dengan mata membelalak lalu mendelik pada Risha yang kini tersenyum dan mulai beranjak dari duduknya
"Saya permisi pak direktur. Saya harap anda mewujudkan permintaan saya tadi"
"Tentu, perusahaan kami akan memecat Ana sekarang juga" Direktur itu menjawab dengan canggung
"Terimakasih. Permisi"
__ADS_1
"Tunggu! Sebenarnya siapa kamu? Kenapa kamu sampai melakukan ini padaku?!" Ana berjalan dengan cepat dan mengejar Risha
"Bukannya kamu yang mulai semua ini? Aku hanya menunjukkan pengaruh sebenarnya dari yang namanya kekuasaan. Kamu bilang kamu adalah putri dari seorang pebisnis. Maka aku perjelas sekarang, kalau aku adalah keturunan dari raja bisnis di negara ini. Aku Arisha Nedzara Kusuma. Kamu salah bermain kekusaan denganku"