Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Serpetinya Aku Terkena Kutukan Karena Disukai Oleh Pria Jadi-jadian Seperti Dia


__ADS_3

"Halo, kalian sebenarnya ada dimana?! Kami baru saja tiba di bandara dan nenekmu bilang kalian tidak ada disini" Cheva sedang bicara dengan Zie dan menanyakan keberadaan mereka


"Kami menginap dirumah Safira mih. Maaf karena tidak memberitahu kalian lebih dulu. Besok kami akan langsung ke catatan sipil bersama dengan Kenzo. Jadi sebaiknya kita bertemu disana saja ya. Sampai jumpa mami! Tuut tuut tuut" Kenzie langsung menutup telepon Cheva sebelum dia selesai bicara


"Tunggu Zie! Halo ... Halo ... Halo ... Anak ini. Dia menghindari bicara denganku. Sepertinya mereka melakukan sesuatu" Ujar Cheva sambil menatap telepon yang telah mati


"Tenang saja. Mereka sudah dewasa, mereka tahu apa yang harus  mereka lakukan. Mungkin mereka hanya ingin menghabiskan waktu sebelum Kenzo dan Safira menikah" Lian berusaha menenangkan sang istri dengan sikapnya yang tenang


"Yaah, mungkin kak Lian benar. Aku hanya merasa aneh saja karena dia tidak mengatakan  pada kita sebelumnya kalau mereka tidur di tempat Safira. Seharusnya mereka bilang lebih dulu jadi kita tidak khawatir" Ujar Cheva dengan tatapan heran


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka inginkan" Lian kembali menenangkan sang istri agar berhenti menggerutu


"Haah sudahlah akan ku jewer telinga mereka saat aku ketemu"


***


"Haah … untung aku bisa segera menghindar sebelum mami bicara panjang lebar. Kalau saja tadi kami bicara langsung dan tidak hanya lewat telepon, mungkin aku akan kehilangan telingaku karena kemarahan mami" Kenzie terus mengeluh saat dia telah menutup teleponnya


"Kenapa kamu bicara begitu? Memangnya telingamu akan dipotong kalau bicara secara langsung?" Tanya Meisya yang hanya menggelengkan kepala menatap Zie


"Bukan dipotong. Mamu terbiasa menarik telinga kami saat dia marah. Rasanya telingaku bisa langsung terlepas saat mami menariknya. Dia tidak punya perasaan sama sekali" Ujar Kenzie dengan raut wajah serius


"Apa iya begitu? Aku jadi ingin lihat langsung bagaimana tante Cheva marah padamu. Ku kira tante Cheva hanya akan mengomel saja kalau dia marah" Meisya tersenyum saat dia bicara


"Mami itu kalau marah seperti monster. Kamu tahu sendiri kalau dalam dunia bisnis, mami dikenal dengan sebutan iblis berwajah malaikat, dan itu adalah kenyataan. Jangan tertipu karena sikap manja dan baik hati mami. Dia bisa lebih kejam dari pria manapun!" Kenzie terus saja menjelekkan sang ibu di depan Meisya. Meisya hanya menatap Kenzie tak percaya dengan apa yang dia katakan


"Sekarang aku tidak merasa heran dengan sikapmu yang cerewet dan juga tegas. Sepetinya itu diwariskan dari tante Cheva" Ujar Meisya nenatap Kenzie dengan curiga


"Haah … terserah kamu mau bilang apa, yang jelas aku harus mempersiapkan telingaku untuk mendengar ocehan mami dan juga jeweran telinganya"


***


Kenzo telah selesai dengan pemilihan gaun pengantin. Kini dia menuju toko perhiasan untuk memilih cincin pernikahan mereka


"Apa kamu punya desain yang kamu inginkan?" Kenzo bertanya pada Safira dengan lembut


"Sepertinya tidak. Lagipula jika kita memesan sekarang, tidak mungkin akan selesai besok. Sedangkan kita akan memakainya besok kan?" Safira sedikit mendelik saat dia bicara pada Kenzo


"Ya setidaknya aku bisa menggantinya nanti" Kenzo menjawab dengan sikap yang acuh tak acuh

__ADS_1


"Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?" Pegawai toko menyambut Kenzo dan Safira ketika mereka masuk ke dalam


"Kami ingin mencari cincin peenikahan" Jawab Kenzo dengan sikap yang tenang


"Apa ada model yang anda inginkan?" Tanya karyawan toko lagi


"Hanya yang simpel tapi terlihat mewah dan elegan" Jawab Kenzo lagi dengan tenang


"Bagaimana dengan model-model ini?"






"Kamu suka yang mana?" Kenzo bertanya pada Safira dengan lembut


"Hemn … yang mana ya? Semuanya terlihat cantik" Jawab Safira sambil terus menatap cincin yang ada dihadapannya



"Bagus. Tapi, apa permatanya tidak terlalu banyak?" Tanya Safira lagi yang terlihat bingung


"Kalau begitu bagaimana dengan ini? Modelnya sama persis jadi terlihat jelas kalau kita menggunakan cincin couple



"Baiklah aku setuju. Jadi cincin yang kita gunakan sama persis. Tapi apa kamu tidak takut jika mereka langsung mengenali kita sebagai suami istri?" Tanya Safira dengan raut wajah khawatir


Kenzo tersenyum mendengar pertanyaan Safira


"Itu bagus kalau mereka tahu kita suami istri. Kalau perlu, aku akan menunjukkan secara langsung pada semua orang kalau kamu adalah istriku"


"Jadi kalian akan menikah?" Kenzo dan Safira langsung menoleh ketika mendengar suara seseorang dibelakangnya


"Apa yang kamu lakukan disini?" Safira bertanya dengan raut wajah heran

__ADS_1


"Tadi aku melihat kalian masuk kesini, karena itu aku langsung masuk saja untuk menyapa. Tapi ternyata aku mendapat sebuah kejutan" Sesekali Salim melirik pada Kenzo namun dia mendelik sinis lada Safira


"Kenzo, apa kamu benar-benar akan menikah dengannnya?" Tanya Salim dengan raut wajah penasaran


"Apa hubungannya denganmu? Kurasa kita tidak saling mengenal sampai aku harus menjelaskan masalah pribadiku padamu" Kenzo menanggapi Salim dengan sikap yang dingin


"Itu … apa salahnya jika aku bertanya?" Salim tetap ingin tahu apa jawaban Kenzo


"Tidak salah. Tapi aku juga tidak harus menjawab pertanyaanmu. Aku tidak mengenalmu sama sekali" Kenzo bicara dengan nada yang sinis dan mata menatap tajam pada Salim


"Kita bertemu sebelumnya apa itu tidak bisa dibilang saling mengenal? Dan aku hanya ingin tahu, apa kamu benar-benar akan menikahi dia?" Salim masih terus berusaha meyakinkan Kenzo kalau mereka itu dekat


"Dia ini pacarku, memangnya kenapa kalau aku akan menikahi dia?! Sudahlah. Berhenti mengganggu kami! Masih banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan. Tolong bungkus yang ini" Kenzo beralih pada pelayan toko setelah dirasa sudah cukup bicara dengan Salim. Dia menyerahkan kartu kreditnya untuk membayar cincin mereka


"Terimakasih pak. Silahkan datang kambali" Ujar pelayan toko setelah Kenzo berbalik dan pergi. Salim masih berdiri disana dan menatap punggung Kenzo dan Safira yang semakin menjauh


"Bagaimana bisa dia menikahi gadis itu? Gadis yang kasar dan pemarah. Haruskah aku merebutnya? Tapi … Sudahlah sebaiknya aku lupakan saja dia" Gumam Salim yang berbalik pergi dari toko perhiasan


"Zo, sepertinya … kamu dan Zi tidak hanya memikat hati para gadis saja" Safira bicara sambil menahan senyum. Mereka kini hendak pulang setelah membeli apa yang mereka perlukan


"Apa maksudmu?" Tanya Kenzo dengan wajah datar dan sikap acuh karena tak mengerti dengan apa yang dikatakan Safira


"Itu … kamu tidak merasa kalau sepetinya …" Safira terlihat ragu saat dia akan bicara


"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Kenapa malah ragu-ragu seperti itu?" Kenzo terlihat mulai penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Safira padanta. Diapun terus menatap Safira dengan tatapan penuh tanya


"Itu … sepertinya pria bernama Salim itu … menyukaimu dan juga Kenzie"


"Apa?! Kamu gila?! Pria yang tadi itu?" Kenzo menghentikan langkahnya dan bertanya pada Safira dengan raut wajah tak percaya


Safira hanya menganggukkan kepala sambil menahan senyum menanggapi pertanyaan Kenzo


"Serpetinya aku terkena kutukan karena disukai oleh pria jadi-jadian seperti dia. Apa sebaiknya aku membersihkan diriku dengan mandi kembang 7 warna?"


"Hahaha … kenapa tidak sekalian saja kamu gunakan air daei 7 sumur juga?"


"Ide yang bagus!"


Kenzo bicara dengan ekspresi yang datar dan acuh tak acuh. Kata-katanya itu membuat Safira terbahak mendengarnya

__ADS_1


__ADS_2