Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Chapter 122


__ADS_3

Tuut tuut tuut


"Halo, mami" Terdengar suara Kenzo dari ujung telepon setelah Cheva menunggu beberapa waktu


"Zo, Kenzie bilang kamu sudah membangun usahamu?! Kenapa kamu tidak memberitahu mami?!" Cheva bicara sambil berteriak pada Kenzo, bahkan Kenzo sampai menjauhkan ponselnya dari telinga karena kerasnya suara Cheva


"Aku tidak membangun perusahaan mih. Aku hanya bekerja sama dengan salah satu perusahaan untuk mengembangkan sortwere yang aku ciptakan saja" Kenzo menjelaskan dengan tenang pada Cheva mengenai usaha yang dimaksud Kenzie


"Kamu tidak membangun perusahaan sendiri?" Tanya Cheva lagi memastikan


"Tidak mih. Aku hanya ingin mengembangkan ideku saja, aku sama sekali belum memiliki rencana apapun untuk membangun perusahaan sendiri. Aku sudah bilang kalau aku akan membangun namaku sendiri, kurasa … dengan ini orang-orang mulai mengenal namaku sendiri" Kenzo berusaha membuat Cheva tenang untuk menyelamatkan telinganya dari ocehan Cheva yang tidak ada habisnya


"Apa mami bisa percaya padamu?" Tanya Cheva dengan nada yang curiga


"Jika mami tidak percaya tanyakan saja pada Zie dan Risha atau mungkin pada Rendra karena sudah lama dia numpang makan dan tidur dirumahku. Aku sama sekali tidak berbohong pada mami" Ujar Kenzo lagi sambil mendelik pada Rendra yang sejak tadi menertawakannya


"Kamu tinggal degan Rendra? Haah, jika tahu kalian tinggal bersama, mami pasti akan sering menghubungi dia" Cheva terkejut kemudian menghela napas panjang


"Aku sudah menduga itu, makanya tidak memberitahu mami" Kenzo tetap menanggapi Cheva dengan dingin


"Mih sudah dulu ya, mami sudah tahu kan kalau aku sudah punya pekerjaan sendiri, jadi mami tidak perlu khawatir lagi. Sampai jumpa mami" Kenzo langsung menutup teleponnya sebelum Cheva kembali memberinya ceramah yang panjang


"Hahaha ... Kamu ini Zo. Mamimu sangat hangat dan ceria, bagaimana kamu begitu dingin dan pemarah ya? Lagipula kenapa tidak menceritakan pada keluargamu kalau kamu sudah membulai bisnismu?" Tanya Rendra setelah dia selesai menertawakan Kenzo yang diceramahi Cheva habis-habisan


"Aku kan sudah bilang padamu kalau aku ingin diakui dengan namaku sendiri dulu. Jadi saat mereka tahu identitasku, tidak ada siapapun yang bisa meremehkanku karena menggunakan nama besar keluarga. Dan aku ingin memberitahu keluargaku nanti jika namaku sudah diakui" Kenzo terihat serius dengan sorot mata yang dingin dan tajam


"Ya, ya aku mengerti" Jawab Rendra menanggapi


Tok tok tok


"Siapa yang mengetuk pintu jam segini? Kamu punya teman lain selain aku?" Tanya Rendra dengan sikapnya yang datar dan sedikit menyebalkan. Seketika dia mendapat tatapan tajam dari Kenzo


"Punya 1 teman sepertimu saja sudah membuatku susah, apalagi jika aku memiliki lebih dari 1 teman sepertimu? Aku bisa gila"  Ujar Kenzo sambil berlalu ke arah pintu untuk membukanya


Ceklek

__ADS_1


Kenzo terdiam ketika dia membuka pintu, sesaat dia mengamati orang-orang yang ada didepan pintu rumahnya. Kemudian membalikkan badan dan kembai masuk kedalam dengan langkahya yang elegan sambil kedua tangan masuk kedalam saku celana.


"Sepertinya itu tamumu, bukan tamuku" Ujarnya pada Rendra dengan sikap yang tenang, lalu kemudian duduk lagi


Rendra yang sejak tadi bercanda dengan Kenzo, memicingkan mata tak mengerti dengan ucapan sahabatnya.


"Tuan muda, kami disini menjemput anda" Rendra lagsung diam. Dia menatap kearah beberapa orang itu kemudian menatap kearah Kenzo yang duduk dengan santai sambil menatap mereka


"Jangan menatapku seperti itu! Aku tidak ada urusannya dengan mereka" Kenzo membela diri dengan sikap yang tenang dan tangan yang dilipat didada


"Bagaimana kalian tahu kalau aku disini dan … untuk apa juga kalian sampai kesini menjemputku?" Rendra bertanya dengan  nada bicara yang dingin


"Kami diminta membawa anda pulang karena tuan besar sedang sakit parah saat ini" Ujar salah satu pengawal yang sebelumnya bicara


"Ayah? Ayahku sakit?" Raut wajah Rendra yang sebelumnya terlihat dingin kini berubah menjadi khawatir


"Benar. Tuan besar sakit parah jadi tuan Bastian meminta kami membawa anda pulang sekarang juga" Jelas pengawal itu lagi pada Rendra


"Kalian pulang duluan saja, nanti aku meyusul!" Ujar Rendra dengan sikap dingin


"Sudahlah. pulang saja sana. Kamu sudah terlalu lama keluar dari rumah. Dan lagi … Memangnya kamu bisa melawan begitu banyak orang?" Ujar Kenzo dengan sambil memberikan isyarat tentang banyaknya pengawal yang datang saat ini


"Aku belum ingin pulang" Rendra menjawab dengan kepala tertunduk sedih


"Kamu mau kabur sampai kapan? Ini sudah waktunya kamu meninggalkan aku dan kembali ke keluargamu! Mereka sekarang membutuhkan kamu!" Kenzo bicara dengan sikap yang dingin namun ada sedikit senyum dibibirnya


"Baiklah, aku akan menurutimu untuk kali ini. Tapi kamu tidak akan bisa mengusirku sepenuhnya. Sesekali aku akan datang kemari untuk mengunjungimu


"Tidak perlu repot-repot. Aku bisa menangani masalahku sendiri tanpa bantuanmu" Kenzo menanggapi ucapan Rendra dengan sikap yang sombong namun terlihat tetap tenang


"Cih, sombong sekali. Bukankah selama ini kamu juga menggunakanku untuk menyelesaikan masalahmu?" Rendra memicingkan mata bertanya pada Kenzo


"Itu hanya sekedar menghormati saja. Sudahlah, cepat kemasi barangmu dan pergi sana!" Kenzo langsung mengusir Rendra dengan wajah datarnya


"Teganya kamu memperlakukan aku seperti itu! Aku sungguh sakit hati" Rendra kembali bicara dengan aktingnya yang payah

__ADS_1


"Jangan terlalu banyak bertingkah. Kamu tidak malu dilihat banyak pengawalmu?" Ujar Kenzo dengan senyum sinis


"Ah kau benar, sebaiknya aku segera berkemas" Rendra pun segera ke kamarnya dan mengemasi semua barangnya


"Apa ada yang bisa saya bantu tuan muda?" Tanya pengawal yang sebelumnya dengan sopan


"Tidak perlu. Kalian tunggu diluar saja!" Ujar Rendra dengan sikap yang dingin


"Baik, tuan muda" Pengawal itu pun keluar dari rumah Kenzo dan menunggu Rendra diluar


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Kenzo dengan sikap yang tenang


"Aku harus baik-baik saja. Kamu lihat sendiri, dia bilang pria tua itu sakit. Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin pulang. Tapi, aku sedikit curiga, jangan-jangan kamu yang membocorkan keberadaanku pada mereka?" Rendra bertanya dengan tatapan mata penuh curiga


"Oh jadi kamu mencurigaiku? Hmn... karena kamu berpikir begitu, apa sebaiknya aku katakan saja pada mereka kalau kamu sudah lama ada disini? Atau aku beritahu juga villa yang kamu miliki ditempat lain?" Kenzo bicara dengan senyum mengancam


"Tidak, tidak. Aku hanya bercanda saja. Tapi … darimana kamu tahu kalau aku punya villa tersembunyi yang tidak diketahui oleh mereka? Kamu memata-mataiku juga?" Rendra terlihat bingung mendengar ancaman Kenzo


"Kamu meremehkan aku?" Ujar Kenzo menanggapi dengan senyum penuh kebanggaan


"Ya ya ya, aku salah menanyakan hal itu padamu" Ujar Rendra yang juga telah selesai mengemasi semua barangnya


"Sudah selesai. Aku harus pergi sekarang" Ujar Rendra dengan raut wajah sedih dan senyum ketir


"Hubungi aku jika butuh sesuatu"


"Aku tahu. Aku pasti akan selalu menghubungimu" Rendra mengangguk dengan senyum ketir dibibirnya


"Seperti kamu akan pergi ke medan perang saja, padahal sekarang sudah tidak mungkin terjadi perang dunia di rumahmu. Apa masih ada yang aku lewatkan?" Tanya Kenzo dengan tatapan tajam


"Tidak ada, hanya aku saja yang belum bisa berdamai dengan tempat itu" Lagi-lagi Rendra tersenyum ketir menanggapi Rendra


"Kuharap kamu baik-baik saja kembali kesana" Kenzo bicara sambil memeluk Rendra


"Ya, aku pergi dulu"

__ADS_1


__ADS_2