
Fredi langsung pergi kerumah sakit menemui sang ayah setelah dia kembali dari kantor Rendra.
"Kakak, kakak tidak pergi ke kantor? Ini kan belum jam istirahat?" Pricilla terkejut melihat Fredi ada dirumah sakit saat dia baru kembali setelah membeli makanan.
"Bagaimana keadaan papa? Apa dia masih kesakitan?" Fredi mengabaikan pertanyaan Pricilla dan bertanya tentang keadaan sang ayah.
"Dokter sudah memberikan obat penahan rasa sakit. Sekarang papa sedang di interogasi polisi diruangannya" Pricilla menjelaskan apa yang sedang dilakukan Rian
.
"Polisi? Kondisi papa masih belum pulih betul dan polisi sudah menginterogasinya?!" Fredi terlihat kesal mendengar cerita dari sang adik.
"Bnear, mereka sedang menginterogasi papa atas kasus penggelapan dana dan pencucian uang. Kak, apa kita akan kehilangan semuanya?" Pricilla terlihat sedikit ragu saat bicara dengan sang kakak
"Kamu tenang saja. Kita tidak mungkin kehilangan semuanya" Fredi mengusap lembut pucuk kepala sang adik untuk menenangkannya.
"Apa kakak yakin?" Tanya Pricilla lagi dengan ragu
"Aku yakin. Jadi kamu tidak perlu khawatir. fokus saja pada kuliahmu" Pricilla menganggukkan kepala setuju dengan apa yang dikatakan sang kakak
"Sebaiknya kita keruang papa. Mungkin polisi sudah selesaii menginterogasinya"
"Baiklah" Kakak dan adik itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit melewati beberapa bangsal untuk menemui sang ayah.
Begitu tiba dikamar Rian, terlihat sang ayah sedang duduk termenung sendiri. Sepertinya polisi telah selesai menginterogasi dan meninggalkan dia untuk istirahat
"Papa. Bagaimana keadaan papa?" Pricilla bertanya dengan raut wajah khawatir
"Selain tangan kanan papa yang tidak bisa digerakan, papa baik-baik saja" Rian menjawab dengan datar. Dari raut wajahnya dia terlihat sedih dan sangat putus asa
"Kenapa kamu ada disini? Apa kamu sedang tidak sibuk?" Rian bertanya pada Fredi dengan sikap yang tenang
"Aku sudah tidak bekerja lagi pah. Rendra sudah keluar dari rumah sakit" Fredi mengatakan pada Rian dengan raut wajah kesal.
"Kakak termani papa dulu ya, aku harus pergi ke kampus"
"Ya. Hati-hati dijalan" Fredi hanya menjawab dengan singkat. Lalu Pricilla pun pergi meninggalkan rumah sakit
"Apa Rendra masih baik-baik saja? Papa kira dia akan cacat atau bodoh dengan luka di kepala yang dia alami itu" Rian bicara dengan nada mengejek membayangkan Rendra yang baik-baik saja
"Entahlah, tapi dia menggunakan kursi roda. Sekarang apa rencana papa? Papa sudah tidak bisa menggunakan tangan kanan papa lagi, dan lagi ... papa sedang diselidiki polisi" Fredi bertanya dengan sikap yang tenang.
"Ini semua gara-gara di! Tapi papa bingung, dari mana dia bisa tahu semua rahasia papa?" Rian terdiam seakan dia sedang berpikir
"Maksud papa siapa?" Fredi terlihat penasaran dengan orang yang dimaksud sang ayah
__ADS_1
"Teman Rendra itu. Yang dari dulu selalu membantunya"
"Kenzo?!" Fredi berusaha memastikan
"Ya, benar dia, siapa lagi?" Rian menjawab dengan acuh tak acuh
"Maksud papa dia yang menyebabkan papa jatuh dari balkon?" Fredi kembali bertanya untuk memastikan
"Benar. Dia orangnya!" Rian menjawab dengan wajah kesal.
"Wah wah wah ... ternyata ayah dan anak ini sedang bersiap untuk berperang denganku ya? Atau kalian mau balas dendam padaku?" Kenzo berjalan dengan sangat tenang memasuki kamar rawat Rian. Kenzo menatap Rian dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian pandangan matanya berakhir pada tangan kanan Rian.
"Sepertinya kamu hanya kehilangan tangan kananmu saja? Ah sangat disayangkan karena Rendra harus duduk dikursi roda" Kenzo bicara dengan senyum yang mencibir kecewa
"Tapi tidak apa karena aku juga akan memberikanmu bonus. Bukannya kamu sedang diperiksa oleh polisi? Maka akan aku pastikan kalau kamu membusuk dipenjara hingga kamu menyesal telah mengusik orangku. Tapi itu juga tentu saja percuma, dan kamu hanya akan hidup dalam penyesalan seumur hidupmu!" Kenzo menunjukkan seringai licik yang terlihat menyeramkan sebelum.
"Brengsek! Kau pikir aku takut ancamanmu?! Kamu sudah mengacaukan rencanaku dan membuat papaku kehilangan sebelah tangannya, aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Fredi berteriak histeris pada Kenzo dan terus mencaci makinya. Namun Kenzo hanya diam dan tetap tenang dan disaat Fredi hendak memukul Kenzo, Kenzo bereaksi lebih cepat darinya
Bugh
Dia menghindari pukulan Fredi dan justru memukulnya lebih dulu hingga dia tersungkur ke lantai dan bibitrnya mengeluarkan darah
"Puih" Fredi memudahkan darah yang keluar dari bibirnya
"Cih preman kampung sepertimu ingin melawannku? Jangan mimpi! Aku tidak berniat bermain denganmu sekarang. Aku hanya ingin memperingatkan saja, kalau ini bukan apa-apa. Hadiah dariku masih belum semuanya kuberikan. Sebaiknya kalian mempersiapkan diri"
"Apa yang dia maksud? Rencana licik apalagi yang sudah dia siapkan?" Rian dan Fredi saling menatap dengan tatapan bingung dan penasaran dengan apa yang direncanakan Kenzo
***
Malam hari, Kenzo masih di hotel dan bersiap untuk pergi ke arena balapan liar yang sebelumya telah direncanakan bersama geng Fredi.
"Zo, kamu yakin akan pergi sendiri?" Safira bertanya dengan raut wajah khawatir. Dia benar-benar mencemasakan Kenzo yang mengatakan akan pergi sendiri. Dia tidak mengizinkan Safira maupun Risha ikut dengannya.
"Tentu sayang. Aku tidak akan lama. Setelah selesai, aku akan langsung pulang kemari" Kenzo bicara dnegan sikap yang lembut sambil mengusap pipi Safira yang masih terlhat pucat dan mulai berlinang air mata.
"Apa aku benar-benat tidak boleh ikut?"Safira bicara dengan wajah memohon dan nada bicara yang manja agar Kenzo mau membawanya pergi dengannya
"Tidak bisa. Ini akan membahayakanmu. Mekipun nanti bisa lari saat dikejar, tapi saat ada kemungkinan dan kesempatan, mereka pasti berniat untuk balas dendam"
"Haah ... baiklah aku tidak akan memaksa lagi. Kamu harus jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai terluka sedikitpun!" Safira bicara dengan nada yang dibuat tegas
"Ya, aku mengerti.. Kamu istirahatlah lebih dulu. Tidak perlu menungguku, Sampai nanti" Kenzo pun mengecup kening Safira dan beranjak pergi dari kamar hotelnya menuju arena balap liar
Diarena balapan. Semua orang sudah berkumpul. Mereka bersorak sambil melompat bahagia. Ada juga para remaja yang ingin mengajukan tawaran untuk menari bersama namun mereka.
__ADS_1
Fredi duduk diatas motor bersama geng motornya sambil menunggu pemuda yang katanya akan menantangnya balapan
"Kenapa dia sangat lama? Apa sebenarnya dia tidak serius menantangku balapan?"
"Mungkin dia berubah pikiran karena takut?" Kini semua terbahak karena ucapan Fredi
Broom broom broom
Kenzo datang dan menggerungkan motornya dengan keras. Membuat arena balapan semakin berisik
"Ku kira kamu tidak akan berani datang kemari?" Fredi menyambut Kenzo dengan nada bicara yang sombong
"Kamu pikir mentalku akan menciut hanya karena melawan orang sepertimu?" Kenzo menjawab dengan nada yang sombong
"Sebenarnya siapa kamu? Kenapa kamu ingin balapan melawanku?" Fredi sangat penasaran dengan identitas Kenzo yang sama sekali tidak melepaskan helm miliknya
"Kenapa? Kamu ingin tahu Siapa orang yang akan mengalahkanmu?" Kenzo terus memprovokasi Fredi untuk merusak emosinya saat balapan
"Cih, jangan sombong. Pertandingan belum dimulai dan kita belum tahu siapa yang akan menang" Fredi menjawab Kenzo dengan sinis
"Benarkah? Kalau begitu kita mulai saja?" nada bicaranya Kenzo terdengar acuh tak acuh
"Baik. Ayo kita mulai!" Penonton pun berkerumun menyaksikan balapan
"Oke, aturannya siapa yang tercepat mengelilingi lintasan ini sebanyak 3 kali adalah pemenangnya" Rekan Fredi mengumumkan aturan main sebelum balapan dimulai
"Sudah siap"
Brooom bromm
Fredi dan Kenzo menggerungkan motornya dengan kencang
"1… 2… 3…"
Brooooom
Setelah hitungan ke 3 Kenzo dan Fredi memacu motornya dalam kecepatan tinggi. Fredi memimpin didepan. Dia tersenyum melihat motor Kenzo yang berada dibelakangnya dari kaca spion.
Tak berselang lama, posisipun berbalik, kini Kenzo yang memimpin di depan. Mereka berdua sangat lihai melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Bak angin kencang yang melintas, kecepatannya sangatlah tinggi.
Posisi kembali bertukar, Fredi menyeringai ketika dia melintasi Kenzo, jarak mereka sangat tipis. Dan saat berada ditikungan tajam, ketika Kenzo hendak melewatinya, Fredi berniat curang dengan cara menyenggol motor Kenzo. Namun saat jarak semakin dekat, Kenzo sedikit memelankan laju motor hingga Fredi terkejut dan kehilangan keseimbangan.
"Aaah!!!"
Bruaaak
__ADS_1
Motor Fredi terguling, karena kecepatan motor yang sangat tinggi, dia terseret sejauh ratusan meter bersama motornya hingga akhirnya berhenti setelah menabrak pembatas jalan sampai hancur. Kenzo mengikuti Fredi yang terseret motor dan berhenti tepat di depannya. Dia membuka helmnya didepan Fredi yang hampir kehilangan kesadarannya
"Ah sungguh disayangkan, karena kamu gagal mencelakaiku. Preman kampung sepertimu harus berpikir ribuan kali untuk melawanku"