
Rendra mengendarai mobilnya dengan sangat panik. Dia terus melaju dengan kecepatan tinggi menuju perusahaan Sanjaya, dimana sang kekasih berada. Rendra juga terus berusaha menghubungi Risha yang saat ini sedang tertidur di kantornya
Tuut tuut tuut
“Sha, angkat teleponnya. Kenapa kamu tidak menerima telepon dariku? Apa yang terjadi denganmu?” gumam Rendra disela aktifitas mengemudinya
Tuut tuut tuut
Dia kembali berusaha menghubungi Risha. Berkali-kali dia menghubunginya namun sama sekali tidak mendapat tanggapan darinya. Rendra pun menghubungi perusahaan Sanjaya
Tuut tuut tuut
“Selamat siang, dengan perusahaan Sanjaya disini. Ada yang bisa kami bantu?” Resepsionis bicara dengan sopan saat mereka menerima telepon
“Saya Rendra, apa bu Risha ada dikantor?” ujar Rendra yang langsung menanyakna Risha saat dia bicara
“Mohon tunggu sebentar, akan kami sambungkan dengan sekertaris bu Risha” Rendra tidak menanggapi dan membiarkan resepsionis itu langsung menyambungkan panggilan teleponnya pada sekertaris Risha.
“Ada telepon untuk bu Risha, apa mau disambungkan langsung?” tanya resepsionis pada sekertaris Risha
“Telepon dari siapa?” kini sekertaris Risha yang bertanya
“Dari pak Rendra” jawab sang resepsionis dengan sikap yang ramah dan sopan
“Ya sambungkan saja”
“Baik”
“Halo” kini sekertaris Risha yang bicara pada Rendra
“Ya, halo. Apa Risha ada dikantornya?” tanya Rendra pada sekertaris Risha
“Ada. Bu Risha sepertinya sedang istirahat. Beliau baru saja kembali dari luar” sekertaris Risha menjelaskan dengan sikap yang sopan dan tenang. Dia tahu kalau Rendra adalah pacarnya Risha.
“Dari luar? Apa tadi dia memiliki meeting diluar?” tanya Rendra lagi dengan sikapnya yang tenang dan dingin
“Tadi bu Risha pergi kerumah salah satu artis kami yang sedang terlibat skandal. Beliau bilang akan mengurusi ini agar film baru kami tidak mengalami penundaan lagi dalam perilisannya” sekertaris Risha kembali menjelaskan dengan sikap yang tenang
“Baiklah. Aku sudah menghubungi Risha sejak tadi, namun dia tidak menerima telepon dariku. Tolong kamu lihat dia ke kantornya. Aku sedang dalam perjalanan kesana” Rendra akhirnya meminta bantuan sekertaris Risha untuk mengecek kondisinya
“Baik, pak. Saya akan periksa kondisi bu Risha sekarang”
“Terimakasih” Rendra langsung menutup teleponnya dan kembali fokus mengendarai mobilnya, sedangkan sekertaris Risha langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruangan Risha untuk mengecek bagaimana kondisi atasannya itu.
__ADS_1
Tok tok tok
Asisten Risha mengetuk pintu beberapa kali, namun sama sekali tidak ada tanggapan. Jadi dia memutuskan untuk langsung masuk kedalam kantornya.
“Permisi, bu Risha. Apa saya boleh masuk?” tanya sang sekertaris pada Risha yang terlihat menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dengan mata terpejam. Tangannya masih terlihat memegang ponsel di pangkuannya. Risha terlihat sangat Lelah. Sekertarisnya pun mendekati Risha dan berusaha membangunkannya
“Bu Risha ... Bu Risha, apa anda baik-baik saja?” tanya sang sekertaris pada Risha yang masih memejamkan mata. Dia pun mengecek keadaan Risha dengan mendekatkan jari tangannya pada hidung Risha
“Syukurlaah, bu Risha masih hidup. Tapi tumben sekali bu Risha tidur saat jam kerja?” Sekertaris Risha pun terlihat bingung dengan keadaan bosnya yang tidak biasa tidur saat jam kerja.
“Bu Risha ... apa and abik-baik saja?” tanya sekertarisnya lagi [ada Risha yang masih tertidur sambil membangunkannya dengan menggoyangkan tangannya.
“Apa bu Risha sangat kelelahan ya? Harus bagaimana ini? Apa aku biarkan saja?” sekertaris Risha terlihat bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
Tak lama Diaz langsung masuk ke ruangan Risha tanpa mengetuk pintu sama sekali, mengingat sebelumnya Risha pergi begitu saja dari kantor. Dia jadi penasaran dengan apa yang dilakukan putrinya dengan terburu-buru.
Ceklek
Sekertaris Risha sangat terkejut ketika melihat Diaz ada diruang Risha.
“Selamat siang Pak Diaz” Sapa sang sekertaris dengan sikap sopan dan penuh hormat
“Ada apa dengan Risha? Apa dia sakit?” Diaz langsung berjalan mendekat dengan raut wajah khawatir ketika melihat putri cantiknya memejamkan mata dengan bersandar pada kursi
berusaha membangunkan putri cantiknya.
“Risha, sayang, bangun, Nak. Ada apa denganmu? Apa kamu baik-baik saja?” Diaz pun bertanya pada Risha yang masih belum bangun
“Sejak kapan dia tertidur seperti ini?” tanya Diaz pada sekertaris Risha
“Saya kurang tahu pak. Sepertinya tadi bu Risha baik-baik saja saat beliau kembali”
“Ya sudah. Biarkan saja dia istirahat dulu. Tidak perlu dibangunkan. Bangunkan saja dia saat jam pulang kerja tiba” ujai Diaz sebelum dia beranjak pergi dari ruangan Risha
“Baik, Pak. Saya mengerti” Diaz berbalik pergi ketika mendengar tanggapan dari sekertaris Risha. Dia pun sesekali menoleh pada Risha
yang masih memejamkan mata. Sekertaris Risha pun mengikuti Diaz dari belakang untuk kembali ke meja kerjanya
***
Sementara itu Rendra hampir sampai ke kantor Sanjaya setelah menempuh perjalanan dari kantor Dirga Electronik dengan kecepatan tinggi.
Rendra yang baru saja tiba langsung turun dari mobilnya setelah dia parkir dengan benar. Dia turun dari mobil dengan gagah kemudian berjalan masuk kekantor Sanjaya dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
“Permisi, ruangan bu Risha ada dimana ya?” tanya Rendra dengan panik pada resepsionis yang sedang bertugas
“Dengan pak siapa ya?” tanya Resepsionis yang masih tidak mengena Rendra
“Saya Rendra. Cepat katakan dimana ruangannya Risha!” pinta Rendra dengan nada sedikit meninggi
“I-itu ada dilantai 3” Rendra langsung berbalik dan menuju ruangan Risha dengan Langkah kaki yang cepat namun tetap terlihat penuh wibawa
Ting
Rendra naik kedalam lift dan tak lama dia tiba di lantai 3 dimana ruangan Risha berada. Rendra kembali melangkahkan kaki dengan cepat menuju meja kerja dimana sekertaris Risha yang duduk disana
“Permisi, apa bu Risha ada diruangannya?” tanya Rendra pada sekertaris Risha.
"Ada pak, tapi bu Risha masih belum bangun. Dia tertidur" ujar sekertaris Risha menjelaskan dengan hati-hati.
"Saya akan masuk kedalam" Rendra langsung masuk kedalam ruangan Risha tanpa menunggu tanggapan dari sekertarisnya Risha
Ceklek
Rendra sedikit berlari melihat Risha yang masih memejamkan matanya. Dia pun berjongkok disebelah sang kekasih.
"Sha. Risha!" Rendra memanggilnya dengan lembut sambil menepuk sebelah pipi Risha dengan perlahan, namun Risha masih tidak memberikan tanggapan
"Sha, sayang. Bangun, sayang" Rendra terus berusaha membangunkan Risha dengan hati-hati, namun karena dia sangat khawatir pada Risha yang masih tak kunjung bangun, akhirnya Rendra mencipratkan sedikit air pada wajahnya
Prat prat
"Eeuh ..." Risha pun mulai bereaksi. Dia terlihat mengerjapkan mata berkali-kali karena cipratan air dari Rendra. Perlahan dia membuka mata dan menatap Rendra dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka
"Rendra? Apa aku bermimpi? Kenapa kamu ada disini? Ah sepertinya aku terlalu merindukannya sampai aku berhalusinasi" gumam Risha sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing sambil memejamkan matanya.
Rendra hanya tersenyum melihat Risha yang menurutnya saat ini sangat menggemaskan. Diapun memegang kedua pipi Risha dan mendekatkan wajahnya, membuat Risha menatapnya dengan nata membelalak karena terkejut
"Apa kamu pikir aku ini hanya ilusi? Lalu kapan aku akan jadi kenyataan buatmu? Kamu tahu? Saat ini kamu sangat menggemaskan, dan aku juga sangat merindukanmu sampai aku langsung berkendara dari perusahaanku untuk bertemu denganmu" ujar Rendra dengan nada bicara yang lembut disertai senyum dibibirnya
"Rendra? Ini kamu? Ini benar-benar kamu? Aaah aku sangat senang karena melihatmu" Risha langsung memeluk Rendra karena dia sangat bahagia
"Aku juga senang kamu baik-baik saja. Rasanya duniaku bisa runtuh jika terjadi sesuatu padamu" Rendra bicara sambil mengusap lembut punggung Risha
"Benarkah?" tanya Risha yang sedikit ragu
"Tentu saja karena sekarang, kamulah duniaku"
__ADS_1
"Gombal"