
"Kenapa kamu tiba-tiba tersenyum seperti itu? Kalau Kenzo yang tersenyum tanpa sebab begitu, berarti dia sedag merencanakan sesuatu dengan otak cerdasnya. Apa kamu juga sama? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Kenzie bertanya dengan tatapan heran karena senyum Noey yang terlihat mencurigakan setelah Berly Wiguna meninggalkan ruangam Kenzie
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja aku menemukan kalau ternyata pekerjaanku akan semakin mudah. Sudahlah, aku akan kembali ke meja kerjaku" Noey beranjak pergi meninggalkan ruang kerja Zie dengan senyum mengembang diwajahnya yang tampan.
"Aneh, Apa maksudnya itu? Dan, apa yang sedang dia sembunyikan?" Kenzie bergumam sambil menarap pumggung Noey yamg semakin menjauh
"Berly Wiguna? Sangat kebetulan karena aku juga sedang menyelidiki orang itu. Sekarang aku harus benar-benar mencari tahu informasi tentang dia. Aku yakin kalau Kenzo akan sangat suka dengan hal itu. Tapi ... kenapa sikembar ini bisa berurusan dengan orang yang sama?"
Noey terlihat bingung saat dia sedang mencari informasi mengenai keluarga Wiguna melalui jaringan komputer
"Hmn ... Berly Wiguna, seorang pengusaha tambang yang baru-baru ini terjun dibidang industri. Mempunyai dua orang putri. Sheila Wiguna yang membantu sang ayah menjalankan bisnis di negara F. Eh, Apa dia yang dimaksud Zo? putri keduanya bernama Marina Wiguna, baru lulus kuliah dan beberapa kali menerima perawatan dari psikiater karena tekanan yang didapat disekitarnya. Bukannya tadi dia menyalahkan Kenzie karena membawa putrinya kerumah sakit jiwa? Jadi dia ingin melindungi martabatnya dengan menyalahkan orang lain atas kegilaan anaknya? Baiklah, untuk sekarang aku hanya akan melihat apa yang akan mereka lakukan. Jika mereka berani macam-macam, baru aku akan bertindak" Noey pun menutup laptopnya dan kembali pada tumpukan pekerjaan yang diberikan Kenzie padanya.
***
Risha sedang makan siang di sebuah restoran yang dekat dengan kantor. Namun dia tidak sendirian, ada Diaz bersama dengannya
"Papi, kenapa papi malah makan disini? Harusnya papi tidak boleh makan siang denganku. Papi kan tahu sendiri apa status kita disini? Orang-orang pasti akan salah paham dengan kedekatan kita" Risha menggerutu dengan nada yang manja pada Diaz karena dia ikut makan di meja yang sama dengan Risha.
"Kamu tenang saja. Tidak akan ada yang melihat kita disini. Karyawan kantor kan makan di kantin, Mereka tidak mungkin makan di restoran bintang 5 seperti ini" Diaz menjawab dengan sikap yang tenang dan tidak mempedulikan Risha yang mengerucutkan bibirnya karena kesal.
Risha pun mau tidak mau makan dengan Diaz. Mereka menikmati makan siangnya dengan sesekali berbincang mengenai pekerjaan dan juga hubungannya dengan Rendra. Tanpa mereka sadari disalah satu sudut restoran ada Daniel yang sedang makan siang bersama teman-temannya.
"Itu ... bukannya ... Pak Diaz dan Risha? Jadi benar kalau Risha mendekati pak Diaz untuk jabatan?"
Daniel bergumam saat melihat Risha yang sedang makan sambil berbincang. Dia pun mengambil foto yang dizoom sehingga terlihat jelas wajah mereka berdua
"Ada apa? Apa kamu mengenal mereka?" Salah satu teman Daniel bertanya setelah dia melihat Daniel yang terus memperhatikan Diaz dan Risha
"Kamu tidak mengenal pria itu?" Daniel memicingkan mata heran saat dia bertanya pada rekannya.
__ADS_1
Temannya itu pun kembali memperhatikan Diaz dengan seksama
"Bukannya itu ... pak Diaz dari perusahaan Sanjaya?" Ujarnya setelah dia benar-benar melihat Diaz
"Benar, itu pak Diaz dan gadis yang ada dihadapannya itu adalah wakil direktur baru diperusahaan kami. Awalnya aku tidak mengerti kenapa pak Diaz menempatkan dia di posisi itu padahal dia tidak punya pengalaman sama sekali. Sekarang aku mengerti kenapa dia langsung mendapatkan posisi itu"
Daniel bicara dengan senyum mencibir dan mata mendelik pada Risha. Terlihat jelas dari tatapannya kalau dia sangat memandang rendah Risha
"Maksudmu ... gadis itu sengaja mendekati pak Diaz untuk mendapatkan posisi bagus diperusahaan? Dia rela menjadi simpanannya untuk sebuah jabatan, begitu?" Teman Daniel bertanya dengan sedikit ragu-ragi untuk memastikan apa yang dimaksud oleh Daniel
"Apalagi? Tentu saja karena itu. Mana mungkin seorang gadis muda yang cantik mau mendekati pria yang pantas jadi ayahnya kalau bukan karena ingin harta?" Daniel bicara dengan nada mencibir dan matanya terus menatap kearah Diaz dan Risha
"Sudahlah, jangan bicara sembarangan! Mungkin saja mereka memiliki hubungan kerabat yang tidak diketahui? Jadi lebih baik jangan bahas ini lagi sebelum timbul masalah" Teman Daniel menanggapi dengan bijak dan dewasa untuk memperigatkan temannya agar tidak ikut campur mengenai hubungan orang lain
"Kamu benar. Itu sama sekali bukan urusanku" Daniel pun mengalihkan pandangannya dan kembali menikmati makan siang bersama teman-temannya
"Cih, belum sebulan kamu pulang kerumah dan tidak menemuinya, kamu sudah merindukannya. Tapi saat kamu tidak bertemu papi, kamu tidak pernah dengan sengaja menhubungi papi, apalagi menemui papi" Diaz menanggapi dengan sedikit merajuk karena cemburu
"Ada apa dengan papi? Selama ini juga kita tidak pernah saling menghubungi" Risha menanggapi keluhan Diaz dengan sikap acuh tak acuh
"Itu berbeda urusan. Selama ini kamu ada dirumah dan papi bisa melihatmu kapan saja. Tapi saat kamu berada diluar rumah, tentu saja papi merindukanmu juga karena merasa kehilangan"
Diaz menjelaskan alasan dia merindukan putri camtiknya
"Maaf papi, aku tidak memikirkan hal itu sama sekali. Aku hanya berpikir kalau papi akan cukup senang hanya dengan tahu kalau aku baik-baik saja" Risha tertunduk menyesal menjawab Diaz
"Ya sudahlah yang penting sekarang kamu ada didepan papi dan kita bisa sering makan bersama lagi seperti ini" Diaz menarik sebelah tangan Risha dan menggenggamnya erat. Itu kembali memunculkan kecurigiaan hubungan diantara mereka.
***
__ADS_1
Kenzo masih terus menemani Safira yang belum sadar pasca operasi kanker otaknya. Dia terus menunggu dengan raut wajah khawatir didepan ruang ICU karena kondisi Safira yang masih belum diketahui.
"Kak Zo, sebaiknya kakak istirahat dulu saja. penampilan kakak sangat berantakan sekali" Tiara memberitahu Kenzo agar dia beristirahat sebentar
"Bagaimana aku bisa istirahat Sedangkan kondisi Safira masih belum stabil? Aku akan istirahat setelah dia mulai siuman"
Tiara pun tidak bisa memaksa Kenzo begitu saja
"Baiklah, aku tidak akan memaksa kak Zo lagi. Tapi setidaknya kak Zo harus membersihkan diri terlebih dahulu dan ganti pakaiannya dengan yang lebih baik" Tiara memberikan satu setel pakaian untuk dikenakan Kenzo
Sesaat Kenzo terdiam memperhatikan baju yang ada di tangan Tiara. Pakaian itu adalah yang pernah Safira siapkan untuknya
"Bagaimana bisa ada pakaian ini?" Zo menatap bingung pada Tiara
"Itu … kak Safira yang siapkan. Katanya mungkin ada saat kak Kenzo membutuhkan pakaian ganti dan itu sudah disiapkan kak Safira
"Safira … kenapa kamu terus membuatku sedih? Sampai kapan kamu akan terbaring disana? Bukannya kamu lebih suka saat berada disisiku? Sekarang akan kubiarkan kamu melakukan apapun" Kenzo kembali bicara dengan raut ajah sedih.
"Kak Zo, lihat!" Tiara memanggil Zo dengan antusias
"Ada apa? Kenapa kamu berteriak begitu?"
"Tangan. Tadi tangan kak Safira bergerak. Aku yakin itu. Aku benar-benar melihatnya bergerak tadi" Tiara semakin antusias karena melihat perkembangan pada kondisi Safira
"Kalau begitu, cepat panggil dokter sekarang!" Kenzo bicara dengan sikap tegas
"Baik!" Tiara begitu semangat menanggapinya dan bergegas memanggil dokter dengan tawa ceria diwajahnya
"Aku yakin kak Fira pasti baik-baik saja"
__ADS_1