
Kenzo dan Safira baru saja tiba di bandara negara A. Mereka baru saja turun dari pesawat.
“Sayang, sebaiknya kita langsung kerumah utama saja. Aku ingin kamu istirahat dulu hari ini. Kamu pasti sangat lelah kan?” Safira bicara pada Kenzo sambil berjalan keluar meninggalkan bandara.
“Kamu pulanglah lebih dulu, aku akan pergi menemui Rendra sebentar. Setelah itu aku akan langsung pulang” Kenzo bicara dengan lembut pada Safira
“Tapi sayang”
“Tidak papa. Aku baik-baik saja. Aku hanya akan melihat Rendra sebentar saja. Dia pasti butuh seseorang untuk menemaninya disaat
seperti ini” Kenzo langsung menyela Safira sebelum dia selesai bicara.
“Baiklah, tapi kamu harus hati-hati” Safira mengingatkan Kenzo agar tetap berhati-hati terlebih lagi kondisinya sedang tidak fit karena kelelahan.
“Kamu tenang saja. Kabari aku jika kamu sudah tiba dirumah”. Kenzo mengantar Safira menghentikan taksi dan membantunya membukakan pintu mobil.
Safira pun mengangguk lalu melambaian tangan pada Kenzo saat taksi yang dia tumpangi mulai jalan dan meninggalkan Kenzo.
Kenzo pun menaiki taksi lain dan
bergegas ke perusahaan Rendra. Butuh waktu lumayan lama untuknya sampai ke
perusahaan Rendra karena jaraknya cukup jauh dari bandara.
“Tolong ke perusahaan Dirga Electronik” ujar Kenzo pada supir taksi yang dia tumpangi
“Baik, pak”. Karena perjalanan cukup jauh, Kenzo pun kembali memejamkan mata saat berada didalam mobil. Setelah sampai diperusahaan Rendra, barulah supir taksi itu
membangunkannya.
“Kita sudah sampai, Pak” ujar supir taksi dengan hati-hati agar tidak mengejutkan Kenzo.
“Oh ya. Ambil saja kembaliannya” Kenzo pun tersadar lalu mengambil uang dari dompetnya dan membayar sesuai dengan tarifnya.
“Terimakasih, Pak”
Kenzo kembali menjadi pusat perhatian saat dia berjalan masuk ke perusahaan Rendra. Mungkin ada sebagian orang yang mengingat wajah Kenzo yang pernah datang keperusahaan ini, tapi ada juga yang tidak
menyadarinya dan hanya tahu kalau itu Kenzo siprogramer muda yang handal.
__ADS_1
“Saya ingin bertemu dengan Rendra” Kenzo mendekati resepsionis dan menanyakan keberadaan Rendra.
“Maaf, apa anda sudah membuat janji sebelumnya?” Resepsiois itu bicara dengan sopan pada Kenzo
“Tidak. Saya ingin membuat kejutan untuknya jadi bisa katakan dia ada dimana?” Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa. Dia pun menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan resepsionis.
“Tapi Pak, Pak Rendra sekarang …” saat resepsionis berusaha melarang Kenzo, Alan melewati lobby setelah dia dari ruangan lain
“Pak Kenzo!” Alan sedikit berlari saat mendekati Kenzo. Semua orang kembali terkejut melihat sikap Alan pada Kenzo, bahkan resepsionis itu juga ternganga tak percaya dengan apa baru saja terjadi.
“Apa Rendra ada diruangannya?” Kenzo bertanya dengan sikap dingin dan tenang pada Alan.
“Ada, Pak. Pak Rendra sedang ada rapat, tapi anda bisa menunggu diruangannya” Alan pun bicara dengan sopan pada Kenzo dan berjalan lebih dulu membimbing Kenzo keruangan Rendra.
“Sepertinya perusahaan ini sudah berjalan lebih baik dari sebelumnya” Kenzo bicara sambil sesekali menoleh kesana kemari memperhatikan setiap sudut ruangan kantor Rendra
“Benar, Pak. Perusahaan sudah lumayan berkembang setelah dikelola oleh pak Rendra”
“Apa Bastian pernah datang menemui Rendra?” Tanya Kenzo lagi yang sedikit penasaran.
“Tidak, Pak. Yang saya tahu pak Rendra hanya sesekali saja menghubungi pak Bastian. Beliau ingin kembali menjalin hubungan baik dengan pak Bastian”. Kenzo menganggukkan kepala berkali-kali menanggapi ucapan Alan.
“Ya. Terimakasih". Kenzo pun masuk keruang Rendra memperhatikan sekelilingnya
"Permisi, Pak. Saya harus pergi keruang rapat" Alan bicara pada Kenzo setelah dia menyediakan minuman untuknya.
"Silahkan. Tidak perlu memberitahu dia kalau aku ada disini" ujar Kenzo dengan sikap yang tenang.
"Baik, Pak. Saya mengerti". Alan pun langsung berbalik pergi meninggalkan ruangan Rendra.
Kenzo dengan sengaja duduk di kursi kerja Rendra dan membelakangi pintu sehingga tidak terlihat kalau dia sedang duduk dimeja kerjanya.
Tak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang berjalan menuju ruangan sambil saling berbincang.
"Mungkin aku akan langsung mengambil cuti untuk pergi bulan madu, jadi untuk sementara nanti, perusahaan akan ke percayakan padamu"
Ceklek
"Kamu masih saja tidak bersikap waspada pada sekelilingmu? Kamu tidak takut jika seseorang kembali mengkhianatimu?".
__ADS_1
"Eh?"
Rendra terkejut ketika mendengar suara seseorang dalam ruangannya. Dia merasa familiar dengan suara tersebut namun takut melakukan kesalahan. Rendra pun perlahan mendekati meja kerjanya untuk melihat siapa orang yang sedang duduk diatas kursinya.
"Siapa kamu? Bagaimana bisa kamu masuk kedalam kantorku?". Rendra berusaha bersikap tenang saat dia bicara pada pria itu
"Memangnya apa yang tidak bisa aku lakukan didunia ini?". Kenzo bicara sambil memutar kursinya dan menghadap Rendra disertai senyum tipis dibibirnya.
"Zo! Kenzo! Aku senang karena kamu mau mengunjungiku disini. Ku kira kamu akan mengabaikanku dan langsung pulang ke kediaman utama".
Rendra yang sangat senang setelah melihat Kenzo, langsung berhambur kepelukannya dengan senyum bahagia dibibirnya.
"Aku tahu kalau kamu sangat merindukanku, karena itu aku langsung datang kemari begitu tiba di negara ini".
"Cih. Terlalu percaya diri".
Kenzo menyambut pelukan Rendra dan bicara sambil menepuk punggung Rendra. Mereka saling melepas rindu setelah lama tidak bertemu.
"Apa kamu sudah mendengar perubahan Kenzie?". Rendra melerai pelukannya dan bertanya pada Kenzo kabar Kenzie.
"Aku sudah dengar dari Risha, tapi untuk masalah pribadinya … aku tidak ingin ikut campur. Biarkan saja dia yang menyelesaikan masalahnya. Aku yakin kalau Kenzie tahu yang terbaik untuknya. Masalah ini akan jadi pukulan untuknya dan merubahnya menjadi lebih baik. Dia harus kuat untuk bisa menjadi pemimpin perusahaan Kusuma".
"Jadi kamu tidak akan membantu Kenzie dan Meisya?"
"Tidak! Jika mereka bersama, maka aku yang akan menghancurkan pak Arseno. Sebelum dia menjadikan Kenzie boneka untuk perusahaannya, aku akan hancurkan perusahaan itu lebih dulu"
Kenzo bicara dengan raut wajah serius dan sikap yang dingin. Meskipun dia mengkhawatirkan Kenzie, namun dia ingin saudara kembarnya itu belajar dari kesalahan dan tidak terjerumus kedalam lubang penyesalan yang dalam.
"Kamu memang tidak punya perasaan, Zo" ujar Rendra yang bicara sambil menggelengkan kepala.
"Itu lebih baik daripada dipermainkan karena perasaan. Terlebih perasaan Cinta. Aku tidak ingin jadi budak cinta yang rela melakukan apa saja demi orang lain".
"Cih. Seperti kamu bukan budak cinta istrimu saja". Rendra berdecih dengan nada yang sinia.
"Kamu juga budak cinta Risha. Mengatakan hal yang tidak-tidak pada orang lain. Kamu harus berkaca diri terlebih dahulu sebelum bicara denganku"
"Ya ya ya. Terserah kamu saja. Bicara denganmu tidak akan pernah selesai sampai kapanpun. Selalu saja ada yang tidak kamu sukai". Rendra bicara dengan mencibir
"Selesai. Kamu saja yang berlebihan".
__ADS_1
Kenzo dan Rendra pun terus saja berdebat saat mereka bertemu, tapi terlihat jelas kalau mereka menganggap penting satu sama lain.