Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Terpuruknya Lea


__ADS_3

Dunia Lea seakan runtuh. Fondasi yang dia bangun untuk mulai hidup bahagia dengan keluarga kecilnya sendiri seakan hancur begitu saja. Tidak ada lagi yang dapat menjadi tiang penyangga untuk menopang kesedihan dan kebahagiaannya lagi.


"Tidak mungkin! Ini pasti mimpi!"


Plak plak


"Bohong! Kalian pasti bohong! Kak Galen tidak mungkin meninggalkanku! Dia sudah janji akan selalu hidup denganku. Dia bilang dia mencintaiku dan bayi kami. Dia tidak mungkin membuatku bersedih. Hiks ... hiks.. hiks.."


"Nona, tenanglah!"


Lea kembali histeris dan menampar wajahnya sendiri begitu dia mendengar informasi dari perawat kalau Galen dan Rey sudah meninggal dunia.


Dikamar bayi


"Tante Vio, om Leo!" Cheva mendekati Vio dan Leo yang sedang melihat bayi Lea dari balik kaca jendela.


"Cheva, Lian! Bukannya kalian bilang akan langsung ke kantor? Kenapa kembali lagi kemari?" Vio bertanya dengan sikap yang tenang


"Kami hanya ingin melihat Lea dulu sebelum ke kantor. Tapi saat kami masuk ke kamarnya, disana ada Adnan dan Astria. Aku tidak tahu apa yang mereka katakan pada Lea. Tapi Lea terus menanyakan soal Galen"


Cheva menceritakan pada vio dan Leo mengenai apa yang terjadi di kamar Lea.


"Baiklah, sekarang lebih baik kita lihat Lea!" Leo bicara dengan sikap yang tenang


Mereka pun berjalan bersama untuk pergi ke kamar Lea.


"Lea? Kemana perginya lea?!"


Vio, Leo, Cheva dan Lian begitu terkejut ketika mendapati pintu kamar Lea terbuka, tempat tidurnya berantakan dan terlebih lagi Lea tidak ada disana.


"Lea! Lea! Cepat cari dia! kalian ke sebelah sana!" Vio, Leo, Lian dan Cheva bergegas mencari Lea ke sekitar ruangannya.


"Tidak mungkin! Ini pasti mimpi! Kalian bohong padaku ka?"


Terdengar teriakan histeris Lea. Orang-orang pun terlihat berkumpul di dekat meja informasi


Lian dan Cheva segera berlari kesana untuk melihat apa yang sedang terjadi.


"Lea!"


Cheva langsung mendekat dan duduk di hadapan Lea yang sedang duduk di lantai dengan derai air mata penuh kesedihan. Dia terlihat sangat kacau dengan kedua pipinya merah, bahkan ada sedikit darah di ujung bibirnya.


"Kak Cheva mereka bohong padaku. Mereka bilang kak Galen meninggal. Itu bohong kan kak? Kak Galen baik-baik saja kan? Iya kan kak Lian?"

__ADS_1


Lea terus bertanya pada Cheva karena dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Lea tenanglah dulu! Dengarkan kami baik-baik. Kamu bisa menemuinya nanti setelah kamu keluar dari rumah sakit. Kami janji akan mengantarmu"


Cheva dengan nada bicara yang lembut berusaha menenangkan Lea.


"Tidak mau. Aku ingin menemuinya sekarang hiks... hiks... hiks... "


Lea bersikeras untuk menemui Galen saat ini juga. Lian dan Cheva hanya bisa saling menatap satu sama lain tanpa bisa memberikan keputusan karena mereka tidak ingin Lea semakin terpuruk terlebih kondisinya yang belum cukup stabil untuk dapat menerima tekanan apapun.


"Lea! Rupanya kamu disini. Kami mencarimu kemana-mana"


Vio yang melihat Lea dan Cheva langsung mendekat dan memeluk Lea.


"Mama antarkan aku menemui kak Galen. Aku ingin melihatnya sendiri. Mereka bilang kak Galen telah meninggal, itu bohong kan mah?"


Lea masih terus saja menyangkal apa yang dia dengar mengenai Galen.


Air mata Vio semakin deras melihat kondisi putrinya saat ini yang sangat terpuruk.


"Sayang, kamu harus sabar. Nanti kita akan menemuinya setelah kamu dibolehkan keluar dari rumah sakit"


Vio berusaha menenangkan Lea sambil memeluknya dengan erat.


Lea melepaskan pelukan Vio dan kembali menangis histeris .


"Aku ingin lihat sendiri kalau kak Galen tidak papa" Lea menundukkan kepala dengan air mata yang tak terbendung lagi.


"Biarkan dia mengetahuinya. Kita tidak bisa terus menyembunyikan kebenarannya"


Semua orang menoleh mendengar suara yang sangat familiar di telinga mereka. Terlihat disana Yudha dan Gina berjalan mendekat ke arah Lea.


"Kakek... "


Lea menyebut nama Yudha dengan tangis pilu dari suaranya.


"Kami akan mengantarmu menemui Galen"


"Tapi pih. Kondisi Lea masih belum stabil"


Vio berusaha melarang Yudha membawa Lea pergi ke makam Galen.


"Apa kamu bisa menenangkan Lea? Dia akan terus seperti ini sebelum dia bisa mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya"

__ADS_1


Vio terdiam mendengar apa yang dikatakan Yudha. Lea memang tidak mungkin bisa tenang sampai dia melihat sendiri apa yang terjadi pada suaminya. Tidak menutup kemungkinan kalau dia akan kembali mencari tahu sendiri keberadaan Galen.


"Baiklah. Kita akan pergi kesana"


"Terimakasih mah"


Lea akhirnya sedikit tenang dan tersenyum pahit mendengar ucapan Vio. Mereka semua pun bergegas pergi ke makam Galen dengan Lea harus menggunakan kursi roda.


"Kita mau pergi kemana? Sepetinya ini sudah cukup jauh dari rumah sakit?"


Lea menoleh kesana kemari. Jalan yang dilalui mereka bukan jalan pulang, baik itu ke kerumah Vio ataupun kerumah Lea sendiri. Lea tidak tahu tujuan mereka.


"Sebentar lagi kita akan sampai. Sabarlah"


Lea tidak memberikan tanggapan kepada sang ayah. Dia hanya diam dan menoleh kesana kemari.


"Ini... ?"


Lea semakin bingung ketika mereka tiba di pemakaman. Dia terus menoleh kesana kemari.


"Apa benar kak Galen... ?


Lea terus bertanya, namun tidak ada satupun yang memberikan jawaban atas pertanyaannya mengenai kondisi Galen. Mereka hanya diam sambil membantu Lea turun dari mobil dan duduk di kursi roda.


Perlahan Leo mendorong kursi roda Lea menuju pusara terakhir Galen. Air mata Lea kini kembali menetes memikirkan yang akan terjadi.


Leo berhenti mendorong kursi roda ketika mereka tiba tepat di depan makam Galen dan Rey


"Galen dan Rey, terbaring disini"


"Tidak! Kak Galen... "


Air mata Lea kembali pecah ketika Leo menunjuk makam Galen dan Rey. Meskipun kakinya lemah, dia langsung turun dari kursi rodanya dan memeluk makam Galen dan membaringkan kepelanya di atas makam


"Kak Galen... kenapa kamu meninggalkanku? bukankah kamu sudah janji akan membahagiakanku dan putra kita? Dia telah lahir dan aku memberikan nama yang sudah kamu siapkan untuknya. Kamu tidak ingin melihatnya? memeluknya, hmn? Kamu tidak ingin melihat anak kita? Anak yang selama ini telah kita nantikan"


Dengan derai air mata Lea bicara pada batu nisan Galen. kemudian dia berbalik pada makam Rey


"Kak Rey, bukannya kak Rey bilang kalau kita akan hidup bersama?! Kak Galen juga berencana mencarikan pendamping untukmu. Kamu juga setuju? Kenapa kalian pergi meninggalkanku begitu saja?!"


Lea terus berteriak histeris sambil menangis dan mencengkeram tanah. Semua orang pun ikut menangis melihat Lea saat ini. Mereka mengerti betul rasa kehilangan yang dirasakan Lea.


"Kenapa... ?Kenapa... ?"

__ADS_1


"Lea!"


__ADS_2