
Risah kembali ke kantor sendiri setelah dia selesai makan siang bersama Rendra. Dia berusaha terus fokus dengan pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.
"Rendra benar-benar menyebalkan! Bisa-bisanya dia tidak peka sama sekali dengan setiap ucapanku. Padahal dia sendiri yang membelaku di depan Ana kalau aku bukan wanita murahan. Sekarang dia juga yang tidak percaya dengan ucapanku padanya" Risha terus saja menggerutu kesal memikirkan Rendra
Tring
Sebuah pesan masuk diterima oleh Risha. Itu adalah pesan dari Rendra
"Kamu marah padaku?"
Tulisnya dalam pesan yang dikirim. Risha hanya membaca pesan itu dan tidak membalas pesan Rendra
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud merendahkanmu"
"Terserah!"
Rendra kembali mengirim pesan karena Risha tidak membalasnnya. Lagi-lagi Risha mengabaikan pesan yang dikirim Rendra padanya.
Waktu kerja pun akhirnya selesai. Risha membereskan barangnya sebelum dia pulang. Dia benar-benar mengabaikan Rendra hingga pulang dan tidak membalas pesannya. Risha yang biasanya menunggu Rendra di bawah gedung, kini langsung pergi begitu saja.
Tiin tiin
Risha menoleh ketika mendengar suara klakson mobil dibelakangnya.
" Huh menyebalkan!" Dia kembali membuang muka ketika tahu ternyata yang ada dielakangnya adalah Rendra
"Sha, biar aku antar ya?" Rendra bertanya dengan nada yang lembut. Risha sama sekali tidak menghentikan langkahnya dan tetap berjalan meskipun Rendra mengikutinya dengan pelan
"Tidak perlu. Aku bisa jalan kaki sendiri" Jawabnya dengan nada yang sinis tanpa menatap Rendra
"Tidak papa, biar aku antar saja" Rendra terus saja membujuk Risha agar naik ke mobilnya
"Rumahku sudah dekat. Lebih baik kamu pulang saja!" Jawab Risha lagi tanpa menandang Rendra
"Kamu benar-benar marah padaku? Ayolah Sha, aku kan sudah minta maaf" Rendra terus membujuk Risha dengan nada bicaranya yang tenang
"Aku tidak marah. Untuk apa aku marah hanya karema hal sepele itu? Lebih baik kamu pulang. Aku masih memiliki janji dengan pria lain"
"Pria lain? Siapa pria itu?"
Rendra terkejut dan terlihat penasaran dengan pria yang dimaksud oleh Risha
"Kamu tidak perlu tahu. Kamu sendiri kan yang bilang kalau aku selalu menggoda pria. Jadi tidak mungkin aku hanya menggodamu saja" Risha terlihat sangat kesal saat bicara pada Rendra. Rendra hanya terdiam dan tidak mengikuti Risha lagi
__ADS_1
"Eh, apa dia sudah menyerah? Cuma segitu saja? Dasar es batu. Kenapa dia tidak seperti Kenzo? Meskipun Kenzo selalu bersikap dingin, tapi dia peka dengan perasaannya dan tahu apa yang dia inginkan, tapi Rendra ... meskipun dia sudah berteman lama dengan Kenzo tapi otaknya benar-benar tidak bisa mengikuti IQ Kenzo yang pintar. Rendra bodoh!" Risha terus saja menggerutu selama dia berjalan kaki sampai ke rumahnya
***
"Mami, apa mami kenal dengan keluarga dari pacarnya Kenzo?" Cheva sedang menghubungi Jingga untuk menanyakan keluarga Safira
"Ya, mami kenal dengan kakek dan neneknya. Mereka adalah rekan bisnis mami" Ji menjawab dengan sikapnya yang tenang
"Bagaimana mereka, apa mereka berasal dari keluarga baik-baik? Lalu bagaimana dengan Safira sendiri? Apa dia baik atau sombong? Karena dia seorang artis terkenal …" Cheva terdengar sangat penasaran tentang pacar Kenzo
"Dia gadis yang baik. Meskipun dia artis terkenal, tapi dia tidak sombong dan selalu menghormati orang yang lebih tua. Safira juga pandai bersikap, dia tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dia lakukan" Ji menjelaskan mengenai sifat Safira yang dia tahu
"Lalu bagaimana dengan orang tuanya?" Tanya Cheva lagi yang masih belum mengumpulkan cukup informasi
"Orang tuanya sudah meninggal sejak dia masih kecil. Dia dibesarkan oleh kakek dan neneknya"
"Jadi dia yatim piatu?" Gumam Cheva dengan raut wajah sedih
"Benar. Karena saat itu dia masih kecil, jadi dia tidak terlalu ingat bagaimana orang tuanya. Namun kakek dan neneknya memberikan dia kasih sayang yang berlimpah agar dia tidak merasa kekurangan kasih sayang"
"Mami, aku dengar sekarang dia ada dirumah sakit. Apa mami bisa mencari tahu lokasi rumah sakitnya? Aku ingin menjenguknya" Cheva bicara dengan nada bicara yang lembut dan tenang
"Kamu mau kesini sekarang? Kenapa tidak tanyakan alamatnya saja pada Kenzo?"
"Mami tahu tapi Kenzo tidak akan marah meskipun kita ikut campur urusannya. Dia hanya tidak suka menunjukkan kelemahannya dan juga tidak suka menambah beban orang lain saja" Ji menjelaskan mengenai sifat Kenzo yang dingin
"Aku tahu mih. Dia sama seperti kak Lian yang tidak bisa menunjukkan perasaannya pada orang lain. Mereka berdua terlalu kaku" Cheva menjawab dengan nada yang sedikit mencibir
"Baguslah jika kamu mengerti. Nanti mami kirimkan alamat rumah sakitnya melalui pesan singkat"
"Baik mih. Terimkasih. Sampai jumpa mami"
"Hemn"
Cheva dan Ji pun mengakhiri panggilan telepon diantara mereka
"Aku harus pulang dulu dan bersiap pergi ke negara F" Gumam Cheva setelah selesai menelepon Ji. Diapun bergegas pulang kerumah sendiri karena dia mengatakan pada Lian untuk tidak menjemputnya
Setelah menempuh perjalanan menggunakan taksi, akhirnya Cheva tiba dirumah utama. Dia langsung bergegas pergi ke kamarnya
"Va, apa yang terjadi? Kenapa kamu terburu-buru begitu?" Diaz bertanya pada Cheva setelah melihat dia berjalan dengan langkah cepat menuju kamarnya
"Aku harus pergi lagi ke negara F. Kak Diaz, tolong minta seseorang untuk menyiapkan jet pribadi untukku" Cheva tidak menjelaskan dengan rinci dan langsung berjalan meninggalkan Diaz yang sedang berbincang dengan Lian
__ADS_1
"Lian, apa yang terjadi dengan princess mu itu? Kenapa dia aneh sekali?" Diaz yang bingung dengan sikap Cheva malah bertanya pada Lian
"Aku juga tidak tahu. Sejak tadi kan aku duduk denganmu disini. Sudahlah aku mau melihat dia dulu" Lian pun beranjak dari duduknya dan menyusul Cheva kekamar mereka
"Sayang, untuk apa kamu pergi ke negara F? Apa terjadi sesuatu?" Lian mendekati Cheva dan bertanya dengan nada yang lembut
"Aku mau menemui pacarnya Zo. Katanya dia sedang dirawat dirumah sakit" Cheva menjawab sambil menyiapkan apa yang dia butuhkan
"Zo sudah punya pacar? Siapa yang membeeutahumu?" Lian bertanya dengan sikapnya yang tenang
"Awalnya Zie yang memberitahuku, tapi aku juga sudah bertanya pada Zo dan juga mami" Cheva menjelaskan dengan sikap tenang
"Jadi kamu mau kesana sendiri?" Suara Lian terdengar dingin dengan wajah serius
"Apa kak Lian tidak akan mengizinkanku? Aku hanya ingin melihat pacarnya Kenzo. Lagipula itu tidak akan lama karena aku pakai jet pribadi kesana" Cheva sengaja bicara dengan nada manja dan juga sorot mata penuh harap agar Lian memberikan izin padanya
"Tidak bisa. Kamu tidak diizinkan pergi meninggalkan aku!" Jawab Lian tegas
"Ayolah kak Lian" Cheva memelas manja pada Lian
"Tidak bisa, kecuali kamu membiarkan aku ikut denganmu" Cheva memicingkan mata menatap sang suami
"Bilang saja jika kak Lian juga ingin ikut denganku. Tidak perlu sampai mempermainkanku segala" Ujar Cheva dengan senyum ceria dibibirnya
"Tentu saja aku akan ikut. Tidak akan ku biarkan kamu meninggalkanku sendiri"
"Ekhem ekhem … Kalian sudah tua, berhentilah bersikap seperti itu!" Diaz mencibir Cheva dan Lian yang bersikap seperti anak muda yang sedang kasmaran
"Jika kak Diaz cemburu, lakukan saja dengan kak Tania" Cheva menjawab dengan nada yang sinis
"Aku tidak perlu menunjukkannya di depan kalian berdua"
"Aku juga tidak ingin menunjukkannya didepan kakak. Kakaknya saja malah masuk kekamar orang lain sembarangan" Ujar Cheva lagi dengan sinis
"Pintunya terbuka, karena itu aku berdiri disini. Memangnua untuk apa kamuli negara F? Sekarang Lian juga malah ikut. Kamu ini sama sekali tidak bisa jauh darinya ya?" Diaz bicara sambil berjalan mendekati Lian dan Cheva
"Aku sudah menemui pacar Kenzie dan sekarang aku juga ingin menemui pacar Kenzo" Cheva menjawab dengan senyum ceria
"Jadi kalian akan segera kehilangan anak kembar kalian?" Diaz bicara dengan nada mengejek
"Kurasa kak Diaz juga akan segera kehilangan putri cantik kak Diaz" Cheva pun tak ingin kalah mengejek Diaz
"Hah?!"
__ADS_1