Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Tikus Kecil Bukanlah Sainganku


__ADS_3

"Halo, dengan siapa ini?" Kenzie sedang menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal


"Aku Noey, Kenzo yang memintaku menghubungi nomor ini" Suara Noey terdengar sangat dingin dan kaku. Kenzie mengerutkan dahi setelah mendengar suara Noey


"Apa semua teman Zo memiliki sifat yang dingin sepertinya? Jangan bilang kalau orang ini juga memiliki kepribadian yang susah bergaul?" Kenzie sedang berpikir mengenai orang seperti apa Noey ini


"Apa kamu mendengarkanku?" Tanya Noey dengan nada yang dingin


"Ya aku mendengarkanmu. Apa Kenzo sudah mengatakan padamu apa yang harus kamu kerjakan?' Kenzie bertanya dengan sikap yang tenang dan ramah


"Ya, dia memintaku untuk manjadi asistenmu"


"Bisakah kita bertemu dulu? Kita bisa bicarakan ini secara langsung. Rasanya sangat canggung kalau membicarakan ini melalui telepon"


Kenzie menyarankan agar mereka bisa bertemu secara langsung, karena dia juga penasaran dengan orang seperti apa yang akan jadi asistennya.


"Baiklah. Kita bertemu jam makan siang. Kamu bisa atur sendiri tempatnya" Noey bicara dengan sikap yang tetap tenang.


"Oke, aku akan kirimkan alamatnya padamu nanti"


"Hmn ..." Kenzie dan Noey pun mengakhiri panggilan telepon mereka


Siang harinya saat jam makan siang. Kenzie sudah tiba lebih dulu direstoran yang dijanjikannya bersama Noey. Dia duduk disalah satu sudut restoran dengan pandangannya menatap ke luar jendela. Tak berselang lama datanglah seorang pemuda bertubuh tinggi dengan mengenakan celana jeans panjang yang robek dikedua bagian lututnya, dia juga mengenakan t-shirt hitam dibagian dalam dan dilapisi dengan kemeja kotak-kotak yang hanya dikancingkan setengahnya dibagian luar. Wajahnya tampan, kulitnya putih bersih dengan rambut hitam pekat yang tebal dengan dibelah pinggir. Dia juga menggunakan kacamata bening yang membuat wajahnya yang dingin menjadi semakin kaku


"Selamat siang. Maaf saya terlambat"


Kenzie terdiam ketika melihat seorang pemuda tiba-tiba duduk dihadapannya, dia sama sekali tidak mengenal pemuda itu. Namun berbeda dengan Kenzie, meskipun ini pertama kalianya mereka bertemu, tapi karena wajah Kenzie yang mirip dengan Kenzo, Noey jadi bisa mengenalinya dengan mudah.


"Kamu Noey?" Setelah Noey duduk, barulah Kenzie menyapa dengan menanyakan namanya


"Ya, aku Noey. Senang bisa berkenalan denganmu" Noey mengulurkan sebelah tangan untuk berjabat dengan Kenzie.


"Terimakasih sudah bersedia datang menemuiku. Mau makan siang dulu?" Kenzie meminta Noey untuk makan siang terlebih dulu sebelum mereka mulai membahas kerjasama mereka. Dia pun mengambil buku menu dan hendak memesan makanan.


Noey hanya diam dan tidak memesan makanan apapun.


"Kenapa tidak pesan? Pilih saja makanan apapun yang akan ingin kamu makan" Kenzie bicara dengan lembut disertai senyum tipis yang tidak pernah hilang dari wajahnya

__ADS_1


"Apa kamu benar-benar ingin aku jadi asistenmu?" Noey mengabaikan pertanyaan kenzie dan mengajukan pertanyaan lain padanya


Kenzie pun memesan dua porsi makanan dan minuman yang sama untuknya dan juga Noey


"Zo memintaku menemuimu, katanya kamu sedang mencari asisten pribadi yang pandai dala ilmu komputer. Aku bisa melakukan itu, hanya saja pendidikanku tidak tinggi. Jadi kalau kamu memjadikanku sebagai asisten, itu akan merepotkanmu saja" Noey bicara dengan sikap tenang dan dingin. Jari seebelah tangannya dia ketukan diatas meja berkali-kali


"Kamu tidak perlu khawatir masalah itu karena tidak akan ada yang berani menanyakan perihal data pribadimu. Mereka hanya akan tahu kalau kamu dibawa langsung olehku" Kenzie menjelaskan dengan santai mengenai kondisi Noey nantinya


"Apa kamu yakin kalau aku bisa membantumu?" Noey tetap bersikap dingin pada Kenzie


"Tentu saja. Karena Kenzo yang merekomendasikanmu, maka aku sangat yakin kalau kamu bisa diandalkan dan sangat bisa dipercaya. Penilaian saudaraku tidak pernah salah"


Kenzie bicara dengan sangat senyum penuh keyakinan.


"Ya sudah, kalau begitu mulai sekarang aku jadi asisten pribadimu. Kapan aku mulai bekerja?" Noey bicara dengan sikap acuh tak acuh


"Ehm … apa kamu percaya padaku? Kamu berteman dengan Kenzo, tentu kamu tahu kalau sebagai asistenku, kamu harus bersedia melakukan apapun" Kenzie memicingkan mata menunggu reaksi dari Noey


"Ya, aku tahu betul bagaimana Kenzo menyelesaikan setiap masalah yang dia hadapi, tapi aku tidak tahu bagaimana cara kerjamu" Noey menanggapi dengan sikap yang tenang.


"Cara kerjaku tidak beda jauh darinya. Ya … meskipun aku tak sepintar dia" Kenzie bicara dengan acuh tak acuh sambil mengangkat kedua bahu


"Apa itu?" Noey bertanya dengan sikap yang tenang dan menatap Kenzie dengan tatapan curiga


"Aku ingin kamu mencari tahu mengenai beberapa orang. Aku mencurigai mereka yang membuat gosip buruk tentangku beberapa hari kemarin" Kenzie meminta bantuan Noey dengan senyum lembut dibibirnya.


"Siapa saja mereka? Apa mereka bekerja diperusahaanmu?"


"Ya mereka adalah tikus dalam perusahaan, Nanti akan aku kirimkan nama-namanya. Kuharap kamu bisa menemukan informasi yang sangat penting mengenai mereka"


"Bukan masalah. Ini adalah salah satu keahlianku. Tikus kecil seperti itu bukan tandinganku, mereka hanya cocok jadi makananku" Noey menjawab dengan nada yang bangga.


"Baiklah, aku serahkan padamu"


***


Risha baru saja pulang ke kediaman utama. Dia hanya diantar oleh supir Rendra, karena Rendra harus bekerja

__ADS_1


"Apa kamu sudah sampai?"


"Ya, aku baru saja sampai. Supir kak Rendra langsung pulang begitu saja. Padahal aku memintanya untuk istirahat dulu"


Risha dan Rendra sedang bicara ditelepon saat ini.


"Mungkin karena nanti dia harus menjemputku ke kantor, makanya dia langsung pulang. Tidak papa, aku selalu mengingatkan dia untuk istirahat jika merasa lelah"


Rendra bicara dengan Risha sambil membaca dokumen di hadapannya. Dia sedang memeriksa laporan bulanan perusahaan.


"Baguslah kalau begitu. Apa kamu tidak sibuk? Kembali bekerja saja sana"


Risha menelepon Rendra sambil tiduran di tempat tidur yang cukup lama dia tinggalkan


"Kamu mengusirku? Aku tidak sibuk sama sekali jika itu tentangmu"


Ucapan Rendra yang terdengar menggoda, membuat Risha tersipu malu karenanya


"Aku tidak ingin disalahkan jika harga sahammu jadi terpengaruh karena aku. Jadi sebaiknya kamu kembali bekerja saja" Suara Risha terdengar sinis karena rasa malunya


"Apa hubungannya saham ku dengan kamu?" Rendra memicingkan mata menunggu penjelasan dari Risha


"Iyalah, kamu menghubungiku disaat jam kantor. Bagaimana jika tanpa kamu sadari, harga sahammu sedang turun sekarang dan kamu tidak bisa mengontrolnya?" Risha bertanya dengan nada manja


"Ehm... kalau begitu akan ku tarik kamu menjadi karyawanku lagi agar bisa membantuku dalam menaikan harga saham perusahaan" Rendra menjawab dengan sikapnya yang tenang


"Kenapa harus aku? Apa hubungannya saham perusahaanmu denganku?" Risha memicingkan mata saat dia bertanya pada Rendra


"Tentu saja ini ada hubungannya denganmu. Saat kamu jauh aku tidak bisa fokus bekerja. Jadi jika kamu kembali kemari, maka semangatku akan kembali bertambah karena aku ditamani bidadari cantik. Tidak mungkin aku membiarkan bidadariku kecewa dengan hasil kerjaku"


Rendra bicara dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajah tampannya.


"Rendra Adelio Dirga, kenapa semakin lama kemampuan menggodamu semakin tinggi ya? Aku yakin ini adalah bakat alami dari seorang pria dalam menggoda wanita"


Risha kembali bertanya dengan nada curiga mendengar ucapan Rendra


"Kamu salah, ini bukanlah bakat alami untuk menggoda wanita. Melainkan ini caraku untuk meluluhkan hati bidadari sepertimuu"

__ADS_1


Risha tidak menanggapi ucapan Rendra, dia hanya diam dengan wajah yang tersipu malu


__ADS_2