Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Awal Kedekatan Hasna Dan Johan


__ADS_3

Hasna pulang kerumahnya dengan wajah yang ceria. Senyum lebar terus mengembang dari bibirnya yang mungil


"Na na na na" Dia bersenandung dengan riangnya sambil berjalan memasuki rumah


"Hasna, kamu darimana?" Hasna menghentikan langkahnya ketika sang ibu bertanya padanya


"Mah, aku dari rumah temanku. Ada tugas kelompok yang harus kami kerjakan" Dia masih menjawab dengan senyum ceria diwajahnya


"Sepertinya kamu sedang senang? Tidak ingin menceritakannya pada mama?" Sani berusaha mencari tahu hal yang membuat putrinya bahagia


"Tidak ada apa-apa mah. Lagipula, ini urusan pribadiku, jadi mama tidak perlu tahu mengenai ini" Memang senyuman tersungging saat Hasna menjawab sang ibu, tapi senyum itu tidak terlihat cantik. Sebaliknya, senyum itu terlihat dingin


"Hasna, mama hanya bertanya. Apa kamu harus bersikap seperti itu? Mama ini orang tuamu, Jadi wajar bagi mama untuk  bertanya padamu!" Sani terlihat kesal dengan sikap yang ditunjukkan putrinya


"Sejak kapan mama perhatian padaku? Bukannya selama ini mama dan papa selalu sibuk dengan urusan kalian? Kalian tidak pernah memiliki waktu untuk memperhatikan aku maupun Rama. Kenapa sekarang mama ingin bersikap seperti seorang ibu yang baik untukku?"


"Hasna! Jangan bersikap kurang ajar! Minta maaf pada ibumu sekarang!"  Adnan yang mendengar ucapan Hasna langsung marah dan memintanya untuk meminta maaf pada sang ibu


"Pah, sudahlah. Mungkin Hasna lelah, karena itu dia bersikap kurang ajar seperti itu" Dengan senyum lembutnya Sani membela Hasna di depan ayahnya


"Ma! Itulah sebabnya Hasna dan Rama menjadi anak kurang ajar. Kamu selalu saja membela mereka padahal mereka jelas-jelas salah!" Adnan yang kesal pun kini melampiaskan kekesalannya pada sang istri


Hasna mengabaikan perdebatan orang tuanya dan melangkahkan kaki kembali menuju kamarnya


Drrrt drrt drrrt


Hasna tidak mendengar kalau ponselnya berdering karena dia langsung pergi mandi. Dan begitu dia kembali dengan masih mengenakan jubah mandinya, dia sangat terkejut ketika melihat panggilan tak terjawab di ponselnya yang sangat banyak


"Apa ini? Banyak sekali panggilan tak terjawab yang masuk. Nomor tak dikenal? Ini nomor siapa ya?" Hasna masih berpikir dengan berusaha mengingat nomor itu, namun tetap saja dia tidak mengingatnya. Dan kemudian ponselnya kembali bergetar dan mendapat panggilan masuk. Nomor itu adalah nomor yang sama dengan panggilan tak terjawab sebelumnya


"Halo" Dengan suara yang ragu-ragu Hasna menerima panggilan telepon itu

__ADS_1


"Halo, apa benar ini nomor Hasna?" Terdengar suara seorang pria dari ujung telepon. Suaranya sedikit serak namun terdengar seksi


"Benar. Ini siapa ya?" Hasna terdengar bingung, dia menerima telepon dengan sebelah tangan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk


"Ini Johan" Senyum Hasna langsung mengembang ketika mendengar nama itu


"Apa kamu tiba dengan selamat?" Sambung Johan dengan nada yang lembut


"Ya, ini berkat kamu. Kalau saja kamu tidak menolongku, entah apa yang akan terjadi padaku" Hasna menjawab dengan nada yang tersip malu


"Itu hanya kebetulan saja. Atau mungkin … kita memang ditakdirkan untuk bertemu?" Hasna semakin tersipu mendengar ucapan Johan


"Sepertinya ini sudah malam. Aku harus mematikannya karena besok aku harus kekampus"


"Jam berapa kamu ke kampus? Apa aku boleh mengantarmu?" Johan terus berusaha mendekati Hasna agar dia bisa merebut hatinya.


Sesaat Hasna terdiam mendengar tawaran Johan, sebelum akhirnya dia menyetujui tawarannya


"Yes, terimakasih. Aku tidak sabar lagi untuk menunggu hari berganti pagi. Selamat malam, semoga mimpi indah. Dan jangan lupa mimpikan aku"


"Selamat malam" Hasna tidak bereaksi dan langsung menutupnya. Dia terlalu malu untuk menjawab candaan Johan


"Aaah … rasanya jantungku mau copot. Johan sangat pandai berkata manis. Seakan aku dibuat melayang olehnya. Dia tampan dan juga baik. Aku tidak sabar untuk bertemu lagi dengannya. Aku harap hubungan kami bisa semakin dekat dan aku bisa semakin mengenalnya"


Hasna melemparkan tubuhnya sendiri keatas kasur dan membenamkan wajahnya di bantal dengan kedua kaki yang terus digerakkan dengan cepat. Dia bergumam sambil membayangkan wajah tampan Johan. Baru kemudian dia mengirimkan alamat rumahnya melalui pesan teks pada Johan


***


Keesokan harinya Cheva datang kerumah sakit untuk mengunjungi Pras. Dia menunggu cukup lama sampai Astria dan suaminya pergi


"Aku senang kamu sudah semakin membaik" Cheva langsung masuk ke kamar rawat Pras dan melihatnya sedang termenung sendiri

__ADS_1


"Siapa kamu? Kenapa tidak mengetuk pintu duli?" Pras bertanya dengan sikap yang dingin dan sinis


"Kamu tidak ingat aku? Kurasa malam itu menyenangkan tapi juga menyedihkan karena kamu jadi terbaring disini. Mungkin jika saat itu aku tidak menghindarimu, maka sudah pasti aku yang terbaring disini, iya kan?" Cheva berjalan mendekati Pras dengan tangan dilipat di dada. Langkahnya terlihat anggun dengan senyum diwajahnya


"Kamu ... jadi kamu yang menyebabkan aku mengalami kecelakaan?! Dasar kurang ajar!" Pras terlihat sangat kesal dengan tangan mengepal keras


"Eit eit eit, itu bukan karena aku. Kamu sendiri yang lebih dulu ingin mencelakaiku. Iya kan? Jadi kurasa ini balasan yang setimpal untukmu" Senyum mencibir terlihat diwajah Cheva


"Kapan aku berusaha mencelakaimu? Itu tidak benar. Kamu yang memang sengaja ingin mencelakaiku kan?" Pras mulai terpancing emosi namun Cheva masih belum berniat menjatuhkan mentalnya


"Jangan emosi, aku hanya ingin menjengukmu. Jika kamu emosi itu tidak akan baik untuk mentalmu" Ujar Cheva menasehati dengan senyum ceria


"Ah sudahlah, aku tidak ingin mengganggu istirahatmu. Jadi aku pergi dulu. Lain kali aku akan kembali menjengukmu dan aku juga punya rahasia besar mengenai orang tuamu yang ingin aku beritahukan padamu" Sambung Cheva sebelum dia beranjak pergi


"Rahasia? Rahasia apa?" Pras memicingkan mata penasaran dengan apa yang disembunyikan Cheva


"Jika aku mengatakannya sekarang, maka itu bukan rahasia. Jadi tunggu saja sampai aku menjengukmu lagi. Sampai jumpa" Cheva melambaikan tangan dan berjalan keluar dari kamar Pras


"Hei, jangan pergi dulu! Katakan padaku rahasia apa itu!" Pras berteriak memanggil Cheva yang telah keluar dari kamarnya


"Sebenarnya apa yang dia rahasiakan?" Gumam Pras memikirkan perkataan Cheva


"Kamu! Untuk apa kamu datang kemari?!" Cheva dan Astria tidak sengaja bertemu saat hendak meninggalkan rumah sakit


"Oh, aku hanya mengunjungi seseorang saja" Jawab Cheva santai


"Seseorang? Apa anakku?" Astria terlihat panik saat mendengar perkataan Cheva


"Hemn... kenapa wajahmu pucat begitu? Tenang saja, aku tidak melakukan apapun pada anakmu. Setidaknya sampai saat ini anakmu masih ada gunanya. Aku masih ingin melihat harapanmu yang tinggi pada anak cacat itu. Kita lihat sampai kapan dia bisa bertahan hidup tanpa punya kaki" Cheva berusaha memancing emosi Astria menggunakan anaknya. Dan sepertinya itu berhasil


"Jangan ganggu anakku! Anakku tidak bersalah!" bantah Astria melindungi putranya

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Lea? Apa dia bersalah? Kamu pikir harta keluargamu itu berapa banyak sampai Lea ingin merebutnya? Bahkan harta keluargamu masih jauh jika dibandingkan harta milik tante Vio. Apalagi jika dibandingkan dengan harta keluarga Kusuma. Dibandingkan dengan harta milikku atau suamiku saja tidak ada apa-apanya. Mana mungkin kami tertarik dengan uang receh dari perusahaanmu itu!"


__ADS_2