
Semua tampak terkejut mendengar apa yang dikatakan Safira. Dari wajah mereka terlihat kalau mereka juga merasa khawatir akan kesehatannya.
"10%? Apa kalian sudah mencoba mencari dokter lain? Mungkin ada kesalahan dan ada kemungkinan besar untuk sembuh" Kenzie bertanya dengan nada panik
"Benar, pasti ada kemungkinan besar untuk sembuh di rumah sakit lain. Zo, kamu sudah mencoba mencari rumah sakit spesialis kanker terbaik?" Kini Rendra yang ikut bicara dan mencoba mencari jalan keluar untuk kesembuhan Safira.
"Aku sudah mendapatkan rumah sakit terbaik dengan dokter spesialis terbaik di dunia. Aku juga sudah mengaturkan jadwal untuk Safira melakukan pemeriksaan pertama. Hanya saja rumah sakit itu diluar negeri"
Kenzo menjawab dengan sikap yang tenang dan tatapan yang lembut pada Safira kemudian raut wajahnya berubah saat memikirkan Safira pergi keluar negri.
"Lalu apa yang jadi masalahnya? Bukankah itu bagus jika kamu sudah mendapatkan rumah sakitnya?" Risha pun terlihat bingung dengan apa yang menjadi masalah Kenzo
"Aku ingin menemaninya pergi, tapi nenek dan papi sudah mendesakku masuk keperusahaan dan membangun kekuatanku" Kenzo menjawab dengan wajah yang sedikit sedih dan kecewa.
"Bukannya itu bukan masalah lagi? Sekarang semua sudah mengenalmu. Mereka tahu bagaimana kemampuanmu sebagai seorang programer. Hanya saja mereka tidak tahu kemampuanmu sebagai hacker"
Kenzie menjawab dengan sikap yang tenang kemudian dia menunjukkan wajah sedikit kecewa pada apa yang di dapat Kenzo.
"Memang semua orang sudah tahu tentang kemampuanku sebagai seorang programer handal, tapi itu tidak cukup karena mereka tidak mengenalku sebagai pebisnis. Aku ingin dikenal sebagai pebisnis seperti kakek buyut dan nenek. Meskipun hanya meneruskan perusahaan papi, aku harus bisa mengembangkannya menjadi setara dengan perusahaan Kusuma yang lainnya tanpa menggunakan nama belakangku"
Kenzo terlihat sangat bersemangat dan berambisi dengan apa yang ingin dia capai
"Kalau begitu apa yang akan kamu lakukan sekarang? menunda tujuanmu dan menemani Safira atau membangun kekuasaanmu sambil menungu Safira kembali?"
Kenzo terdiam dan tidak langsung menjawab apa yang ditanyakan Rendra padanya. Dia terlihat ragu dan bingung mengenai keputusan yang harus dia ambil.
Safira menatap Kenzo yang sedang bimbang dengan raut wajah sedih. Lalu dia meraih tangan Kenzo dan menggenggamnya dengan erat untu meyakinkannya
__ADS_1
"Dia akan tetap di negara F dan membangun kekuasaannya. aku akan pergi dengan asistenku" Safira dan Kenzo saling menatap satu sama lain. Tatapan mereka sangat lembut, hanya dengan itu terlihat kalau mereka saling mencintai.
"Jika memang begitu maka saat Safira kembali ... kamu pasti sudah bisa membangun kekuatanmu sendiri kan?" Risha kini yang bicara dengan sikap yang tenang dan penuh keyakinan
"Ya, aku pasti bisa melakukan itu"
Kenzo menanggapi Risha dengan tekad bulat dimatanya. Ada senyum tipis dibibirnya dan sorot mata yang tajam dengan keyakinan yang kuat didalamnya.
"Makanannya datang. Apa sekarang kita sudah bisa mulai makan malam kita?" Kenzie kembali merusak suasana dengan tingkahnya yang konyol saat para waitress menghidangkan makanan yang mereka pesan
"Kamu selalu saja mengacaukan suasana" Gerutu Risha pada Kenzie namun setelah itu mereka tersenyum lebar dan menikmati makan malam mereka.
***
"Kenapa kamu terlihat sangat senang? Apa karena Kenzo dan Risha sudah menemukan apa tujuan yang ingin mereka capai?"
Meisya terlihat penasaran pada Kenzie karena dia terus saja tersenyum setelah pulang dari makan malam mereka.
"Apa? Bersaing? Apa tidak apa bersaing? Kalian bertiga itu saudara, bahkan sangat dekat. Jika kalian bersaing … bagaimana kalau nantinya hubungan kalian …"
Meisya terkejut mendengar apa yang Kenzie katakan. Dia khawatir akan hubungan mereka bertiga.
Kenzie bisa membaca kekhawatiran itu dari cara Meisya memandangnya. Dia kemudian mengusap kepala Meisya dengan lembut
"Tidak perlu khawatir. Persaingan kami bukan untuk memperebutkan harta warisan atau perusahaan. Kami hanya bersaing untuk siapa yang lebih cepat mencapai tujuan kami dan siapa yang paling disegani nantinya. Aku juga yakin kalau Risha tidak akan melewatkan ini sebagai bahan taruhan" Kenzie menjelaskan dengan senyum yang lembut
"Kamu yakin kalau kalian tidak akan bertengkar karena masalah ini?" Meisya masih khawatir dengan apa yang akan terjadi nantinya
__ADS_1
"Tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak akan pernah terjadi. Kami dibesarkan bersama. Tentu saja kami sangat mengenal karakter kami masing-masing. Kami memang suka bersaing, tapi itu hanya persaingan sehat dan masuk akal. Tidak mungkin kami memperebutkan harta yang sudah jelas milik kami. Kamu tahu sendiri kam bagaimana bisnis keluarga kami? Orang tua kami adalah pebisnis. Meskipun tidak dengan warisan kakek buyut, kami memiliki bisnis orang tua kami sendiri. Lagipula semua sudah diatur dengan banyak pertimbangan
"Aku dan Kenzo harus mengurus Kusuma Grup, Perusahaan Anggara dan JB Company, karena kakek Ed tidak ingin mengembangkan perusahaannya jadi perusahaan Krisnajaya akan dikelola orang lain dibawah pengawasan kami. Risha dan Dhefin akan mengurus Sanjaya Grup, Taeson Elektronik dan perusahaan mami yang dinegara F mungkin akan sama dengan perusahaan Krisnajaya"
Kenzie menjelaskan dengan rinci mengenai bagaimana pengaturan keluarga Kusuma. Itu membuatnya terkejut dan juga kagum dengan apa yang diajarkan keluarga bisnis pada penerusnya.
"Kenapa kamu terus menatapku seperti itu? Apa kamu terpesona padaku?" Kenzie menghentikan mobilnya dan manatap Meisya dengan tatapan mata yang menggoda.
"Tidak ada apa-apa. Cepat jalankan lagi mobilnya!" Meisya terkejut dengan pertanyaan Kenzie dan memalingkan wajah karena salah tingkah
"Tentu tuan putri, sesuai keinginanmu" Kenzie bicara dengan nada menggoda Meisya
***
"Kapan kamu akan pulang ke keluargamu?" Rendra bertanya pada Risha ketika mengantarnya pulang ke apartemen. Karena kondisinya saat ini, Rendra juga menggunakan seorang supir yang akan selalu mengantarkan kemanapun dia pergi. Billy hanya bertugas sebagai perawat saja dan membantu Rendra.
"Ehm... aku akan selesaikan dulu pekerjaku disini dan mengajukan surat pengunduran diri terlebih dahulu" Risha menjawab dengan sikap tenang dan penuh pertimbangan. Dia memperhatikan Rendra yang sedang termenung saat ini
"Kenapa wajahmu jadi muram begitu? Apa kamu berubah pikiran dan akan melarangku untuk pulang?" Risha memicingkan mata menunggu jawaban Rendra, dia ingin tahu apa yang akan dikatakan sang kekasih
"Tentu saja tidak. Aku sudah bilang kalau aku akan mendukungmu. Itu tidak akan bisa ditarik lagi. Hanya saja aku memikirkan bagaimana nantinya aku melewati hari tanpamu. Kita sudah biasa bersama dan makan siang bersama. Pasti akan berbeda setelah kamu pulang. Waktu bertemu kita juga akan terbatas karena jadwal kita yang padat"
Rendra menjawab dengan kepala tertunduk sedih.
"Bukannya kita sudah sepakat untuk itu? Kamu sudah dikenal sebagai tuan muda dari keluarga Dirga. Aku akan membuat diriku pantas bersanding denganmu. Bukan sebagai karyawanmu, atau keturunan Kusuma. Tapi sebagai Arisha Nedzara, pebisnis muda wanita. Dan kita akan kembali bersama nanti. Saat aku berusaha berdiri diatas namaku, bukannya kamu bilang kamu juga akan berusaha untuk bisa kembali berjalan?"
Risha berusaha keras meyakinkan Rendra dengan hubungan jarak jauh mereka. Dan mereka akan saling berusaha satu sama lain.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Mulai sekarang kamu harus fokus mengerjakan sisa pekerjaanmu. Jangan ambil pekerjaan baru lagi dikantor, alihkan pekerjaan yang tidak terburu-buru pada karyawan lain" Rendra yang lembut seketika berubah jadi mode atasan yang tegas
"Baiklah, aku mengerti"