
"Ada apa ini? Kenapa hari ini penjualan kita menurun drastis? Bisa-bisanya brand kita kalah dari kosmetik yang baru saja louncing?" Ayah Lusi terlihat bingung dengan penjualan brandnya yang kalah dari merek kosmetik lain
"Anu pak. Para model yang bekerja sama dengan kita membatalkan kontrak dan promosi kita jadi kurang. Kita mempromosikan lewat akun Lusi, tapi followers dia juga berkurang drastis. Kami tidak tahu masalahnya pak" Karyawan ayah Lusi menjelaskan situasi yang terjadi pada perusahaan mereka
"Kita harus segera cari tahu masalahnya dan memepraikinya"
"Baik pak"
***
Sementara itu dikampus, Lusi jadi perbincangan banyak orang begitu mereka melihat kedatangannya. Semua orang menatap heran padanya setelah melihat video siaran langsung yang diunggah Risha
"Tidak disangka ya sifat aslinya seperti itu? Ku kira selama ini dia baik dan ramah. Ternyata sangat sombong dan suka bertindak seenaknya"
"Aku juga tidak menyangka kalau Lusi yang selalu terlihat memposting hal-hal baik ternyata seperti itu"
Lusi terlihat kesal mendengar setiap bisikan dari rekan satu kampusnya
"Ini semua gara-gara Risha! Aku harus mencari dia" Lusi dengan cepat berjalan ke fakultas bisnis untuk menemui Risha
"Aku ingin bicara denganmu! Berdua saja!" Ujar Lusi dengan nada sinis setelah dia berdiri dihadapan Risha
Risha menatap Lusi dengan sikap yang dingin kemudian beranjak pergi mengikutinya dari belakang. Kenzie hanya diam dan memperhatikan Risha
"Kali ini dia bisa melakukannya sendiri kan?" Gumam Kenzie yang merasa sedikit khawatir
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Tanya Risha dengan nada yang sinis dan dingin
"Lihat ulahmu! Gara-gara kamu followersku menurun. Puas kamu?!" Lusi terlihat semakin kesal pada Risha
"Oh iya aku lupa. Kemarin aku juga bilang kalau kamu bisa saja berada dijalanan dan didrop dari kampus, sudah dapat infonya?" Tanya Risha dengan sikap yang tenang dan senyum yang tipis
"A-apa maksudmu?" Lusi tergagap mendengar ucapan Risha
"Kamu belum dengar kabar dari perusahaan ayahmu? Sepertinya perusahaanmu mulai kollaps" Risha mengangkat kedua alisnya bersamaan disertai senyum mencibir dibibirnya
Lusi pun semakin terkejut mendengar perkataan Risha
__ADS_1
"Jangan bercanda denganku!" Teriak Lusi semakin kesal
"Tanya saja pada ayahmu! Apa perusahaan kalian baik-baik saja?" Risha terus menekan Lusi namun dengan sikap yang tenang
Lusi pun langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sang ayah
Tuut tuut tuut
Cukup lama sampai Lusi mendengar suara sang ayah
"Halo, Lusi"
"Papa! Apa perusahaan kita baik-baik saja? Followersku menurun, aku takut itu juga berdampak pada penjualan kosmetik kita" Lusi langsung menanyakan mengenai perusahaan dan penjualan kosmetik mereka
"Perusahaan kita sedang kacau. Penjualan kita menurun drastis. Jika terus begini bisa saja kita harus menghentikan produksi kita" Lusi terdiam mendengar penjelasan sang ayah
Dari raut wajahnya, Risha bisa menebak kalau perusahaan Lusi mulai berdampak dengan penjualannya. Dia tersenyum melihat wajah Lusi yang murung
"Lalu pah, para model yang bekerja sama dengan kita kan model ternama, tentu mereka bisa mempromosikan kosmetik kita kan?" Lusi kini semakin panik mendengar penjelasan sang ayah
"Begitu ya pah. Ya sudah pah, aku harus kembali ke kelasku. Sampai jumpa papa"
"Sampai jumpa sayang" Lusi dan ayahnya pun mengakhiri panggilan teleponnya
"Bagaimana bisa kamu... ?" Lusi menatap heran pada Risha yang tersenyum manis padanya namun terlihat dingin pada sorot matanya
"Aku sudah bilang kalau aku bisa membuatmu hidup dijalanan hanya dengan satu permintaan saja pada papaku. Kamu pikir hanya karena kamu anak seorang pebisnis kosmetik kamu sudah hebat? Kamu salah berurusan denganku, Lusi" Risha bersikap tenang dengan kedua tangan dilipat didada
"Oh masih ada lagi. Kita tunggu saja panggilan dari kampus mengenai kuliahmu"
Lusi semakin lemas hingga dia terduduk ditanah dengan air mata yang mulai menetes. Dia mendongak menatap Risha
"Risha, sebenarnya … siapa kamu?" Tanya Lusi dengan derai air mata
"Aku? Kamu ingin tahu siapa aku?" Risha berjongkok dan mendekatkan mulutnya ke telinga dan berbisik padanya
"Aku, Arisha Nedzara Kusuma. Dan kamu ingin tahu siapa Kenzie? Dia Kenzie Lutherin Anggara, putra dari Erliansyah Anggara yang pelukis dan pebisnis terkenal itu"
__ADS_1
Risha kembali berdiri dan tersenyum puas memandang Lusi yang kini semakin tertunduk dengan derai air mata. Risha pun beranjak pergi meninggalkan Lusi yang termenung penuh penyesalan
"Arisha Nedzara Kusuma, Kenzie Lutherin Anggara? Jadi mereka adalah bagian dari keluarga Kusuma? Mereka yang membuat perusahaan papa diambang kebangkrutan? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku minta maaf pada Risha?" Lusi pun berdiri dan dengan cepat berlari mengejar Risha yang belum pergi terlalu jauh
"Risha, Risha. Kumohon Risha, Maafkan aku. Jangan libatkan keluargaku. Mereka tidak bersalah" Lusi memegang tangan Risha dan memohon dengan derai air mata yang terus mengalir dipipinya
"Bukankah kamu yang ingin melibatkan keluarga dalam masalah kita? Aku hanya mengikuti keinginanmu saja. Dan perlu kamu ingat, kami tidak pernah memberikan kesempatan kedua pada siapapun" Risha menjawab dengan sikap yang tenang, kemudian dia menatap tajam pada Lusi. Lalu beranjak pergi meninggalkan
Tak jauh darisana Kenzie menunggu Risha kareja khawatir
"Apa sudah selesai?" Tanya Kenzie pada Risha sambil menatap Lusi yang terduduk menyedihkan
"Tentu, sepertinya dia tidak akan berani lagi mengganggu kita" Risha menjawab Kenzie dengan senyum dan sedikit menoleh pada Lusi
"Ayo pulang. Aku ingin segera menceritakan ini pada Kenzo" Risha kembali tersenyum ceria dan melangkahkan kaki bersama Kenzie
***
Ditempat lain, Kenzo menemani Safira menemui sponsor yang memboikot dramanya
"Kamu yakin tidak ingin aku temani kedalam?" Tanya Kenzo pada Safira
"Tidak perlu. Aku yakin bisa menyelesaikan ini sendiri. Lagipula aku memang tidak bersalah, dan ini memang salah pak Gustian" Safira menjawab dengan tenang dan terlihat yakin dengan apa yang dia katakan
"Kalau begitu aku akan menunggu disini. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku" Safira menganggukkan kepala menanggapi ucapan Kenzo
"Kalau begitu aku masuk dulu. Kalau bisa sebaiknya kamu bersembunyi" bisik Safira pada Kenzo
"Kenapa aku harus sembunyi?" Kenzo menatap heran Safira
"Kehadiranmu terlalu mencuri perhatian para gadis" Jawab Safira sambil menoleh kesekeliling mereka. Disana memang banyak para gadis yang berbisik sambil menatap Kenzo. Mereka tidak mengenal Safira karena dia mengenakan masker dan kaca mata
Kenzo tersenyum tipis pada Safira sambil berbisik membalas ucapan Safira
"Tidak perlu khawatir mereka tidak bisa mencuri perhatianku, karena semua perhatianku sudah tertuju padamu"
"Cih, ternyata kamu pandai menggombal juga. Sudahlah, aku masuk dulu" Safira tersenyum mencibir Kenzo kemudian beranjak pergi meninggalkannya dan masuk kedalam gedung perusahaan milik istri Gustian
__ADS_1