
"Sepertinya kamu sudah sampai? Bagaimana kondisi ayahmu?" Saat ini Kenzo sedang menghubungi Rendra
"Sepertinya dia tidak akan bertahan lama. Aku baru saja kembali dari sana. Dia hanya terbaring ditempat tidurnya dengan selang ditubuhnya dan tidak bisa melakukan apapun lagi" Rendra menjelaskan kondisi ayahnya pada Kenzo dengan wajah datar
"Kamu kejam sekali. Bahkan menceritakan kondisi ayahmu tanpa ada rasa sedih sedikitpun" Kenzo bicara dengan nada mencibir pada Rendra
"Aku saja bingung. Kenapa aku tidak merasa sedih sama sekali ya? Sebenarnya bagaimana seorang anak bersikap saat orang tua mereka terbaring tak berdaya di tempat tidur?" Rendra bertanya dengan sikap yang dingin pada Kenzo
"Kamu bertanya padaku? Tentu saja jawaban kita akan berbeda. Jika itu aku, sudah pasti aku akan sangat sedih. Meskipun mami sangat cerewet dan menyebalkan, tapi dia sangat perhatian padaku sedangkan papi ... meskipun dia dingin dan tak banyak bicara, tapi papi selalu mengerti apa yang aku mau. Jadi aku akan sangat sedih jika terjadi sesuatu pada mereka dan aku bisa melakukan apapun untuk mereka" Jawab Kenzo dengan sikap yang tenang
"Aku iri padamu. Kamu dikelilingi oleh orang-orang yang saling menyayangi" Rendra tersenyum sinis mencibir dirinya sendiri
"Bastian sepertinya sangat menyayangimu, kenapa kamu tidak memaafkan dia? Toh selama ini dia sama sekali tidak punya salah apapun padamu. Ayahmu, dia juga tidak pernah mengabaikanmu. Hanya kamu sendiri yang menutup hatimu untuk mereka" Kenzo menasehati Rendra dengan sikap yang tenang
"Aku belum bisa melakukan itu. Kamu tahu apa yang aku ingat begitu menginjakkan kaki dirumah itu? Kenangan masa kecilku selama tinggal dirumah besar itu. Saat dimana aku akan dihukum jika bermain atau dekat dengan kakakku. Sikap ayah yang selalu tersenyum ketika melihatku dan juga ibu. Dia tidak tahu bagaimana susahnya aku juga ibu saat tinggal disana ketika dia tidak ada. Diapun tidak pernah mencari tahu bagaimana hubungan kami. Aku tidak bisa menyalahkan ayah dan juga kak Bastian, tapi hatiku juga tidak bisa menerima mereka begitu saja. Ada rasa sakit dan kecewa yang tidak bisa aku buang begitu saja" Rendra kembali menceritakan isi hatinya pada Kenzo. Karena hanya Kenzo teman dekatnya dan dia yang tahu mengenai masa lalu Rendra
"Aku mengerti. Tidak perlu diceritakan lagi. Apa rencanamu sekarang? Apa kamu akan masuk salah satu perusahaanmu atau mencari pekerjaan lain?" Kenzo mengalihkan pembicaraan mereka
"Sepertinya aku akan mengambil alih salah satu perusahaan. Entah yang mana, biarkan kak Bastian yang memutuskannya. Aku akan menerima apapun yang dia putuskan" Jawab Rendra yang kini tengah duduk dan secangkir kopi ditangannya
"Ya, kuharap kamu bisa segera berdamai dengan masa lalumu" Kenzo terdengar perhatian namun nada bicaranya sama sekali tidak berubah
"Apa si pangeran es ini merasa kasihan padaku?" Terdengar Rendra bertanya dengan senyum mencibir
"Kurasa ... iya. Apa seharusnya aku tidak menyelamatkanmu saat itu? Dengan begitu kamu tidak akan menderita sendirian" Kenzo mengatakannya dengan sangat tenang, seakan itu bukan hal yang besar
"Ha ha ha. Jadi maksudmu, lebih baik aku mati, begitu? Apa kamu tidak merasa caramu menghibur orang itu sungguh menyeramkan?" Rendra tertawa canggung kemudian bertanya dengan sikap yang sinis
"Aku hanya tidak ingin meihatmu menderita begini" Jawab Kenzo dengan santai
__ADS_1
"Terimakasih atas perhatiannya. Tapi itu sama sekali tidak aku perlukan. Sudahlah. Sangat menyebalkan bicara denganmu. Sampai jumpa" Rendra yang kesal langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Kenzo
"Aku hanya tidak suka melihat temanku satu-satunya menderita" Ujar Kenzo setelah dia selesai bicara dengan Rendra
Keesokan harinya
Tok tok tok
"Tuan muda! Tuan muda" Pintu kamar Rendra diketuk dengan sangat keras pagi-pagi sekali
"Siapa yang berisik pagi-pagi begini? Rasanya mataku belum lama terpejam" Gumam Rendra yang memaksa tubuhnya untuk bangun meskipun matanya masih sedikit terpejam
Ceklek
"Ada apa?" Tanya Rendra pada pembantu yang berdiri di depan pintu kamarnya
"Itu tuan muda. tuan besar … sudah meninggal" Rendra terdiam mendengar apa yang dikatakan pembantunya
"Tuan besar James, meninggal dunia" Pembantu itu kembali mengulang perkataannya sesuai dengan yang Rendra minta
"Aku akan segera kesana" Rendra berbalik dan kembali masuk kedalam kamarnya untuk bersiap dan pergi kerumah utama.
Tak butuh waktu lama, Rendra selesai dengan persiapannya dan langsung pergi menuju rumah utama. Dia berkendara dengan kecepatan tinggi. Rendra terus diam dengan wajah dingin. Hingga akhirnya Diapun tiba. Sudah banyak orang yang berkumpul dirumah utama.
"Tuan muda" Para pengawal dan pembantu disana menyapa Rendra begitu melihat dia datang. Namun orang luar tidak tahu siapa Rendra, jadi mereka hanya bisa menatapnya dengan wajah penuh tanya
"Siapa itu? Sepertinya ini pertama kali aku melihatnya. Apa dia kerabat dari keluarga Dirga?"
"Entahlah. Aku juga tidak tahu siapa dia. Mungkin saja memang kerabat yang ingin mengucapkan bela sungkawa"
__ADS_1
Hampir semua orang berbisik membicarakan Rendra, namun dia mengabaikannya dan berjalan menuju jenazah sang ayah yang kini telah terbujur kaku. Rendra menatap kosong tanpa jenazah sang ayah. Wajahnya terlihat sangat dingin tanpa terlihat ada kesedihan disana
"Ren, kamu sudah datang" Ujar Bastian melihat kedatangan Rendra. Rendra hanya diam dan tak menanggapi, dia tetap menatap jenazah sang ayah
"Kita akan langsung melakukan pemakaman hari ini juga" Ujar Bastian melanjutkan kalimatnya meskipun Rendra tidak memberikan tanggapan apapun.
Berita kematian James Dirga pun sudah tersebar dimana-mana. Banyak orang yang datang dari kalangan bisnis untuk mengucapkan bela sungkawa. Berita itupun sampai ke keluarga Kusuma
"James Dirga meninggal dunia. Rendra pasti sangat sedih" Ujar Cheva pada Lian
"Tentu saja. Sebaiknya kita beritahu Kenzo. Mungkin dengan begitu dia bisa menghibur temannya" Lian pun langsung menghubungi Kenzo untuk memberitahu perihal kematian ayah Rendra
Tuut tuut tuut
"Tumben papi menghubungiku. Ada angin apa?" Guman Kenzo melihat nama Lian di layar ponselnya
"Iya, pih" Tanya Kenzo dengan sikap datar
"Apa kamu sudah tahu kalau James Dirga meninggal?" Lian langsung bertanya pada intinya
"James Dirga? Aku baru tahu. Terimakasih pih, aku akan hubungi Rendra" Kenzo cukup terkejut mendengar kematian ayah Rendra, karena baru semalam dia membicarakannya dengan Rendra
"Iya" Lian dan Kenzo pun langsung mengakhiri panggilan telepon mereka dan Kenzo langsung menghubungi Rendra
Tuut tuut tuut
"Halo" Rendra menayapa Kenzo dengan nada yang dingin
"Aku sudah mendengarnya. Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Kenzo dengan nada khawatir
__ADS_1
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku juga tidak tahu harus sedih atau tidak. Dulu dia tidak pernah menanyakan bagaimana keadaanku atau berbicara banyak hal layaknya ayah dan anak. Sekarang pun dia langsung pergi ketika dia baru memintaku pulang kerumah. Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku? Bagaimana juga caraku harus bersikap padanya?" Kenzo dan Rendra saling terdiam dan tak mengatakan apapun lagi. Mereka saling mengerti dengan apa yang mereka rasakan.