Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Hari Pertama Kenzie


__ADS_3

Risha sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Rendra. Tanpa dia sadari wajahnya kini berubah menjadi merah, melebihi merahnya tomat yang matang.


Billy dan juga supir Rendra hanya bisa diam dan berusaha menahan senyum mereka sendiri karena berada di antara keromantisan Rendra dan Risha


"Aku jadi penasaran, sejak kapan kamu jadi pandai berkata-kata seperti itu? Sepertinnya saat kita belum pacaran, kamu itu orangnya terlalu kaku dan serius, kamu juga bersikap cuek padaku. Tapi sekarang, kamu lebih sering mengucapkan kata-kata manis seperti itu. Apa kamu terlalu banyak makan madu?"


Risha memicingkan mata curiga menatap Rendra yang terus diam dan sesekali menatapnya


"Ya mau bagaimana lagi, jika punya pacar seperti kamu itu ... madu pun kalah manisnya denganmu"


Rendra kembali menggoda Risha dengan rayuan manisnya dan sekali lagi itu berhasil membuat wajah Risha kembali tersipu


"Ah sudahlah.. Pak, cepat sedikit bawa mobilnya. Jika terlalu lama aku bisa kenyang hanya dengan ucapan manisnya saja"


Risha bicara pada supir namun tatapannya mendelik sinis pada Rendra


***


"Pak Kenzie, ini dokumen yang harus anda pelajari sekarang. Ini adalah laporan keuangan kita dan juga dokumen mengenai kontrak kerja sama yang kita lakukan dengan beberapa vendor" Sekertaris baru Kenzie memberikan apa yang harus dia pelajari sekarang


"Aku mengerti, kamu bisa kembali ke pekerjaanmu. Jika aku butuh bantuan, aku akan memanggilmu"


Kenzie bicara dengan sikap acuh tak acuh. Meskipun nada bicaranya terdengar ramah namun dia sama sekali tidak  memandang sekertarisnya itu. DIa hanya memperhatikan dokumen ditangannya saja.


"Ba-baik" Sekertarisnya pun berbalik dan pergi meninggalkan ruangan Kenzie


"Kenapa dia mengabaikanku? Jelas nada bicaranya sangat ramah. Tidak mungkin kalau dia tidak memperhatilkan wanita secantik aku" Sekertaris Kenzie sesekali melirik Kenzie yang sedang fokus dengan dokumen ditangannya


"Haaah ... kenapa begitu banyak dokumen yang harus aku pelajari? Kalau begini, aku tidak bisa makan siang dengan Meisya"


Kenzie memegang setumpuk dokumen yang harus dia pelajari dan menghela napas panjang. Diapun meraih ponselnya dan menghubungi Meisya


Tuut tuut tuut


Cukup lama Kenzie menunggu Meisya menerima telepon darinya


"Halo"


Wajah Kenzie yang terlihat kusut langsung cerah begitu mendengar suara Meisya


"Halo, Sya. Apa hari ini pekerjaanmu banyak?" Kenzie bertanya dengan sikap yang lembut


"Tidak, pekerjaanku tidak terlalu banyak. Apa kak Zie sangat sibuk?" Meskipun ragu, Meisya akhirnya juga bertanya pada Kenzie

__ADS_1


"Ya, ternyata ada banyak dokumen yang harus aku pelajari" Kenzie bicara sambil memainkan tumpukan dokumen dihadapannya


"Apa itu artinya kita tidak bisa makan siang bersama?" Tanya Meisya lagi dengan ragu


"Sepertinya begitu. Tapi sore nanti aku akan menunggumu pulang dan kita bisa makan malam bersama"


Meisya terdiam sambil memainkan bibirnya ketika mendengarkan Kenzie


"Tapi sore ini kita harus menghadiri pesta papa. Nanti kak Zie bisa menghubungiku saat akan pulang"


"Kamu benar. Kalau begitu setelah selesai bekerja kita langsung bersiap dan pergi kerumah papamu. Maaf karena aku melupakan pesta papamu"


"Tidak papa. Aku mengerti kalau kak Zie pasti sibuk karena baru saja menempati posisi sebagai direktur"


Meskipun kecewa akhirnya Meisya menerima keadaan Kenzie yang tidak bisa makan siang dengannya dan setuju untuk makan malam bersama.


Tok tok tok


"Permisi pak Kenzie ada salah satu vendor kita ingin menemui anda" Kenzie langsung menoleh ke arah pintu ketika sekertarisnya yang bernama Deby mengetuk pintu dan langsung mengatakan maksudnya


"Ya, persilahkan mereka masuk"


"Baik pak"


"Sayang sudah dulu ya. Nanti aku akan menunggumu saat pulang" Kenzie dengan cepat bicara pada Meisya sebelum tamunya masuk


"Silahkan masuk, pak Kenzie sudah menunggu didalam" Deby pun langsung mengizinkan para tamu Kenzie masuk ke ruangannya


"Terimakasih"


"Selamat siang, silahkan masuk" Kenzie menyambut ketiga tamunya dengan senyum yang ramah sambil berjalan menghampiri mereka dan mempersilakan mereka duduk di sofa


"Terimakasih pak Kenzie"


"Deby, tolong buatkan minuman untuk tamu kita"


"Baik pak"


"Ternyata pak Kenzie lebih muda dari apa yang kami bayangkan. Kami kira anda adalah orang yang lebih berpengalaman karena bisa menempati posisi ini diusia sekarang"


Salah satu tamu Kenzie bicara dengan senyum dibibirnya. Dia bernama Peter. Meskipun terdengar memuji, tapi nyatanya Peter sedang meragukan kemampuan Kenzie yang masih muda .


Kenzie tersenyum tipis menanggapi Peter. Dia tetap berwibawa dan tenang sambil bersandar pada sandaran kurai dan pegangan kursi menopang kedua tangannya yang saling bertautan.

__ADS_1


"Terimakasih. Suatu kehormatan karena mendapatkan pujian dari seseorang yang lebih dewasa dan lebih berpengalaman seperti anda. Saya yakin anda pasti lebih mengerti bagaimana kerasnya dunia bisnis sehingga anda bisa mengatakan itu pada saya"


Kenzie pun dengan tenang membalas apa yang dikatakan oleh Peter. Terlihat jelas dari wajahnya kalau Peter sangat kesal dengan perkataan Kenzie yang merendahkannya


"Pak Kenzie, kami kemari untuk mengucapkan selamat atas kenaikan jabatan anda. Kedepannya kita akan bekerja sama dan saya harap kita dapat tetap menjalin kerja sama ini dengan baik" Salah satu rekan Peter menyela dan berusaha mencairkan suasana sekarang


"Tentu, saya sangat menyambut kerja sama ini dengan baik. Tentu kita juga sama-sama mengerti pentingnya kerja sama ini. Tapi anda harus ingat kalau setiap kerja sama selalu diibaratkan sebuah pisau tajam yang bisa anda gunakan sesuai keinginan anda"


Kenzie bicara dengan sikap yang tenang. Karena ucapan Peter sebelumnya, Kenzie memperingatkan kalau kerja sama mereka bisa diibaratkan sebuah pisau tajam yang memiliki dua fungsi. Satu bisa menguntungkan kedua belah pihak dan satu bisa menjatuhkan, tergantung bagaiman perusahaan Peter menginginkannya.


"Kami mengerti. Dan sebaiknya kita juga saling mengetahui posisi masing-masing" Peter bicara dengan nada yang sedikit mencibir


"Ya, semoga saja tidak ada masalah kedepannya"


Disaat itu Deby baru kembali dengan nampan berisi gelas minuman


"Permisi. Silahkan minumannya" Ujar Deby sambil menghidangkan gelas berisi kopi diatas meja


"Deby, pak Peter dan rekannya sedang sangat terburu-buru karena pekerjaan mereka"


"Tapi pak …"


Peter dan rekannya saling menatap satu sama lain setelah mendengar perkataan Kenzie


"Pak Kenzie benar, kami masih miliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jadi kami undur diri terlebih dahulu" Ujar rekan Peter yang mengerti dengan situasi tak menguntungkan ini.


"Oh baiklah. Biar saya antarkan anda semua kebawah" Deby menawarkan diri untuk mengantarkan para vendor perusahaan


Peter dan rekannya pun berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Kenzie


"Terimakasih atas kunjungan anda sekalian" Ujar Kenzie sambil memerima uluran tangan rekan Peter


"Semoga kita bisa membahas kerja sama kita dihari lain"


"Ya" Peter dan rekannya pun beranjak pergi dari kantor Kenzie


"Cih dasar sombong. Baru jadi direktur operasional saja sudah belagu. Aku ingin lihat sejauh mana dia bisa mengatasi masalah" Peter mencibir Kenzie dengan suara pelan, namun rekannya bisa mendengar apa yang dia katakan.


"Jangan macam-macam. Tadi pak Kenzie sudah memperingatkan kita dengan kerja sama ini. Jangan buat perusahaan malah rugi besar" Ujar rekan Peter mengingatkan


"Cih, hanya peringatan bocah ingusan. Untuk apa dihiraukan. Anggap saja kita memberikan pelajaran berharga untuk anak itu" Peter sama sekali tidak mendengarkan rekan kerjanya


"Sudahlah, terserah kamu saja. Jika terjadi sesuatu jangan salahkan aku. Aku sudah memperingatkanmu" Rekan Peter menjawab dengan nada malas

__ADS_1


"Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa. Aku hanya ingin membuat peringatan kecil saja untuknya"


Sebelah ujung bibir Peter sedikit terangkat membentuk seringai licik, sorot matanya tajam seakan dia sedang merencanakan sesuatu. Rekannya hanya bisa menggelengkan kepala melihat Peter


__ADS_2