
"Safira! Safira! Safira!" Disebuah mall terkemuka terdengar riuh orang-orang berteriak memanggil nama seorang gadis. Para penonton semakin histeris begitu seorang gadis cantik mulai naik ke panggung dengan melambaikan sebelah tangannya
"Safira…!"
Safira Tifania Reitama adalah seorang artis muda berbakat yang sedang naik daun di negara F. Dia pandai bernyanyi dan sudah membintangi beberapa judul film. Dia juga menjadi brand ambasador dari beberapa merk terkenal. Mulai dari berlian, pakaian dan produk kecantikan. Wajah cantiknya dapat dengan mudah dijumpai dijalanan maupun televisi.
"Apa kabar Safira?" Tanya host acara tersebut
"Baik, terimakasih. Apa kabar semuanya?"
"Baik!" Safira bertanya juga pada penonton yang hadir hingga suasana kembali ricuh
"Saya dengar dalam waktu dekat kamu akan kembali syuting film. Bisa beritahu kami disini sedikit tentang film tersebut?" Tanya pembawa acara lagi
"Ya, sebentar lagi saya akan syuting film tentang mahasiswa yang berusaha mengejar cita-citanya. Dan untuk itu saya akan melakukan syuting di sebuah kampus terkemuka disini" Safira menjawab dengan senyum ceria
"Wah tentu para fansmu disini sudah tidak sabar menunggu film terbaru milikmu, iya kan?"
"Iya"
"Haah melelahkan sekali" Safira menghela napas panjang karena lelah begitu acara selesai. Dia memejamkan mata dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil
"Fira, ada yang memposting di media sosial kalau kamu pernah ditolak saat menyatakan cinta pada teman sekolahmu. Apa itu benar?" Tanya Mona, manajer Safira
"Kak Mona, itu kejadian sudah lama sekali. Lagipula saat itu aku masih SMP. Itu usia dimana kita baru mengenal cinta monyet" Safira menjawab dengan tenang sedangkan Tiara hanya tersenyum mendengar jawaban Safira
"Jadi kamu benar-benar menyatakan cinta padanya?" Tanya Mona lagi yang masih penasaran
"Benar. Dan itu sudah lama sekali, kak" Safira menjawab dengan sangat santai
"Tapi bisa-bisanya itu tersebar sekarang? Lagipula kejadian sudah sangat lama, untuk apa di publish sekarang?" Tiara yang sejak tadi diam terlihat bingung dengan apa yang terjadi pada Safira
"Tiara apa kamu tidak mengerti? Saat ini Safira sedang naik daun, tentu saja apapun yang berhubungan dengannya akan jadi trending topik" Jawab Mona menjelaskan dengan sikap tenang
"Aku mengerti tapi ini kan hanya masalah sepele. Bagaimana jika itu terjadi sekarang? Pasti kak Safira akan sangat kesusahan, iya kan?" Tanya Tiara dengan senyum membayangkan kemungkinan itu
"Haah ... jika itu terjadi padaku sekarang, maka sudah pasti para reporter itu akan mengikutiku kemanapun" Jawab Safira acuk tak acuh kemudian kembali memejamkan mata
"Sudahlah jangan pikirkan masalah itu dulu. Kamu harus istirahat yang cukup. Besok kita ada syuting iklan, Tiara akan datang kemari pagi-pagi" Tanpa terasa mereka telah tiba diapartemen Safira.
"Baik, aku mengerti. Kalian hati-hati dijalan. Dadaah" Safira turun dari mobil dengan mengenakan masker miliknya kemudian pergi sambil melambaikan tangannya
__ADS_1
***
Kenzie dan Risha sedang ada dikampus. Mereka sedang menunggu kelas selanjutnya
"Zie, kemarin kamu kemana? Aku mencarimu tapi kamu tidak ada. Dirumah juga, kamu pulang jam berapa sampai aku tidak tahu kalau kamu pulang?" Tanya Risha yang tidak bertemu lagi dengan Kenzie setelah dari kampus kemarin
"Kamu saja yang sibuk diperpustakaan sampai sore. Aku juga dilupakan kalau sudah dengan buku. Sama saja dengan Kenzo kalau sudah maun game" Kenzie menjawab dengan nada mengeluh
"Iya, maaf. Kemarin aku lupa waktu saat membaca buku. Dan saat pulang kerumah kamu juga tidak ada" Ujar Risha dengan nada menyesal
"Aku kemarin bosan, jadi pergi ke mall" Jawab Kenzie acuk tak acuh
"Ada apa denganmu Zie? Kenapa hari ini kamu terlihat aneh?" Risha merasa bingung melihat Kenzie yang hari ini terlihat murung. Diapun bertanya dengan dahi mengernyit dan menatap Kenzie dengan heran
"Tidak ada apa-apa. Aku pergi dulu sha, kamu pulang sendiri saja. Aku harus pergi ke suatu tempat" Kenzie bicara sambil berjalan pergi meninggalkan Risha
"Kamu mau kemana? Bukannya masih ada satu mata kuliah lagi?" Teriak Risha pada Kenzie, namun Kenzie hanya melambaikan sebelah tangan tanpa menoleh pada Risha
"Ada apa dengannya ya? Aku harus Tanya Kenzo" Risha pun meraih ponsel didalam tasnya dan menghubungi Kenzo
Tuut tuut tuut
"Halo, Zo. Zo ada apa dengan Kenzie? Kenapa hari ini dia bersikap aneh dan mengabaikanku?" Risha juga langsung bertanya pada Kenzo
"Aku rasa sekarang kamu yang lebih dekat dengan Kenzie. Bagaimana aku bisa tahu apa yang terjadi padanya?" Kenzo menjawab dengan sikapnya yang acuh tak acuh
"Aku tahu, tapi mungkin saja dia cerita padamu mengenai apa yang terjadi padanya" Jawab Risha lagi tidak percaya
"Aku tidak tahu Sha. Kamu tanya sendiri saja padanya. Sha sudah dulu ya, aku sedang sibuk" Kenzo hendak mengakhiri panggilan teleponnya
"Kamu sibuk apa? Baru juga pindah kemarin" Risha tidak percaya kalau Kenzo sedang sibuk
"Aku mau melamar kerja. Aku butuh kerja paruh waktu untuk menyambung hidup" Kenzo menjawab dengan sikap tenang
"Apa?! Kerja paruh waktu?!" Risha cukup terkejut mendengar ucapan Kenzo sampai dia berteriak
"Bukannya kamu yang mengusulkan aku untuk kerja paruh waktu? Kenapa sekarang malah terkejut begitu?" Kenzo terkejut mendengar teriakan Risha sampai menjauhkan ponselnya dari telinga
"Iya, tapi ku kira kamu tidak akan benar-benar mencari pekerjaan paruh waktu" Ujar Risha memicingkan mata dengan kedua bahu diangkat bersamaan
"Sudahlah aku tidak punya waktu lagi meladenimu. Sampai jumpa" Kenzo langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan Risha
__ADS_1
"Apa kamu sedang sibuk?" Risha menoleh setelah mendengar suara Panji dibelakangnya
"Oh tidak pak. Ada apa?" Tanya Risha mendekati Panji
"Aku ingin membahas makalah kemarin, apa kamu ada waktu?" Tanya Panji ragu-ragu
"Tapi sebentar lagi saya masih ada kelas. Bagaimana kalau setelah kelas saya selesai?" Risha menyarankan dengan tenang
"Tentu. Saya tunggu diperpustakaan"
"Baik pak. Nanti saya kesana" Panji hanya menganggukkan kepala kemudian melangkahkan kaki menuju perpustakaan
***
Kenzo sedang berjalan di sekitar pertokoan untuk mencari pekerjaan paruh waktu
"Permisi. Apa disini ada lowongan pekerjaan?" Kenzo bertanya pada salah satu gadis pelayan restoran
"Halo... " Kenzo melambai-lambaikan tangannya karena pelayan restoran itu malah terdiam menatapnya
"Ah maafkan aku. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya setelah tersadar dari lamunannya
"Iya, saya sedang mencari pekerjaan paruh waktu, apa disini ada lowongan pekerjaan?" Kenzo mengulangi pertanyaannya
"Oh biar langsung ke manajer restoran saja. Tapi apa kamu yakin kalau mau bekerja disini?" Pelayan itu kembali bertanya pada Kenzo
"Benar. Saya sedang butuh pekerjaan paruh waktu" Ujar Kenzo menjelaskan
"Baiklah, mari ikut saya" Pelayan itu mengantar Kenzo bertemu manajer restoran
"Permisi pak, ada yang mau bertemu. Katanya dia sedang mencari pekerjaan paruh waktu" Ujar Pelayan menjelaskan pada manajer restoran
"Siapa? Dia?! Kamu tidak salah mau jadi pelayan restoran?" manajer toko itu bertanya pada Kenzo untuk memastikan
"Benar. Saya sedang butuh pekerjaan paruh waktu untuk membayar biaya kuliah saya. Apa disini ada lowongan pekerjaan?" Kenzo menjawab dengan sopan namun tetap dingin
"Hemn... jika pelayan restoran disini setampan kamu, pasti banyak gadis yang antri untuk makan disini. Baiklah, kamu bisa bekerja disini jika kamu tidak memiliki jadwal kuliah" Ujar manajer restoran dengan senyum antusias
"Terimakasih" Ujar Kenzo dengan senyum tipis
"Apa mencari pekerjaan bergantung pada tampang?" Pikir Kenzo setelah mendengar ucapan manajernya
__ADS_1