
Kenzo kembali ke rumah sakit setelah dia bermain dengan Rian. Dia langsung merebahkan tubuhnya disofa seakan dia kelelahan setelah perang.
"Sayang, ada apa denganmu? Kamu terlihat sangat lelah sekali?" Safira mendekati Kenzo dan duduk disebelahnya dengan wajah khawatir. Dia bertanya dengan lembut sambil mengusap kepalanya.
"Ya, aku memang sangat lelah. Apa kita harus tidur disini? Sebaiknya kita pulang saja kerumahku, Meskipun sederhana tapi ada 2 kamar tidur disana. Sofa ini terlalu pendek, kakiku sakit kalau harus ditekuk terus"
Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dan sesekali menunjuk kearah sofa dan kakinya. Dia benar-benar sudah tidak nyaman setelah tidur beberapa hari dirumah sakit.
"Baiklah, kita pulang kerumahmu. Kamu harus istirahat dengan benar. Besok masih harus pergi ke kantor Rendra kan?" Kenzo hanya mengangguk kemudian mulai berdiri
"Sha, aku akan pulang kerumahku. Besok kita akan bertemu dikantor Rendra" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang sambil beranjak pergi.
"Memangnya kamu punya rumah disni?" Risha bertanya dengan wajah bingung
"Kalaupun tidak ada maka akan aku buat ada" Kenzo menjawab dengan acuh taka cuh kemudian berjalan pergi
"Dasar gila, mana bisa mendapatkan rumah hanya dalam waktu satu hari?!" Teriak Rendra dengan kesal namun Kenzo mengabaikannya
"Sampai jumpa" Risha dan Safira saling melambaikan tangan mereka sebelum Kenzo dan Safira keluar dari kamar
"Kamu tahu apa yang direncanakan Kenzo untuk besok?" Risha bertanya pada Rendra setelah Kenzo keluar dari kamar rumah sakit.
"Entahlah, sejak kapan pikiran orang itu bisa ditebak? Tidak pernah ada yang bisa menebak apa yang dia rencanakan. Bukannya kamu sebagai saudara sepupu yang sejak kecll bersamanya juga tidak tahu apa yang dia rencanakan?" Rendra menatap Risha dengan senyum diwajahnya
"Kamu benar. Dia itu aneh. Dia menjadikan wajah tampannya sebagai topeng untuk menutupi sifatnya yang menyeramkan" Risha bicara dengan nada yang mencibir
"Benar, sitampan berhati iblis hahaha" Risha dan Rendra terbahak bersama membicarakan Kenzo
***
Hari sudah menjelang malam saat Kenzo dan Safira keluar dari rumah sakit. Pasangan muda itu berjalan keluar dengan saling bergandengan tangan. Kenzo terlihat gagah dengan celana jeans hitam panjang dan sebuah t-shirt polos yang ditutup dengan jacket, dia juga mengenakan topi hitam sebagai penutup kepala. Kenzo menggantungkan tas punggung di satu pundaknya dan tangan satunya lagi menggandeng Safira.
Safira mengenakan pakaian santai. Dia mengenakan celana jeans panjang ketat dengan t-shirt berlengan pendek yang dimasukkan ke dalam celana dan Safira juga mengenakan topi bulat yang menutupi kepalanya. dia juga mengenakan masker untuk menutupi setengan bagian wajahnya.
Kenzo dan Safira melenggang dengan tenang daei rumah sakit. Mereka sama sekali tidak merasa terganggu dengan orang-orang yang mulai mengambil gambar mereka. Mereka terlihat sangat santai dan bersikap begitu tenang seakan mereka bukan siapa-siapa.
Kenzo sudah membeli motor untuk dia gunakan selama di negara A. Dia berencana untuk membiarkan Risha menggunakannya atau mungkin menjuanya kembali setelah dia kembali ke negara F. Dia mengendarai motornya dengan membonceng Safira dibelakangnya. Mereka menyusuri gelapnya malam yang diterangi cahaya dari lampu-lampu jalan dan juga gedung-gedung di sekitar.
Safira melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Kenzo dan memeluknya dengan erat.
"Zo, kita mau kemana? Bukannya tante bilang kamu punya rumah disini?" Safira meninggikan suara karena mereka berada di atas motor dan suara knalpot membuat bising di telinga dan tidak mendengar dengan jelas jika suaranya pelan.
"Aku memiliki vila sendiri, tapi itu ada di kota lain. Disini aku tidak memiliki rumah. Biasanya aku tidur di rumah Rendra. Aku juga tidak tahu kalau kamu akan kemaria jadi tidak memeprsiapkannya. Lebih baik kita menginap di hotel saja" Kenzo menyarankan dengan sikap yang tenang setelah dia menjelaskan kondisinya pada Safira.
"Jadi, tante menipuku?!" Safira terlihat kesal mengingat Cheva yang mengatakan kalau Kenzo memiliki rumah sendiri dan mereka tidak akan saling merepotkan
__ADS_1
"Itu sudah biasa, jadi lain kali jangan terlalu percaya pada mami. Dia akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatan apa yang dia inginkan" Safira tidak menjawab, namun gerakannya yang menganggukkan kepala dapat dirasakan oleh Kenzo karena saat ini di bersandar dipunngungnya dan memeluknya dengan erat.
Setelah beberapa lama, akhirnya mereka tiba disebuah hotel mewah.
"Hotel? Zo, kamu tidak akan menimbulkan skandal buruk diantara kita kan?" Safira memicigkan mata dan menatap Kenzo dengan tatapan curiga
"Jangan terlalu banyak berpikir. Kamar disini luas, jadi aku bisa tidur disofa dan kamu tempat tidur. Lagipula, bukannya lebih bagus jika terjadi skandal?"
Kenzo mendekatkan mulutnya di telinga Safira, membuat Safira yang masih mengusap keningnya yang sebelumnya di ketuk dengan jadi Kenzo terdiam mendengarkan
"Jika ada skandal, maka kita bisa ceoat meikah" Bisik kenzo dengan senyum menggoda
"Me-ni-kah?" Safira terkejut hingga membelalak. Pikirannya kembali teringat dengan sakit yang sedang ia derita. "Apa aku bisa menikah dengan Kenzo?"
"Kenapa terkejut begitu? Apakah ada suatu yang harus dibereskan? jelaskan!"
Kenzo bicara sambil tersenyum menggoda
"Tidak ada. Umm … apa tidak sebaiknya kita pesan kamar yang terpisah saja?" Safira menyarankan dengan hati-hati, dia takut jika tiba-tiba dirinya merasakan sakit, namun dia malah mendapatkan tatapan dingin dari Kenzo sebagai jawabannya.
Mereka pun tiba dikamar mereka.
"Mandi lalu istirahatlah. Kamu pasti lelah karena sejak kemarin hanya dirumah sakit menemani Risha dan Rendra. Akam tidur disebelah sini" Kenzo bicara dengan lembut pada Safira
"Baiklah. aku akan mandi lebih dulu. Ehm … Zo, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Safira berusaha menjelaskan kondisinya pada Kenzo meskipun telihat kalau dia sangat gugup
"Baiklah, aku akan mandi dulu" Kenzo pun mengangguk setuju dengan ucapan Safira
Tak. berselang lama dia keluar dengan mengenakan jubah mandi dan rambut yang basah
"Aku sudah selesai. Sekarang giliranmu Zo"
"Baiklah"
Safira lalu duduk di depan meja rias yang tersedia. Disana juga ada pengering rambut. Dia mulai mengeringkan rambutnya yang basah. sambil melihat kecermin dia membayangkan kehidupannya setelah menikah dengan Kenzo
"Mungkin, jika aku menikah dengannya.… hal seperti ini akan biasa terjadi"
Pikir Safira sambil tersenyum sendiri membayangkan apa yang terjadi. Namun, saat dia sedang terlena dengan khayalannya, tiba-tiba semua hancur karena rasa sakit tak tertahankan yang dia rasakan.
"Ah... emmm"
Safira menjatuhkan pengering rambut dilantai, dia meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. Wajahnya yang sebelumnya segar setelah mandi, seketika berubah menjadi pucat. Dia berusaha berdiri untuk mengambil obat penghilang rasa sakit yang ada ditasnya. Safira berjalan terhuyung, langkahnya bergitu berat. kepalanya pun terasa sangat sakit seperti akan pecah.
Disaat yang sama Kenzo keluar dari kamar mandi. Matanya terbelalak melihat Safira berjalan tertatih hendak mengambil tasnya. Dengan langkah cepat dia mendekati Safira dan memeganginya
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" Kenzo bertanya dengan panik. Dia semakin panik ketika melihat wajah Safira yang pucat.
Safira tidak menjawabnya, dia hanya menunjuk tas dengan jari tangannya. Kenzo pun menggendong Safira dan membaringkannya di tempat tidur, lalu dia berjalan meraih tas Safira . Dia mengeluarkan semua isi taa satu persatu. Mencari apa yang diburuhkan Safira, kemudian menemukan sebuah botol palstik putih berisi obat
"Ini yang kamu cari?" Kenzo bertanya untuk memastikannya. Safira hanya menganggukkan kepala dengan menahan rasa sakit. Kenzo pun mengeluarkan 2 butir obat dan memberikannya pada Safira, lalu Kenzo menuangkan segelas air untuknya.
Safira masih meringis, namun perlahan rasa sakitnya mulai hilang. Dahinya yang sebelumnya tegang, kini mulai terlihat tenang.
"Sebenarnya, apa hasil pemeriksaan sebelumnya?" Kenzo bertanya dengan ekspresi yang dingin
Safira terdiam sesaat. Bibirnya seakan berat untuk digerakan.
"Tumor otak"
Safira menjawab dengan kepala tertunduk. Air mata mulai membasahi kedua pipinya. Dia mendongak untuk melihat wajah Kenzo, namun tidak bisa melihat ekspresi wajah Kenzo dengan jelas karena terhalang air mata.
Setelah suasana hening selama beberapa saat Kenzo menarik Safira ke pelukannya
"Kita akan melakukan pengobatan. Aku akan mencari dokter terbaik untuk menyelamatkanmu"
Air mata Safira jatuh semakin deras. Dia ingin mengatakan 'Aku baik-baik saja' tapi entah kenapa air matanya tak bisa diajak berkompromi dan terus saja mengalir tanpa memberikan Safira kesempatan untuk bicara pada Kenzo.
Safira terus menangis dalam dekapan Kenzo, dan Kenzo pun membiarkannya. Setelah merasa lebih tenang, barulah Safira bicara pada Kenzo
"Aku tidak ingin dioperasi" Kenzo terdiam sesaat
"Kenapa?" Nada bicaranya kini rendah dan lembut
"Peluangnya berhasil hanya 10%. Meskipun berhasil mendapatkan 10% itu dan selamat ari maut, aku akan melupakan semuanya. Aku tidak ingin itu. Bagaimana aku bisa hidup tapi aku melupakan semuanya? Kamu, kakek, nenek dan semua memory tentang kita. Aku tidak ingin kehilangan semua kenangan indah itu" Safira bicara disela isak tangisnya. Kenzo mendekapnya semakin erat
"Dengarkan aku. Aku ada disampingmu, semua orang masih tetap ada bersama denganmu. Jika kamu kehilangan semua memory yang pernah kamu lalui, maka kita akan membuat kembali memory indah bersama. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu. Bagaimana. bisa kamu mempertahankan kenangan indah kita dan mengorbankan masa depan kita? Aku tidak ingin itu. Meskipun kamu melupakan semuanya, aku ingat semuanya. Kita akan kembali membuat kenangan indah bersama"
"Terimakasih Zo"
***
Restoran dikerumuni banyak orang ketika mendengar suara teriakan. Semua mendekat karena mereka penasaran dengan orang yang jatuh itu. Mereka pun berkumpul membentuk lingkaran dan mengelilingi korban. Tidak ada yang berani mendekatinya maupun mengambil kertas-kertas yang berserakan di sekitarnya. Mereka terus berbisik sampai polisi datang.
Wiu wiu wiu
Tak berapa lama datang sebuah mobil ambulance dan juga mobil polisi. Mereka datang setelah seseorang mengabari kejadian itu
"Minggir-minggir! Tolong beri jalan untuk lewat" Salah seorang polisi menerobos kerumunan agar bisa mendekat pada Rian dan memberikan dia pertolongan
"Dia masih hidup. Kami akan membawanya kerumah sakit" perawat langsung memindahkannya keatas tandu dan dinaikkan kedalam ambulance. Sedangkan dua orang polisi lain mulai memunguti kertas-kertas yang berserakan ditanah dan membacanya satu persatu. Mereka saling menatap setelah mengetahui isinya.
__ADS_1
"Kita bawa semua ini sebagai barang bukti" Ujar salah satu polisi pada rekannya