
Wajah Rian dan Bastian langsung menegang setelah mendengar perkataan Fredi
"Jadi ... kamu yang mendorongnya?!" Bastian berdiri dan berteriak pada Fredi
"Kenapa? Bukannya kalian memang berencana untuk melenyapkan dia? Aku mendengar pembicaraan kalian saat dipesta kemarin" Fredii bicara dengan cukup tenang. Dia sama sekali tidak menyesal dengan apa yang telah dia lakukan. Justru dia terlihat kecewa setelah mendengar Rendra masih hidup.
"Tapi aku sudah menolaknya! Aku kan sudah bilang jangan berani melakukan hal yang macam-macam pada Rendra! Mau bagaimana pun dia itu adikku. Kami memiliki darah yang sama, meskipun ibu kami berbeda!" Bastian sangat kesal dan marah mendengar Fredi mencelakai Rendra.
"Tidak usah berlebihan begitu. Kamu juga tidak terlalu dekat dengannya kan?" Rian bersikap tenang dan justru terkesan mendukung tindakan yang dilakukan putranya
"Om, bagaimana bisa om berkata seperti itu? Om sendiri tahu kenapa aku dan dia tidak dekat. Aku baru saja memulai hubungan baik dengannya, sekarang kalian malah ingin menghancurkannya lagi. lebih baik om datang kerumah sakit dan mengatakan yang sebenarnya. Katakan kalau Fredi tidak sengaja mendorong Rendra dari balkon!" Bastian terus saja meninggikan suaranya dan berteriak saat dia bicara pada Rian dan juga putranya.
"Untuk apa kamu memiliki hubungan baik dengannya? Itu tidak ada untungnya. Lebih baik kamu ambil kembali apa yang telah menjadi hakmu. Karena sekarang Rendra sedang koma, jadi aku bisa masuk ke perusahaanmu dan menggantikan posisinya kan? Kita ini kan saudara sepupu dan aku yakin kalau aku bisa membantumu mengelola perusahaan itu"
Fredi begitu yakin dengan apa yang dia katakan. Dia menunjukkan senyum yang terlihat seperti dia memang menunggu saat-saat seperti sekarang ini.
"Tidak bisa. Sementara ini pekerjaan Rendra akan dipegang oleh sekertaris pribadinya. Kamu tidak bisa masuk begitu saja menggantikan dia. Lagipula menjadi pemimpin perusahaan tidak seperti jadi pemimpin untuk geng motor seperti teman-temanmu itu"
Bastian langsung menolak dengan tegas apa yang dikatakan Fredi. Tentu saja dia tidak ingin menjatuhkan perusahaannuya sendiri. Terlebih lagi Dirga Electronik baru saja berkembang setelah diambil alih oleh Rendra. Mana mungkin dia mau mengambil resiko menjatuhkan perusahaan itu.
"Bastian, kamu bantulah Fredi. Dia sudah dewasa juga, sudah waktunya untuk dia mulai serius dalam karir" Rian membantu sang putra membujuk Bastian. Tentu dia juga tidak akan melewatkan kesempatan untuk putranya maju dan berkembang. Terlebih lagi menjadi pemimpin dari perusahaan yang cukup besar. Pastinya dia juga akan merasa bangga sebagai ayahnya.
"Om, aku tidak bisa melakukan itu. Itu perusahaan Rendra, aku hanya memiliki hak atas perusahaan Dirga Motor" Bastian terus menolak dengan sikap yang tenang. Dia berusaha meyakinkan omnya kalau perusahan itu tidak mungkin digantikan oleh mereka
__ADS_1
"Apanya yang tidak mungkin? Kamu bisa mengatakan pada dewan direksi kalau Fredi hanya menggantikan Rendra untuk sementara waktu saja. Setelah dia kembali, dia bisa mengambil alih Dirga Electronik lagi" Rian mulai terlihat kesal namun dia berusaha untuk tetap bersikap tenang. Dia bicara sambil menyeruput kopi yang baru saja dbuat untuknya
"Tapi om ..."
"Bastian. Sebagai keluarga, kita harus saling mendukung satu sama lain. Kamu tidak bisa hanya berkembang sendiri dan membiarkan saudaramu yang lain dalam kesusahan. Om yakin suatu hari nanti, saat kamu mengalami kesusahan kami juga akan membantumu. Perusahaan om terbilang kecil, om tidak bisa memasukkan Fredi keperusahaan karena sudah ada Pricilla disana. Om yakin dengan Fredi masuk ke perusahaan Rendra dan menggantikannya, dia akan lebih cepat berkembang dan bisa menjadi pemimpin yang baik nantinya"
Rian sangat yakin, dia begitu bersemangat untuk memasukkan putranya sebagai pemimpin perusahaan Rendra. Apalagi perusahaan itu sedang berkembang dan harga sahamnya sedang naik, Fredi pasti bisa jika hanya meneruskannya saja dengan menggunakan pola kerja Rendra biasanya
"Aku akan pikirkan dulu. Sekarang aku lelah. Aku akan pulang untuk istirahat dulu. Aku harap kalian tidak melakukan hal yang membahayakan nyawa orang lain lagi dan berdoa saja semoga Rendra tidak papa karena sahabat Rendra tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu pada Rendra. Kalian bisa saja mati ditangannya"
Bastian berusaha mengigatkan Rian dan Fredi agar tidak macam-macam lagi pada Rendra
"Siapa maksudmu? Pemuda yang dulu selalu melindungi Rendra itu? Jadi dia masih saja menjadi peri penjaga Rendra ya? Ku kira peri penjaga akan pergi dengan sendirinya setelah mereka dewasa. Ternyata persahabatan mereka bertahan lama juga" Fredi menyeringai. Dia mencibir perkataan Bastian dengan nada yang sinis
'Kenzo? si anak ingusan itu? Aku tidak takut sama sekali. Akan aku tunjukkan padanya siapa aku sebenarnya" Fredi berteriak dengan sombong
***
Dokter datang memeriksa Rendra sesaat setelah Risha, Kenzie dan Meisya pergi untuk sarapan.
"Bagaimana keadaannya dok?" Kenzo bertanya dengan sikap yang tenang.
"Masa kritirnya sudah lewat, tapi kita masih belum tahu pasti sebelum dia sadar. Kami akan melakukan pemeriksaan ulang setelah dia siuman nanti" Dokter menjelaskan dengan penuh wibawa
__ADS_1
Kenzo menoleh pada Rendra yang terbaring tak sadarkan diri. Dia menatao wajah sahabatnya dengan ekspresi sedih.
"Lalu, kapan dia akan siuman?" Kenzo memicingkan mata bertanya dengan serius pada dokter.
"Kami tidak bisa memastikan itu. Efek obat sudah habis, seharusnya hari ini dia sudah bisa siuman"
"Apa akan ada efek samping dari kecelakaan itu? Secara luka yang dia alami terdapat bagian kepalanya" Kenzo kembali menatap Rendra dia masih sangat khawatir padanya.
"Itu … kita belum tahu, karena itu setelah pasien siuman akan dilakukan pemeriksaan ulang"
Kenzo terdiam, dia menatap Rendra dengan wajah sedih
"Kalau begitu saya permisi"
"Ya, terimakasih dokter" Kenzo mengangguk dan kembali mendekati Rendra
"Hei, bodoh. Sampai kapan kamu akan mengabaikan aku? Aku sudah jauh-jauh datang kemari tapi kamu hanya tidur dan bermalas-malasan? Kamu pikir aku pengangguran yang tidak punya pekerjaan? Aku sibuk dengan pekerjaanku tapi demi kamu aku datang kemari. Tapi kamu tetap saja tidak bangun. padahal dokter mengatakan kalau kamu seharusnya sudah sadar. Kamu sengaja tidak ingin menemuiku?"
Kenzo terus bicara meskipun terdengar dingin dan sinis tapi ada kesedihan juga didalam ucapannya. Air matanya berlinang, dia membayangkan hari-hari yang sudah mereka lalui bersama
"Aku ingin kamu bangun. Aku tidak suka bermain-main seperti ini. Ini tidak lucu, awas saja kalau kamu masih tidak bangun juga, aku pasti akan memukulmu! Akan ku hitung semua biaya hidupmu selama kamu tinggal denganku. Aku tidak akan merestui hubunganmu dengan Risha. Akan aku kenalkan dia dengan temanku yang lain. Risha itu sangat cantik, sudah pasti banyak pria yang ingin jadi pendampingnya. Jika kamu terlambat bangun, maka kamu pasti akan menyesal"
Kenzo mengancam dengan sikap yang dingin, air mata hampir saja mengalir membasahi pipinya, namun Kenzo menoleh kearah lain berusaha keras agar air mata tidak jatuh dari kedua matanya. Sesaat kemudian sorot matanya berubah menggelap ketika dia mengingat Rendra jatuh saat menghadiri pesta dirumah Rian
__ADS_1
"Rian Kuswoyo, kamu juga harus merasakan bagaimana rasanya jatuh dari balkon. Sepertinya kamu tidak belajar dari apa yang terjadi pada adikmu atau mungkin kamu sudah lupa bagaimana kejadiannya. Baiklah, akan ku buat kamu mengingat kembali bagaimana mendiang adikmu meninggal dunia"