
Rendra sudah tiba ditempat Rian. Dia datang sendiri dan Bastian sedang berbincang dengan saudaranya yang lain. Rendra memperhatian setiap sudut ruangan pesta. Sebuah ruang tamu megah yang dirubah menjadi aula pesta yang mewah dan elegan. Setiap sudut ruangan dihiasi dengan bunga yang cantik dan terdapat meja hidangan panjang disalah satu sudut yang diatasnya telah ditata beberapa jenis minuman dan juga kue. Rendra menikmati pesta sendiri dengan segelas minuman ditangannya sambil memperhatikan tamu undangan yang hadir disana.
Tak lama, seorang pemuda dengan gelas minuman ditangannya datang mendekati Rendra dan menatapanya dengan tatapan sinis. Dia bicara dengan nada mencibir dan sikap yang sombong.
"Lihatlah siapa ini? Ternyata tuan muda kedua dari keluarga Dirga yang sudah lama tidak berada dirumah, kini berdiri disini"
Pemuda itu adalah Fredi, dia putra pertama dari Rian. Dia memiliki adik perempuan yang bernama Pricila.
"Aku berusaha keras menghindarinya agar tidak bertemu langsung, tapi kenapa sekarang dia ada dihadapanku?"
Batin Rendra berkata pada dirinya sendiri mengingat kalau Kenzo juga sudah memperingatkannya. Rendra mengabaikan Fredi dan tetap menikmati minuman ditangannya dengan tenang sambil menikmati alunan musik yang sedang dimainkan.
"Kamu mengabaikanku?!" Tanya Fredi dengan nada kesal
"Sebaiknya kamu biarkan aku sendiri. Aggap saja tidak megenalku seperti biasanya" Rendra menanggapi dengan sikap acuh tak acuh sambil menoleh kearah lain
"Oh, sekarang kamu bisa bicara? Ku kira kamu itu tidak bisa bicara dan hanya bisa menangis di pelukan ibumu. Ternyata setelah lama tidak bertemu, sekarang kamu jadi sedikit lebih berani ya?" Fredi mengejek Rendra dengan nada bicara dan senyum mencibir
"Berhenti menggangguku dan sebaiknya kamu pergi darisini, atau ... aku saja yang pergi darisini?" Jawab Rendra dengan sikap yang acuh tak acuh
"Sombong sekali kamu?! Mentang-mentang sudah jadi pemimpin perusahaan. Kamu berani bersikap seenaknya di depanku. Lagipula, perushaan itu harusnya hanya milik Bastian saja. Kamu sama sekali tidak pantas menerima warisan milik ayah Bastian?" Fredi semakin kesal karena kini Rendra tidak lagi takut padanya
"Kenapa aku tidak pantas? Aku juga darah daging dari keluarga Dirga. Aku juga memiliki hak atas warisan yang ditinggakan papa. Dan aku ini adiknya Bastian. Sudahlah, aku tidak ingin meladeni omong kosongmu!" Rendra berbalik dan pergi meninggalkannya. Namun langkahnya terhenti ketika Fredi menahan pundaknya.
"Mau kemana kamu?! Aku belum selesai bicara!" Ujar Fredi dengan sikap kesal
"Lepaskan tanganmu. Sebaiknya tidak membuat keributan di pesta milik keluargamu sendiri" Rendra menanggapi Fredi dengan sikap yang dingin. Diapun kembali melangkahkan kakinya dan berjalan meninggalkan Fredi tanpa menoleh lagi kebelakang.
"Sialan! Awas saja kamu anak miskin. Darah kotor sepertimu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kami" Gumam Fredi dengan tangan yang menggenggam erat gelas minumannya di tangannya
"Benar-benar menyebalkan! Pesta sekumpulan keluarga yang hanya ingin pamer kekayaan. Aku benci berada di sekitar orang seperti itu"
Rendra menggerutu saat dia berjalan ke balkon. Diapun merogoh ponselnya dari dalam saku jas kemudian dia menghubungi Risha. Dari balkon lantai dua itu terlihat pemandangan sekeliing rumah yang begitu asri. Ada banyak pohon besar yang ditaman di bagian belakang. Disana juga ada kursi dan ayunan yang disediakan untuk bersantai. Rendra membungkukan tubuhnya dan menjadikan pinggiran balkon sebagai penopang tangannya.
Tuut tuut tuut
"Halo" Terdengar suara lembut Risha dari ujung telepon begitu panggilan tersambung
"Halo" Rendra menjawab sapaan Risha dengan sikap yang tenang
"Apa kamu sudah selesai?" Tanya Risha lagi yang terdengar ceria
__ADS_1
"Belum, aku masih menunggu kak Bastian. Hanya saja pestanya membosankan. Rasanya sesak sekali berada disekitar mereka, karena itu aku keluar dan menghubungimu" Rendra bicara dengan suara lembut dan sedikit senyum tersungging dibibirnya
"Apa kamu juga tidak suka berada dikerumunan orang?" Risha terdengar penasaran dengan jawaban yang akan dikatakan oleh Rendra
"Ya, aku tidak terlalu suka berada ditempat banyak orang. Aku lebih suka ketenangan" Rendra menjawab dengan sikap yang tenang
"Benar-benar ya. Kalian berdua ini memang sangat mirip"
"Maksudmu aku dan Kenzo?" Tanya Rendra lagi memastikan
"Ya, pantas saja kalian bisa sangat cocok dan Kenzo bisa membuka hatinya padamu. Rasanya ... selain kami dia tidak pernah bisa dekat dengan orang lain. Bahkan meskipun itu temanku dan Kenzie, dia akan tetap menutup diri dan asyik dengan dunianya sendiri"
"Hah ... kamu tidak tahu betapa kerasnya usahaku untuk bisa dekat dengannya?" Rendra tersenyum mencibir dirinya sendiri yang berusaha keras ketika mendekati Kenzo
Rendra dan Risha sangat asyik berbincang, hingga tanpa Rendra sadari ... seseorang mendekatinya dari belakang dengan berjalan mengendap dan berusaha mencelakai Rendra. Rendra berbalik begitu meyadari ada orang dibelakangnyan namun terlambat orang itu sudah sangat dekat
"Kamu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga ini. Mati saja sana bersama ibumu!"
"Aaah!" Rendra jatuh dari balkon lantai dua setelah seseorang mendorongnya. Tangannya menjulur keatas seakan dia hendak meminta bantuan. Matanya membelalak tajam melihat wajah orang yang mendorongnya
"Ren! ... Ren!..." Risha berkali-kali memanggil Rendra namun sambungan teleponnya terputus karena ponsel Rendra terlempar jauh dan langsung mati. Dia kembali menghubunginya namun tidak berhasil
orang itu tertawa melihat Rendra yang tergeletak dibawah dengan kepala berlumuran darah kemudian pergi meninggalkan balkon dan juga Rendra. Dia tidak sabar kalau ada seseorang yang melihat kejadian itu dari sudut lain
"Ken -zo" Gumam Rendra sebelum dia kehilangan kesadarannya
***
"Ada apa dengan Rendra? Kenapa teleponnya terputus? Kenapa hatiku jadi tidak enak begini ya? Aku harus minta tolong pada siapa?!" Risha terlihat panik setelah sambungan teleponnya dan Rendra terputus
"Bastian! Aku tidak punya nomornya" Gumam Risha dengan panik
"Ah ya, Alan" Risha pun langsung menghubungi Alan begitu dia teringat padanya
Tuut tuut tuut
"Alan, angkat teleponnya ... aku harus menemukan dimana Rendra berada sekarang" Risha bergumam dengan panik ketika Alan tak juga menerima telepon darinya
"Halo"
"Ah, halo Alan. Apa kamu punya nomor telepon Bastian?" Tanya Risha begitu mendengar suara Alan
__ADS_1
"Pak Bastian? Memangnya ada apa?" Bukannya menjawab pertanyaan Risha, Alan malah balik bertanya padanya
"Kumohon jawab saja pertanyaanku!" Teriak Risha yang semakin panik
"Aku akan kirimkan nomornya padamu" Jawab Alan setelah Risha berteriak dengan panik
"Terimakasih" mereka pun mengakhiri panggilan teleponnya
Tring
Tak lama ponsel Risha kembali berbunyi. Kali ini sebuah pesan singkat dari Alan mengenai nomor telepon Bastian
Tuut tuut tuut
"Angkat Bastian! Kenapa tidak diangkat juga?!" Risha berkali-kali menghubungi Bastian. Namun dia sama sekali tidak menjawab
"Aku harus minta tolong pada siapa sekarang?" Pikir Risha setelah berkali-kali menghubungi Bastian namun tidak diangkatnya
"Kenzo. Apa dia bisa membantuku?" Risha pun kini menghubungi Kenzo
Tuut tuut tuut
"Halo Sha"
"Halo Zo. Zo tolong Rendra Zo. Sepertinya dia sedang dalam bahaya. Bagaimana ini Zo. Aku takut terjadi sesuatu padanya" Risha langsung bicara dengan nada panik disertai derai air mata saat bicara pada Kenzo
"Tenang dulu Sha. Apa yang terjadi padamu? Ceritakan pelan-pelan!" Kenzo yang sedang bersama Safira berusaha bersikap tenang
"Ada apa Zo? Apa terjadi sesuatu?" Safira bertanya setelah melihat ekspresi Kenzo yang langsung berubah
"Aku juga tidak tahu" Kenzo menggelengkan kepala sambil mengangkat kedua bahunya
"Sha, trik napas dulu lalu ceritakan apa yang terjadi?" Pinya Kenzo dengan tenang
"Haaah... Tadi aku sedang bicara ditelepon dengan Rendra. Dia masih berada di pesta keluarga Bastian katanya dia bosa jadi dia pergi ke balkon, tapi tidak lama setelah itu, aku dengar seseorang mendekatinya lalu terdengar suara teriakan. Tapi aku tidak tahu itu teriakan siapa karena aku tidak bisa lagi menghubunginya... hiks... hiks... hiks... " Risha menceritakan apa yang terjadi dan sekarang dia bingung
"Kamu sudah hubungi Bastian?" Tanya Kenzo dengan sikap tenang
"Sudah, tapi dia tidak menjawab telepon dariku hiks... hiks... hiks... "
"Kamu tenang dulu, aku juga akan menghubungi Bastian. Tidak perlu khawatir, Rendra pasti akan baik-baik saja. Karena jika terjadi sesuatu pada Rendra, mereka semua tidak akan aku lepaskan"
__ADS_1