Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Sudah Saatnya Kamu Dikenal Sebagai Pemimpin Perusahaan


__ADS_3

Karena sebagian konferensi pers diadakan secara live oleh sebagian wartawan, tentu saja berita mengenai perusahaan Santoso menjadi buah bibir dimana-mana. Apalagi dengan kemunculan perancang software yang asli ternyata masih sangat muda dan berparas tampan.


"Ternyata yang merancang software baru ini adalah seorang pemuda tampan. Aku tidak masalah dengan komputerku yang rusak. Selain mendapatkan ganti rugi, mereka juga akan memperbaiki lagi program softwarenya. Justru aku merasa beruntung"


"Bisa-bisanya software itu diakui oleh perusahaan teknologi? Padahal sebelumnya mereka berniat kerjasama. Itu bisa membuat para programer lain tidak percaya pada perusahaan yang berniat untuk meluncurkan hasil rancangan mereka"


"Perusahaan pak Santoso memang seharusnya bangkrut. Dia tidak dapat dipercaya. Bisa saja dia melakukan hal yang sama pada orang lain"


Yang melakukan demo di depan gedung perusahaan teknologi pak Santoso mulai berkurang sejak konferensi pers. Mereka tidak merasa dirugikan lagi. Mereka justru senang karena mendapatkan ganti rugi dan software yang mereka gunakan juga akan segera di perbaiki oleh Kenzo.


Masalah ini juga sampai ke telinga Ji. Dia langsung memanggil Kenzo keruangannya


"Zo, apa-apaan ini? Kenapa kamu tidak memberitahu nenek kalau kamu memiliki masalah besar seperti ini?" Ji bertanya dengan sorot mata yang tajam dan penuh amarah.


"Nek, aku baik-baik saja. Lagipula masalah ini sudah selesai" Kenzo menjawab dengan sikap yang tenang sambil memainkan globe dihadapannya


"Tetap saja masalah seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Bagaimana bisa kamu membiarkan dia menipumu?" Ji masih tetap kesal meskipun Zo sudah mengatakan kalau dia sudah menyelesaikan semuanya


"Nenek, aku langsung menyelesaikan masalah ini dan perusahaan itu sudah bangkrut karena harus membayar biaya ganti rugi yang cukup tinggi pada banyak orang" Zo kembali menjelaskan permasalahannya


"Lagipula nek, aku sudah dewasa, masalah seperti ini sudah bisa aku atasi sendiri. Nenek kan juga sering mengajariku cara mengatasi masalah kan?"


"Nenek percaya padamu, tapi kamu tidak bisa bermain sendirian tanpa mengajak nenek. Nenek juga bosan hanya mengerjakan masalah kantor saja" Ji menjawab dengan sikap acuh tak acuh


"Tentu saja nenek hanya bisa mengerjakan masalah kantor. Siapa suruh nenek terlalu kejam, jadi tidak ada yang berani macam-macam. Tapi … bukannya itu bagus ya? Jadi tidak ada masalah dengan perusahaan nenek?" Kenzo menanggapi dengan sikap acuh tak acuhnya


"Sudahlah. Yang penting masalah ini sudah selesai dan kamu juga dikenal sebagai programer muda yang handal karena masalah ini" Ji pun menyimpulkan apa yang telah terjadi


"Ya, begitulah. Sekarang aku tidak bisa hidup seperti orang normal. Padahal aku sengaja tidak ingin terlalu jadi perhatian publik" Kenzo bicara dengan sikap acuh tak acuh


"Bukannya kamu sudah mempersiapkan semuanya agar bisa terkenal? Jangan bersikap seakan kamu tidak tahu konsekuensi dari perbuatanmu kemarin! Sudahlah pergi sana, kamu harus siap-siap mengambil alih perusahaan. Kenzie sudah mulai langkahnya dengan perusahaan cabang ibumu dan namanya mulai dikenal sebagai manajer yang kompeten. Sekarang kamu sudah dikenal sebagai programer muda yang handal. Nenek ingin kamu juga mulai dikenal sebagai pemimpin perusahaan" Ji mengungkapkan keinginannya pada Kenzo


"Nenek, jika aku mengambil alih perusahaan sekarang. maka semua orang akan tahu identitasku yang sebenarnya" Kenzo menjelaskan kekhawatirannya


"Itu bukan masalah lagi, toh kamu sudah membuktikan kalau kamu layak memimpin perusahaan kita"

__ADS_1


"Haah... baiklah. Berarti aku sudah tidak bisa bersantai lagi" Gumam Kenzo sambil mengeluh dan beranjak pergi meninggalkan ruangan Ji


"Dasar bocah. Kalian sudah dewasa tapi tetap saja bersikap seperti anak kecil" Gumam Ji membayangkan Kenzo dan Kenzie yang terkadang bersikap seperti anak kecil


***


Ditempat lain, Risha hendak keluar untuk mencari makan siang. Dia pergi sendiri karena Rendra ada rapat dengan perusahaan lain.


"Kamu … Risha kan?" Langkah Risha terhenti di dekat pintu keluar ketika dia berpapasan dengan Bastian


"Benar. Kamu siapa?" Risha menanggapi dengan sikap yang dingin


"Kamu tidak kenal aku? Aku Bastian, kakaknya Rendra" Bastian menjawab Risha dengan senyum antusias


"Oh, aku lupa" Risha menanggapi dengan acuh tak acuh lalu beranjak pergi meninggalkan Bastian


"Eh, hei tunggu!" Bastian mengikuti Risha ke restoran dari belakang.


Tak jauh darisana, Rendra baru turun untuk pergi menemui klien sambil makan siang. Dia melihat Bastian mengikuti Risha


"Pak, kita harus pergi sekarang" Alan mengingatkan Rendra untuk pergi meeting


"Ya, ayo" Rendra dan Alan pun berjalan pergi menuju mobil meskipun matanya tetap menatap sinis pada Risha dan Bastian


"Kenapa kamu mengikutiku?" Tanya Risha pada Bastian dengan nada sinis


"Kamu tidak ada sopan-sopannya ya? Aku ini atasanmu. Harusnya kamu bersikap sedikit sopan padaku" Ujar Bastian dengan senyum dibibirnya.


"Aku tidak harus bersikap sopan padamu. Kamu bukan atasanku, atasanku itu Rendra" jawab Risha dengan tegas


"Aku ini kakaknya Rendra dan juga pemimpin dari Dirga Motors" Bastian bersikeras untuk mendapatkan perhatian dari Risha


"Sudah ku katakan kalau aku tidak peduli. Aku bekerja di Dirga Electronik bukan di Dirga Motors" Risha tetap menanggapi Bastian dengan sikapnya yang acuh tak acuh


"Bukannya sama saja ya? Keduanya adalah perusahaan Dirga. Kurasa aku tetap memiliki wewenang untuk memecatmu" Bastian mengancam Risha dengan senyum manis dibibirnya

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kenapa kamu menggangguku seperti ini?!" Tanya Risha dengan sinis


"Aku hanya ingin makan siang denganmu saja" Bastian tetap menunjukkan senyumnya yang manis


"Tapi maaf kak, sepertinya Risha tidak bisa menemanimu makan siang, karena dia harus menemaniku makan siang" Risha dan Bastian menoleh bersamaan ketika Rendra tiba-tiba ada disana


"Rendra? Kamu sudah selesai meeting?" Risha langsung tersenyum ceria melihat Rendra berdiri dihadapannya


"Ya, baru saja selesai. jadi aku bisa makan siang denganmu" Rendra menjawab dengan sikap yang tenang sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Risha


"Kamu mau makan apa? Mau aku yang pilihkan makanan untukmu?" Bastian masih terkejut melihat sikap Risha pada Rendra yang berbanding terbalik dengan sikap yang dia tunjukkan padanya


"Risha, Bukankah itu terlalu kejam? Kamu bersikap dingin dan sinis padaku. Sedangkan pada Rendra, kamu bersikap sangat manis dan ramah" Tanya Bastian dengan raut wajah kecewa


"Karena dia atasanku dan juga temannya Kenzo. Sedangkan kamu bukan siapa-siapaku, jadi aku tidak harus bersikap baik padamu"


Rendra tersenyum tipis dengan bangga saat mendengar jawaban Risha yang lebih mementingkan dirinya daripada Bastian.


"Lihatlah, bahkan Rendra yang tidak pernah menunjukkan senyum padaku bisa tersenyum karena Risha. Kalian berdua ini memang benar-benar …" Bastian hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Risha dan Bastian


"Kakak, bukannya kamu seharusnya sibuk dengan pekerjaanmu? Kenapa kamu bisa berakhir makan siang direstoran yang jauh dari kantormu?" Tanya Rendra dengan sikapnya yang dingin


"Apa salahnya aku makan siang bersama adikku? Sebagai kakak yang baik aku harus rela jauh-jauh kesini untuk makan siang bersama denganmu"


"Omong kosong" ujar Rendra sinis


"Mengganggu saja!" Risha pun menanggapi dengan sinis


"Aku tidak peduli meskipun kalian keberatan. Aku akan tetap makan siang disini" Bastian tetap tersenyum melihat Rendra dan Risha yang kesal


"Aku tahu pasti berat bagimu melihatku karena aku yang jadi alasan penderitaanmu. Tapi Ren, mulai sekarang aku tidak akan berdiam diri dan menatapmu dari kejauhan. Aku akan selalu mendekat padamu meskipun kamu akan selalu mendorongku menjauh" Pikir Bastian sambil menatap Rendra yang berbincang dengan Risha.


Ditempat lain sekretaris Rendra sedang menggantikannya meeting bersama salah satu klien


"Pak Rendra, bagaimana anda bisa begitu tega padaku? Anda mengorbankan makan siangku dan membuatku terjebak dengan meeting ini agar bisa makan siang bersama pujaan hatimu. Sepertinya aku harus benar-benar bersiap karena saat kalian benar-benar pacaran aku akan kehilangan kebebasanku. Aku harus selalu siap menggantikanmu seperti sekarang ini huhuhu" Pikir Alan yang terjebak dengan meeting bersama klien

__ADS_1


__ADS_2