Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Dia Benar-Benar Berani Mengganggu Istriku


__ADS_3

Drrt drrt drrt


"Halo, ada apa?" Kenzo menerima telepon dari Kenzie saat dia sedang memainkan laptopnya sambil menuggu Safira di lokasi pemotretannya. Dia sedang berusaha mencari CCTV di sekitar lokasi pemotretan dan meretasnya.


"Zo, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Aku benar-benar ragu karena hal ini" Kenzie bicara dengan cepat dan terdengar panik.


"Ceritakan padaku pelan-palan, apa yang membuatmu ragu sampai langsung menghubungiku seperti ini?" Kenzo tetap bersikap tenang sambil memainkan laptopnya


"Itu ... aku memutuskan kontrak kerjasama yang sama sekali tidak menguntungkan perusahaan, tapi dia itu merupakan klien lama kita. Jika kamu menemukan kontrak yang tidak sesuai seperti itu, apa yang akan kamu lakukan?" Kenzie terdengar ragu-ragu saat dia bertanya pada Kenzo.


"Haah ... kamu menghubungiku hanya untuk masalah sepele seperti itu? Untuk apa kamu belajar bisnis dari usia remaja jika kamu masih saja ragu dengan keputusan yang kamu ambil?" Kenzo menghentikan gerakan tangannya dan menghela napas panjang sebelum menanggapi Kenzie dengan sikap acuh tak acuh dan nada bicaranya yang dingin.


"Aku hanya penasaran saja, jika kamu jadi aku ... apa yang akan kamu lakukan?" Kenzie bicara dengan nada yang rendah dan ragu. Dia benar-benar ingin mendapatkan ketenangan dari jawaban Kenzo.


"Tentu saja aku juga akan menolak kerjasama tidak menguntungkan itu. Memangnya apa gunanya berbisnis tanpa ada keuntungan?" ujar Kenzo dengan sikap yang dingin.


"Oh baguslah. Jadi apa yang aku lakukan tidak salah, kan?" Kenzie kembali terdengar ceria setelah mendengar jawaban Kenzo.


"Bukannya kamu sudah sering belajar cara berbisnis dan menyelesaikan masalah? Seharusnya kamu tidak ragu dalam mengambil tindakan apapun. Ingat, Zie. Kamu akan jadi pemimpin perusahaan dan semua karyawan bergantung pada keputusanmu. Jadi kamu harus mengambil keputusan yang memiliki efek jangka panjang. Jangan hanya memikirkan keuntungan sesaat saja. Sekarang kamu menolak kerja sama itu, pikirkan lagi. Jika kamu menerimanya maka itu akan jadi proyek yang terus berkelanjutan dengan persentase keuntungan yang sama karena tidak mungkin dia akan menaikan tawaran harganya, justru kamu bisa saja mengalami kerugian dimasa depan karena biaya pengeluaran yang meningkat. Jadi menurutmu ... apa keputusan itu benar atau salah?" Kenzo bertanya pada Kenzie untuk meyakinkan dia kalau keputusannya benar.


"Kamu benar. Aku memiliki banyak karyawan, jika aku hanya asal menerima tawaran tanpa mempertimbangkan keuntungan ... maka karyawanku yang akan sengsara karena kerja keras mereka sia-sia sementara hasil yang didapatkan sama sekali tidak sesuai. Dan lagi ... akan lebih banyak perusahaan yang justru menyepelekan perusahaan kita"  Kenzie bicara dengan nada yang sedikit merenung setelah mendengar apa yang Kenzo jelaskan padanya


"Haah ... cukup melegakan setelah mendengar pendapat si gila kerja. O iya, apa yang kamu lakukan? Aku tidak akan mengganggu waktumu lagi" ujar Kenzie sambil menghela napas lega setelah mendengar jawaban Kenzo.


"Aku sedang menjadi pengawal pribadi istriku" jawab Kenzo dengan acuh tak acuh.


"Hah? pengawal pribadi? Memangnya asisten Safira kemana? Kenapa kamu tidak menempatkan pengawal pribadi sungguhan saja disampingnya?" Kenzie terdengar terkejut dan bingung dengan apa yang dikatakan Kenzo


"Tiara terserempet mobil tadi pagi, jadi aku yang menemaninya melakukan photoshoot. Untuk pengawal pribadi ... Safira tidak menginginkan itu" Kenzo menjawab dengan singkat


"Owh ... jadi begitu. Ya sudahlah lakukan pekerjaanmu dengan baik. Aku tidak akan mengganggu kamu lagi. Sampai jumpa" Kenzie langsung menutup teleponnya begitu saja

__ADS_1


"Orang aneh" gumam Kenzo setelah Kenzie menutup teleponnya


***


Tring


Sebuah pesan diterima Safira ketika dia masuk keruang ganti


"Sayang, kamu bilang Catherin tidak melakukan pemotretan bersamamu hari ini, tapi kenapa dia ada dilokasi yang sama denganmu? Sepertinya dia merencanakan sesuatu, kamu harus lebih waspada"


Safira mengernyitkan dahi saat membaca pesan dari Kenzo


"Catherin ada disini? Apa yang dia lakukan?" pikir Safira setelah membaca pesannya


"Mungkin dia ada urusan disini. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan berhati-hati" balas Safira pada Kenzo. Diapun langsung bersiap untuk memulai photoshootnya yang pertama


"Safira, kamu baru tiba? Ini untukmu, kamu pasti kelelahan karena perjalanan kemari cukup jauh, kan?". Seseorang datang mendekati Safira dengan sebotol air mineral ditangannya.


"A-aku baru bergabung untuk membantu disini sementara waktu. Minumlah ini, aku harus membagikan untuk yang lain juga". Pemuda itu terus mendesak Safira untuk meminum air yang dia berikan. Dia terlihat gugup dan panik saat Safira menanyakan identitasnya.


Safira terdiam dengan mata mendelik tajam memperhatikan gelagat pemuda itu yang terlihat semakin mencurigakan. Diapun mendekatinya dan berbisik padanya.


"Aku tidak kenal kamu tapi aku tahu beberapa kru yang memang bagian dari photografer ini. Jika kamu memiliki niat buruk sebaiknya urungkan niatmu, karena kamu tidak akan bisa lepas dariku nantinya" Safira memperingatkan pemuda itu dengan sikap yang tenang seakan tidak terjadi apapun. Pemuda itu mematung dengan wajah pucat setelah mendengar ucapan Safira.


Dari salah satu sudut, Catherin sedang memperhatikan Safira sambil menggigit ujung kukunya sendiri karena gugup.


"Kenapa dia tidak langsung meminumnya? Aku tahu kalau dia tidak akan pernah minum minuman yang diberikan orang lain selain minuman yang diberikan asistennya. Tapi sekarang asistennya tidak ada, apa dia juga tidak akan makan dan minum apapun selama photoshoot berlangsung?" gumam Catherin dengan panik.


"Oh, dia meminumnya. Baguslah, sekarang tinggal kita tunggu saja sampai dia kehilangan kesadarannya". Wajah Catherin langsung berseri ketika melihat Safira minum air mineral. Dia terlihat sangat bahagia dan langsung menatap pemuda itu untuk bersiap membawa Safira pergi. Catherin pun meraih ponsel di dalam tasnya untuk menghubungi Steve.


Tuut tuut tuut

__ADS_1


"Halo, Pak Steve" Catherin langsung menyapa Steve begitu teleponnya tersambung


"Ya, Nona, bagaimana rencanamu? Apa ada masalah?" tanya Steve dengan senyum tipis dibibirnya


"Semua berjalan lancar dan saya akan segera mengirimkan foto dan videonya pada anda. Anda tinggal tunggu saja" Catherin sangat percaya diri saat dia bicara pada Steve


"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya. Aku sudah tidak sabar melihat kesombongan Kenzo runtuh seketika. Ha ha ha ..." ujar Steve yang sudah bahagia hanya dengan membayangkan kalau Kenzo akan jatuh dan hancur ketika sesuatu terjadi pada Safira.


"Kalau begitu, saya akan segera membawanya agar anda bisa mendapatkan kabar baik selanjutnya"


"Baiklah" Steve pun menutup telepon dari Catherin dan tersenyum cerah memandangi layar ponselnya yang telah mati


"Kenzo Osterin ... aku sudah tidak sabar melihat wajah angkuhmu menunduk kebawah. melihat harga dirimu yang tinggi itu jatuh hingga ke tanah. Itu akan sangat memuaskan" gumam Steve dengan seringai licik dibibirnya


"Pak, apa tidak masalah jika anda melakukan ini? Anda sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan pak Kenzo. Saya khawatir jika ini akan berdampak  pada kerjasama Anda nantinya" ujar asisten Steve mengingatkan dengan suara rendah


"Tidak perlu ikut campur! Kenzo tidak akan tahu jika tidak ada yang membuka mulut. Jangan biarkan dia tahu kalau kita terlibat. Mengerti?!" wajah Steve langsung berubah serius dengan nada bicara yang dingin dan tegas


"Saya mengerti, Pak"


***


Safira sudah mulai kehilangan kesadarannya. Tidak ada yang berpikir kalau terjadi sesuatu padanya. Para kru hanya mengira kalau Safira kelelahan dan masih belum terlalu stabil setelah sakitnya beberapa waktu lalu, jadi mereka membiarkan Safira tertidur. Saat semua sedang sibuk dengan model lain, pemuda yang memberikan minuman pada Safira membawanya pergi menuju mobil.


"Cepat cepat, jangan sampai ada yang curiga" Catherin bicara dengan suara pelan pada pemuda itu agar tidak ada yang menyadarinya


"Ini bayaranmu. Ingat untuk tutup mulut apapun yang terjadi" Catherin memberikan uang dalam amplop coklat pada pemuda itu sambil berbisik mengancamnya setelah pemuda itu memasukan Safira ke dalam mobil miliknya.


"Tapi Nona ..."


"Tidak perlu banyak bicara. Anggap saja tidak terjadi apapun dan kamu tidak mengenalku.. Mengerti? Sudah. Pergi sana" Catherin langsung meminta pemuda itu pergi sambil menoleh kesana kemari karena khawatir ada yang mencurigainya ketika membawa Safira. Setelah dirasa aman, diapun membawa Safira pergi dari lokasi

__ADS_1


"Waaah ... dia benar-benar berani mengganggu istriku"


__ADS_2