Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Chapter 131 (Pindahnya Risha)


__ADS_3

Wajah Safira langsung berubah merah mendengar jawaban yang Kenzo berikan pada Ed


"Memangnya siapa yang mau jadi pasangan masa depanmu?" Jawab Safira sambil memalingkan wajah karena malu


"Memangnya ada lagi yang mau menjadi pasanganmu selain aku?" Kenzo bertanya dengan sikap yang dingin dan kedua alis diangkat bersamaan


"Kamu pikir tidak ada yang mau denganku? Huh" Safira menatap Kenzo saat bicara kemudian memalingkan wajahmya lagi karena kesal pada Kenzo


"Sepertinya begitu. Karena yang aku tahu tidak ada pria yang mendekatimu" Kenzo tersenyum menggoda Safira yang kini semakin kesal padanya


Kakek dan nenek Safira hanya tersenyum melihat interaksi Zo dan cucunya. Begitupun dengan Ji dan Ed yang hanya bisa menertawakan cucunya yang selalu bersikap dingin itu


"Sudah-sudah, bagaimana kalau kalian sekalian makan malam disini? Nenek akan minta pembantu menyiapkan makan malam" Ujar Nenek safira menengahi Kenzo dan Safira


"Tentu, kami tidak akan menolak tawaran bu Galuh. Suatu kehormatan untuk kami" Mereka pun menikmati makan malam bersama dirumah keluarga Reitama sambil berbincang mengenai banyak hal. Meskipun selama makan malam Safira masih terlihat kesal pada Kenzo


***


Hari ini Kenzie mengantar Risha pindah ke tempat barunya, sekaligus melihat perusahaan tempat dia akan bekerja nanti.


"Sha, kamu sudah membawa semuanya? Tidak ada yang tertinggal kan?" Tanya Kenzie menanyakan barang bawaan Risha


"Zie, kita ini sudah setengah perjalanan, kenapa kamu baru menanyakannya sekarang? Itu percuma saja. Lagipula aku bisa langsung membelinya jika memang ada sesuatu yang aku perlukan" Jawab Risha dengan manja dan santai


"Aku hanya takut kamu meninggalkan sesuatu saja, karena itu aku menanyakannya" Kenzie membela diri dengan senyum manis dibibirnya


"Ya, terimakasih atas perhatiannya. O iya, kapan kamu akan masuk keperusahaan? Kamu memilih perusahaan mana?" Risha mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan pekerjaan Kenzie


"Hmn ... kakek buyut memintaku mulai belajar dengan cabang perusahaan Kusuma. Aku akan mulai dengan jabatan sebagai manajer produksi" Kenzie menjelaskan pada Risha dengan raut wajah malas


"Ada apa dengan ekspresimu itu?" Risha mengernyitkan dahi heran kemudian tersenyum mencibir ekspresi Kenzie


"Aku ingin masuk perusahaan papi dan mendapatkan ketenangan. Jika aku berada diperusahaan mami … aku bisa membayangkan bagaimana jika bertemu dengan mami. Kira-kira aku bisa selamat atau tidak ya?"


"Saat seperti ini kamu malah bercanda? Bukannya kamu dibagian cabang? Mana mungkin bisa bertemu dengan tante Cheva?"


"Siapa bilang? Kamu seperti tidak tahu mami saja" Kenzie menjawab dengan wajah murung


"Benar juga. Tante Cheva bisa melakukan apa saja, bahkan menipu orang. Tapi yang paling aku khawatirkan adalah bagaimana kalau dia tahu kamu dekat dengan sorang gadis? Dia akan mengejarmu atau mengejar gadismu ya?" Risha tersenyum menggoda Kenzie yang kini memasang wajah cemberut

__ADS_1


"Jangan membuatku merinding. Kita sudah sampai di rumah barumu. Ayo turun!" Mereka terus berbincang selama perjalanan hingga tanpa terasa mereka telah tiba di tempat tujuan mereka


"Bukankah ini terlalu besar untukku yang hanya tinggal sendiri?" Risha sangat terkejut melihat bangunan megah yang ada dihadapannya.


"Kamu kan yang ingin rumah dengan 1 lantai saja" Kenzie menjawab dengan tenang dan senyum tipis menertawakan Risha


"Tapi tidak semegah ini Zie. Percuma saja bangunan satu lantai dan lagi bagaimana orang akan percaya kalau aku berasal dari kalangan biasa?" Risha terihat kesal dengan rumah yang disiapkan oleh Diaz


"Kamu baru tahu ya, kalau papimu dan mamiku itu sama saja? Mereka terlalu berlebihan dalam banyak hal" Risha langsung mengangguk dengan cepat menyetujui pendapat Kenzie


"Aku harus hubungi papi sekarang juga!" Risha pun merogoh ponsel disakunya dan menghubungi Diaz


Tuut tuut tuut


Cukup lama Risha menunggu sampai Diaz menerima telepon darinya. Risha dan Kenzie berjalan masuk kedalam rumah itu sambil terus menghubungi Diaz hingga dia berhenti di depan pintu dan berbicara dengan Diaz


"Halo, sayang" Terdengar suara Diaz yang lembut dari ujung telepon


"Halo papi, kenapa papi menyiapkan rumah yang sangat besar untukku? Sudah kubilang kan siapkan saja rumah yang berukuran sedang. Aku hanya tinggal sendiri, tapi papi menyiapkan rumah yang sangat besar. Seperti aku akan tinggal dengan tetangga satu kampung saja" Risha langsung bicara pada Diaz mengenai apa yang membuatnya kesal


"Siapa bilang kalau kamu akan tinggal dirumah itu sendirian saja?" Tanya Diaz dengan senyum bangga


"Tentu saja papi sudah menyiapkan beberapa pembantu dan pengawal" Jawab Diaz dengan senyum lembut dibibirnya


"Apa?" Risha sangat terkejut dan saat itu pun pintu rumah besar itu terbuka


"Selamat datang nona" Seorang wanita paruh baya menyambut Risha dan Kenzie, namun dibelakangnya ada 2 orang lagi pembantu wanita, 2 orang pembantu pria dan 2 orang pria berseragam satpam


"Papi, kenapa papi mengirimkan banyak membantu?!" Tanya Risha dengan nada kesal. Kenzie hanya tersenyum melihat ekspresi terkejut Risha melihat 7 orang yang akan menemaninya dirumah itu


"Tarik kembali pembantu yang papi sediakan dan siapkan aku rumah yang lebih kecil! Tidak. Aku akan mencari rumah sendiri" Ujar Risha yang langsung menutup teleponnya dengan Diaz karena kesal


"Sepertinya kamu gagal jadi orang biasa? Hahaha" Kenzie terbahak mengejek Risha


"Diam kamu! Temani aku mencari rumah sewaan! Ayo!"


"Eeh tunggu!" Risha langsung menarik tangan Kenzie daei rumah besar itu tanpa membiarkannya memberi jawaban lebih dulu.


Mereka pun mulai berkendara meninggalkan rumah yang disediakan Diaz dan menuju agen properti untuk mencari rumah yang akan ditempati Risha.

__ADS_1


"Rumah seperti apa yang anda inginkan nona?" Tanya salah satu agen properti yang Risha dan Kenzie temui


"Saya ingin menyewa rumah yang dekat dengan kantor saya bekerja" Jawan Risha menerangkan keinginannya


"Ehm... disekitar sana ada sebuah apartemen yang dikatakan. Fasilitasnya lengkap dan sebagian kamar juga sudah teriak, jadi anda tidak akan merasa kesepian" Agen properti itu menjelaskan apatemen sekitar kantor Risha


"Bagaimana dengan keamanannya?" Tanya Kenzie memastikan


"Disana ada bagian keamanan yang menjaga apartemen. Jadi anda tidak perlu khawatir"


"Boleh kita lihat kesana dulu?"


"Tentu saja nona" Risha, Kenzie dan agen properti itupun mulai melangkah pergi menuju apartemen yang dimaksud. Letaknya hanya berjarak sekitar 15 menit dari kantor tempat Risha bekerja nanti


"Ini dia apartemennya" Mereka bertiga masuk ke dalam gedung apartemen yang dituju. Kamar Risha terletak di lantai 3 apartemen itu


"Ini kamar yang saya maksud" Agen membuka pintunya dan mereka pun masuk untuk melihat-lihat bagian dalamnya


"Hemn... lumayan Sha. Bagian dalamnya juga masih bagus dan terawat" Kenzie mengomentari setelah mereka berkeliling didalam apartemen


"Kalau begitu saya akan ambil apartemen ini. Bagaimana dengan pembayarannya?"


"Anda akan sewa atau beli apartemen ini?"


"Ehm... saya akan sewa untuk 1 bulan kedepan. Jika saya merasa nyaman disini, maka saya akan beli apartemen ini"


"Baik, ini kuncinya. Nanti saya akan urus pembayarannya" Agen itu menyerahkan kunci pada Risha


"Saya akan transfer pembayaran bulan ini"


"Baik, permisi" Agen itu meninggalkan Kenzie dan Risha sendiri


"Kamu yakin akan tinggal disini? Meskipun ini apartemen, tapi apartemen sederhana dan sepertinya meskipun ada bagian keamanan, mereka cuma menunggu dibawah saja" Kenzie terlihat khawatir pada Risha


"Tenang saja. Aku bisa jaga diri, dan aku pastikan tidak akan ada yang berani menggangguku. Lagipula, aku tetap membawa senjata milikku" Risha menjawab dengan senyum sambil menunjukkan pistol miliknya


"Baiklah. Aku percaya padamu. Tapi ingat jangan terlalu memakai hati"


"Aku mengerti"

__ADS_1


__ADS_2