
"Kakak, apa yang sedang kamu lakukan?" Pricilla bertanya pada Fredi yang sedang bersantai sambil bersenandung dikamarnya. Dia terlihat sangat senang dengan senyum yang berseri. Dia tiduran di sebuah kursi panjang dengan menggunakan tangan sebagai bantal dan kaki yang diangkat keatas dan saling disilangkan
"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa" Fredi tersenyum dan menjawab sang adik dengan sinis
"Apa aku langsung bilang saja? Bagaimana mengatakannya ya? Kakak pasti akan marah besar jika aku tahu apa yang telah dia lakukan tadi" Pricila terdiam dan tenggelam dengan pikirannya sendiri mengenai kegilaan Fredi
"Kenapa kamu berdiri saja disana? Apa ada yang ingin kamu bicarakan denganku? Kamu tidak hanya ingin menanyakan apa yang sedang aku lakukan kan?" Fredi bersikap arogan. Dia bertanya dengan senyum mencibir tanpa menatap mata Pricilla
"Aku ... kenapa kakak melakukan itu?"
Fredi yang sebelumnya mengabaikan Pricila, kini menatap ke arahnya
"Apa maksudmu? Melakukan apa?" Fredi bertanya dengan tenang dan dia menatap sang adik dengan senyum dibibirnya
"Aku melihat ... kakak mendorong orang itu" Pricilla bicara dengan sedikit ragu, tangannya memegang erat bajunya sendiri. Dia menundukkan kepala karena tidak berani menatap wajah sang kakak.
Fredi langsung berdiri dan mendekati sang adik
"Apa saja yang kamu lihat?!" Dia berdiri tepat di depannya, sebelah tangannya memegang dagu Pricilla dengan keras hingga dia meringis dan menatap wajah sang kakak dengan terpaksa.
"Aduh, lepaskan kak. Sakiit" Pricilla meringis kesakitan dan berusaha melepaskan tangan sang kakak darinya
"Katakan apa saja yang kamu lihat?!" Fredi terlihat marah. Sorot matanya menatap pricilla dengan tajam, ia bahkan menyakiti Pricilla dengan memegang dagunya sangat keras dan membuatnya menatap wajahnya yang lebih tinggi dari sang adik
"Aku .... melihat kakak mendorongnya saat dia sedang berada di balkon" Pricilla menjawab dengan menahan sakit pada dagunya
"Kamu sudah ceritakan ini pada siapa saja?!" Fredi terus bertanya tanpa melepaskan pegangan tangannya di dagu adiknya
"Aku ... tidak mengatakan ini pada siapapun. Aku hanya menceritakan ini pada kakak saja"
Ahh
"Bagus. Jangan ceritakan ini pada siapapun. Anggap saja kamu tidak melihat apa-apa. mengerti, adikku sayang?" Fredi melepaskan tangannya dari dagu pricilla dan tersenyum puas sambil berbalik menjauhi sang adik dan kembali ke kursinya
Pricilla yang masih gemetar ketakutan pun berbalik dan hendak pergi meninggalkan sang kakak, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara sang kakak memanggilnya lagi
__ADS_1
"Tunggu! Jangan sampai ada orang lain yang tahu, jika tidak ... aku tidak akan segan untuk menyakitimu"
Pricilla melanjutkan langkahnya dengan cepat tanpe memberikan tanggapan apapun pada Fredi. Tangannya gemetar dan jantungnya seakan berdegup kencang, tak lama kakinya pun rerasa lemas. Pricilla tak memiliki tenaga dan langsung terduduk di lantai ketika sudah menjauh dari kamar Fredi
"Apa itu? Jadi kak Fredi benar-benar sengaja mencelakainya? Aku tahu kalau keluarga kami memamg tidak menyukai Rendra, tapi aku tidak menyangka kalau kak Fredi senekat itu untuk melenyapkan nyawanya"
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
***
Dinegara F, Kenzo terlihat gelisah setelah dia selesai menghubungi Alan. Dia masih berada dirumah sakit bersama Safira untuk mengetahui hasil tes Safira sebelumnya.
"Zo, apa Risha dan Kenzie sudah diberitahu mengenai kondisi Rendra?" Safira bertanya dengan nada yang lembut dan sikap yang tenang
"Aku bingung bagaimana cara memberitahu Risha. Dia pasti akan sangat terkejut dan sedih mendengar Rendra sedang dalam kondisi yang buruk" Kenzo bicara dengan raut wajah sedih dan sikap yang dingin
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi kamu tetap harus memberitahu dia. Bagaimana kalau kamu beritahu sekarang sebelum kamu pergi kesana?" Safira menyarankan dengan senyum lembut dibibirnya
"Baiklah, aku akan menghubungi mereka sekarang" Kenzo merogoh ponsel disakunya untuk menghubungi Risha
Safira menganggukkan kepala disertai senyum menanggapi ucapan Kenzo.
"Halo Zo. Bagaimana? Apa kamu sudah mendapat kabar mengenai Rendra? Apa dia baik-baik saja? Tidak terjadi sesuatu padanya kan?"
Kenzo tidak perlu menunggu lama sampai Risha menerima telepon darinya dan langsung melontarkan beberapa pertanyaan sekaligus
"Tenanglah dulu. Kamu sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk bicara" Kenzo menanggapi Risha dengan nada yang dingin. Dia memejamkan mata dan menggaruk sedikit dahinya karena sikap Risha
"Baiklah,, aku akan mendengarkanmu" Risha pun tenang dan membiarkan Kenzo menjelaskan apa yang terjadi
"Saat Rendra sedang berada dipesta … dia jatuh dari balkon"
"Apa katamu? Dia jatuh dari balkon? Bagaimana bisa? Dimana dia sekarang? Aku akan pergi mengunjunginya" Risha sangat terkejut. Air matanya pun perlahan mengalir tanpa henti
"Tenanglah Sha. Rendra sekarang dirumah sakit. Ada Alan disana yang menunggunya. Kamu bisa pergi kesana menemani dia. Aku juga akan bersiap pergi kesana. Mungkin aku baru akan tiba pada pagi hari nanti" Kenzo menjelaskan dengan sikap yang tenang. Tubuhnya bersandar pada sandaran kursi, seakan dia ingin menenangkan diri
__ADS_1
"Baik Zo. berikan alamatnya padaku sekarang dan aku akan langsung bergegas" Risha bicara pada Kenzo sambil bersiap untuk pergi kerumah sakit
"Ya … aku akan kirimkan alamatnya. Sampai jumpa"
"Sampai jumpa Zo. Hati-hati dalam perjalananmu"
"Hmn …"
Kenzo dan Risha pun mengakhiri pangilan telepon diantara mereka
"Fira, apa hasil pemeriksaannya masih lama? Kita sudah setengah hari disini dan belum ada kabar apapun dari dokter"
Kenzo beralih bicara pada Safira yang sedang duduk disampingnya sambil menikmati teh yang telah disiapkan diruang tunggu khusus
"Aku tidak tahu apa yang mereka bahas. Katanya mereka ingin membicarakannya dulu sebelum mengatakannya padaku. Zo, sebaiknya kamu pulang duluan dan bersiap pergi ke tempat Rendra. Aku tahu kalau kamu juga sangat khawatir padanya"
Kenzo mencondongkan tubuhnya, menjadikan kaki sebagai penopang tangan dan juga tubuhnya
"Safira, aku sudah lama mengenal Rendra. Sejak aku duduk dibangku SMA dan menyelamatkannya .... sudah berkali-kali aku menolongnya. Ini bukan kali pertama dia menghadapi maut, tapi ... entah kenapa, aku tidak bisa melihat dia lagi-lagi terbaring tak berdaya. Ku kira setelah kematian ibu tirinya ... dia tidak akan mengalami hal itu lagi, ternyata aku salah. Aku memang sudah mencabut akar dari dari masa lalu Rendra, tapi aku lupa kalau masih ada akar yang juga harus aku lenyapkan agar tidak menggaggu lagi dimasa depan. Orang-orang yang hidup seperti parasit. Yang mempertahankan hidupnya sendiri dengan menghancurkan hidup orang lain"
Kenzo bicara dengan sikap tenang. Namun dari sorot matanya, dapat terlihat kalau Kenzo sedih dan juga marah dengan apa yang dialami sahabat baiknya itu. Kenzo selalu berusaha untuk melindungi Rendra ahar tidak disakiti. Bahkan dia yang meminta pada ayah Randra untuk mengirimkannya kuliah diluar negri. Namun siapa sangka kalau Rendra justru celaka setelah memegang kendali perusahaan yang diwariskan sang ayah padanya
"Zo, bukankah ada kamu? Selama ini kamu yang selalu berada disamping Rendra dan berdiri paling depan untuk melindunginya. Jadi kali ini, kamu juga pasti bisa melindunginya"
Safira bicara dengan senyum penuh keyakinan pada Kenzo
"Kalau begitu, aku akan pulang dan bersiap untuk pergi. Aku akan meminta mami kemari dan menemanimu"
"Eeeh tidak perlu. Aku bisa menunggu sendiri an saat pulang nanti, aku bisa menghubungi Tiara agar dia menjemputku"
Safira dengan cepat menggelengkan kepala dan juga menggerakan tangannya dengan cepat untuk menolak tawaran Kenzo
"Tidak bisa. Jika kamu menolak mami untuk menemanimu disini, maka aku akan menyediakan pengawal untukmu" Kenzo bicara dengan serius
"Haah … baiklah. Memang tidak ada yang bisa menolakmu"
__ADS_1
Safira pun hanya bisa menghela napas pasrah dengan apa yang dikatakan Kenzo
"Tentu saja, Kenzo Osterin Anggara7 tidak menerima penolakan apapun"