Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kalian Seperti Tikus Dan Kucing Ketika Dalam Situasi Normal


__ADS_3

Keesokan harinya terlihat seorang gadis cantik menyusuri jalan disore hari yang sepi. Dia sepertinya baru pulang dari rumah temannya


"Hai nona cantik. Apa kami boleh mengantarmu pulang?" Dua orang pemuda yang sepertinya preman berusaha menggoda gadis yang bernama Hasna itu, namun dia mengabaikannya dan tetap melangkahkan kakinya


"Gadis manis, tidak oleh sombong-sombong. Nanti tidak ada pria yang suka. Daripada kamu cemberut begitu, lebih baik temani kami disini saja!" Ujar pria lainnya yang mengikuti Hasna dari belakang


"Jangan menggangguku! Aku harus cepat pulang" Hasna menjawab dengan suara yang terdengar gemetar


"Ayolah, tidak perlu sok jual mahal begitu. Disini dulu saja dengan kami" Pemuda itu bicara sambil tertawa dengan temannya. Mereka sepertinya mabuk karena tercium bau alkohol yang menyengat dari mulut mereka


"Aku tidak mau. Lepaskan tanganku!" Hasna terus meronta, dia berusaha keras melepaskan tangannya yang dipegang salah satu pria


"Ayolah, kami hanya ingin mnegajakmu bersenang-senang saja. Tidak perlu panik begitu" Kedua pria itu bergantian bicara dan menggoda Hasna


"Dari pakaian dan semua yang kamu kenakan ... sepertinya kamu anak orang kaya. Kamu juga cantik, jadi kami harus memperlakukanmu dengan baik. Hahaha"


"Lepaskan! Tolong ... tolooong!" Hasna semakin panik. Dia terus berteriak meminta pertolongan dari siapapun. Dan secara kebetulan ada seorang pemuda yang melintas disana


"Lepaskan gadis itu!" Pemuda itu dengan beraninya berusaha membela Hasna. Tidak ada keraguan dari matanya


"Tolong aku!" Hasna kembali berteriak meminta tolong pada pemuda itu dengan wajah takut dan sedih


"Tidak perlu ikut campur! Sebaiknya kamu pergi darisini!" Ujar salah satu preman pada si pemuda itu


"Baik, aku akan pergi. Tapi dengan gadis itu, aku tidak akan pergi sebelum kalian melepaskan gadis itu" Ujar pemuda itu dengan sikap yang sangat tenang


"Sombong sekali kamu! Kami tidak akan melepaskan gaids ini begitu saja. Tapi jika kamu benar-benar menginginkan gadis ini, maka kamu harus mengalahkan kami terlebih dahulu" Ujar pemuda satunya lagi


"Jika memang itu yang kalian inginkan, maka aku tidak punya pilihan lain!" Pemuda itu menjawab dengan sikap tenang dan senyum mencibir


"Dasar kurang ajar!"

__ADS_1


Bag bug bag bug


Mereka mulai berkelahi, meskipun kedua pemuda brandalan itu sempoyongan karena mabuk, sehingga tidak perlu waktu lama untuk mengalahkannya hingga mereka berdua lari dengan terhuyung-huyung


"Kamu tidak papa?" Tanya pemuda yang menolong Hasna


"Ya, aku baik-baik saja. Terimakasih. Tapi pipimu jadi terluka, maafkan aku" Hasna terlihat merasa bersalah karena membuat si pria terkena masalah


"Ini hanya luka kecil. O iya, namaku Johan" Si pria memperkenalkan diri sambil mengulurkan sebelah tangan disertai senyum ramah dibibirnya


"Namaku Hasna" Hasna pun menyambut uluran tangan Johan dengan tersipu malu


"Kamu mau kemana? Biar aku mengantarmu! Bahaya kalau seorang gadis cantik jalan sendirian di tempat yang sepi"


"Aku mau pulang, dan mobilku di parkir di sebelah sana" Hasna menunjuk pada mobilnya yang terparkir cukup jauh dari tempat dia sekarang


"Kalau begitu aku akan mengantarmu kesana. Aku khawatir jika kedua preman itu kembali lagi kemari untuk mengganggumu" Hasna mengangguk setuju dengan tawaran yang diberikan Johan padanya. Mereka pun berjalan beriringan sambil berbincang santai hingga ke mobil Hasna


"Emmm ... kalau begitu berikan aku nomor teleponmu, aku hanya ingin lebih mengenalmu" Hasna tersipu malu mendengar jawaban Johan yang menggodanya. Diapun akhirnya memberikan nomor teleponnya


"Terimakasih. Aku akan menghubungimu nanti. Hati-hati di jalan" Johan bicara sambil memperhatikan nomor telepon yang diberikan Hasna padanya


"Ya, sekali lagi terimkasih. Sampai jumpa" Hasna mulai mengendarai mobilnya meninggalkan Johan yang masih terus menatap ke arahnya. Setelah Hasna mulai menjauh, Johan pun merogoh ponsel di sakunya dan menghubungi seseorang


Tuut tuut tuut


"Halo pak.. Rencana kita berhasil. Aku sudah berhasil mendekatinya" Ujar Johan memberitahu orang di balik teleponnya


"Kerja bagus. Aku akan memberikan bayarann lebih jika kamu berhasil melaksanakan rencana kita dengan mulus" Ujar seseorang dari ujung telepon


"Baik pak. Aku mengerti. Terimakasih banyak" Johan pun menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban

__ADS_1


***


"Siapa yang kamu hubungi? Sepertinya Kamu sedang senang sekarang?" Diaz bertanya pada Radit tersenyum setelah menerima panggilan telepon


"Bukannya kalian memintaku mendekati Hasna? Aku tidak ingin turun tangan sendiri, jadi aku meminta bantuan orang lain untuk mendekatinya. Kurasa rencana awalku berjalan sesuai rencana" Radit Menjawab dengan senyum manis dibibirnya


"Jadi, kamu mengerti dengan yang kami maksud?" Diaz bertanya dengan senyum tipis yang manis


"Ya, aku mengerti. Aku akan membuat dia menderita" Radit sedikit menyunggingkan senyum menyeringai di wajah tampannya


"Bagus. Jangan terlalu lama ya, kita akan buat keluarga Surendra ditimpa kemalangan secara bertubi-tubi" Cheva ikut bicara dengan senyum yang terlihat penuh arti


"Maksud kak Cheva apa?" Radit terlihat bingung dengan apa yang dikatakan Cheva. Dia memicingkan mata dengan dahi berkerut


"Saat ini mereka sedang tenang karena saham perusahaan mereka masih stabil. Saat kamu menyelesaikan urusan dengan Hasna, maka kami akan kembali mengusik pinjaman mereka dan juga Pras yang ada dirumah sakit" Cheva menjawab dengan nada yang tenang di sertai senyum. Begitu pun dengan Diaz, dia tersenyum dengan sorot mata yang tidak bisa ditebak


"Kalian terlalu lamban. Ini sudah cukup lama sejak kematian Lea" Yudha yang sejak tadi mendengarkan ikut berkomentar dengan apa yang dilakukan cucu-cucunya


"Kakek bersabarlah. Kita hanya menunggu Radit selesai dengan masalah Hasna. Setelah itu kami jamin mereka semua akan tinggal dijalanan dengan rasa menyesal yang dalam"


"Benar kek. Kami ingin mereka merasakan kehilangan anak mereka juga. Hanya kehilangan harta saja terlalu ringan untuk mereka. Mereka akan menyesal dan sangat sedih saat tahu kekayaan mereka habis dan anak mereka menderita karena ulah orang tuanya" Diaz dan Cheva saling tersenyum menjelaskan rencana mereka untuk keluarga Surendra


"Bagus kalau begitu. Kakek tidak ingin mereka bebas begitu saja. Hukuman penjara tidak sebanding dengan kematian Lea, Galen dan Rey" Ujar Yudha dengan sorot mata yang tajam penuh kebencian


"Tentu kek, kami tidak akan membiarkan mereka masuk penjara. Penjara adalah pilihan terakhir yang mereka miliki untuk keselamatan hidup mereka, tapi itupun tidak akan membuat mereka nyaman di dalam sana. Mereka akan menderita setiap harinya berada dalam penjara" Radit bicara dengan tenang


"Lalu ... Va, apa kamu sudah mengunjungi Pras lagi? Kamu juga harus mengunjunginya agar mentalnya tidak pulih begitu saja. Kita harus memberikan guncangan untuk memudahkan rencana kita" Diaz bertanya pada Cheva yang menangani masalah Pras


"Tenang saja, dia pasti masih mengingat wajahku setelah kecelakaan itu. Aku akan memperkenalkan diriku lagi nanti saat kalian sudah siap"


"Kakek senang melihat kalian kompak disituasi seperti ini. Meskipun kalian seperti tikus dan kucing ketika dalam situasi normal"

__ADS_1


__ADS_2