Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Tidak Akan Ada Yang Bisa Memecahkan Hubungan Keluarga Kita


__ADS_3

Tok tok tok


"Room service!"


Hasna dan Johan yang masih berada di tempat tidur setelah olahraga malam mereka. Perhatian mereka tertuju pada suara ketukan pintu yang saat ini terdengar dikamar mereka.


"Rook service? Kamu yang pesan ya?" Hasna yang masih berada dipelukan Johan dengan hanya menggunakan sehelai selimut yang menutupinya bertanya dengan sorot mata yang lembut


"Tidak, aku sama sekali tidak memesan layanan kamar. Ini juga pertama kalinya aku mendapatkan layanan kamar ditengah malam begini" Johan pun terlihat bingung saat ada room service yang mengetuk pintu kamarnya


"Kamu tunggu dulu, aku akan melihatnya sebentar!" Johan melepaskan pelukannya pada Hasna dan meraih jubah mandi yang ada di dekatnya. Kemudian dia beranjak kearah pintu untuk memeriksa layanan kamar yang ada di depan pintunya


Ceklek


Perlahan Johan membuka pintu untuk melihat layanan kamar yang diantarkan, namun dia cukup terkejut begitu melihat kilatan lampu kamera mengarah padanya


Jepret Jepret


Cahaya dari kamera membuat mata Johan silau sehingga dia menutup mata dengan tangannya. Mereka berkerumun dan mendorong Johan hingga semua wartawan masuk ke dalam kamar


"Kami dengar putri pak Adnan ada disini? Benarkah itu?" seorang wartawan langsung bertanya pada Johan yang hanya mengenakan celana panjang saja.


"Siapa maksud kalian? Kalian pasti salah orang. Ini kamarku dan juga pacarku" Adnan berusaha mengalihkan perhatian para wartawan dengan suara sedikit meninggi. Tentu saja agar Hasna bisa mendengar semuanya


"Johan, layanan kamar apa? Kenapa berisik sekali?" Hasna pun keluar dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya


"Itu Hasna!"


Jepret jepret


Perhatian semua wartawan tertuju pada gadis cantik yang kini berdiri dibelakang Johan. Mereka pun terus memotret pasangan muda itu

__ADS_1


"Nona Hasna, sejak kapan kalian bersama? Apa kalian sudah sering menghabiskan malam berdua di hotel?" Wartawan bertanya pada Hasna dengan kilatan cahaya dari jepretan kamera yang tak kunjung berhenti.


"Johan, bagaimana ini? Kenapa disini banyak wartawan?" Tanya Hasna yang berdiri di belakang Johan dengan sebelah tangan memegang lengan Johan. Dia terlihat gugup dan pucat karena ketakutan.


Johan pun menggenggam tangannya untuk menenangkan Hasna "Tenang saja sayang. Aku ada disampingmu"


Ada wartawan yang menyiarkan ini secara langsung di sosial media dan juga televisi, membuat Hasna menjadi bahan pembicaraan dalam waktu sekejap saja


"Cih anak muda zaman sekarang. Mereka benar-benar tidak punya harga diri. Hanya untuk kepuasan sesaat mereka rela saja mengorbankan masa depan mereka"


"Anak orang kaya itu bisa melakukan apa saja. Orang lain yang bekerja, dia yang menghabiskan uang"


"Cantik-catik kok murahan"


Sementara media sosial yang menampilkan penggrebekan Hasna secara langsung dibanjiri komentar negatif, keluarga Adnan pun heboh karena postingan itu


"Pa... ! papa... ! Cepat kemari pah!" Sani berteriak memanggil sang suami ketika dia melihat wajah putrinya ada dilayar kaca


"Ada apa mah? Ini sudah larut malam kenapa kamu teriak-teriak seperti orang gila?" Adnan yang masih mempelajari dokumen kantor begitu terkejut mendengar teriakan sang istri


"Apa-apaan ini?!" Adnan sangat terkejut melihat berita menghebohkan tentang Hasna


"Apa ini yang selama ini kamu ajarkan pada putri kita? Bisa-bisanya dia berperilaku seperti wanita murahan!" Adnan berteriak pada Sani dan menyalahkannya atas apa yang dilakukan Hasna


"Kenapa papa jadi menyalahkan mama?! Mama tidak pernah mengajari Hasna untuk melakukan hal seperti itu! Lagipula ini karena papa juga yang tidak pernah memperhatikan Hasna. Papa terlalu sibuk dengan bisnis dan perusahaan keluarga. Harusnya papa memberitahu dia untuk menjaga harga diri dan martabatnya sebagai keluarga terpandang"


Mereka terus berdebat tanpa menyadari kalau Rama mendengarkan dari salah satu sudut ruangan


"Cih mereka sama saja. Tidak pernah memperhatikan kami dan sekarang saling menyalahkan" Rama berdecih kesal melihat kedua orang tuanya


***

__ADS_1


Dikediaman utama Kusuma semuanya sedang menonton apa yang terjadi pada Hasna di ruang keluarga. Mereka tersenyum puas melihat apa yang sedang terjadi


"Radit … Radit. Ternyata kamu suka pertunjukan seperti ini ya?" Ujar Cheva dengan senyum manis dibibirnya


"Biarkan saja mereka jadi bahan pembicaraan orang-orang. Aku ingin mereka merasa malu dan tidak punya muka untuk bertemu dengan orang lain" Radit menjawab dengan sinis sambil menimang baby Lathan dipangkuannya


"Kak Cheva sendiri bagaimana? Kapan kakak akan menekan Astria?"


"Kamu tenang saja. Kita akan buat mereka jatuh sama-sama. Biarkan dulu saja publik menekan Hasna, dan ini tugasmu hubby" Cheva bicara dengan manja pada Lian yang ada disampingnya sambil menyandarkan kepalanya di pundak Lian


"Kamu tenang saja my princess. Masalah dengan sosial media dan komputer biar aku yang urus" Jawab Lian dengan sikap yang sombong namun tenang


"Cih, kamu juga belajar dariku. Jadi tidak perlu sombong" Diaz mencibir dengan sinis pada Lian


"Kamu memang mengajariku tapi sekarang aku sudah tidak kalah darimu. Aku tidak takut jika harus tanding denganmu" Lian tetap tenang menjawab Diaz meskipun dengan senyum menyeringai


"Ayo, siapa takut? Sayang pegang Dhefin!" Diaz yang sedang menggemdong Dhefin langsung memberikannya pada Tania


"Papi, om. Kalian seperti anak kecil saja. Kalian tidak malu bersikap seperti itu di depan kami?!" Kenzo bicara dengan sikap yang dingin sambil memainkan konsol game miliknya


"Kamu tidak perlu ikut campur! Urus saja game mu itu. Kalau tidak kamu bisa kalah nanti!" Lian bicara dengan sikap yang dingin


"Papi tenang saja, aku tidak mungkin kalah" Kenzo menjawab dengan senyum tipis dibibirnya


"Mereka terlihat seperti cermin satu sama lain. Cuek tapi narsisnya tinggi. Cheva... Cheva... bagaimana bisa kamu dikelilingi suami dan anak yang seperti ini?" Ujar Diaz dengan senyum mencibir


"Yaah mau bagaimana lagi kak tapi aku suka, karena mereka hanya akan baik dan manis padaku saja. Benarkan hubby, Kenzo? Dan pangeranku satu lagi yang tentunya sangat ramah dan penyayang, Kenzie


"Tentu saja mami. Kami hanya akan bersikap baik pada mami" Kenzie menyela dengan senyum manis dan sikapnya yang ramah


"Hentikan akting keluarga bahagia itu. Aku muak melihatnya" Risha pun bersuara setelah melihat Cheva yang bersikap manja pada Lian dan sikembar Kenzo dan Kenzie yang menunjukkan senyum penuh kebanggaan

__ADS_1


"Kenapa kalian malah jadi ribut-ribut? Bukannya tadi sedang melihat keributan? Apa kalian jadi tertular gara-gara melihat sedikit keributan?" Yudha terlihat berwibawa dengan senyum tipis dan tubuh yang disandarkan disofa


"Kakek jangan salah paham, kami begini karena kami saling sayang dan saling peduli. Kami tidak mungkin mudah terhasut karena hal-hal sepele, karena semua yang kami dengar dan kami lihat harus berasal dari sumber yang jelas. Tidak akan ada yang bisa memecahkan hubungan keluarga kita"


__ADS_2