
Meisya sangat terkejut mendengar panggilan Kenzie pada Cheva
"Apa? Mami?"
Mata Meisya membelalak. Dia menatap tak percaya pada Kenzie yang tersenyum manis padanya seakan tidak terjadi apapun
"Kemarilah, duduk disini" Cheva meminta Meisya untuk duduk di sebelahnya dengan senyum ceria dan nada bicaranya yang lembut
Meisya terlihat sangat bingung. Dia terus menatap Kenzie dengan sorot mata yang tajam dan kesal. Namun Kenzie tetap tersenyum polos dan memperhatikannya yang kini duduk dekat Cheva
"Tidak perlu tegang seperti itu. Bersikaplah senyamanmu" Cheva tetap bersikap ramah dengan senyum yang mempesona
"Bu Cheva, sebenarnya ... kalian berdua ini ..." Meisya menatap Kenzie dan Cheva secara bergantian seakan meminta penjelasan mengenai hubungan antara Kenzie dan dirinya
"Benar, dia adalah salah satu putraku. Saudara kembarnya ada di negara F bersama neneknya. Meskipun mereka sudah dewasa tapi mereka tidak pernah memperkenalkan seorang gadis sebagai pacar mereka.. Mereka hanya senang bermain saja" Cheva menjelaskan dengan raut wajah yang seakan kecewa
"Jadi mami ingin aku dan Zo menyukai gadis yang sama?" Kenzie menyela perbincangan Cheva dan memicingkan mata menatap heran pada sang ibu
"Bukan itu maksud mami. Kalian berdua tampan tapi kenapa sulit sekali mendapatkan pacar? Mami kira ada yang salah dengan kalian, tapi mami sekarang senang karena kamu memiliki pacar yang cantik. mami tinggal menunggu gunung es mami mencair karena seorang gadis" Cheva bicara dengan tatapan kosong seakan berkhayal
"Bukannya bu Cheva itu orang yang menyeramkan? Dikantor dia juga sangat ditakuti, tapi kenapa dia sangat ramah seperti ini?" Meisya terus menatap Cheva karena tak percaya dengan apa yang dia lihat
"Pangeran es kita sudah lama mencair. Bahkan sebelum dia terkenal dan masuk ke perusahaan nenek" Kenzie memberitahu Cheva mengenai Kenzo dengan sikap yang tenang sambil menikmati makan siang yang sudah tersedia sejak tadi disana
"Apa? Kenzo sudah punya pacar? Dan kamu tidak memberitahu mami? Kenapa kalian senang sekali menyembunyikan hal penting itu dari mami?" Cheva bicara dengan nada kesal dan suara meninggi
"Mami... tolong berhenti berteriak! Kuping kami bisa rusak karena suara mami yang keras itu. Dan bukan hanya Kenzo, Risha juga sedang dekat dengan Rendra" Kenzie dengan sengaja memberitahukan mengenai hubungan Kenzo dan Risha
"Lihat saja Zo, Sha, kalian juga akan mendapatkan badai yang sama" Pikir Kenzie dengan senyum tipisnya
"Apa? Risha dekat dengan Rendra? Kamu ini Bagaimana? Kenapa kamu tidak pernah bercerita dengan mami? Siapa pacar Kenzo? Bagaimana orangnya? Apa dia baik? Dari keluarga mana dia?"
Cheva bertanya dengan penuh semangat, membuat Meisya semakin tak percaya dengan hubungan ibu dan anak itu
"Mami, kurasa itu bukan saatnya sekarang. Mami sedang mengundang Meisya untuk makan siang bersama kita"
Kenzie mengingatkan Cheva kalau saat ini mereka bersama dengan Meisya
"Ah iya kamu benar. Maafkan tante ya Meisya" Cheva bicara dengan senyum diwajahnya
"Tidak papa bu Cheva. Saya mengerti kok" Meisya menanggapi dengan ramah
__ADS_1
"Jangan panggil aku bu Cheva. Saat kita diluar kantor, kamu bisa memanggilku tante Cheva" Cheva tersenyum lembut pada Meisya.
"Baik tante" Meisya menjawab dengan senyum canggung. Kenzie hanya tersenyum melihatnya dengan Cheva. Mereka pun menikmati makan siang bersama.
"Oh ya Zie. Kamu bilang Kenzo sudah punya pacar. Bagaimana orangnya?" Cheva kini sangat penasaran dengan pacar Kenzo
"Mami tahu artis muda bernama Safira?" Tanya Kenzie dengan sikap yang tenang
"Tentu saja mami tahu. Dia sangat cantik, berbakat dan sudah banyak penghargaan yang dia dapat. Siapa yang tidak tahu dia?" Cheva menjawab dengan antusias dan penuh kekaguman
"Dia itu pacarnya Kenzo"
"Apa?!" Cheva dan Meisya sama-sama terkejut mendengarnya
"Sejak kapan? Bagaimana bisa? Kenapa mami tidak diberitahu?"Cheva semakin penasaran dengan hubungan Kenzo
"Yang aku tahu mereka sudah lama dekat. Bahkan sebelum Risha kecelakaan waktu itu. Tapi mereka belum lama ini mulai pacaran. Mengenai keluarganya … mami bisa tanyakan pada kakek dan nenek"
"Kakek dan nenekmu juga sudah tahu hubungan mereka?!" Cheva sangat terkejut mendengar kalau orang tuanya sudah mengetahui hubungan Kenzo dan Safira
"Tentu saja karena kebetulan kakek dan nenek Safira itu rekan bisnisnya kakek Ed dan nenek Ji" Kenzie menjelaskan dengan sikap yang tenang
"Oh ya sudah biar nanti mami tanya sendiri pada Kenzo. Meisya, kenapa kamu diam saja? Makanmu dikit sekali? Bagaimana kalau kapan-kapan kita pergi bersama? Tante ingin sekali berbelanja denganmu?"
"Apa salahnya kalau mami belanja? Bukannya itu yang selalu dilakukan kebanyakan mertua dan menantu?"
Uhuk-uhuk
"Ah sayang, minum dulu minum! Kamu tidak papa?"
Jawaban Cheva pada Kenzie membuat Meisya tersedak karena terkejut
"Terimakasih tante. Saya tidak papa" Jawab Meisya dengan senyum canggung
"Lihatlah perbuatan mami. Meisya jadi tersedak kan?"
"Memang apa yang salah? Mami hanya mengatakan apa yang biasa orang lain lakukan. Lagipula kalian tidak pernah pergi dengan mami" Kini Cheva menyalahkan Kenzie yang tidak pernah pergi dengannya
"Terimakasih, aku tidak mau jadi obat nyamuk antara mami dan papi. Meskipun kita pergi bersama, tetap saja tidak akan terlihat. Karena kami dan papi cuma melihat satu sama lain" Kenzie menjawab dengan sikap acuh tak acuh
"Mami, waktu makan siang sudah habis. Kami harus segera pergi sekarang. Ayo Meisya!" Kenzie menoleh pada Meisya yang sudah selesai makan
__ADS_1
"Baik pak. Tante kami pergi dulu. Terimakasih untuk makan siangnya. Sampai jumpa"
"Bye mami, sampai ketemu dirumah" Meisya bicara dengan cepat karena Kenzie menarik tangannya. Dan Kenzie bicara sambil berlalu dari hadapan Cheva, bahkan Cheva tidak sempat menanggapi
Brak
"Akhirnya, selamat" Gumam Kenzie setelah dia keluar dari ruang pribadi restoran
"Pak Kenzie … sepertinya ada yang harus bapak jelaskan pada saya" Meisya bicara dengan sikap yang tenang namun sorot matanya tajam
"Baik-baik. Kamu bisa tanyakan apa saja padaku" Kenzie yang tidak bisa lagi menolak, kini pasrah dengan apa yang akan ditanyakan Meisya
"Kenapa bapak menyembunyikan identitas bapak?" Tanya Meisya dengan sikap dingin
"Sama seperti ayahmu yang menyembunyikan identitasmu untuk melindungimu, kami juga melakukan hal yang sama. Dulu, saat kakek Bi dan nenek Ji masih kecil, mereka tidak menyembunyikan identitas mereka, jadi banyak orang yang ingin memanfaatkan mereka untuk mendekati keluarga Kusuma. Dan belajar dari hal itu, kami setuju untuk menyembunyikan identitas kami sampai kami benar-benar mampu berdiri sendiri"
Zie menjelaskan dengan lembut dan tenang.
"Owh jadi begitu" Meisya menanggapi sambil menganggukkan kepala berkali-kali
"Lalu Kenzo itu …" Terlihat kalau Meisya sangat penasaran karena Kenzie dan Cheva terus membicarakan Kenzo
"Kamu tidak tahu Kenzo?"
Meisya menanggapi dengan gelengan kepala perlahan
"Haah, ternyata ada juga yang tidak mengenal gunung es itu" Ujar Kenzie sambil mengeluarkan ponsel miliknya dan mencari informasi mengenai Kenzo
"Lihatlah ini!"
"Kalian kembar?" Tanya Meisya setelah melihat sebuah artikel mengenai Kenzo dan disana ada foto juga yang terpasang
"Benar, kami kembar"
"Yang aku tahu kalau kembar itu tidak bisa dipisahkan. Kenapa kalian Justru terpisah? Pak Kenzie ada disini sedangkan saudara kembarmu justru dinegara F?" Tanya Meisya lagi dengan tatapan bingung
"Karena kami kembar identik, banyak orang yang justru salah mengira Kenzo sebagai aku. Kenzo itu pendiam dan dia tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang lain, jadi saat banyak orang yang mendekatinya dengan mengira kalau dia itu aku, dia sangat kesal. Karena itu dia tidak ingin kami bersama. Dan lebih memilih tinggal di negara F"
Meisya kembali menganggukkan kepala mengerti dengan apa yang dijelaskan Kenzie
"Ternyata ada juga ya kembar yang tidak ingin bersama"
__ADS_1
"Tapi jangan salah meskipun Kenzo tidak ingin dekat denganku, saat tahu aku dan Risha sedang dalam masalah dia akan langsung datang kemari menemui kami. Dia bisa melakukan apa saja untuk kami"
"Aku jadi iri karena aku tidak punya saudara"