Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kebahagiaan Rendra Sebelum Pesta


__ADS_3

Rendra sedang menikmati akhir pekan sendian dirumahnya. Dia seang bermain game sambil menghubungi Kenzo


"Zo, kapan kamu akan datang kemari? Sepertinya karena ada Safira disana kamu melupakan temanmu satu-satunya ini?" Tanya Rendra dengan senyum tipis dibibirnya


"Untuk apa aku pergi kesana menemuimu? Sepertinya tidak ada untungnya untukku. Lagian disana juga sudah ada Risha yang nenemanimu" Kenzo menjawab dengan nada bicaranya yang dingin dan sikap yang acuh


"Hari ini aku akan menghadiri pesta om Rian. Seperti yang kamu katakan, aku akan mengamati orang-orang dibalik keluarga Bastian disana. Melihat Bastian yang diam saja, sepertinya dia tidak menyadari kalau orang yang dia bilang keluarga itu telah menikungnnya dari belakang" Rendra membicarakan mengenai saudaranya Bastian pada Kenzo


"Untuk apa kamu menghadiri pesta keluarga Bastian? Meskipun kalian bersudara, tapi kan mereka tidak menerimamu? Jika kamu ingin mengamatinya, kamu kan bisa Melemparkan seseorang disana" Ujar Kenzo dengan nada yang sinis


"Bastian memintaku datang. Rasanya tidak enak jika aku tidak menghadirinya karena selama ini dia berusaha dekat denganku, mungkin dengan ini aku bisa mulai dekat dengannya dan juga keluarganya" Rendra menjawab dengan sikap yang tenang


"Apa kamu khawatir padaku?" Rendra bertanya dengan senyum menggoda Kenzo


"Ya aku mengkhawatirkanmu. Anaknya Rian itu bukan pemuda yang baik. Dia adalah anggota geng motor dan kamu tahu sendiri geng motor itu identik dengan apa" Kenzo bicara dengan nada yang dingin. Dia berusaha mengingatkan Rendra agar berhati-hati


"Ya. aku mengerti. Aku akan berhati-hati. Aku tidak akan lama disana. Aku hanya sebentar menghormati Bastian yang mengundangku saja" Jawab Rendra lagi dengan sikap tenang


"Baguslah jika kamu mengerti"


"Zo, Bagaimana keadaan Safira? Apa dia baik-baik saja?" Rendra mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan keadaan Safira


"Dia sudah lebih baik. Hanya saja masih harus banyak istirahat. Akunjuga tidak tahu sebenarnya dia sakit apa. Dokter belum memberitahu mami hasil pemeriksaan terakhir" Kenzo pun menjelaskan dengan sikap yang tenang


"Oh begitu. Jika kamu butuh bantuanku … katakan saja. Aku pasti akan membantumu" Kenzo menanggapi dengan tersenyum kecil


"Kamu tidak perlu khawatir tentangku. Aku punya banyak cara untuk menyelesaikan setia masalahku"


"Cih, sombong sekali kamu!" Rendra mencibir Kenzo yang bicara dengan nada yang sombong dan senyum yang tipis


"Aku bukannya sombong, tapi itu adalah kenyataannya"


"Terserah, aku tidak ingin meladeni omong kosongmu. Sampai jumpa" Rendra menutup panggilan teleponnya dan melanjutkan permainan gamenya


"Apa yang akan dilakukan mereka saat melihatku ya? Semoga tidak akan ada masalah nantinya" Gumam Rendra setelah mengakhiri teleponnya dengan Kenzo


***


"Kamu menghubungi siapa?" Tanya Safira setelah Kenzo menutup telepon dari Rendra


"Rendra. Katanya dia akan menghadiri pesta keluarga Bastian. Aku hanya sedikit khawatir. Meskipun Bastian dan Rendra berasal dari ayah yang sama, tapi mereka memiliki ibu yang berbeda dan saudara Bastian tidak menyukai ibunya Rendra. Entah karena mereka berpikir kalau ibu Rendra telah mengambil perhatian dari ayahnya atau mungkin karena asal usulnya yang berasal dari keluarga biasa saja" Kenzo menjelaskan mengenai kondisi Rendra


"Tapi kan Rendra tidak bersalah, apa mereka juga membenci Rendra?" Tanya Safira lagi dengan dahi mengernyit

__ADS_1


"Tentu saja, Rendra itu anak yang tidak diharapkan. Karena ada Rendra, harta keluarga Dirga yang seharusnya hanya menjadi milik Bastian, kini harus dibagi menjadi dua. Dari kecil Rendra sudah sering menerima perlakuan buruk dari ibu tirinya, bahkan berkali-kali Rendra berhadapan dengan maut. Begitupun saat aku pertama kali mengenalnya. Dia hampir saja mati dalam kecelakaan mobil. Beruntung aku sedang melintas saat itu, Dan berhasil mengeluarkan Rendra dari dalam mobil naas itu. Sayangnya aku tidak bisa menyelamatkan ibunya" Kenzo bercerita dengan raut wajah sedih


"Bukannya kalian berdua dari SMA yang sama?" Tanya Safira yang sedikit bingung


"Ya, tapi dia kakak kelasku. Sebagai senior Dan junior … tentu saja kamu tidak dekat. Apalagi aku tidak terlalu suka bergabung dengan orang-orang merepotkan itu. Sayangnya setelah aku menolongnya, Rendra selalu mengikutiku kemanapun. Itu membuatku kesal, tapi dia juga selalu menolongku" Ujar Kenzo dengan raut wajah kesal


"Aku bisa bayangkan itu. Bagaimana kesalnya kamu saat ada orang yang selalu mengganggumu. Tapi aku juga salut pada Rendra. Dia begitu sabar meluluhkan hatimu hingga bersedia menerimanya sebagai teman. Dengan kepribadianmu yang dingin dan acuh tak acuh itu … pasti Rendra sangat bekerja keras" Kini Safira menggoda Kenzo yang sedang menceritakan masa lalunya


"Apa maksudnya itu? Aku tidak sebutin itu" Kenzo menjawab dengan acuh tak acuh


"Benarkah? Aku tidak percaya" Safira terus saja menggoda Kenzo


"Kamu benar Fira. Kenzo kecil itu sangat menyebalkan. Dia tidak pernah peduli pada sekelilingnya. Yang dia pedulikan hanyalah game. Tidak ada yang penting selain itu. Bahkan dia selalu mengabaikan Kami sebagai orang tuanya" Cheva menyela perbincangan Kenzo an Safira


"Mami, harusnya mami membelaku, bukannya malah lebih menjatuhkanku" Ujar Kenzo dengan nada sinis


"Mami tidak menjatuhkanmu. Itu kenyataannya" Cheva menanggapinya dengan senyum mencibir


"Benarkah tante? Berarti Kenzo itu sama sekali tidak perhatian ya?" Safira pun bekerja sama dengan Cheva untuk mengejek Kenzo


"Jangankan perhatian, dia seperti hidup sendiri di dunia ini. Dia tidak peduli pada siapapun. Tapi dia akan jadi orang pertama yang peduli kalau ada masalah pada Kenzie dan Risha" Cheva bicara dengan senyum bangga


"Sudah-sudah. Kita harus pergi kerumah sakit untuk memeriksa kondisi Safira dan mengetahui hasil pemeriksaannya kemarin. Bukannya dokter bilang hasilnya akan keluar dari ini?" Lian menyela dengan nada bicaranya yang dingin dan tenang


"Papi, aku kan sudah bilang kalau aku akan mengambil alih perusahaan papi setelah Safira sembuh" Kenzo menyela dengan sikap yang tenang


"Aku sudah sembuh jadi kamu bisa mulai bekerja diperusahaan papimu" Safira pun menanggapi dengan senyum tipisnya


"Sepertinya kamu tidak ingin aku temani makanya malah memintaku untuk bekerja?" Kenzo kembali menggoda Safira dengan sikap yang datar


"Kamu salah. Karena kamu menemaniku jadi aku sembuh lebih cepat. Karena itu kamu bisa kembali bekerja" Safira pun membalas Kenzo dengan senyum yang lembut


"Baiklah. Aku akan bekerja secepatnya. Tapi setelah kamu benar-benar sembuh" Jawab Kenzo yang mengalah pada Safira


"Sepetinya kini papi dan mami sudah tidak diperlukan Kenzo? Sekarang dia lebih patuh pada Safira" Cheva menggoda Kenzo yang lebih mendengarkan Safira.


"Sudah-sudah, Ayo kita berangkat saja" Use Kenzo yang tidak ingin lagi di ledek Cheva


***


"Hari ini sangat membosankan. sudah hampir seminggu ini aku tidak bicara dengan Rendra. Aku merindukannya. Apa yang sedang dia lakukan ya? Kenapa dia tidak mengirimkan pesan sama sekali hari ini? Apa dia sudah menyerah? Apa aku mengalah saja?" Risha sedang menghabiskan akhir pekannya sendiri di apartemen


"Aha, aku punya ide" Risha langsung meraih ponselnya dan mengirimkan pesan teks kosong pada Rendra

__ADS_1


***


Rendra sedang bersiap untuk pergi ke acara Rian. Dia sedang memilih jas yang akan dia kenakan


Tring


Perhatian Rendra teralihkan begitu mendengar suara pesan masuk dari ponselnya. Rendra pun dengan segera mengambil ponselnya yang diletakkan diatas meja


"Risha? Kenapa dia mengirimkan pesan kosong? Apa sekarang dia mau memaafkanku?" Gumam Rendra sambil melihat layar ponselnya. Dengan Segera Rendra menghubungi Risha


Tuut tuut tuut


"Halo... " Tak perlu menunggu lama, dari ujung telepon terdengar suara lembut Risha


"Halo Sha. Ehm... maksudmu mengirim pesan kosong … apa sekarang kamu sudah memesankan aku?" Rendra bertanya langsung pada intinya meskipun terdengar sedikit ragu-ragu


"Ehm … kemarin … apa kamu menungguku?" Risha tidak menjawab pertanyaan Rendra. Dia bertanya hal lain untuk mengalihkan pertanyaannya


"Ya, aku menunggumu, tapi kamu pulang bersama rekan kerjamu. Tadinya aku ingin tetap mendekatimu, tapi aku ingat kalau kamu tidak ingin karyawan lain tahu kita saling kenal. Jadi aku langsung pergi" Rendra menjelaskan dengan tenang


"Jadi … dia memikirkanku?" Pikir Risha yang terdiam


"Kenapa kamu diam saja?" Tanya Rendra dengan nada bingung


"Aku mendengarkanmu" Jawab Risha singkat


"Apa ini artinya … kamu memaafkanku?" Tanya Rendra lagi yang masih penasaran


"Iya, sudah puas?" Risha menjawab dengan wajah tersipu malu


"Tentu saja aku puas. Tapi sekarang aku tidak bisa bicara lama denganmu"


"Kenapa" Tanya Risha yang penasaran


"Aku harus menghadiri pesta om Rian. Dia adalah omnya Bastian"


"Pasti disana banyak wanita cantik. Sepertinya kamu tidak sabar untuk melihatnya" Risha terdengar sedikit cemburu pada Rendra


"Tentu saja banyak. Tapi aku lebih tidak sabar melihatmu. Apalagi sekarang kamu sudah jadi pacarku" Ujar Rendra menggoda Risha


"Sejak kapan kamu belajar gombal?" Tanya Risha dengan senyum mencibir dan dahi berkerut


"Sejak kamu menerima permintaan maafku. Aku akan menemuimu sepulang dari pesta. Aku tidak akan lama berada disana. Sampai jumpa"

__ADS_1


"Ya, sampai jumpa"


__ADS_2