Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Chapter 126 (Penolakan Risha)


__ADS_3

Risha terdiam mendengar pernyataan cinta dari Panji. Dia memainkan tangannya untuk menghilangkan rasa terkejutnya. Wajah Panji pun tak kalah pucat, dia terlihat gugup menunggu jawaban yang akan diberikan Risha padanya.


"Bapak tidak salah mengatakan itu pada saya?" Tanya Risha berusaha memastikan apa yang dia dengar


"Tentu, saya tidak salah. Saya rasa kita sudah cukup lama saling mengenal, dari awal kamu masuk ke kampus ini sampai sekarang kamu akan segera lulus. Saya yakin dengan apa yang saya rasakan" Panji menjawab dengan sikap yang tenang meskipun dia merasa sangat gugup


"Bapak tidak mengenal saya. Bapak hanya melihat sikap saya yang tampak dari luar saja. Bapak akan tekejut jika benar-benar tahu bagaimana sikap saya. Saya bukan gadis baik seperti yang bapak pikir, dan sepertinya bapak juga terlalu baik untuk saya" Risha tersenyum tipis sambil menggenggam tangannya sendiri.


"Apa maksudmu? Saya tahu kamu dengan jelas dan kamu adalah gadis yang baik. Kurasa tidak salah jika saya memiliki perasaan lebih dari seorang dosen" Panji masih berusaha meyakinkan Risha kalau perasaan yang dia miliki benar-benar tulus


"Permisi, ini pesanannya" Risha dan Panji terdiam ketika pesanan mereka sampai


"Permisi pak, saya ke toilet sebentar. Dimana ya tolietnya?" Risha bertanya pada palayan yang mengantarkan pesanan mereka


"Oh, disebelah sana" Pelayan itu pun menunjuk pada tempat dimana toilet itu berada


"Terimakasih" Risha pun beranjak pergi menuju toilet.


"Apa aku salah mengungkapkan perasaanku padanya? Kurasa tidak ada yang salah dengan keputusanku" Pikir Panji sambil menatap punggung Risha yang semakin menjauh


"Bagaimana ini? Kenapa pak Panji mengatakan hal itu? Padahal aku hanya menganggap hubungan kami sebagai hubungan antara dosen dan mahasiswi saja. Lagipula selama ini kami hanya berhubungan jika membahas makalah saja. Apa aku salah bersikap ya? Tapi sepertinya tidak, aku tetap bersikap layaknya guru dan murid, aku hanya menghormatinya sebagai dosen saja" Risha berpikir sambil menatap dirinya sendiri dalam cermin


"Haah sudahlah, tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang. Yang harus aku lakukan sekarang adalah menghadapinya. Lagipula tidak lama lagi aku akn meninggalkan kota ini. Dan aku sudah tahu akan melamar pekerjaan dimana"


Risha bicara sendiri sambil beranjak pergi dari toilet dengan senyum ceria diwajahnya. Dia berjalan sambil membayangkan tempat dia akan melamar pekerjaan. Hingga dia tidak sadar kalau ada seseorang saat hendak keluar dari toilet.


Bugh


Prang


"Maafkan aku, aku tidak sengaja melakukannya" Risha langsung minta maaf begitu dia menabrak seseorang di depan pintu. Dia pun dengan cepat membantu mengambil barang-barangnya yang jatuh berserakan dilantai


"Kamu tidak punya mata ya?!"

__ADS_1


"Maaf" Gadis itu bicara dengan sikap sinis dan mata menatap tajam pada Risha. Itu membuat Risha terkejut karena gadis itu terlihat cantik dan lembut.


"Saya sudah minta maaf dan kita juga tidak bertabrakan dengan keras" Risha menjawab dengan sikap tenang dan wajah yang datar


""Tidak dengan keras katamu? Tapi kamu menjatuhkan barang-barangku! Apa kamu tidak tahu kalau semua barang-barangku ini adalah barang branded, hah?" Gadis itu bicara dengan penuh kesombongan


Risha menatap pada barang-barang milik gadis itu yang sebelumnya telah dia kumpulkan dari lantai. Tentu Risha tahu mana barang branded dan mana yang bukan


"Barang branded? Apa ini barang branded yang kamu maksud?" Risha menunjuk pada sebuah dompet kecil milik gadis itu dengan tatapan tidak percaya


"Tentu saja. Semua barangku ini asli, mana mungkin aku memakai barang palsu" Gadis itu masih tetap sombong meskipun Risha sedikit mencibirnya


"Aku punya barang yang sama persis seperti ini dan itu edisi terbatas. Tapi kenapa warnanya tidak sama ya? Setahuku merek dompet ini tidak pernah mengeluarkan barang dengan variasi warna. Ini hanya dijual dalam 1 warna saja" Risha menanggapi dengan tenang kemudian mengeluarkan dompet miliknya. Dan bentuknya memang sama hanya saja warnanya berbeda


"Jelas-jelas punyaku asli. Tidak mungkin kalau dompetku ini palsu. Lagipula aku sudah membayar mahal untuk ini, bahkan ada sertifikatnya juga" Gadis itu tidak ingin kalah dari Risha


"Harga tidak menjamin untuk membuktikan keasliannya, terlebih lagi sekarang ini banyak tempat pembuatan sertifikat palsu" Risha menjelaskan dengan sikap yang tenang dan sesekali tersenyum menanggapi gadis itu


"Permisi saya tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni omong kosong anda" Sambung Risha yang merasa kalau urusan dengan gadis itu tidak akan ada habisnya. Risha pun berjalan meninggalkan gadis itu dan kembali ke depan untuk menemui Panji


"Hei, aku belum selesai bicara. Kita harus selesaikan urusan kita!" Teriak gadis itu yang kini mulai menjadi perhatian banyak tamu


"Nona, urusan apa lagi? Aku sudah minta maaf. Sekarang apalagi yang jadi masalahnya?" Risha bertanya dengan sikap yang tenang dan tegas tanpa ada ketakutan


"Aku tidak suka dengan tatapanmu dan cara bicaramu yang meremehkan ucapanku" Risha mengernyitkan dahi mendengar ucapan gadis itu


"Ada apa dengan tatapan dan cara bicaraku? Memangnya bagaimana aku harus bersikap padamu? Hah" Risha tersenyum mencibir gadis itu kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya yang tinggal sedikit lagi tiba di meja Panji


"Kamu ini benar-benar ya!"


"Jangan bertingkah seperti anak kecil yang sengaja mencari gara-gara denganku. Jika masalahnya aku tidak sengaja menabrakmu tadi, aku sudah minta maaf padamu. Itu sama sekali bukan masalah yang harus dibesar-besarkan. Lagipula, semua orang melihat kita" Risha menjawab dengan sikap yang tegas, lalu kembali duduk bersama Panji


"Maaf pak membuat anda menunggu lama" Ujar Risha dengan sikap yang tenang

__ADS_1


"Kenapa? Apa ada masalah?" Panji bertanya sambil menoleh pada gadis itu yang terlihat masih kesal pada Risha


"Tidak ada. Hanya insiden kecil saja" Jawab Risha dengan senyum tipis. Mereka pun mulai menikmati makan siangnya sambil membahas kembali apa yang sebelumnya dibicarakan


"Saya sudah memikirkan pertanyaan bapak" Panji langsung menoleh pada Risha mendengar ucapannya


"Sepertinya saya tidak bisa menerima perasaan bapak pada saya. Maaf" Risha menundukkan kepala saat bicara dengan Panji


"Saya sudah mengirimkan surat lamaran diluar kota. Jadi setelah lulus kuliah, saya akan langsung pergi dari sini. Mungkin saya akan menetap disana. Dan saya pikir, saya tidak bisa membiarkan bapak menunggu saya tanpa kepastian" Risha menjawab dengan sikap yang tenang, meskipun sesekali dia memainkan makanan dihadapannya


"Rupanya begitu. Saya pikir kamu akan tinggal disini dan masuk salah satu perusahaan karena kamu mempercepat kuliahmu. Ternyata kamu mengincar perusahaan ternama diluar kota" Panji berusaha bersikap tenang dengan tersenyum tipis meskipun terlihat kalau dia cukup kecewa dengan jawaban Risha


"Sekali lagi saya minta maaf" Ujar Risha penuh penyesalan


"Tidak papa. Tidak usah dipikirkan" Panji tersenyum menanggapi ucapan Risha


***


Ditempat lain, Kenzo sedang menghubungi Rendra


"Apa kamu tidak papa?" Tanya Kenzo pada sahabatnya itu


"Apa kamu khawatir padaku?" Rendra bertanya dengan senyum menggoda Kenzo


"Harusnya sih tidak. Tapi, karena aku cukup perhatian jadi aku bertanya padamu" Jawab Kenzo dengan acuh tak acuh


"Cih, aku tidak butuh perhatian darimu. Jika itu perhatian dari seorang gadis, maka aku akan dengan senang hati menerimanya" Rendra menjawab dengan sikapnya yang tenang


"Jangan berusaha membohongiku. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Jadi tidak perlu berpura-pura didepanku" Ujar Kenzo dengan sikap dingin


"Apa kamu tidak bisa sedikit berpura-pura tertipu dengan sikapku?" Jawab Rendra kesal


"Aku bukan orang bodoh yang bisa kamu tipu dengan mudah"

__ADS_1


"Cih menyebalkan"


__ADS_2