
Hari ini Kenzo dan Safira berencana pergi kerumah kakek dan nenek Safira untuk menceritakan apa yang terjadi padanya. Sekaligus untuk meminta restu mengenai rencana pernikahan mereka.
"Apa kamu sudah siap?" Kenzo bertanya dengan sikap yang tenang sambil menggenggam sebelah tangan Safira.
"Ya, aku sudah siap. Tapi aku sedikit gugup" Safira berusaha bersikap tenang meskipun wajahnya terihat kaku. Dia menjawab pertanyaan Kenzo sambil menganggukkan kepala.
'Tidak usah tegang begitu. Mereka berdua adalah orang yang telah merawat dan membesarkanmu selama ini. Tentu saja mereka orang yang baik" Kenzo berusaha menenangkan Safira dengan senyum tipis dan lembut
"Aku tahu itu. Hanya saja ..." Safira menundukkan kepala setelah mendengar pendapat dari Kenzo. Dia masih merasa ada yang mengganjal dihatinya
"Tidak perlu khawatir. Ada aku disampingmu. Aku tidak akan membiarkan kamu kesulitan. Aku pasti akan mendukung dan membantumu" Kenzo dengan lembutnya kembali menenangkan Safira
"Terimakasih"
"Apa sudah bisa berangkat sekarang?"
"Ya" Setelah mendapatkan anggukan kepala dari Safira, Kenzo langsung mengendarai mobilnya menuju kediaman Reitama yang terletak diluar kota tempat dia tinggal saat ini.
Sesekali mereka berbincang selama perjalanan agar tidak merasa bosan. Kenzo pun berhenti di rest area dan membeli makanan juga minuman untuk perjalanan mereka. Takut jika Safira membutuhkan sesuatu
"Apa ada yang kamu butuhkan lagi? Kita masih di rest area, jadi masih bisa membeli sekarang sebelum meningglan tempat ini" Kenzo bertanya dengan nada yang lembut sebelum mereka kembali melanjutkan setengah perjalanan mereka.
"Tidak ada. Kita bisa berangkat sekarang" Safira menjawab dengan senyum yang lembut. Mereka pun melanjutan perjalanan menuju rumah kakek Safira
Setelah menempuh kira-kira 2 jam perjalanan, akhirnya Safira dan Kenzo tiba juga di kediaman Reitama. Kenzo langsung membawa mobilnya masuk melewati gerbang utama untuk menuju ke rumah
"Selamat siang, tuan muda, nona" Bagian keamanan menyapa Kenzo dan Safira Begitu mereka turun dari mobil
"Selamat siang. Apa tuan Dimaz dan nyonya Galuh ada ditempat?" Kenzo menanggapi dengan sikap yang dingin pada penjaga keamanan itu
"Ada. Tuan besar ada di dalam" Jawab bagian keamanan yang sedang berjaga di bagian luar rumah
"Kalau begitu, kami akan masuk ke dalam"
"Silahkan tuan muda " Kenzo dan Safira pun berjalan masuk kedalam rumah untuk langsung menemui Dimas Reitama dan juga sang istri
"Safira?! Sayang! Akhirnya kamu pulang. Sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali kamu kembali kemari" Bu Galuh terlihat sangat senang ketika dia melihat cucunya sendiri berada dirumahnya. Dia langsung memeluk Safira erat karena sangat antusias.
__ADS_1
'Nyonya, apa tuan Dimaz ada di dalam? Ada yang ingin kami bicarakan pada anda berdua" Kenzo bicara dengan sikap yang sopan dan tenang. Safira hanya diam dengan sikap yang tenang.
"Ya, kakek ada didalam. Mari kita masuk kedalam!" Bu Galuh pun berjalan di depan Kenzo dan Safira, sesekali dia menoleh kebelakang untuk melihat Safira.
"Apa kamu sangat gugup?' Kenzo bertanya pada Safira yang sejak tadi terus saja memegang tangannya dengan erat
"Se-sedikit. Aku benar-benar tidak memiliki gambaran apapun tentang mereka. Aku sedikit gugup, bagaimana kalau mereka tidak suka padaku? Atau mungkin mereka akan membuatku merasa ...."
"Jangan berikir yang macam-macam. Aku kan sudah bilang kalau mereka itu yang membesarkanmu, tidak mungkin kalau mereka tidak mnyukaimu" Kenzo menyela ucapan Safira sebelum dia selesai bicara
"Duduklah dulu, nenek akan panggilkan kakekmu"
"Te-terimakasih" Kenzo dan Safira pun duduk disofa dan menunggu kedatangan tuan Dimaz
Bu Galuh berbalik dan pergi meninggalkan Safira dan Kenzo, namun sesekali dia masih menoleh kebelakang dan melihat sang cucu
"Ada apa dengannya ya? Kenapa dia terlihat aneh?" Gumam bu Galuh yang terlihat bingung
"Siapa yang aneh?"
"Tadi siapa yang kamu bilang aneh?" Pak Dimaz kembali menanyakan tentang apa yang tadi dibicarakan istrinya
"Itu ada Safira dan juga Kenzo, tapi aku merasa sikap Safira agak aneh hari ini" Bu Galuh menjelaskan pada sang suami dengan raut wajah bingung
"Agak aneh bagaimana? Pak Dimaz terlihat bingung dengan apa yang dikatakan sang istri
"Itu. Safira terlihat lebih pendiam. Dia bahkan bersikap tidak biasa padaku" Bu Galuh kembali berusaha menjelaskan bagaimana sikap Safira padanya. Namun pak Dimaz malah semakin bingung dibuatnya
"Sudahlah. Lebih baik kita temui mereka saja" Pak Dimaz bicara sambil berlalu pergi untuk menemui Safira dan Kenzo
"Cucu kakek sudah lama sekali tidak datang kemari?" Kenzo dan Safira langsung menoleh ketika mendengar suara pak Dimaz
"Bagaimana kabar anda, tuan?" Kenzo berdiri dan menyapa Pak Dimaz dengan sikap yang tenang
"Sudah ku bilang tidak perlu bersikap formal. Panggil saja aku kakek. Aku baik, bagaimana dengan kalian?" Pak Dimaz bicara sambil duduk dihadapan Kenzo dan Safira
"Fira... ? Apa kamu baik-baik saja? Sepertinya ada yang aneh denganmu?" Pak Dimaz langsung bertanya pada Safira begitu dia duduk
__ADS_1
Kenzo menoleh pada Safira yang duduk disebelahnya. Dia menggenggam tangan Safira dengan kepala mengangguk pelan.
"Minumlah tah kalian. Ceritakan pada kami, apa telah terjadi sesuatu?" Bu Galuh bicara dengan lembut pada Kenzo dan Safira
"Sebanarnya tujuan kami kemari ingin mengatakan sesuatu pada kakek dan nenek Safira. Sebelumnya saya minta maaf karena tidak memberitahu kalian berdua lebih awal mengenai masalah ini. Tapi kami sama sekali tidak memiliki niat buruk menyembunyikan masalah penting dari kalian, kami hanya mengkhawatirkan kesehatan kalian berdua saja"
Pak Dimaz dan bu Galuh saling menatap satu sama lain setelah mendengar ucapan Kenzo. Mereka bingung dengan apa yang dirahasiakan Kenzo dan Safira
"Sebenarnya apa yang ingin kalian bicarakan? Kami sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari ucapan kamu Zo" Ujar Dimaz mencari kepastian
"Haaah... " Kenzo menarik napas terlebih dahulu sebelum dia mulai bicara. Dia benar-benar takut dengan reaksi dari kakek dan nenek Safira. Begitupun dengan kakek dan nenek Safira, mereka berdua terlihat sangat gugup sekali. Suasana ruang keluarga pun kini terasa hening dan menegangkan.
"Saat ini … Safira kehilangan ingatannya. Dia sama sekali tidak mengingat masa lalunya sebelum operasi"
"Apa?! Kehilangan ingatan? operasi? Apa maksudnya itu?" Pak Dimaz sangat terkejut mendengar cucunya hilang ingatan. Bahkan bu Galuh sampai menutup mulutnya dengan air mata yang langsung mengalir deras dipipinya
"Beberapa bulan yang lalu, Safira difonis terkena kanker otak. Memang belum terlalu parah dan masih bisa melakukan oeprasi, namun operasinya tetap memiliki resiko yang tinggi. Saat itu Safira hanya memiliki persentase kesembuhan 10%, itupun tidak menjamin kesembuhan total. Karena operasi dibagian otak itu beresiko besar pada kehilangan ingatan dan resiko terburuknya adalah … kehilangan nyawa Safira. Aku bersyukur karena Safira hanya kehilangan ingatannya saja. Kita masih bisa membuat banyak kenangan indah nantinya"
Kenzo menjelaskan dengan sikap yang tenang dan senyum lembut sambil menatap Safira. Sementara pak Dimaz dan bu Galuh kini terus berderai air mata mendengar penjelasan Kenzo
"Fira, cucuku … bagaimana kamu bisa mengalami hal seperti itu sayang …? hu hu hu …" Bu Galuh menangis histeris membayangkan apa yang terjadi pada cucu satu-satunya itu
"Aku sudah tidak papa nek. Tapi maaf, aku tidak bisa mengingat apapun tentang kalian semua. Aku benar-benar tidak memiliki bayangan apapun dikepalaku" Safira pun bicara dengan berderai air mata
"Itu bukan masalah sayang. Yang penting sekarang kamu sudah sembuh. Kami bersyukur kamu sekarang baik-baik saja" Pak Dimaz pun menyela dengan senyum tipis dan derai air mata yang tak henti mengalir membasahi kedua pipinya
"Terimakasih kek" Jawab Safira dengan senyum lembutnya
"Aku juga ingin mengatakan satu hal lagi pada kalian"
"Apa lagi itu?" Pak Dimaz dan bu Galuh kembali dibuat penasaran dengan apa yang akan dikatakan Kenzo. Mereka masih terkejut dan takut dengan apa yang akan dikatakan Kenzo. Pak Dimaz dan bu Galuh menghapus air mata dipipi mereka sambil menunggu Kenzo dengan jantung berdegup kencang
Dag dug dag dug
"Kami berdua berencana akan melangsungkan pernikahan secepatnya"
"Apa?!"
__ADS_1